Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
101


__ADS_3

Tidak terasa waktu terus bergulir dari waktu ke waktu. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu begitu seterusnya.


Kini tepat Zayya akan memulai profesinya dan dia sudah siap-siap sejak tadi. Zayya yang akan memulai profesinya seluruh keluarga yang hadir mendoakannya dan mengantarnya untuk memulai hari pertama dia menjalani kuliah profesinya. Di kediaman mama Fara dan papa Imran baik Nayya dan Rayya yang di dampingi suami masing-masing berkumpul di sana sejak semalam.


Nayya dan Rayya memutuskan untuk menginap dan memberikan semangat kepada adik mereka itu yang masih harus menyelesaikan profesinya agar bisa bergelar Apoteker. Setahun yang penuh perjuangan pasti karena baik Nayya maupun sudah merasakannya walau dengan bidang yang berbeda.


“Apa semua sudah siap dek? Gak ada lagi yang ketinggalan?” tanya Nayya melihat adiknya itu yang sedang mengganti pakaiannya selepas mereka selesai sholat subuh berjamaah.


Zayya pun menatap kakak sulungnya itu yang sedari tadi mengkhawatirkannya melupakan sesuatu padahal dia sudah memeriksa dan memastikannya bahwa tidak ada lagi yang dia lupakan. Sedangkan kakak keduanya yang memperhatikan pakaiannya apakah kusut atau tidak. Kakak keduanya itu bahkan sampai menyetrika pakaian dinasnya sampai dua kali hingga membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya itu tidak percaya dengan kedua kakaknya.


Zayya tidak percaya dia yang memulai profesinya tapi kedua kakaknya itu repot dengan semuanya. Tapi dia senang dengan itu karena walaupun kedua kakaknya itu sudah memiliki keluarga mereka masing-masing tapi masih saja memperhatikannya. Bahkan sempat-sempatnya menginap di rumah ini demi mengantarnya di hari pertama dia ikut profesi.


Zayya pun segera mendekati kakak sulungnya itu, “Kak, aku sudah memeriksanya bahkan sampai dua kali tadi dan semuanya sudah siap. Tidak ada lagi yang ku lupakan atau tertinggal. Jika kakak tidak percaya coba lah periksa lah lagi.” Ucap Zayya.


“Kak Ray, pakaianku mana?” tanya Zayya dengan sedikit suara keras agar bisa di dengar oleh kakak keduanya itu yang kembali menyetrika pakaiannya yang menurutnya masih kusut.


“Sebentar. Sedikit lagi.” Jawab Rayya dari luar.


Zayya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang masih tidak menyangka dengan keriwehan kedua kakaknya itu. Zayya pun melihat kakak sulungnya yang kembali memeriksa perlengkapan yang harus dia bawa.


“Okay, pakaian datang!” ujar Rayya masuk sambil membawa adiknya itu.


Zayya pun menatap kakak keduanya itu dengan tersenyum, “Apa masih ada lagi yang kusut atau sudah bisa ku pakai?” tanya Zayya dengan nada pasrah karena sejak tadi saat sudah dia pakai kakak keduanya itu memintanya lagi untuk di lepas dan kembali di setrika melihat masih ada bagian yang kusut.


Rayya menggeleng dengan cengesan, “Sudah tidak ada lagi. Silahkan kamu pakai. Kakak sudah memastikannya bahwa tidak ada lagi yang kusut.” Jawab Rayya lalu segera duduk di ranjang milik adiknya itu yang memang sudah pindah ke kamarnya sendiri setelah Rayya menikah dan mengosongkan kamar untuk kakak keduanya itu sama seperti kamar milik Nayya yang juga memang kosong walaupun dia sudah menikah dan punya rumah sendiri. Nayya dan Rayya tetap di sediakan kamar oleh mama Fara dan papa Imran di rumah mereka. Tidak di bongkar dan tetap masih ada barang kedua putrinya itu di tempatkan di sana dan hanya kedua putrinya itu juga lah yang bisa menempatinya ketika mereka menginap seperti hari ini.


