Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
34


__ADS_3

Singkat cerita, Kini Nayya dan Risam sudah tiba di kediaman Risam. Risam segera turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk calon istrinya itu, “Selamat datang nak.” sambut mami Vega mendekati calon menantunya.


Nayya segera mengucap salam lalu menyalami mami Vega dan papi Lutfi serta Adiba, “Ayo masuk nak.” ucap mami Vega segera menggandeng Nayya masuk ke dalam.


Risam yang melihat Nayya sudah di bawa maminya masuk hanya bisa menghela nafas. Papi Lutfi tersenyum melihat ekspresi yang di tunjukkan putranya itu, “Jangan sedih nak, dia akan menjadi istrimu sebentar lagi dan saat itu kau bisa melarang mamimu nanti. Biarkan sekarang mamimu itu sedang bahagia menyambut calon menantunya. Jangan merusaknya. Kasihan nak.” ucap papi Lutfi.


Risam pun menatap papinya itu lalu mengangguk, “Aku hanya akan mengizinkan mami dan kak Diba merampasnya dariku selama sepuluh hari ini karena aku yang memang belum bisa menyentuhnya tapi awas saja jika aku sudah menikahinya maka mami dan kak Diba tidak boleh mendekatinya lagi. Aku ini pencemburu pih.” Ujar Risam menatap mami Vega dan Adiba yang sangat akrab bicara dengan calon istrinya.


Nayya tidak lama di sana hanya sekedar memperlihatkan desain pakaian yang sudah dia buat dan juga untuk bertanya apakah keluarga calon suaminya itu akan menyamakan pakaian dengan keluarganya atau tidak dan ternyata keluarga calon suaminya ingin semua sama agar seragam. Nayya pun melakukan pengukuran kepada semuanya tapi tidak dengan Ahsan yang di lakukan oleh Adiba sendiri.


Setelah itu Nayya pamit pulang karena memang harus menuju butik hari ini untuk memastikan semua seragam keluarga dan juga pakaian untuk calon suaminya. Nayya pergi dengan tentu saja dia pergi bersama Risam.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju kota di mana butik yang sudah menjahit gaun dan kebaya Nayya berada, “Dek, bagaimana dengan gaun dan kebayamu?” tanya Risam penasaran karena memang dari semua desain yang Nayya perlihatkan padanya dan juga keluarganya tidak ada satu pun dia menyembutkan desain untuk gaun dan kebayanya sendiri.


Nayya tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh calon suaminya itu. Dia memaklumi dan paham kenapa suaminya itu menanyakan hal ini karena bagaimanapun dia sama sekali belum menyembutkan pakaiannya, “Mas, tenang saja. Gaun dan kebaya milik Nayya sudah aman. Mas akan mengetahuinya nanti.” Ujar Nayya tersenyum penuh rahasia.


Risam pun hanya mengangguk saja, sepertinya calon istrinya ini penuh dengan misteri dan keajaibannya yang pastinya akan membuatnya penasaran nanti. Tidak lama mereka tiba di butik yang menjadi tempat Nayya membuat pakaiannya dan juga saat dia melakukan kursus dulu.


Risam dan Nayya segera masuk ke dalam dan langsung di sambut oleh pegawai butik itu, “Nona Nayya sudah di tunggu oleh bos di ruangannya.” Ucap pegawai itu.

__ADS_1


Nayya pun mengangguk lalu segera menuju ruangan pemilik butik ini, “Nayya ayo duduk dek.” sambut Delina pemilik butik ini.


“Iya kak.” Balas Nayya.


“Wah, apa ini calonmu dek?” tanya Delina. Delina itu usianya sudah 45 tahun dan dia meminta semua murid yang belajar padanya itu memanggilnya dengan sebutan kakak.


Nayya mengangguk, “Kak, kenalkan ini calon suamiku mas Risam dan mas ini adalah pemilik butik ini sekaligus guruku kak Delina.” Ucap Nayya mengenalkan calon suaminya itu dengan Delina.


