Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
53


__ADS_3

Begitu masuk Nayya langsung tersenyum bahagia melihat kamar hotel yang di pesan suaminya itu, “Terima kasih. Ini sangat indah.” Ucap Nayya memeluk suaminya erat.


Risam tersenyum membalas pelukan istrinya itu, “Syukurlah jika kau menyukainya.” ucap Risam lalu keduanya kembali masuk melihat keseluruhan kamar hotel itu.


“Mas, aku ingin mengambil foto dulu.” Ucap Nayya.


Risam pun mengangguk lalu segera mengambil ponselnya bersiap mengambil foto sang istri, “Gak, aku mau kita berfoto berdua mas. Masa sendiri-sendiri sih.” Ucap Nayya.


Risam pun mengangguk lalu segera mengambil sesuatu untuk menjadi penahan ponsel agar mereka bisa berfoto berdua. sekitar 15 menit sesi foto itu akhirnya selesai, “Kita sholat isya dulu.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk lalu meletakkan ponsel suaminya itu di ranjang dan segera menuju kamar mandi di ikuti oleh Risam juga.


30 menit kemudian akhirnya keduanya sudah selesai melakukan sholat isya bersama. Nayya segera mencium punggung tangan sang suami dan di balas Risam dengan kecupan lembut di kening.


Setelah itu keduanya makan malam dulu. Yah, untuk mengisi tenaga sebelum nanti mereka akan saling berbagi tubuh, berbagi peluh satu sama lain dan saling memiliki nanti.


“Makan yang banyak sayang. Kita butuh energi nanti.” Ujar Risam tersenyum menggoda istrinya itu.


Nayya pun tersenyum, “Mas, jangan mesum saat makan. Habiskan saja makanannya.” Ucap Nayya.


Risam pun mengangguk lalu keduanya segera menghabiskan makan malam itu dalam diam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Munafik jika Nayya mengatakan bahwa dia tidak gugup karena pada kenyataannya dia sangat gugup. Dia memang sudah memutuskan untuk menjadi milik suaminya itu seutuhnya malam ini dan itu akan terjadi. Sementara Risam juga di landa kegugupan yang sama. Ini adalah performanya pertama kali. Dia takut dan khawatir jika nanti dia melakukan kesalahan.

__ADS_1


***


Singkat cerita, kini keduanya sudah selesai makan malam. Bahkan Nayya sudah selesai dari kamar mandi membersihkan diri. Nayya duduk di hadapan meja rias kamar itu. Risam mendekati Nayya dan memeluknya dari belakang. Nayya hanya tersenyum mendapat pelukan dari suaminya itu, “Mas, wudhuku batal.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum, “Kita wudhu lagi.” Ucap Risam lalu mengecup pipi istrinya itu sekilas dan langsung menggendong Nayya kembali ke kamar mandi.


Nayya keluar lebih dulu dari kamar mandi setelah berwudhu dan meninggalkan suaminya itu melakukan ritualnya sendiri. Nayya menuju tas yang dia bawa tadi. Dia memandangi isi tas itu lama. Dia ragu apa harus memakainya atau tidak. Saking lamanya Nayya berperang dengan otaknya, Risam pun keluar dari kamar mandi dan tersenyum mendapati istrinya yang menatap tas di hadapannya.


“Ada apa? Apa yang membuatmu bingung sayang?” tanya Risam.


Nayya yang mendengar suaminay bicara dengan tiba-tiba pun kaget, “Ish mas ngagetin aja.” Ucap Nayya.


“Mas gak ngagetin sayang hanya saja kamu yang bengong. Emang liatin apa sih?” tanya Risam lalu mengambil tas yang di pandangi istrinya itu.


Risam tersenyum begitu mengetahui apa isi tas yang di pandangi istrinya itu. Kini dia mengerti kenapa istrinya itu hanya memandangi saja tas itu sebab dia ragu, “Mas, apa aku harus memakainya?” tanya Nayya menunduk malu. Memang pakaian yang di berikan mamanya itu bukanlah pakaian yang seksi yang tinggal dalaman saja tapi itu masih pakaian yang utuh namun tipis dengan kerah model V sehingga terbuka.


Risam menatap istrinya itu, “Jangan menunduk sayang. Mas gak suka melihatmu menunduk. Ayo angkat kepalamu dan tatap mata mas.” Ucap Risam.