“Apa semua sudah siap kak? Tidak ada lagi yang tertinggal?” tanya Rayya melihat ke arah kakak sulungnya yang memeriksa perlengkapan Zayya entah untuk yang ke berapa kalinya.


Nayya yang mendengar pertanyaan adiknya itu tersenyum lalu mengangguk, “Sudah siap semua. Tidak ada lagi yang ketinggalan.” Jawab Nayya.


Sementara Zayya yang sudah selesai memasang pakaiannya segera melihat kedua kakaknya itu, “Zayya bilang juga apa. Semua sudah siap. Gak ada lagi yang tertinggal tapi kak Nayya gak percaya dan masih memeriksanya lagi.” Ujar Zayya mendekati kedua kakaknya yang sedang duduk di ranjang.


Rayya mengamati pakaian dinas adiknya itu dan menemukan masih ada yang kusut, “Kok, masih kusut sih. Ish, le--”


“Stop kak. Jangan meminta untuk di lepas lagi. Sudah cukup aku melepasnya dua kali tadi. Sudah lah ini sudah perfect. Tidak kusut lagi. Jika kau menyetrikanya lagi maka di pastikan pakaianku ini akan setipis tisu. Sudah, aku tidak akan melepasnya lagi. Lagian ini juga hanya kusut sedikit.” Potong Zayya begitu mendengar kakak keduanya itu hendak memintanya melepas pakaian lagi.


“Ish, mengganggu dek. Tidak perfect lagi.” ujar Rayya.


Zayya yang mendengar itu pun menepuk keningnya pusing, “Ouh God kak Rayya ini hanya kusut sedikit. Selain itu juga walau kakak menyetrikanya berulang kali tetap saja akan kusut jika aku akan pergi atau duduk. Jadi gak usah lagi yaa. Aku juga akan terlambat nanti.” Ucap Zayya lembut. Antara pasrah dan mulai kesal. Ini bukan masalah perfect atau tidak tapi dia sudah lelah jika harus melepas lagi pakaiannya dan menunggu lalu memakainya lagi dan setelah di pakai lalu kakaknya itu menemukan ada yang kusut lagi nanti di minta lepas lagi, bisa-bisanya tidak selesai drama itu dan dia yang akan berakhir terlambat.


Rayya yang mendengar itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah sudah tidak usah di lepas lagi. Tapi jangan sampai kusut pakaiannya.” ucap Rayya.


Zayya mengangguk antara yakin dan tidak yakin karena ini pakaian menempel pada tubuhnya dan dia tidak mungkin berdiri terus hanya untuk menjaga agar pakaian itu tidak kusut. Dia pasti akan duduk juga dan hal itu pasti akan membuat pakaian kusut.


Zayya menatap kakak sulungnya yang hanya memperhatikannya itu, “Ada apa kak? Kenapa memandangku begitu? Apa kakak juga berpikir aku harus melepas pakaianku ini dan menyetrikanya kembali agar tidak kusut?” tanya Zayya.


Nayya menggeleng, “Gak kok. Kakak gak akan mengomentari pakaianmu karena itu adalah urusan Rayya. Kakak hanya tidak menyangka bahwa adik kecil kakak sudah dewasa tinggal setahun lagi akan lulus dan bergelar apoteker. Lalu setelah itu kita gak ada yang tahu bahwa adik kecil kakak itu akan menikah dan meninggalkan kami tinggal bersama suaminya dan kita akan tinggal terpisah.” Ucap Nayya mengatakannya dengan senyuman tapi justru terdengar sedih.


“Ck, kakak jangan melo begitu dong. Tenang saja aku akan tetap tinggal di sini. Aku tidak akan meninggalkan mama dan papa. Kita tetap bisa seperti ini. Kalian tetap bisa memperhatikan aku seperti ini walaupun perhatian yang kalian berikan terlalu over dosis. Tapi tidak masalah hal itu yang terpenting jangan bicara begitu lagi. Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku ini adik kalian yang sangat butuh perhatian kalian. Aku akan tetap jadi adik kalian dan adik kecil bagimu. Aku menyayangi kalian kedua kakakku yang ku sayangi walaupun kadang menjengkelkan. Hehehehh.” Kata Zayya panjang lebar. Dia harus menghentikan drama kesedihan ini. Dia tidak ingin memulai profesinya dengan suasana sedih.


