
Singkat cerita, kini Nayya sudah turun dari kamar suaminya menuju dapur. Di sana dia melihat ada mertuanya dan juga Adiba, “Ehh sayang. Kenapa sudah turun?” tanya mami Vega mendekati sang menantu.
“Emm Nayya mau ikut membantu Mih.” Ujar Nayya.
Adiba dan mami Vega tersenyum, “Sayang, kami tidak akan memarahimu jika kau tidak membantu. Mami tahu kau khawatir tapi ini adalah rumahmu juga. Jadi jangan sungkan kepada kami nak. Kami mengerti kalian adalah pengantin baru yang pastinya butuh waktu lebih lama.” Ujar mami Vega tersenyum menatap menantunya itu yang sangat cantik padahal dia yakin menantunya itu tidak senang memakai make up apapun saat ini.
“Mereka belum melakukan itu mih. Tadi malam Risam turun mengambil pembalut.” Ucap Adiba tersenyum menggoda adik iparnya itu.
Nayya yang mendengar itu pun malu. Mami Vega pun tersenyum mendengar hal itu, “Sudah gak apa-apa sayang. Itu kan normal untuk semua wanita. Jangan malu.” Ujar mami Vega.
Nayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Sudah. Jika kamu mau membantu. Tolong kamu potong-potong saja sayur itu. Bisa kan?” tanya Mami Vega.
Nayya mengangguk dengan cepat lalu segera menemani Adiba yang sedang memotong bumbu-bumbuan, “Maaf yaa adik ipar. Kakak bercanda tadi.” Bisik Adiba.
Nayya pun menatap kakak iparnya itu lalu tersenyum, “Nayya juga tau kok.” Balas Nayya.
Nayya dan Adiba pun seketika akrab dan saling membantu dan bercerita apapun mengenai Risam itu. Mami Vega dan Adiba mengatakan semua makanan kesukaan Risam. Bahkan mami Vega pun mengajari Nayya memasak makanan kesukaan suaminya itu. Nayya sangat senang mempelajari cara membuat makanan kesukaan suaminya itu dengan seksama dari sang mertua.
Mami Vega tersenyum melihat bagaimana antusiasnya Nayya mempelajari makanan kesukaan putranya itu. Dia yakin putranya itu adalah orang yang beruntung bisa mendapatkan istri level Nayya yang pasti akan memperhatikan makanan suaminya itu dengan baik, “Nak, kalau kamu suka makanan seperti apa? Ayo mami juga ingin tahu makanan kesukaanmu.” Ucap mami Vega.
“Iya dek. Kami ingin tahu juga makanan kesukaanmu. Tolong ajari kami dong.” Ucap Adiba menimpali.
Nayya pun menatap ibu mertua dan kakak iparnya itu lalu tersenyum. Nayya pun membuat makanan kesukaannya itu dengan cekatan. Mami Vega menghafal bahan-bahan dan cara membuat makanan kesukaan menantunya itu dengan seksama, “Sini mami boleh mencobanya kan?” tanya mami Vega.
Nayya pun segera mengizinkan ibu mertuanya itu mencicipi makanan kesukaannya itu, “Emm enak.” Ucap Mami Vega dan Adiba tersenyum.
__ADS_1
“Sepertinya ini akan jadi makanan kesukaan kita juga kan Mih. Cara membuatnya juga mudah.” Ujar Adiba yang di angguki oleh mami Vega.
Setelah semua makanan untuk sarapan siap. Mereka segera menyiapkannya di meja makan, “Kamu panggil suami saja nak.” ujar mami Vega kepada Nayya setelah semua makanan tertata.
Nayya pun mengangguk lalu segera naik ke lantai dua yang ternyata Risam pun segera turun dari kamarnya, “Mau kemana sayang?” tanya Risam mendekati istrinya.
Nayya tersenyum, “Mau menyusul mas untuk sarapan.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk lalu dia segera menggenggam tangan istrinya itu. Keduanya segera menuju meja makan yang ternyata di sana sudag ada anggota keluarga yang lain, “Wah, begini nih yang sudah ada istri. Mau sarapan aja harus di susul.” Goda papi Lutfi. Nayya yang mendengarnya tersenyum.
