
Risam menggeleng, “Mas mengerti kenapa kau meminta kita melakukan tes kesehatan karena itu semua demi kebaikan di masa yang akan datang. Untuk keturunan kita kelak. Mas juga gak mau keturunan kita nanti memiliki penyakit yang berbahaya nanti.” Ucap Risam.
“Terima kasih mas sudah bisa mengerti apa maksud Nayya. Terima kasih selalu menyetujui permintaan aneh Nayya.” Ucap Nayya tersenyum.
“Saya gak keberatan sekali pun dek. Semua syarat dan permintaan yang kau ajukan semuanya untuk kebaikan kita bersama. Jadi untuk apa mas harus merasa keberatan atau tidak melakukan apa yang kau minta.” Ucap Risam.
Nayya pun mengangguk-ngangguk karena sepertinya dia dan calon suaminya itu memiliki pemikiran dan pandangan yang sama. Mereka sangat nyambung satu sama lain. Walaupun Risam bukan berasal dari kalangan yang berpendidikan kesehatan namun calon suaminya itu bisa mengimbanginya jika sedang membahas kesehatan.
“Mas, ini pertanyaan penting untuk Mas dari Nayya. Mas ingin punya anak berapa dan juga apa mas ingin segera memiliki anak atau kita menunda dulu?” tanya Nayya.
Risam yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Nayya tersenyum sedikit salting, “Kalau kamu maunya bagaimana dek?” bukannya menjawab Risam justru balik bertanya.
Nayya pun tertawa, “Mas, Nayya loh yang lebih dulu bertanya. Masa iya mas bukannya menjawab justru bertanya balik.” Ucap Nayya.
Risma pun akhirnya ikut tertawa, “Bukan begitu dek. Yang mengandung nanti adalah dirimu begitu juga yang akan melahirkan adalah dirimu. Kamu yang akan merasakan sakitnya nanti dan mas hanya bisa menemanimu tanpa bisa berbagi rasa sakit itu denganmu. Jadi mas ikut keputusanmu saja.” ucap Risam.
Nayya pun mengangguk-ngangguk, “Mas, benar. Tapi mengandung dan melahirkan itu memang sudah menjadi takdir untuk setiap wanita untuk melahirkan garis keturunan keluarganya. Jadi Nayya juga gak keberatan untuk tanggung jawab itu. Nayya berkewajiban untuk melahirkan garis keturanan kita mas. Jadi sekarang katakan mas ingin memiliki berapa anak. Jawab pertanyaan Nayya tadi.” Ucap Nayya.
__ADS_1
Risam pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Emm, mas ingin memiliki dua orang anak. Satu cowok dan satu cewek tapi jika pun hanya di beri anak cowok ataupun cewek mas tetap akan menerima. Sedekasinya Allah saja dek dan terkait menunda atau tidak untuk kehamilan itu semua terserah dirimu dek. Seperti yang sudah mas katakan kau yang mengandung dan melahirkan bisa di katakan mas hanya tahu enaknya saja. Jadi keputusan itu terserah dirimu, karena selain mengandung dan melahirkan kau jugalah nanti yang akan merawat mereka. Mas mungkin akan membantu tapi tidak selamanya bisa membantumu. Mungkin mas hanya bisa membantumu menggantikan popok untuk mereka. Jadi terserah dirimu.” Ucap Risam.
“Wah, sepertinya keluarga mas menganut KB banget yaa. Dua anak cukup. Tapi sebenarnya Nayya juga memiliki keinginan yang sama dengan Mas. Nayya ingin memiliki dua anak juga satu cowok dan satu cewek serta Nayya juga anak pertama kita adalah cowok. Nayya tidak ingin anak pertama Nayya cewek karena Nayya tahu bagaimana rasanya menjadi anak perempuan pertama.” Ucap Nayya.