Nayya dan Rayya yang mendengar perkataan adik mereka itu tersenyum dan saling memandang satu sama lain. Lalu menatap Zayya dengan bangga. Adik mereka yang sangat manja itu akan meraih mimpinya, “Kami menyayangimu juga adik kami yang selalu akan jadi adik kecil bagi kami.” ujar Nayya lalu memeluk Rayya juga.


Zayya tersenyum melihat kedua kakaknya itu saling berpelukan, “Okay, sekarang lihat apa penampilan Zayya sudah perfect?” tanya Zayya sambil memutar tubuhnya.


Nayya dan Rayya pun mengangguk, “Sangat perfect. Teman-temanmu pasti akan iri padamu.” kata Nayya dan Rayya kompak.


Zayya pun tertawa mendengar ucapan kedua kakaknya itu, “Tentu saja mereka akan iri padaku. Aku ini memiliki dua orang kakak yang perhatiannya over dosis.” Ucap Zayya. Nayya dan Rayya yang mendengarnya tertawa lalu mendekati Zayya dan ketiganya berpelukan.


***


Kini akhirnya setelah drama yang cukup melelahkan dan menguras tenaga serta emosi bagi Zayya. Akhirnya mereka bisa segera berangkat menuju kampus untuk mengantar Zayya profesi. Semua keluarga pergi untuk mengantarnya. Bahkan triplets juga di ajak ikut.


Zayya segera masuk ke mobil bersama mama Fara dan papa Imran. Sementara Nayaya dan Rayya ikut mobil masing-masing bersama suami mereka juga.


“Apa semua sudah siap nak? Tidak ada lagi yang kau lupakan?” tanya papa Imran.


“Tenang saja pah. Semua sudah siap karena kakak sulungku itu sudah mempersiapkannya dengan baik. Aku sendiri sampai bosan melihatnya berulang kali memeriksanya.” Jawab Zayya penuh senyuman.


Papa Imran pun tertawa, “Mereka menyayangimu nak. Lihatlah demi mengantar dirimu mereka rela cuti dan menginap di rumah.” Kata papa Imran.


Zayya pun mengangguk dan tersenyum memandang kedua kakaknya yang hendak masuk ke mobil mereka, “Papa benar. Aku sangat beruntung memiliki mereka sebagai kakakku dan memiliki kalian sebagai orang tuaku. Aku adalah anak dan adik yang beruntung.” Ucap Zayya tersenyum senang.

__ADS_1


Mama Fara dan papa Imran tersenyum mendengarnya karena ketiga putrinya itu memang saling menyayangi satu sama lain. Mereka sebagai orang tua sangat beruntung memiliki anak seperti Nayya dan adik-adiknya itu. Walau mereka tidak di anugerahi seorang putra tapi mereka tetap bersyukur karena ketiga putri mereka itu sangat membanggakan bagi mereka dengan semua pencapaian mereka.


“Mama sama papa yang duluan.” Ucap Nayya.


Papa Imran pun mengangguk dan segera menghidupkan mobil dan tidak lama segera melaju meninggalkan kediaman mereka untuk beberapa jam dengan di susul dua mobil di belakangnya.


***


“Mas, setelah dari kampus kita singgah sebentar di restoran yaa. Aku ingin ngedate bersamamu dengan ketiga anak kita.” Pinta Nayya menatap suaminya itu yang sedang fokus menyetir.


Risam yang mendengar permintaan istrinya itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah ratuku.” Jawab Risam.


Nayya pun tersenyum lalu mendekati suaminya dan mengecup pipi suaminya itu dengan lembut, “Aku mencintaimu.” Ujar Nayya.


“Mas juga mencintaimu sayang. Semakin cinta. Tidak berkurang sedikit pun.” Jawab Risam tulus.


Nayya mengangguk, “Aku tahu. Aku tahu mas mencintaiku dan aku tidak pernah meragukannya.” Ucap Nayya.


