Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
97


__ADS_3

Kini Ariq dan Rayya dalam perjalanan pulang dan keduanya saling diam sehingga di mobil itu hanya ada kesunyian. Keduanya baik Ariq maupun Rayya ingin memulai pembicaraan hanya saja mereka tidak tahu harus mulai dari mana.


“Rayya!” ujar Ariq akhirnya.


Rayya pun yang mendengar itu pun segera menengok melihat kepada Ariq, “Iya!” jawabnya.


“Apa kamu kenal Farel sebelumnya?” tanya Ariq basa-basi karena tidak tahu harus menanyakan apa. Hanya itu topic yang ada dalam pikirannya. Tidak ada yang lain.


Rayya mengangguk, “Yah, Rayya mengenal kak Farel. Kami sempat berkenalan setahun lalu.” Jawab Rayya jujur.


“Apa dia ma--”


Rayya menggeleng, “Bukan, Rayya dan kak Farel gak pernah memiliki hubungan yang pada akhirnya harus memiliki akhir bergelar mantan ketika berpisah. Kami berteman. Hanya dua kali kami bertemu.” Potong Rayya.


“Jujur saja kak Farel dan Rayya hampir menikah yah walaupun itu hanya ada dalam percakapan kami saja. Dia mengajak Rayya menikah. Namun Rayya menolaknya.” Lanjut Rayya.


“Kenapa di tolak?” tanya Ariq.


Rayya yang mendengar pertanyaan dari Ariq itu pun tersenyum, “Yakin kak Ariq ingin mendengarkan alasannya? Yakin ingin melanjutkan topic pembahasan ini? Aku gak mau jika nanti kak Ariq akan tersinggung.” Ucap Rayya.


Ariq mengangguk, “Aku ingin mendengarkan cerita versi dirimu. Aku tahu kau dan Farel pernah memiliki hubungan. Tapi aku ingin tahu versimu.” Ucap Ariq.


Rayya pun tersenyum mendengar hal itu, “Jadi apa kak Ariq mengenalku sebelumnya?” tanya Rayya penasaran. Sebenarnya hal ini yang sangat dia inginkan. Menanyakan apa mereka pernah bertemu sebelumnya lalu dia melupakannya atau bagaimana.


Ariq kembali mengangguk, “Ya bisa di katakan begitu. Kita pernah bertemu. Tapi mungkin aku gak berbekas dalam ingatanmu.” Ujar Ariq.


“Untuk masalah itu biar nanti saja aku jelaskan. Aku ingin tahu lebih dulu cerita versimu.” Lanjut Ariq menatap sekilas Rayya.


Rayya pun mengangguk, “Baiklah, akan aku ceritakan.”


“Pertemuan pertama kami yaitu saat rombongan polisi muda yang baru di lantik mengunjungi kosan kami. Mereka melakukan wawancara kepada kami yang tinggal di kosan terkait pengalaman dan lain sebagainya. Kebetulan kak Farel yang melakukan wawancara itu kepadaku. Kami tidak memiliki kesan apapun saat itu dan hanya seperti itu saja. Lalu dua hari kemudian ada yang tiba-tiba mengirim pesan dengan nomor baru yang ternyata itu kak Farel. Dia memperkenalkan dirinya bahwa dia polisi muda yang dua hari lalu ke kosan kami. Sejak saat itu kami memiliki hubungan komunikasi. Lalu sebulan kemudian kalau gak salah. Dia mengajak Rayya menikah. Rayya yang saat itu masih kuliah baru masuk profesi pertama hanya menganggap itu lelucon dan dia terus menerus mengajak menikah mungkin semingguan. Akhirnya Rayya pun mengambil keputusan. Rayya meminta bertemu untuk mengatakan jawabannya.”


“Singkat cerita, kami sepakat bertemu di salah satu kedai kopi. Rayya mengatakan saat itu jika memang dia ingin menikahi Rayya maka datanglah setelah Rayya lulus profesi tapi jika dia ingin cepat menikah maka carilah yang lain. Rayya belum siap untuk menikah. Semua keputusan Rayya serahkan padanya. Dia sendiri yang memilihnya. Pertemuan kami pun berakhir dan seminggu kemudian dia mengabarkan bahwa dia tidak bisa menunggu dia ingin segera menikah. Rayya pun mengiyakannya tanpa menolak sedikit pun. Rayya sudah bisa menduga akhirnya akan seperti itu. Kak Farel adalah tipe laki-laki yang tidak bisa menunggu. Kami pun akhirnya saling mengucap perpisahan lewat ponsel dan setelah itu tidak ada lagi komunikasi di antara kami.” jelas Rayya.


