
Nayya tersenyum mendengar penjelasan suaminya itu, “Kita bawa ranjang dan lemari yang ada di ruko mas. Kita pindahkan itu ke rumah baru kita. Untuk sementara kita pakai itu dulu. Nanti jika sudah punya kelebihan lagi kita beli yang baru.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk, “Hmm, sepertinya apa yang kamu katakan benar sayang. Baiklah begitu saja dulu. Intinya kita pastikan rumah itu selesai dengan baik dan sudah layak huni.” Ujar Risam.
“Mas, emang masih berapa sisa uangnya?” tanya Nayya.
Risam yang mendapat pertanyaan dari istrinya itu pun segera mengambil ponselnya dan memperlihatkan saldo yang masih ada, “Hmm, kok masih banyak.” Ujar Nayya kaget melihat saldo rekening suaminya itu. Yah Nayya menyerahkan urusan pembangunan rumah itu kepada sang suami. Dia tidak mengurusi hal itu sama sekali dan hanya fokus saja pada kehamilannya.
“Kan, kau tahu sayang berapa hasil panen kita dua kali ini.” ucap Risam.
“Alhamdulillah ya mas. Apa yang kita inginkan selalu di kabulkan Allah. Kita ini sudah di karuniai anak tiga sekaligus dan keinginan punya rumah sendiri saat menikah sebentar lagi juga akan terwujud. Allah sanga baik kepada kita mas.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk membenarkan, “Kau benar sayang. Dia sangat baik kepada kita. Mas sangat terharu karena hal itu. Kita memang harus bersyukur kepadanya sayang. Kita tidak akan memiliki ini semua tanpa takdirnya.” Ucap Risam. Nayya dan Risam adalah dua pribadi yang sangat pandai bersyukur. Keduanya memiliki rasa syukur yang tinggi jadi nikmat yang mereka peroleh juga tiada terkira.
***
Sementara di sisi lain ada seseorang yang melihat foto ketiga bayi yang di kirimkan oleh adiknya. Dia tersenyum melihat wajah ketiga bayi itu yang tampan dan cantik, “Selamat Nay. Kau sudah resmi menjadi seorang ibu dari tiga bayi sekaligus. Mereka sangat tampan seperti ayah mereka dan cantik seperti dirimu.” Ujar Afnan. Yah, laki-laki itu adalah Afnan. Walaupun dia berada di luar kota menuntut ilmu tapi dia selalu update tentang Nayya. Bukan berniat mengganggu hanya saja dia masih ingin mengetahui berita tentang Nayya itu.
Bukankah sudah dia katakan bahwa dia mengikhlaskan Nayya tapi tidak untuk di lupakan. Nayya tetap akan menjadi wanita yang dia cintai. Entahlah bagaimana ke depannya semua tergantung takdir. Tapi untuk saat ini biarlah dia melakukan hal yang dia inginkan yaitu belajar ilmu agama sambil tetap mengamati kehidupan wanita yang dia cintai. Yang terpenting dia tidak berniat mengganggu kehidupan Nayya. Melupakan sulit bukan jadi jangan menghakimi.
Afnan yang menatap ketiga bayi itu yang entah kenapa membuatnya jatuh cinta itu segera menelpon seseorang walaupun dia ragu apakah akan di jawab atau tidak. Berdering tapi belum juga di jawab tapi tepat dering yang ke empat langsung di jawab.
__ADS_1
“Halo, Assalamu’alaikum. Siapa yaa?” Afnan yang mengenali suara yang sangat dia kenal itu pun hanya bisa terdiam. Lidahnya mendadak kelu untuk bicara.
“Siapa sayang?” terdengar suara yang bertanya.
“Gak tahu mas. Nomor baru.” Jawabnya bingung.
Deg
Afnan yang mendengar itu kaget. Apa itu berarti dia sudah menghapus nomornya atau sudah tidak mengingat nomornya sehingga begitu. Sudut hatinya terluka mendengar hal itu tapi apa boleh buat itu memang yang sudah seharusnya terjadi.