“Pih, jangan menggodaku. Papi juga kadang-kadang harus di susul mami.” ujar Risam lalu segera duduk di kursinya.
“Mih, lihat putramu dia sudah bisa membalas perkataanku. Dia sudah bisa meledekku.” Ujar papi Lutfi.
Mami Vega pun hanya tersenyum, “Sudahlah pih jangan mengganggu kebahagiaan putra kita.” Ucap mami Vega.
“Iya pih. Ini makanan buatan menantu kita. Ini makanan kesukaannya.” Ujar mami Vega tersenyum menatap Nayya.
“Emm kalau begitu papi mau mencobanya.” Ujar papi Lutfi. Mami Vega pun segera mengambilkan untuk suaminya itu.
Sementara Risam dia menatap jemari istrinya itu, “Mas mau makanan yang mana?” tanya Nayya pelan.
“Mau makanan kesukaanmu itu.” ujar Risam.
Nayya pun mengangguk lalu mengambilkan makanan untuk suaminya itu lalu memberikannya. Begitu Nayya memberikannya, Risam menahan tangan istrinya itu dan memeriksanya, “Tenang dek. Tangan istrimu itu baik-baik saja. Kami tidak melakukan tindak kejahatan sehingga harus menghilangkan dan melukai tangan istrimu itu.” ucap Adiba menggoda adiknya.
__ADS_1
Nayya pun hanya tersenyum, “Jangan menggodaku kak. Aku hanya memastikan tangan istriku tidak terluka saja.” ujar Risam tidak mau mengalah.
“Nayya baik-baik saja mas.” Ucap Nayya lirih.
“Tuh dengerin dek.” ucap Adiba.
“Sudah. Jangan bertengkar. Ayo sarapan. Nayya kamu juga makanlah.” Ucap papi Lutfi.
Nayya pun mengangguk lalu dia segera mengambil makanan untuknya sendiri dan ikut sarapan bersama keluarga barunya itu. Dia merasa di terima dengan baik di keluarga suaminya itu. Sarapan pagi bersama itu berjalan dengan lancar dengan Risam dan Nayya yang di goda oleh keluarga Risam itu.
Setelah sarapan bersama kini Nayya dan Risam berada di kamar Risam lagi. Risam sedang duduk di ranjang mengamati istrinya yang sibuk merapikan kamar itu, “Sayang, sini duduk di samping mas.” Ucap Risam sambil menepuk sisi ranjang di sampingnya.
Nayya pun segera mendekati suaminya itu lalu duduk di samping Risam, “Ada apa mas?” tanya Nayya.
Risam kembali melihat tangan sang istri, “Beneran gak terluka kan?” tanya Risam.
Nayya pun tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Dia pikir kenapa tapi ternyata suaminya itu hanya ingin melihat tangannya, “Nayya gak apa-apa mas. Lihat gak ada luka kan?” tanya Nayya memperlihatkan tangannya itu.
“Mas hanya gak mau kamu terluka sayang. Apa yang mas lakukan ini terkesan lebay?” tanya Risam.
Nayya menggeleng, “Gak kok. Nayya juga senang di perhati-in sama mas.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum mendengar hal itu, “Sayang, kita akan tinggal di mana? Maaf yaa mas belum memiliki rumah sendiri.” Ucap Risam.
Nayya menggeleng, “Gak apa-apa mas. Nayya ngerti kok. Sudah jangan pikirkan apapun. Kita akan tinggal di ruko Nayya saja. Jika mas tidak keberatan. Kita akan membangun rumah nanti jika sudah punya kelebihan. Untuk sementara kita tinggal di sana.” Ucap Nayya mengusulkan.
__ADS_1
“Emm, tapi jika mas tidak keberatan. Nayya tahu mas mungkin akan merasa rendah jika mas tinggal di rumah Nayya. Jadi semua keputusan ada di tangan Mas. Nayya akan ikut apapun keputusan mas.” Ucap Nayya lembut.
“Kita akan tinggal di rukomu itu dulu saja sampai kita bisa membangun rumah sendiri. Mas tahu kau pasti tidak akan merasa nyaman jika harus tinggal bareng salah satu orang tua kita. Mas juga ingin kita mandiri. Jadi mas numpang dulu yaa di rukomu.” Ucap Risam.