Ariq yang mendengarkan cerita Rayya pun tersenyum, “Apa masih ada yang ingin kakak tanyakan?” tanya Rayya kemudian.


Ariq tersenyum lalu menggeleng, “Emm, untuk saat ini gak ada.” Ucap Ariq.


Rayya pun mengangguk mengerti, “Hubunganku dan kak Farel berakhir sudah lama kak. Jangan pernah berpikiran bahwa aku masih menyukainya atau memiliki perasaan padanya. Aku akui aku sempat menyukainya. Tapi itu semua hanya sekedar suka saja tidak berlanjut. Aku sudah melupakan semuanya. Apa yang pernah terjadi kepada kami itu adalah bagian dari masalalu kami yang tidak seharusnya di bawa ke masa kini apalagi masa depan. Masalalu biarkan itu menjadi kenangan saja dan jangan sampai itu mengganggu masa kini apalagi masa depan. Aku harap kak Ariq percaya padaku. Jika tidak mempercayaiku maka kak Ariq bisa mu--”


“Aku tidak akan mundur. Aku sudah mempersiapkan hal ini saat menanyakannya. Aku sudah siap mendengarkan semuanya dan aku pun sudah siap menerimanya. Aku sudah memilihmu bukan karena kau memiliki masa depan yang cerah sebagai seorang bidan nanti. Tapi karena dirimu aku memiliki keberanian. Kau memberiku keberanian. Jujur saja setahun lalu aku ikut pendidikan walaupun aku lolos namun keberanianku kurang. Tapi bertemu denganmu adalah berkat yang membuatku berani. Jadi jangan pernah mengatakan untuk aku mundur karena aku tidak akan pernah melakukannya. Aku sudah menandai dirimu sebagai milikku sejak pertama kita bertemu. Aku sudah pernah merelakanmu sekali kepada seseorang atas nama teman tapi kali ini aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku tidak ingin membohongi perasaanku lagi. Aku mencintaimu dan hanya kau yang aku inginkan menjadi istriku.” Ucap Ariq lembut namun tegas.


Rayya tersenyum menyembunyikan rasa harunya, “Baiklah. Jika memang begitu. Aku harap kakak tidak akan menyesali keputusan yang kau ambil hari ini.” ucap Rayya.


“Aku tidak akan menyesalinya.” Ujar Ariq tegas.

__ADS_1


Rayya mengangguk mendengar jawaban Ariq itu, “Baiklah. Kak aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu.” Ujar Rayya.


“Apa bisa?” lanjutnya.


“Bisa. Tentu saja. Tanyakan saja. Kau bisa menanyakan apapun.” Ujar Ariq.


“Aku ingin bertanya, apa kita pernah bertemu sebelumnya. Aku sangat penasaran saat kakak mengatakan bahwa kau sudah mengenalku setahun lalu sedangkan dalam ingatanku kita tidak pernah bertemu sebelum pertemuan dua bulan lalu. Jadi ceritakan. Aku ingin mendengarnya.” Ujar Rayya.


Ariq tersenyum mendengar pertanyaan Rayya itu, “Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu.” Ucap Ariq lalu dia pun memulai ceritanya. Rayya serius menyimak tanpa menyela.


“Begitulah ceritanya!” Ariq menyudahi ceritanya setelah kurang lebih 15 menit dia bercerita. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal.


Rayya yang dari tadi menahan tawanya pun akhirnya tertawa, “Jadi pria itu kakak? Pantas saja saat melihat foto tadi di rumahmu aku seperti pernah melihatmu di suatu tempat tapi aku tak bisa ingat di mana pernah melihatnya. Ternyata kita bertemu di jalan.” Ujar Rayya masih tertawa.


Ariq pun ikut tertawa melihat Rayya yang tertawa, “Yah begitulah. Tapi sayang kamu gak ingat sama sekali. Bahkan kau pergi begitu saja tanpa aku sempat mengucap terima kasih.” Ujar Ariq.


