Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
65


__ADS_3

“Bagaimana?”


“Sebentar kak, aku bahkan belum menghidupkan alat USG-nya.” Ujar dokter Erina melihat dokter Elvie yang terlihat tidak sabaran ingin mengetahui kehamilan Nayya. Seorang gadis yang dia ketahui sebagai seorang perawat di puskesmas tempat kakaknya juga bertugas di sana itu dan juga seorang gadis yang dia ketahui sebagai gadis yang ingin di jodohkan oleh kakak sepupunya itu dengan putra sulungnya. Yah, Nayya hampir saja jadi menantu dokter Erina tapi yah takdir berkata lain.


“Yah segera hidupkan Rin. Kenapa lama banget sih.” Protes dokter Elvie.


“Kenapa jadi kau yang tidak sabaran kak. Bukankah seharusnya suster Nayya dan suaminya yang begitu. Ini malah kau.” Balas dokter Erina.


“Tentu saja aku tidak sabaran. Aku ini calon neneknya nanti. Nayya itu adalah anak didikku.” Timpal dokter Elvie.


Nayya dan Risam yang melihat dan mendengar perdebatan kedua dokter di hadapan mereka itu hanya bisa saling menatap satu sama lain dan tersenyum.


“Sudah lakukan saja.” ucap dokter Elvie.


Dokter Erina pun hanya bisa menghela nafas lalu segera melakukan tugasnya. Dia pun segera memulai USG itu dan Nayya serta dokter Elvie menatap layar monitor. Dokter Erina yang melakukan USG pun menatap layar monitor dan dia kaget dengan apa yang dia lihat di layar monitor. Dia menatap Nayya dan memastikan kembali apa yang dia lihat itu benar, “Rin, kenapa aku bisa melihat dua bulatan?” tanya dokter Elvie. Walaupun dokter Elvie bukan dokter kandungan namun sedikit tidaknya dia juga mengerti dengan alat USG itu.


“Seperti yang kakak duga. Suster Nayya mengandung kembar. Dua bulatan kecil itu adalah embrio yang kini sedang berkembang.” Jelas dokter Erina.


Nayya dan Risam yang mendengar itu saling memandang tidak percaya, “Kembar dokter? Apa itu benar?” tanya Nayya.


“Benar nak. Kamu mengandung kembar dan kandungan kamu juga kuat. Tidak ada masalah.” Ucap dokter Erina.


Nayya pun tersenyum bahagia bahkan dia sampai terharu. Nayya menggenggam tangan Risam erat. Risam pun tersenyum. Dia juga bahagia dengan apa yang dia dengar itu. Tujuan mereka datang ke rumah sakit memang untuk memastikan kehamilan Nayya tapi siapa sangka Allah sangat maha pemurah kepada mereka yang memberi kejutan seperti ini dengan kehamilan kembar.


Setelah itu dokter Erina langsung membersihkan gel di perut Nayya dan menyelesaikan USG-nya, “Selamat nak!” ucap dokter Elvie yang ikut bahagia dengan kehamilan kembar Nayya itu.

__ADS_1


Nayya pun tersenyum dan kini keduanya segera melakukan konseling seputar kehamilan. Nayya memang sudah mengetahui dasarnya tapi Risam juga ingin mengetahui apa saja hal-hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan saat kehamilan.


Dokter Elvie dan Nayya hanya tersenyum mendengar dan melihat Risam yang sangat antusias bertanya itu. Dokter Elvie kini yakin bahwa suami Nayya itu memang sangat mencintai Nayya dan itu sudah menjadi takdir baik yang Nayya peroleh.


Sekitar hampir satu jam mereka di sana memeriksa kandungan Nayya dan juga berkonsultasi terkait kehamilan. Kini Nayya dan Risam sudah dalam perjalanan pulang.


“Sayang, Mas sangat bahagia hari ini dan sangat bersyukur Allah langsung mempercayakan kepeda kita dua anak sekaligus.” Ucap Risam dengan bahagia.