“Wa’alaikumsalam Nay. Ini aku!” ucap Afnan akhirnya. Yah, yang dia telpon adalah nomor Risam yang dia dapat dari seseorang. Dia sengaja menelpon ke nomor Risam agar tidak akan ada masalah yang terjadi antara Nayya dan suaminya itu. Namun justru yang menjawabnya adalah Nayya sendiri sehingga dia pun hanya bisa diam. Jujur saja dia merindukan suara Nayya itu.
“Halo, kamu dapat nomor saya dari siapa?” Afnan kaget mendengar suara itu. Itu bukan suara Nayya tapi suaminya.
“Maafkan saya yang tidak izin meminta nomor anda. Tapi ada seseorang yang memberikannya. Saya tidak bisa mengatakannya.” Jawab Afnan.
“Baiklah jika memang begitu. Sekarang saya tanya apa tujuanmu menelpon?” tanya Risam dari seberang.
“Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran ketiga bayi kalian. Selamat kalian sudah resmi menjadi seorang ayah dan ibu.” Ucap Afnan tulus.
Lama tidak ada jawaban, “Teriama kasih. Semoga kau juga segera menemukan jodohmu dan segera memiliki anak.” Balas Risam. Afnan pun tersenyum mendengar hal itu. Dia tidak sedih karena hal itu. Dia tahu hubungannya dengan Risam tidak sedekat itu sehingga mereka harus akrab. Mereka adalah saingan cinta dan juga baru mengenal saat lamaran itu. Jadi bukan hal yang aneh jika hubungan yang terjalin antara mereka itu canggung.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu sambungan telepon pun terputus. Afnan menatap layar ponselnya itu dengan tatapan nanar, “Aku sudah berusaha untuk bersikap biasa Nay. Tapi ternyata aku masih kalah. Aku masih begitu mencintaimu hanya dengan mendengar suaramu saja aku ingin memilikimu.” Gumam Afnan.
***
Sementara di sisi Nayya dan Risam begitu sambungan telepon terputus mereka saling terdiam satu sama lain, “Aku gak tahu itu nomornya mas. Jika tahu aku tidak akan menjawabnya.” Ucap Nayya hati-hati.
Risam tersenyum dan mendekati Nayya lalu memeluk istrinya itu, “Mas, gak menuduhmu sayang. Mas gak marah. Lagian dia hanya ingin mengucapkan selamat kepada kita kan. Mas percaya kok sama kamu sayang.” ucap Risam.
“Terima kasih mas. Aku memang pernah mencintainya. Aku pernah menyayanginya. Tapi percayalah ketulusan dan rasa cinta yang kau berikan padaku sudah mengeruk rasa cinta dan sayangku kepadanya yang masih tersisa dan di gantikan olehmu. Mungkin aku terkesan membual mengakui ini tapi memang itu lah yang terjadi. Jangan pernah berpikir bahwa aku masih menyimpan rasa padanya mas dan jangan pernah tinggalkan aku.” Ucap Nayya dalam pelukan suaminya.
“Mas janji sayang. Mas tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ucap Risam.
“Janji yaa mas. Awas saja jika mas pergi.” ucap Nayya.
Risam tersenyum lalu melerai pelukan mereka dan mengangkat dagu sang istri agar mereka bisa saling bertatapan satu sama lain, “Mas mencintaimu dan hal yang mas takutkan adalah meninggalkanmu. Jadi mana mungkin mas melakukan itu kecuali jika takdir sudah berkehendak. Kita sebagai makhluk-Nya hanya bisa menerima.” Ucap Risam.
“Aku tahu itu mas. Kematian akan datang kepada setiap makhluk yang bernyawa tapi aku sungguh belum siap jika harus menerima kenyataan itu. Kita akan berumur panjang dan akan menyaksikan putra putri kita menemukan jodohnya. Kita akan menggendong dan memanjakan cucu kita nanti.” Ujar Nayya.
Risam pun mengangguk, “Aamiin. Semoga kita berumur panjang agar bisa mewujudkan hal itu.” ucap Risam.
Nayya pun tersenyum lalu memeluk suaminya itu erat. Risam pun membalas pelukan istrinya itu dengan erat, “Aku juga takut sayang jika harus meninggalkanmu. Aku juga belum siap berpisah dengan kalian.” batin Risam memeluk Nayya dan menatap ketiga buah hatinya yang terlelap.
__ADS_1