
Keesokkan harinya seperti rencana sebelumnya bahwa Nayya akan mengunjungi keluarga calon mertuanya. Nayya setelah membantu sang mama dengan urusan rumah dan juga sarapan bersama segera bersiap untuk mendatangi calon mertuanya.
Sementara Risam di rumahnya juga baru sudah selesai bersiap untuk menjemput calon istrinya itu, “Mih, Pih Risam pamit dulu.” Izin Risam.
Mami Vega dan papi Lutfi memang sudah tahu bahwa Nayya akan datang. Mami Vega dan Adiba sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambut Nayya calon keluarga baru mereka, “Hati-hati di jalan nak.” ucap mami Vega.
Risam pun mengangguk lalu menyalami kedua orang tuanya itu lalu dia segera menyambar kunci mobil milik keluarga mereka untuk menjemput calon istrinya.
Kita kembali lagi ke sisi Nayya, dia sudah selesai bersiap. Sambil menunggu calon suaminya menjemput yang sudah dalam perjalanan, Nayya merapikan semua vas bunga yang ada di rumahnya itu.
“Nak, kenapa belum pergi justru malah membersihkan vas bunga. Pakaianmu bisa kotor nak.” ujar mama Fara yang melihat putrinya itu yang sudah cantik dan wangi justru membersihkan vas bunga.
“Gak apa-apa mah. Lagian dari pada bosan menunggu. Lebih baik Nayya gunakan waktu Nayya untuk merapikan vas bunga. Tenang saja mah, ini tidak akan mengotori tubuh Nayya.” Ucap Nayya.
Mama Fara pun hanya bisa menghela nafasnya karena dia memang sangat hafal bahwa putrinya itu sangat keras kepala, “Baiklah terserah padamu saja. Jangan salahkan mama jika nanti kau di usir oleh calon mertuamu karena bau debu.” Ucap mama Fara segera meninggalkan putrinya itu.
Nayya yang mendengar ucapan mamanya hanya tersenyum, “Mami Vega gak mungkin mengusirku mah. Aku ini adalah menantu idaman mereka.” ucap Nayya narsis.
__ADS_1
Mama Fara yang mendengar kenarsisan putrinya itu hanya tersenyum sambil menggeleng, “Dasar narsis kau nak.” ucap mama Fara tersenyum padahal dalam batinnya membenarkan hal itu bahwa putrinya itu mengatakan kebenaran.
Nayya yang mendengar balasan mamanya hanya tersenyum. Nayya juga tidak serius mengatakan itu karena walau bagaimana pun keluarga calon suaminya itu menyukainya dia tidak boleh berbesar kepala. Hal itu Nayya lakukan hanya untuk mencairkan suasana saja.
Tidak lama Risam tiba. Papa Imran yang ada di depan segera menyambut calon menantunya itu, “Mau jemput Nayya ya?” tanya papa Imran basa basi setelah calon menantunya itu menyalaminya.
Risam mengangguk, “Iya pah.” Jawab Risam tersenyum.
Nayya segera keluar karena dia mendengar bunyi mobil Risam sehingga dia segera keluar dengan tas di bahunya, “Nak, ajak masuk dulu calon suaminya. Suguhkan minum dulu masa iya langsung berangkat saja.” ujar papa Imran melihat putrinya yang sudah keluar.
“Gak usah dek. Kita berangkat aja. Pah, kami berangkat aja. Risam belum haus juga kok. Risam izin mengajak Nayya pah ke rumah.” Ucap Risam penuh hormat.
Papa Imran tersenyum, “Iya nak. Hati-hati di jalan.” Ucap papa Imran.
Risam mengangguk lalu keduanya segera menyalami papa Imran untuk pamit karena mama Fara memang gak ada lagi ada urusan sebentar. Risam segera membukakan pintu mobil untuk Nayya, “Terima kasih.” Ucap Nayya.
