
“Kakak, apa yang kau lakukan?”
Ivana langsung membuang silet yang berhasil dia ambil. Ivana langsung melihat nadi kakaknya, “Kak, apa yang kau lakukan? Aku tahu kau sedang patah hati dan terluka karena kak Nayya sudah menikah tapi aku lebih terluka lagi melihat kakak ingin membunuh diri. Ingat kak, kak Nayya pasti tidak suka kakak begini. Dia itu penyayang kepada semua orang kak, kenapa kau ingin membunuh dirimu. Apa kau tidak ingat kami kak, kau masih memiliki mami, papi dan adik-adikmu yang menyayangimu.” Ucap Ivana menangis.
Afnan pun segera merosotkan tubuhnya di ranjangnya lalu menangis, “Sakit Vana. Hati kakak sakit. Kakak ingin melupakannya tapi tidak bisa. Kakak sudah berusaha untuk melupakannya tapi kenapa masih tidak bisa. Kakak tahu dia sudah menikah bahkan undangan pernikahannya pun ada tapi kakak masih belum bisa melupakannya. Kakak harus apa Vana?” tanya Afnan menangis.
Ivana yang melihat kakaknya menangis pun ikut menangis karena dia tahu kakaknya itu pasti sangat sedih saat itu. Siapa juga yang gak akan sedih dan terluka jika gadis yang dia cintai menikah dengan orang lain karena kebodohannya sendiri. Ivana hanya bisa memeluk kakaknya itu, “Aku yakin kak, semua ini adalah yang terbaik. Aku yakin kau akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari kak Nayya. Jangan pernah lagi memiliki niat untuk bunuh diri kak. Jika itu masih kau lakukan maka aku berjanji akan membenci kak Nayya seumur hidupku. Aku akan menyalahkannya sebagai penyebab kematian kakakku. Jadi jika kakak tidak ingin aku membencinya maka aku mohon jangan pernah berniat untuk pergi dari kami kak.” Ucap Ivana menangis.
“Kau harus berjanji padaku kak. Kau bisa kan?” tanya Ivana.
Afnan pun hanya bisa mengangguk dalam pelukan adik bungsunya itu, “Jangan membencinya Vana. Dia tidak bersalah. Kau tahu semua ini salah kakak sehingga kakak kehilangannya.” Ucap Afnan.
“Aku tidak akan membencinya kak jika kau tidak akan berpikiran pendek lagi dan melakukan bunuh diri.” Ucap Ivana.
“Kakak janji Vana. Kakak tidak akan melakukannya lagi. Tapi jangan pernah membenci wanita yang kakak cintai. Kakak tidak rela jika dia memiliki musuh. Apalagi musuhnya itu adik kakak sendiri.” Ujar Afnan.
Ivana pun hanya bisa menghela nafasnya, “Lihatlah kak Nay dia tidak ingin aku membencimu. Sebesar apa cintamu kepada kak Nayya kak sehingga aku pun tidak di izinkan untuk membencinya.” Batin Ivana menatap kakak sulungnya itu.
__ADS_1
***
Di sisi Nayya, tiba-tiba dadanya berdenyut nyeri, “Akh sakit!” ujar Nayya saat dia sedang di rias.
Risam yang ada di kamar bersama Nayya pun segera mendekati istrinya itu, “Ada apa sayang? Kenapa? Apa yang sakit?” tanya Risam khawatir.
Nayya menggeleng, “Gak tahu kak. Tiba-tiba dadaku terasa nyeri.” Ucap Nayya jujur menatap suaminya itu.
“Sekarang masih sakit?” tanya Risam. Nayya menggeleng lalu tersenyum.
MUA yang melihat itu pun tersenyum. Mereka bisa melihat cinta yang besar di mata pengantin laki-laki untuk pengantin wanita. Setelah itu Nayya kembali di rias dan Risam dia keluar kamar untuk mengambilkan minuman untuk istrinya itu. Dia khawatir akan kondisi istrinya yang tiba-tiba saja merasa nyeri.