“Hem, sepertinya yang kau katakan benar dek. Mas bisa melihat bagaimana kak Diba selalu berusaha tampil sempurna di hadapan Mas. Dia selalu berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuk Mas. Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Mas dan selalu menyembunyikan apa yang buruk darinya dari Mas hanya agar mas tidak mengikutinya. Jadi mari kita sepakati bahwa anak pertama kita nanti cowok agar dia bisa menjaga adiknya nanti. Yah walaupun kita hanya bisa berencana semuanya tergantung takdir dan rezeki yang Allah berikan kepada kita.” Ucap Risam.
Nayya pun tersenyum, “Baiklah, mari kita sepakati begitu saja. Nayya akan berdoa agar anak pertama kita adalah cowok.” Ucap Nayya tertawa. Risam pun ikut tertawa. Lalu keduanya segera minum minuman mereka yang sebenarnya sudah di antar sejak tadi.
“Mas, Nayya tidak ingin menunda kehamilan. Nayya sudah berumur 27 tahun. Nayya juga ingin segera memiliki anak karena semua teman Nayya sudah punya anak bahkan ada yang sudah sekolah. Nayya kan iri. Selain itu juga setelah Nayya pikir-pikir Nayya sudah siap memiliki anak. Nayya akan belajar cara mendidik anak agar ilmu Nayya bisa bertambah.” Ucap Nayya.
Setelah membahas rencana anak, Nayya dan Risam melanjutkan pembahasan mereka terkait masalah rumah tangga nantinya. Siapa yang nantinya akan mengatur keuangan dan lain-lain mereka bahas dengan tuntas tanpa ada yang terlewati. Barulah setelah tidak ada yang harus mereka bahas mereka makan seperti kesepakatan mereka sebelumnya.
***
Tidak terasa kini pernikahan Nayya dan Risam tinggal menghitung jam karena pernikahannya akan di lakukan besok pagi. Pihak butik saja sudah mengantarkan gaun dan kebaya serta pakaian keluarga dan pakaian Risam kemarin. Nayya dan Risam juga sudah tiga hari gak saling bertemu hanya bertukar kabar melalui ponsel saja. Mereka hanya saling chat satu sama lain untuk bertukar kabar.
“Kak!” ucap Rayya dan Zayya yang baru saja tiba. Mereka memang baru pulang kuliah dan langsung pulang ke rumah.
__ADS_1
Nayya pun tersenyum melihat adik-adiknya itu yang langsung menyalaminya dan mencium kedua pipinya.
“Kak, biarkan kami kali ini mencium pipimu karena setelah ini kami mungkin tidak akan melakukannya lagi. Kau akan menikah.” Ucap Zayya.
Nayya pun tersenyum, “Emang kenapa jika kakak menikah. Kakak tetap kakak kalian dan kalian tetap adik kakak. Tidak ada yang berubah selain status kakak yang nantinya kan bertambah menjadi seorang istri.” Ucap Nayya.
“Itu mungkin masih bisa kami lakukan kak. Hanya saja kami yang nantinya akan merasa tidak enak karena kami masih bermanja padamu padahlal sudah kau sudah menikah. Kan gak enak sama kakak ipar.” Ujar Rayya di angguki oleh Zayya.
“Benar kak. Kami yang nantinya merasa tidak enak. Walaupun mungkin kakak ipar tidak akan marah atau pun keberatan. Namun tetap saja kami yang sadar diri. Jadi malam ini kami akan berpuas-puas bermanja denganmu sebelum besok kau akan menjadi istri kak Risam. Kami akan tidur denganmu malam ini.” ujar Zayya.
Nayya pun tersenyum, “Baiklah. Terserah kalian saja.” ucap Nayya.
“Kak, ada pesan tuh dari kakak ipar. Kak kenapa nama kontak kakak ipar gak ada romantis-romantisnya. Masa kak Risam doang namanya.” Ucap Rayya dan Zayya.
Nayya pun tersenyum lalu membuka pesan dari calon suaminya itu dengan kedua adiknya di sampingnya yang kepo dengan chatnya dan Risam, “Ouh astaga kak. Kau gak romantis sama sekali.” Ucap Zayya protes.
Nayya pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendapat protes dari kedua adiknya itu.
__ADS_1