“Mas, kita harus bersama terus sampai anak kita tumbuh besar. Kita harus melihat mereka tumbuh besar bersama. Kita akan menemani mereka menemukan pasangan mereka dan menikah lalu kita juga akan bermain dengan cucu kita nanti.” Kata Nayya.


Risam pun terkekeh mendengar ucapan istrinya itu yang sudah membayangkan hal yang masih sangat jauh di masa depan, “Kenapa mas tertawa. Apa itu lucu?” tanya Nayya pura-pura merajuk.


Risam dengan cepat menggeleng, “Mas hanya berpikir kadang-kadang otak authormu itu di bawa ke kehidupan nyata. Anak kita masih kecil sayang. Jadi tentu saja masih lama mereka menikah.” Ucap Risam.


Nayya mengangguk, “Aku tahu. Itu adalah harapanku. Aku ingin terus bersamamu sampai kita tua nanti dan melihat anak-anak kita hidup bahagia bersama pasangan mereka.” ujar Nayya.


“Mas juga tahu itu adalah harapanmu dan itu juga harapan mas. Mas sangat menyayangimu dan anak-anak kita. Tapi bayanganmu terlalu jauh sayang. Mas gak melarangmu untuk berharap dan membayangkan apa kehidupan kita nanti. Tapi kita juga tak tahu kan apa yang akan terjadi nanti.” ujar Risam.


Nayya mengangguk mengerti, “Aku mengerti mas apa yang ingin kau katakan. Aku akan berdoa kepada yang maha kuasa agar kita tetap selalu bersama.” Kata Nayya tersenyum.


“Aamiin.”


***


Kurang lebih satu jam dalam perjalanan dan kini mereka tiba di kampus. Di sana sudah ada teman-teman Zayya juga yang berdatangan dan berkumpul di gedung fakultas. Mereka hari ini masih harus melakukan upacara dulu sebelum akan di lebur ke rumah sakit secara berkelompok.


“Zayya kesana dulu ya mah, pah, kakak dan kakak ipar.” Izin Zayya segera bergabung dengan teman-temannya itu setelah mendapat izin.


Upacara itu menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam dan kini para mahasiswa profesi itu menuju kenderaan mereka masing-masing untuk segera meluncur menuju tempat mereka bertugas. Begitu juga dengan Zayya segera mendekati di mana keluarganya berkumpul menunggunya. Dia segera naik ke mobil dan tidak lama mereka pun segera meninggalkan kampus dan meluncur menuju rumah sakit tempat Zayya bertugas untuk satu bulan ke depan sampai menunggu rolling selanjutnya jika akan di tempatkan di mana.


Zayya mendapatkan rumah sakit yang terdekat. Hanya sekitar 15 menit saja mereka sudah tiba di rumah sakit yang di maksud.


“Aku masuk yaa mah, pah, kak Nayya, kak Rayya dan kakak ipar berdua. Ahh triplets juga. Terima kasih sudah mengantar Zayya di hari pertama Zayya ini. Zayya akan menjalankan dan menyelesaikan profesi ini dengan baik.” kata Zayya yang di balas dengan senyuman dari mereka semua.


Zayya pun segera masuk setelah memeluk dan berpamitan pada kedua orang tuanya dan kedua kakaknya itu. Dia segera bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tidak lupa Zayya melambaikan tangan kepada mereka.


“Dia akan memulai perjuangannya menyelesaikan cita-citanya selama satu tahun ke depan.” Ucap Nayya di angguki oleh Rayya.


“Ya sudah kita pulang. Dia sudah tiba dengan selamat.” Ajak papa Imran yang di setujui oleh semuanya.


Mereka segera naik ke mobil masing-masing dan tidak lama segera melaju meninggalkan rumah sakit menuju restoran untuk sarapan karena memang mereka belum sarapan.


***


Kini mereka sudah berada di salah satu restoran bintang lima. Mereka segera menuju tempat yang sudah di reservasi oleh Nayya tadi saat di perjalanan untuk keluarganya itu.