***
Nayya menggeleng, “Tuxedo itu sangat cocok di tubuh mas.” Jawab Nayya.
“Tentu saja cocok. Istri mas sendiri yang memdesainnya.” Jawab Risam tersenyum.
__ADS_1
Nayya pun tersenyum mendengar itu. Risam segera mendekati istrinya itu lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya, “Terima kasih sayang. Mas sangat menyukai desainmu ini. Ini sangat pas dan cocok di tubuh mas. Kau juga sangat cantik dengan gaun ini. Kita layak raja dan ratu kan.” Ucap Risam.
Nayya pun terkekeh mendengarnya, “Jika kita raja dan ratu lalu di mana kerajaannya?” timpal Nayya ikut menimpali ucapan suaminya itu.
Risam tersenyum, “Kita akan menciptakan kerajaannya sendiri nanti. Kamu mau kan?” Ujar Risam.
Nayya mengangguk, “Aku pasti setuju mas. Aku adalah ratumu kan. Seorang ratu pasti akan mengikuti keputusan dan keinginan rajanya.” Balas Nayya.
Seketika sepasang pengantin baru itu tertawa karena percakapan absurd mereka.
***
Kini Nayya dan Risam sedang berjalan menuju pelaminan mereka di mana para tamu undangan sudah banyak hadir. Rayya dan Zayya menjadi penggiring pengantin untuk kakak mereka itu. Sementara Adiba dan keluarga Risam yang lain tersenyum melihat kebahagiaan di mata Risam dan Nayya itu. Semua orang berbahagia termasuk Nayya dan Risam. Begitu tiba di pelaminan Nayya dan Risam langsung di foto oleh fotografer. Baru setelah itu acara resepsi pernikahan mereka itu segera di mulai setelah Nayya dan Risam duduk di pelaminan dengan di dampingi oleh kedua orang tua masing-masing.
Pesta pernikahan itu berjalan lancar dan bahagia tanpa kendala sedikit pun seolah bumi dan seluruh isinya merestui pernikahan itu. Tapi di sudut lain ada seseorang yang meneteskan air matanya, “Semoga kau selalu bahagia Nayya. Aku akan mencoba untuk melupakanmu walau aku tahu ini sulit. Aku tidak akan berniat untuk bunuh diri lagi karena ternyata walau hanya dengan melihat senyummu aku bisa merasakan kebahagiaan. Aku ingin melihat kau terus tersenyum. Berbahagialah Nayya dengan suamimu. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri” ujar Afnan lalu dia segera pergi dari pesta itu. Dia datang hanya untuk melihat wanita yang dia cintai itu tersenyum dan datang hanya untuk menghargai undangan yang di berikan oleh gadis yang dia cintai.
Afnan pergi dari pesta pernikahan itu tanpa menengok ke belakang lagi karena dia tidak ingin niatnya bunuh diri seperti tadi akan bangkit lagi karena ketidak ikhlasannya. Bibirnya mengatakan ikhlas namun hatinya tidak pernah rela. Memang tidak ada satupun yang bisa benar-benar ikhlas untuk melepaskan sesuatu yang ada hanya berdamai dengan keadaan. Rasa sakit, rasa cinta, rasa sedih akan sembuh hanya dengan waktu saja walau kadang hati masih terasa nyeri jika teringat akan luka itu. Namun semua akan baik nanti jika kita sudah bisa menerima semua yang terjadi merupakan bagian dari takdir yang tidak bisa di pisahkan.
__ADS_1
Seluruh rangkaian acara pernikahan Nayya dan Risam akhirnya sudah berakhir, semua tamu undangan sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing. Nayya dan Risam juga sudah berada di kamar Nayya. Risam berbaring di ranjang masih dengan pakaian pengantinnya. Nayya hanya tersenyum saja dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Nayya tetap serius menghapus make up yang dia pakai. Setelah menghapus make up selesai, dia melanjutkannya dengan melepas gaunnya yang di bantu oleh Risam. Risam juga melepas tuxedo-nya.