
Paginya keduanya langsung melakukan check out hotel. Kini Nayya dan Risam sudah berada dalam perjalanan untuk mencari sarapan dulu sebelum nanti pulang. Pagi mereka kali ini terasa berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.
Memang keduanya sebelumnya sudah berbagi ranjang satu sama lain. Tapi tetap saja efek dari apa yang mereka lakukan semalam terasa sangat berbeda. Keduanya tersenyum bahagia karena sudah saling memiliki satu sama lain secara utuh.
Akhirnya setelah lumayan lama mencari tempat sarapan mereka menemukan juga tempat sarapan yang lumayan cocok dengan mereka. Keduanya langsung turun dari mobil sambil bergandengan tangan masuk ke dalam restoran yang sudah buka itu. Keduanya segera memesan sarapan dan menikmati hidangan sarapan pagi itu dengan suasana hati yang bahagia.
Sekitar kurang lebih 30 menit mereka berada di restoran itu untuk sarapan. Kini keduanya segera melanjutkan kembali perjalanan untuk pulang. Satu jam dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah sekaligus toko usaha milik Nayya.
Keduanya segera turun dari mobil dan menyapa karyawan minimarket dan percetakan yang menyambut mereka ramah. Nayya dan Risam segera masuk ke minimarket untuk menyapa papa Imran dan mama Fara di sana.
“Tidur dimana?” tanya mama Fara tersenyum menatap sang putri dan menantunya itu.
Risam dan Nayya pun saling memandang satu sama lain lalu tersenyum menatap mama Fara, “Risam mengajaknya tidur di hotel mah.” jawab Risam.
Mama Fara pun mengangguk-ngangguk, “Ouh hotel? Ngapain tuh. Gak nyaman yaa jika tidur di sini?” tanya mama Fara tersenyum menggoda. Papa Imran pun ikut tersenyum melihat istrinya yang sedang menggoda putri dan menantu mereka itu.
“Mah, gak usah godain putri dan menantu kita. Biarkan saja jika mereka menginap di hotel. Sudah nak sana kalian naiklah ke atas. Mama kalian sudah membuatkan makanan untuk kalian.” ucap Papa Imran.
“Ish papa kok nyebelin sih. Mama belum puas menggoda mereka.” ucap mama Fara.
__ADS_1
Risam dan Nayya pun tersenyum melihat itu, “Mah, kenapa harus menggoda kami. Bukankah tanpa kami katakan pun kalian sudah mengerti.” Ujar Nayya.
“Wah, wah putri kita langsung mengatakan intinya pah.” Ucap mama Fara tersenyum menatap putri yang dia lahirkan 27 tahun lalu itu. Kini putrinya itu sudah bukan seorang gadis lagi tapi sudah menjadi seorang wanita secara utuh.
“Biarkan saja mah. Sudah nak. Ayo sana kalian naik ke atas.” ucap papa Imran.
Nayya dan Risam pun mengangguk, “Terima kasih pah. Sudah menyelamatkan kami dari godaan mama.” Ucap Nayya lalu dia segera menggandeng lengan sang suami menuju tangga ke lantai atas.
Risam pun sebelum mengikuti sang istri menunduk penuh hormat kepada kedua mertuanya itu, “Pah, aku bangga dengan putri kita. Dia terlihat mencintai suaminya. Aku pikir dia akan menyesali pilihannya itu. Kita tahu bagaimana perasaannya kepada Afnan. Tapi syukurlah apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Kini mereka sudah saling memiliki satu sama lain.” Ucap mama Fara menatap punggung putri dan menantunya itu yang hilang di balik tangga.
Papa Imran pun mengangguk dan tersenyum, “Papa juga mengkhawatirkan yang sama mah. Tapi papa sangat bersyukur juga putri kita mencintai suaminya. Mereka terlihat saling mencintai satu sama lain. Kita bisa melihat cinta Risam yang besar untuk putri kita itu dan kini kita juga bisa melihat cinta yang sama di mata putri kita untuk Risam. Aku harap rumah tangga putri kita akan baik-baik saja dan selalu di berikan kebahagiaan. Dan untuk Afnan kita akan berdoa semoga dia akan menemukan jodohnya yang tentu saja lebih baik dari putri kita. Afnan bukan tidak baik hanya saja putri kita belum berjodoh dengannya.” Ucap papa Imran.
“Sudahlah. Kita doakan saja dia akan baik-baik saja.” ucap papa Imran yang dia angguki oleh mama Fara.
Sementara di atas Nayya membuka makanan yang di buat oleh mamanya itu dan dia tersenyum, “Mas, apa kau mau makan lagi?” tanya Nayya menatap sang suami.
Risam pun segera mendekat ke meja makan dan dia mengangguk melihat makanan yang di buat oleh ibu mertuanya itu, “Sepertinya lezat.” Ucap Risam lalu langsung duduk.
Nayya pun tersenyum lalu dia menyajikan makanan untuk suaminya itu. keduanya segera makan kembali walaupun baru sejam yang lalu makan tapi makanan yang di buat oleh mama Fara tidak bisa di abaikan karena menggugah selera dan seolah-olah mengajak mereka untuk mencicipi makanan itu dan tidak di izinkan untuk melewatkannya.
__ADS_1
“Huh, mas sudah kenyang sayang. Alhamdulillah yaa Allah.” Ucap Risam mengakhiri makannya.
Nayya pun tersenyum lalu dia segera berdiri untuk membersihkan bekas makan mereka itu. Nayya menuju dapur mini yang memang ada di rukonya itu. Risam mengamati istrinya saja yang senang mencuci piring, “Dia sangat cantik dalam keadaan apapun.” Ucap Risam lalu menggeleng karena entah kenapa otaknya itu segera mengarahkannya kepada kegiatan semalam.
“Gak, aku harus menahannya walau ingin. Kasihan istriku. Dia pasti masih merasa sakit.” Batin Risam mengamati cara berjalan istrinya itu. Walaupun cara berjalan istrinya itu terlihat normal namun dia menyadari tetap ada sedikit perubahan. Pantas saja mertuanya itu langsung menyadarinya.
Setelah itu Nayya dan Risam menuju kamar mereka. Nayya sibuk merapikan pakaian mereka semalam ke tempat pakaian kotor. Risam hanya mengamati apa yang istrinya lakukan itu, “Sayang!” panggil Risam saat melihat sang istri yang mulai membuka laptopnya.
Nayya pun menatap suaminya itu sambil mengangkat alisnya, “Ada apa suamiku?” tanya Nayya.
“Apa masih sakit?” tanya Risam menatap istrinya itu dalam.
Nayya yang mendengar pertanyaan suaminya itu seketika tersenyum malu, “Ada apa? Kenapa menanyakan itu? Apa mas ma--” ucap Nayya.
Risam langsung menggeleng, “Mas bukan orang setega itu sayang. Walaupun jujur saja mas ingin tapi mas juga paham hal itu berpengaruh kepada seorang gadis yang baru pertama kali melakukannya dan mas tidak ingin melakukannya jika kau masih kesakitan lagi.” Ucap Risam.
Nayya pun tersenyum, “Terima kasih mas. Tapi sudah gak sakit kok tinggal sedikit nyeri saja. Nayya sudah minum obat. Jadi semoga saja gak akan sakit lagi.” Ucap Nayya menatap suaminya itu.
Risam pun tersenyum lalu mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. Nayya pun membiarkannya saja. Dia menepuk pipi suaminya itu. Risam pun menemani istrinya itu yang sedang membuat novelnya. Yah, Risam memang tahu bahwa ternyata istrinya itu juga salah satu penulis novel di aplikasi online.
__ADS_1