Sebenarnya Nayya hanya ingin ngedate bersama suami dan ketiga buah hatinya itu tapi sepertinya waktu tidak mengizinkan dan mengubah rencana mereka dari acare ngedate menjadi sarapan bersama. Sepertinya juga akan lebih seru karena sarapan bersama keluarga.


Mereka segera memesan makanan dan tidak lama makanan mereka pun segera di antarkan. Lalu mereka segera sarapan bersama dengan lahap sambil bercerita penuh canda tawa.


“Mas, sepertinya sarapan bersama lebih seru dari pada kita ngedate.” Bisik Nayya kepada Risam.


Risam pun tersenyum lalu segera menyuapkan makanan untuk istrinya itu.


Rayya menyadari apa yang di lakukan oleh kakak iparnya itu, “Ouh kakak ipar. Jangan bermesraan di hadapan kami. Ini masih pagi.” ucap Rayya.


Nayya dan Risam tersenyum mendengar ucapan Rayya itu, “Ariq, sepertinya adikku iri. Ayo suapi juga dia.” Balas Nayya tersenyum menggoda.


Ariq yang mendengar ucapan kakak iparnya itu pun segera menyuapi sang istri, “Apa an sih!” tolak Rayya merona malu hingga menimbulkan gelak tawa yang lain.


“Ariq adik iparku itu merona malu.” Ujar Risam.

__ADS_1


“Kakak ipar hentikan. Aku mengaku kalah. Kalian memang pasangan yang sudah meledek.” Ucap Rayya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


“Gak usah malu sayang. Jika kau memang ingin di suapi maka aku akan menyuapi dengan senang hati. Tidak perlu iri dengan apa yang di lakukan oleh kakak ipar karena aku akan mewujudkannya untukmu.” Ucap Ariq.


“Mama, papa mereka menggodaku.” Lapor Rayya meminta bantuan kepada mama Fara dan papa Imran.


“Maaf nak, kami gak ikutan.” Ucap papa Imran fokus dengan sarapannya.


“Maahh!” panggil Rayya sambil menatap mamanya itu dengan tatapan memohon.


Mama Fara pun ingin tertawa melihatnya tapi dia tahan. Ternyata putri keduanya itu masih suka menatapnya seperti itu jika meminta pembelaan, “Sudah hentikan. Kasihan putriku. Ayo habiskan sarapan kalian.” ucap mama Fara.


“Tuh dengerin kakak dan kakak ipar serta suamiku yang justru ikut-ikutan menggodaku juga.” Ujar Rayya merasa menang karena mendapat pembelaan dari mama Fara.


“Baik nona. Kami akan menurut.” Jawab ketiganya kompak hingga kembali di penuhi gelak tawa lagi.


Acara sarapan itu memang berjalan dengan sangat seru. Mama Fara dan papa Imran juga senang melihat kedua putri mereka yang walaupun sudah bersuami dan memiliki kehidupan mereka masing-masing tetap dekat dan bisa bercanda satu sama lain.


Sekitar satu jam mereka berada di restoran itu menikmati sarapan yang penuh canda tawa. Kini mereka keluar restoran dan segera masuk ke mobil masing-masing.


“Mah, pah. Rayya dan kak Ariq akan pulang ke rumah ibu.” Ucap Rayya.


Mama Fara dan papa Imran pun mengangguk, “Terima kasih nak sudah menginap semalam dan ikut mengantar Zayya lalu kita sarapan bersama tadi. Terima kasih.” Ucap mama Fara.


Rayya yang mendengar ucapan mamanya itu pun segera mendekati mama Fara dan memeluknya, “Jangan berterima kasih dong mah. Aku memang ingin mengantar Zayya juga. Itu kewajibanku sebagai kakaknya. Dulu saat aku masuk kuliah profesi juga kak Nayya dan Zayya mengantarku. Aku juga ingin melakukan hal yang sama untuknya. Jadi jangan ucapkan terima kasih.” Ucap Rayya lalu melepaskan pelukan dari mamanya dan segera beralih memeluk papa Imran cinta pertamanya.


“Kamu sehat-sehat nak di sana. Jaga dirimu dan jaga keluargamu juga.” Pesan papa Imran sambil menepuk lembut belakang sang putri.