Risam hanya menganguk lalu segara berlari ke pintu mobil satunya dan masuk lalu tidak lama mobil itu meninggalkan kediamana Nayya. Papa Imran yang melihat mobil yang membawa putrinya pergi tersenyum, “Sepertinya aku harus membiasakan pemandangan ini. Aku akan kehilangan putri sulungku karena dia akan membina keluarga barunya.” Ucap papa Imran sedikit sedih. Papa Imran bahagia karena putrinya itu menemukan seorang pria yang mencintainya dengan tulus dan juga keluarga pria itu sangat menyayangi putrinya namun tetap saja dia adalah seorang ayah yang pastinya akan merasakan kesedihan. Apalagi Nayya adalah putri sulungnya, putri yang pertama kali dia gendong dan memberinya gelar seorang ayah. Mengubah gelarnya yang hanya seorang suami menjadi seorang ayah. Putri yang sangat dia sayangi dan banggakan dengan segala kesuksesannya.
__ADS_1
Dia sebenarnya tidak ikhlas jika putri kecilnya yang dulu dia gendong itu sebentar lagi akan menjadi seorang istri dan menantu untuk keluarga barunya. Walau emang dia juga risih jika mendengar putrinya di gosipkan karena belum juga menikah di usianya yang 27 tahun di mana teman seumurannya sudah pada menikah dan memiliki anak. Papa Imran tidak mengerti entah apa yang di inginkan hatinya itu, dia ingin Nayya menikah namun di lain pihak dia juga sedih. Mungkin itulah yang di rasakan oleh seorang ayah ketika akan melepaskan putrinya menikah.
***
Nayya dan Risam saling bercerita di dalam mobil dan begitu melewati pusat desa mereka tidak menyadari ada Afnan yang melihat mereka saling bicara dan tertawa satu sama lain. Afnan melihat ke arah mereka yang memang jendela mobil terbuka. Tatapan itu adalah tatapan terluka.
Mami Rana yang juga melihat itu seketika menatap sang putra yang menatap mobil Risam sampai menghilang dari pandangan, “Nak, ayo kita pulang.” Ucap mami Rana hati-hati.
Afnan pun menatap maminya itu lalu mengangguk dan segera pergi dari warung itu lebih dulu dari maminya. Mami Rana menatap punggung putranya itu dengan sedih, “Maafkan mami nak.” gumam mami Rana merasa bersalah.
Afnan memang beberapa hari ini memang tidak menunjukkan kesedihannya dan hanya diam saja seperti orang bisu. Dia hanya akan bicara jika di ajak bicara. Mami Rana dan papi Riyad juga hanya membiarkan putra mereka itu tanpa mengganggunya atau mengungkit masalah apapun terkait Nayya karena mereka tahu putra mereka itu sedang terluka walau tidak di katakan.
Afnan begitu sampai di rumahnya langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Afnan mengambil foto yang dia simpan di balik bantalnya, “Kenapa sangat sulit melupakanmu, Nay. Kenapa melihatmu tertawa dengan laki-laki lain membuatmu sangat sakit. Hatiku terasa berdarah Nay. Apa ini yang kau rasakan saat menungguku menepati janjiku? Nayya aku mohon menghilanglah dari hatiku. Aku sudah mencoba mengikhlaskanmu untuk calon suamimu tapi kenapa semuanya justru sangat menyakitiku. Tawamu itu membuatku berdarah Nay. Aku ingin kau bahagia tapi aku juga tidak mampu menahan rasa sakit ini. Nay, apa yang harus ku lakukan agar kau bisa menghilang dari hatiku.” Gumam Afnan menangis.
Afnan segera berdiri dan mengambil sesuatu dalam lemarinya. Dia menatap botol alkohol itu, “Aku tahu kau sangat membenci hal ini Nay. Aku tahu kau membenci sesuatu yang haram seperti ini. tapi hanya ini satu-satunya caraku agar sejenak bisa melupakan rasa terlukaku dan juga bayang-bayangmu di hatiku.” Batin Afnan segera minum sebotol alkohol itu dalam sekali minum.
Mami Rana yang mendengar gumaman putranya itu hanya bisa menangis di balik pintu, “Maafkan mami nak. Ini semua kesalahan kami.” Batin mami Rana menangis.
__ADS_1