Nayya pun tersenyum, “Aku juga sangat bahagia Mas. Aku tidak menyangka bahwa aku hamil kembar. Aku memang sangat menginginkan anak kembar seperti pada novel-novel yang aku tulis. Aku ingin merasakan bagaimana riwehnya mengurus dua anak kembar bersama-sama.” Ucap Nayya mengusap perut ratanya.


Risam pun mengangguk, “Sayang. Jangan lelah yaa. Mas gak mau kau dan anak kita kenapa-kenapa.” Ucap Risam.


Nayya tersenyum, “Apa mas ingin aku mengajukan cuti saja dari puskesmas selama kehamilanku ini?” tanya Nayya.


“Terima kasih mas sudah mengerti aku. Aku janji akan mengajukan cuti hamil nanti jika aku sudah merasa lelah. Aku akan menjaga anak kita dengan baik mas. Terima kasih sudah tidak egois padaku. Aku beruntung memilikimu sebagai suami mas.” Ujar Nayya.


Risam pun tersenyum, “Jangan berterima kasih sayang. Mas hanya mencoba memahamimu dan memposisikan diri sebagai dirimu. Karena apa yang kau lakukan ini jika mas pun jadi dirimu maka mas akan melakukan hal yang sama seperti hal yang kau lakukan. Kita akan menjaga dan merawat anak kita nanti bersama-sama.” Ucap Risam mengusap kepala Nayya.


Nayya pun tersenyum mengangguk dan kini Risam dan Nayya sudah tiba di supermarket untuk belanja. Risam segera menuju susu ibu hamil dan memborong susu ibu hamil sesuai dengan usia kandungan Nayya yang baru lima minggu itu.


***


Singkat cerita, kini Nayya dan Risam baru saja tiba di ruko mereka tepat pukul delapan malam. Nayya dan Risam segera menemui mama Fara dan papa Imran yang ternyata belum pulang.


“Kok belum pulang?” tanya Nayya setelah menyalami kedua orang tuanya itu di susul oleh Risam.

__ADS_1


“Kami masih menunggu kalian nak.” jawab papa Imran.


Nayya pun tersenyum mendengar jawaban yang papanya berikan itu.


“Ya sudah jika begitu mama dan papa gak usah pulang. Menginap saja.” ujar Nayya.


Mama Fara pun segera menatap papa Imran begitu mendengar tawaran yang di berikan oleh putri sulung mereka itu, “Maaf nak. Kami tetap akan pulang. Kami hanya menunggu kalian.” ucap papa Imran.


Nayya pun hanya bisa mengangguk karena dia tidak ingin memaksa kedua orang tuanya itu, “Baiklah jika memang begitu.” Ujar Nayya.


Setelah itu Nayya dan Risam segera naik ke lantai atas untuk bersih-bersih karena dari luar. Mama Fara dan papa Imran pun tidak lama dari itu segera pulang ke desa A di mana rumah mereka berada.


“Sayang, kapan kita akan memberitahu kepada orang tua kita?” tanya Risam setelah kini keduanya sedang bersantai di kamar.


“Emm, menurut mas bagaimana?” tanya Nayya balik.


Risam pun tersenyum mendengar istrinya itu yang justru bertanya balik, “Terserah padamu sayang.” ucap Risam.


“Emm, besok aja. Tapi orang tua siapa yang lebih dulu kita beritahu?” tanya Nayya.


“Orang tuamu saja sayang. Kan sama aja.” Ujar Risam.


Nayya menggeleng, “Mami sama papi pasti akan merasa tersinggung nanti mas.” Ucap Nayya. Nayya tidak ingin membuat mertuanya itu merasa tidak di anggap.


“Kenapa mesti tersinggung kan sama aja.” Ucap Risam bingung. Dia tidak paham dengan apa yang di maksud istrinya.

__ADS_1


__ADS_2