Risam tersenyum sementara Delina paham bahwa calon suami Nayya pasti bukan orang sembarangan. Dari penampilannya saja Delina sudah melihat bahwa calon suami salah satu muridnya itu pasti sholeh karena selalu menundukkan pandangannya dan hal itu bukan ha lasing juga mengingat Nayya adalah muridnya yang paling sholelah. Mereka memang pasangan yang sangat serasi, “Ya sudah kalau begitu kita bicarakan dulu terkait desainmu untuk calon suamimu ini karena kami harus segera membuatnya mengingat waktu pernikahanmu tinggal sepuluh hari kurang. Setelah itu kita membahas desainmu untuk seragam keluarga.” ucap Delina.


Nayya pun mengangguk lalu sekitar satu jam akhirnya pembicaraan semua desain itu selesai juga dan semua pegawai Delina segera memulai pengerjaannya begitu Nayya memutuskan bahan apa yang akan dia pakai. Nayya memang orang perfeksionis sehingga semuanya sudah terencana dengan baik, “Okay, karena semuanya sudah fix. Kami akan mengusahakan sehari sebelum pernikahanmu di lakukan semuanya sudah selesai. Kami akan mengantarnya sendiri ke rumahmu dek. Sekalian juga mau melihat butik kecil milikmu itu.” ucap Delina.


“Kau ini selalu saja merendahkan dirimu padahal aku tahu kau itu sangat sukses dengan semua usaha milikmu.” Timpal Delina.


Nayya pun hanya tersenyum, “Ohiya dek, apa kau akan membawa gaun dan kebayamu?” tanya Delina.


“Emm,, nanti bersama saja deh kak. Tapi aku ingin melihatnya ahh maksud Nayya calon suami Nayya yang ingin melihatnya.” Ucap Nayya.


Delina pun mengangguk mengerti lalu segera meminta pegawainya membawakan gaun dan kebaya milik Nayya itu. Risam yang bingung bagaimana gaun dan kebaya milik Nayya sudah jadi hanya bisa menyimpan rasa penasarannya itu, “Calon suamimu sepertinya bingung dek. Kau sepertinya belum menjelaskannya padanya.” Ucap Delina.

__ADS_1


Nayya hanya tersenyum, “Mas, ini kebaya dan gaun milik Nayya. Bagaimana menurut mas?” tanya Nayya kepada calon suaminya itu.


Risam memandangi gaun dan kebaya itu lalu tersenyum, “Cantik.” Ucap Risam singkat.


“Akan lebih cantik lagi jika di pakai.” Ucap Delina menatap Nayya.


Nayya pun hanya bisa menatap ke arah Delina lalu kembali menatap Risam, “Apa mas ingin melihatnya saat aku coba?” tanya Nayya.


Risam mengangguk karena dia memang ingin melihat calon istrinya itu mengenakannya. Nayya yang melihat anggukan yang di berikan Risam pun tersenyum lalu meletakkan tasnya di meja, “Mas, ingin melihatku mencoba yang mana? Gaun atau kebaya?” tanya Nayya.


“Dua-duanya saja dek.” bukan Risam yang menjawab tapi Delina. Risam yang mendengar jawaban yang di berikan Delina tersenyum seolah menyetujui jawaban Delina itu.


Nayya pun hanya bisa tersenyum dan segera menuju ruang ganti dengan Delina yang ikut dengannya untuk membantunya. Risam yang menunggu sambil duduk segera mengambil tas milik Nayya dan memangkunya di pangkuannya.


Tidak lama Nayya keluar dengan kebayanya lebih dulu. Risam segera memandangi Nayya dan tersenyum, “Maa Syaa Allah cantiknya bidadari yang kau kirim untukku.” Batin Risam.


“Bagaimana mas? Apa cocok?” tanya Nayya tersenyum. Delina sudah bisa menduga jawaban yang akan di berikan oleh Risam karena ekspresi yang di tunjukkan lagi-lagi itu sudah menjawabnya.


“Cantik. Sangat cantik.” Ucap Risam jujur tidak ada kebohongan dalam perkataannya itu. Dia tulus mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2