“Ya, maaf. Saat itu aku terburu-buru hampir saja terlambat. Jadi tak sempat mendengar ucapan terima kasihmu. Tapi kakak jika masih ingin mengucapkan terima kasih maka bisa mengatakannya sekarang. Aku masih akan menerima ucapan terima kasihmu itu. Yah, walaupun aku saat itu tidak masalah tanpa kau mengucapkan terima kasih pun aku ikhlas membantu. Namun karena kita sudah bertemu lagi aku jadi ingin mendengarnya.” ucap Rayya.


“Ayo ucapkan terima kasih kepadaku kak. Aku ingin mendengarnya. Aku ingin mendengar seorang polisi mengucap terima kasih padaku.” Lanjut Rayya tersenyum menggoda Ariq.


Ariq pun tersenyum, “Ahh gak usah. Jika tahu kau akan menggodaku maka tidak ku ceritakan saja.“ ucap Ariq.


Rayya yang mendengar itu kembali tertawa, “Sudah terlanjur terkatakan kak dan kau tidak bisa menariknya kembali karena semua sudah tersimpan dalam memori cantikku ini.” Rayya mengucapkan itu sambil menunjuk kepalanya.


Ariq pun tersenyum, “Jika memang kakak tidak ingin mengucapkan terima kasih sekarang gak apa-apa kok. Aku memberimu waktu yang banyak tanpa batas no limit. Jadi jika kau ingin mengucapkan te--”


Rayya yang mendengarkan ucapan terima kasih Ariq itu tersenyum, “Aku sangat berterima kasih untuk pertolonganmu saat itu. Aku berterima kasih karena tanpa sengaja kau sudah menyadarkan aku untuk berani menegakkan hak kita. Kita harus melawan jika merasa apa yang terjadi tidak adil. Terima kasih.” Ujar Ariq kembali.


Rayya tersenyum, “Sudah. Cukup kak. Aku hanya bercanda ingin mendengarkan ucapan terima kasih darimu. Kenapa kau menganggapnya serius.” Ujar Rayya.


Ariq mengangguk lalu tersenyum, “Tapi aku senang mengucapkan terima kasih kepadamu, calon istriku.” Ujar Ariq.


Rayya tersenyum kembali, “Emm, aku belum setuju untuk jadi istrimu. Kita belum resmi untuk bisa saling menyebut calon istri maupun calon suami. Kau belum melamarku resmi.” Ucap Rayya.


“Secepatnya aku dan keluarga akan datang untuk melamarmu dan aku pastikan kau akan menjadi istriku secepatnya.” Ucap Ariq.


“Aku belum tentu menerimanya karena aku masih penasaran apa pertemuan kita dua bulan lalu itu sebuah kebetulan atau bukan. Aku ragu itu sebuah kebetulan karena aku tidak percaya ada yang namanya kebetulan di dunia ini.” ucap Rayya.


Ariq yang mendengar itu pun tertawa, “Kau benar. Itu bukan kebetulan. Aku sudah merencanakannya. Aku mengikutimu dan senang saat memiliki kesempatan mendekatimu saat itu. Kedatanganku hari itu padamu sudah di rencanakan dan aku yang merancangnya. Namun terkait tempat duduk yang memang tidak satu tinggal di mejamu itu terjadi kebetulan. Takdir membantuku.” Ujar Ariq.


“Wah, jadi seperti itu. Aku semakin yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.” ujar Rayya kemudian. Ariq hanya tertawa mendengarnya.


Mereka pun saling bercanda satu sama lain. Kini rahasia di balik pertemuan dan takdir yang membawa mereka sudah terbuka. Mereka tinggal merangkai takdir untuk menyatukan cinta keduanya. Membawa cinta itu menuju jalan yang sudah di tentukan. Semoga saja takdir memang berniat menyatukan keduanya.


***

__ADS_1


Tiga hari berlalu dengan sangat cepat dan di kediaman mama Fara dan papa Imran saat ini sedang sibuk-sibuknya karena akan ada lamaran resmi malam ini di kediaman itu. Yah, lamaran Ariq dan Rayya. Seperti yang di katakan Ariq tiga hari lalu bahwa dia akan secepatnya melamar. Dia membuktikannya. Buktinya hari ini adalah lamaran itu.


Nayya yang melihat adiknya sedang di rias tersenyum, “Kau sangat cantik!” puji Nayya.


Rayya yang tidak melihat kakaknya itu masuk kaget lalu kemudian tersenyum, “Kau juga sangat cantik kak.” Ujar Rayya balik.