Nayya menggeleng, “Gak mau. Aku malu.” Ucap Nayya.


Risam pun gemas dengan istrinya itu lalu mendekati Nayya dan mengangkat dagu sang istri dengan handuk sebagai alasnya agar tangannya tidak langsung menyentuh tubuh sang istri, “Tatap mas dengan baik. Dengar sayang, mas gak butuh pakaian ini untuk membangkitkan hasrat dan gairah dalam diri mas karena tanpa kau memakai pakaian ini pun mas sudah bergairah melihatmu. Tapi jika kau memang ingin memakainya maka tentu saja mas mengizinkan walaupun sejujurnya mas tidak rela makhluk tak kasat mata melihat memakainya. Jadi sekarang apa kau mau memakainya?” tanya Risam menatap mata Nayya dalam.

__ADS_1


Nayya langsung menggeleng, “Nayya malu memakainya. Jadi bisa kan Nayya gak memakainya malam ini?” tanya Nayya.


Risam mengangguk, “Tentu bisa sayang. Semua terserah padamu. Seperti apa yang mas katakan tadi bahwa mas gak butuh kau berpenampilan kurang bahan untuk membangkitkan hasrat mas. Kau begini saja mas sudah bergairah.” Ucap Risam lalu segera mengecup kening sang istri dengan lembut.


Nayya pun tersenyum lalu segera memeluk suaminya itu erat. Wudhu keduanya sudah batal satu sama lain setelah saling bersentuhan tanda bahwa keduanya sudah merelakan diri untuk saling memiliki satu sama lain.


Risam segera melepas pelukan keduanya lalu menggendong Nayya menuju ranjang yang di hias dengan mawar merah itu khas malam pengantin. Risam segera meletakkan Nayya di ranjang dengan lembut lalu menatap mata Nayya dalam. Nayya bisa melihat gairah di mata suaminya itu.


“Assalamu’alaikum ya babar rahman” ucap Risam.


“Wa’alaikumusalam ya sayyidal” jawab Nayya.


Risam pun yang mendengar jawaban istrinya langsung menindih tubuh sang istri dan mengecup kening istrinya samba mengucapkan doa.


Kegiatan itu pun berlanjut sampai selesai yang hanya Nayya dan Risam yang tahu. Penyatuan keduanya sudah terjadi. Kini Nayya dan Risam sudah saling memiliki satu sama lain baik raga maupun jiwa. Nayya dan Risam sudah sempurna menjadi pasangan suami istri sesungguhnya. Risam sudah berbuka puasa setelah seminggu tertunda melakukan malam pertama.


***


Keesokkan paginya tepatnya jam setengah tiga, Risam terbangun lebih dulu dan dia tersenyum menatap istrinya yang berada dalam pelukannya. Istrinya yang semalam sudah menjadi istrinya seutuhnya. Mereka sudah saling memiliki satu sama lain. Nayya pun tidak lama kemudian terbangun lalu dia membuka matanya dan tersenyum tipis menatap sang suami yang menatapnya. Nayya seketika teringat apa yang sudah terjadi kepada mereka semalam. Tiba-tiba wajahnya memerah jika mengingat dia dan sang suami sudah melakukan hubungan suami istri. Masih teringat dengan jelas bagaimana suaminya itu memperlakukannya dengan sangat lembut.


Risam menyadari istrinya yang malu itu. Dia segera mengecup kening sang istri lalu turun ke bibir istrinya. Dia mengecup bibir istrinya itu dengan lembut, “Morning kiss sayang. Ayo bangun. Kita bersuci dulu.” Ucap Risam.

__ADS_1


Nayya pun mengangguk dan mencoba bangun tapi dia merasakan nyeri di area selangkangannya. Risam segera bangun lalu dia segera menggendong Nayya menuju kamar mandi. Keduanya pun mandi bersama. Hanya sekedar mandi bersama saja tidak ada ritual lain lain karena Risam mengerti istrinya itu kesakitan dan dia tidak ingin menambahnya lagi meskipun ingin.


Setelah mandi bersama keduanya segera melakukan sholat tahajud bersama di penghujung waktu itu. setelah itu di lanjutkan dengan membaca Al-Qur’an bersama sambil menunggu waktu subuh.


__ADS_2