Setelah itu pelukan mereka pun terlepas dan Ariq segera bergantian berpamitan kepada mertuanya itu, “Jaga diri baik-baik nak. Kami titip putri kami ini.” ucap papa Imran menepuk bahu menantu keduanya itu.


Ariq pun mengangguk lalu beralih menyalami tangan ibu mertuanya. Setelah itu Ariq dan Rayya beralih menuju Risam dan Nayya untuk berpamitan.


Sementara mama Fara dan papa Imran segera naik ke mobil mereka dan segera berpamitan pulang lebih dulu.


“Kak, aku pamit pulang!” ucap Rayya mendekati kakaknya itu.


Nayya merentangkan tangannya. Rayya yang mengerti apa yang di inginkan oleh kakanya itu pun segera berhambur dalam pelukan Nayya, “Kaakk!” ujarnya.


“Apa belum hamil?” tanya Nayya berbisik.


Rayya yang mendapat bisikan itu pun tersenyum, “Menurut kakak bagaimana? Apa aku hamil atau tidak?” tanya Rayya balik meminta Nayya menebak.


“Kau ini kakak bertanya kenapa justru meminta kakak menebaknya.” Ucap Nayya terkekeh.


“Ya gak apa-apa. Aku ingin tahu apa kakak bisa menebaknya atau tidak.” Ucap Rayya.


“Kau hamil. Wajahmu berseri. Iya kan?” bisik Nayya.


Rayya tersenyum lalu sedikit mengangguk dalam pelukan kakaknya itu, “Yah aku mengandung 5 minggu tapi aku belum memberi tahu suamiku. Kau yang tahu pertama kali kak.” Jawab Rayya berbisik.


Nayya yang mendengar jawaban adiknya itu pun tersenyum, “Selamat dek. Kakak ikut berbahagia untukmu. Selamat sekali lagi. Kakak mencintaimu. Kakak pikir kakak salah.” Ucap Nayya lalu melepas pelukan mereka yang sudah lumayan lama itu.


Rayya menatap kakaknya itu dengan tersenyum seperti biasa tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari Nayya, “Segera beritahu Ariq.” Ujar Nayya lirih sambil menatap adik iparnya yang sedang berbincang dengan suaminya.


“Rencananya aku akan memberinya kejutan sepulang dari sini kak. Semoga saja berjalan lancar. Doakan ya kak.” Ucap Rayya.


“Tentu akan kakak doakan. Selamat yaa. Jaga baik-baik keponakanku.” Ucap Nayya mengelus perut rata milik adiknya itu.


Rayya mengangguk, “Tenang saja kak. Aku akan memberikan adik untuk triplets.” Ucap Rayya.


Setelah itu mereka pun saling berpamitan satu sama lain lalu segera naik ke mobil masing-masing dan tidak lama segera meninggalkan parkiran restoran itu menuju kediaman masing-masing.


Nayya di dalam mobil tidak berhenti tersenyum, “Apa yang membuatmu bahagia sayang? Apa ada kabar gembira?” tanya Risam penasaran.


Nayya mengangguk, “Hum, aku sedang berbahagia karena triplets akan segera punya adik lagi.” Ucap Nayya tanpa beban.


Risam yang mendengar ucapan istrinya itu segera mengerem dan menghentikan mobil dengan pelan karena tahu ada triplets yang sedang tidur. Dia kaget tapi masih tahu diri dan ingat untuk tidak membangunkan triplets.


Nayya bingung dengan apa yang di lakukan suaminya itu yang menghentikan mobil mereka, “Kenapa kita berhenti mas?” tanya Nayya sambil melihat sekeliling untuk memastikan alasan apa yang membuat suaminya itu berhenti.


Risam segera menatap istrinya dengan tatapan terkejut dan dia mengabaikan pertanyaan yang di ajukan oleh istrinya itu. Dalam pikirannya saat ini yaitu memastikan apa istrinya hamil atau tidak. Dia bukan tidak ingin punya anak lagi hanya saja menurutnya triplets sudah cukup.

__ADS_1


“Kamu hamil?”


__ADS_2