Nayya mendekati adiknya itu yang kini tinggal di pasang hijab, “Kakak harap kau akan menemukan bahagiamu bersama pasanganmu. Ariq pemuda yang baik.” ucap Nayya.


“Kakak baru dua kali bertemu dengannya tapi kakak sudah menyimpulkan dia pemuda yang baik. Hum, dia hebat juga menarik perhatian orang-orang. Semua mengatakan dia pemuda yang baik.” ujar Rayya.


Nayya terkekeh mendengar ucapan adiknya itu, “Apa dalam pikiranmu dia bukan pemuda baik.” ucap Nayya.


“Ish kakak. Kau hebat. Kau bisa membungkamku dengan cepat. Aku tidak bisa menjawabnya.” Ucap Rayya.


Nayya pun kembali terkekeh, “Kakak bisa melihat cinta yang besar di matanya untukmu. Begitu juga dirimu. Kau mencintainya kan.” Goda Nayya.


“Kakaaakk!” ucap Rayya manja.


Nayya tertawa melihat adiknya itu, “Sudahlah. Tanpa kau menjawab pun kakak tahu kau mencintainya dan kakak bahagia untuk itu. Kakak bahagia kau bisa menikah. Dulu kau menolak seorang pria yang berniat baik padamu hanya karena kakak. Tapi sekarang kakak bersyukur karena adik kakak akan menikah dan menemukan laki-laki yang benar-benar mencintaimu dan lebih baik lagi dia juga seorang polisi. Jadi kamu gak rugi.” Ujar Nayya.


“Kakaaakk hentikan. Aku tidak ingin mendengar godaan darimu lagi. Cukup!” ujar Rayya.


“Ohiya satu lagi kak. Jangan merasa bersalah karena aku yang menolak seseorang di masalaluku karena pada dasarnya aku memang juga belum ingin menikah. Aku belum siap. Jadi aku tidak melakukan itu untukmu tapi untuk diriku sendiri. Diriku sendiri. Tidak ada kaitan dengan kakak.” Ujar Rayya.


Nayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Yah, kakak mengerti. Ya sudah. Kamu siap-siap saja. Kakak tidak akan menganggu lagi.” Ucap Nayya kemudian.


Rayya pun mengangguk, “Kak di mana keponakanku?” tanya Rayya.


“Mereka masih di rumah dek. Mereka di jaga oleh mami dan kak Diba. Nanti jika sudah mau lamaranmu mereka akan datang.” jawab Nayya.


“Kalian ngomongin apa?” tanya Zayya yang tiba-tiba masuk.


“Gak ada.” jawab Rayya cepat.


“Ahh, kalian bohong. Ayo kedua kakakku ini membicarakan apa? Kenapa gak ngajak-ngajak?” tanya Zayya cepat.


“Emang penting ya harus mengajakmu.” Ucap Rayya.


“Kak Nayya, lihat kak Rayya sudah tidak menyayangiku lagi karena dia akan menikah. Ahh aku sedih kak.“ ucap Zayya yang langsung memeluk Nayya.


“Ish, diam Zayya. Kenapa kau cengeng begitu. Aku ini kakakmu dan aku akan tetap menyayangimu. Sudah hentikan.” Ujar Rayya tegas.


Zayya yang mendengar itu pun mengerucutkan bibirnya tanda dia kesal, “Ck, kak Rayya ini tidak bisa meladeni dramaku sedikit. Aku ini sedang meratapi nasibku yang sebentar aku akan sendiri. Tapi tidak apa-apa aku bisa mendapatkan perhatian lebih dari mama dan papa. Yah, aku akan menjadi anak kesayangan mereka.” ucap Zayya kemudian yang langsung mendapat lemparan tisu dari Rayya tapi Zayya menangkap tisu itu.


“Kak Nayya lihat dia.” Ucap Zayya.

__ADS_1


Nayya hanya tersenyum melihat kedu adiknya itu yang saling berdebat satu sama lain. Tapi percayalah perdebatan mereka itu yang membawa hubungan mereka lebih erat. Nayya memang dekat dengan kedua adiknya itu. Bahkan sangat dekat. Tapi hubungan Rayya dan Zayya yang lebih erat karena mereka memang bersama satu sama lain dan saling menjaga satu sama lain. Nayya dekat dengan kedua adiknya tapi hubungan yang lebih erat di antara ketiganya adalah hubungan Rayya dan Zayya.


__ADS_2