
Semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan pak Ridwan. Selain tersangka yaitu Yuna dan Alia juga dihadirkan saksi ketiga teman mereka dan juga guru yang membantu menyelamatkan mereka. Sinta pun ikut dalam sidang itu sebagai saksi kejadian di dalam bus. Sidang pun dimulai.
Pak Ridwan mulai menanyakan hal-hal yang sudah ia pikiran sejak beberapa hari lalu.
" Langsung kita mulai saja. Yuna silahkan kamu jelaskan kejadian kemarin menurut sudut pandang kamu" ucap Pak Ridwan mengawali sidang
Yuna menghembuskan nafas kasar dan mulai menjelaskan secara detailnya kejadian mengerikan yang pernah ia alam kemarin saat penjelajahan. Semua orang di ruangan itu mendengarkan dengan seksama apa yang Yuna tuturkan.
Sinta menantikan jawaban Alia yang pasti akan menentang kebenaran yang Yuna katakan. Ia tak tau jika Alia sudah sepenuhnya sembuh dari pengaruh sihirnya.
Semuanya mengangguk mengerti setelah mendengar cerita Yuna. Namun pak Ridwan tidak langsung mempercayainya karena sebelumnya ia sudah mendapat pengaruh sihir Sinta saat masih di perkemahan.
Pak Ridwan pun meminta Yuna untuk terus bercerita sampai ia bisa selamat.
Yuna pun melanjutkan ceritanya namun, sebelum ia selesai Alia sudah memotong cerita Yuna.
" Cukup! Semua yang dikatakan Yuna tidak benar, semuanya bohong." ucap Alia tiba-tiba dengan nada yang sedikit lebih tinggi
Pak Ridwan pun semakin tertarik dengan cerita mereka. Dia hanya membiarkan mereka berdua mengatakan cerita mereka menurut sudut pandang mereka berdua. Guru yang lain pun ikut mendengarkan apa yang mereka berdua katakan. Keduanya kekeh dengan pendirian mereka masing-masing tanpa mau mengalah.
Mereka tidak tau mana yang benar dan mana yang berbohong. Semua yang mendengar menjadi pusing karena tak bisa membedakan yang bohong dan yang jujur.
Sinta semakin senang dengan memanasnya ruangan kepala sekolah yang sekarang menjadi ruang sidang. Ia yakin Alia pasti bisa menang melawan Yuna. Mulutnya terus berkomat kamit membaca mantra untuk membantu Alia.
Karena ruangan yang semakin bising dengan suara kedua sahabat yang sedang beradu argumen membuat seluruh murid dan guru berkerumun didepan ruangan sambil mengintip apa yang sedang terjadi. Melihat itu Ahmad pun berbisik kepada pak Ridwan.
" Pak sepertinya suara diruangan ini terlalu keras sehingga bisa didengar dari luar. Banyak yang berkerumun didepan sebaiknya kita hentikan perdebatan Yuna dan Alia, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan." ucapnya mengingatkan pak Ridwan
Ia pun mengangguk lalu berdiri
" Cukup, hentikan semuanya." ucap Pak Ridwan menghentikan kegaduhan yang terjadi di ruangannya
__ADS_1
Yuna dan Alia pun terdiam seketika. Sinta agak kecewa karena pak Ridwan menghentikan pertengkaran mereka padahal itu sangat menyenangkan.
" Kenapa anda menghentikan mereka berdua? Bukankah mereka sedang adu argumen tentang kejadian mengerikan kemarin, jadi biarkan mereka melanjutkannya agar kita bisa tau mana yang benar dan mana yang berbohong" ucap Sinta tidak terima kesenangannya diganggu.
" Saya tidak setuju, jika ini dilanjutkan bukannya menemukan kebenarannya tapi sebaliknya kita malah akan menambah masalah dengan keributan ini" ucap Ahmad
Pak Ridwan pun menelaah ucapan mereka satu-satu namun ia sulit untuk berpikir karena pikirannya sudah dikuasai oleh Sinta. Namun karena ia bertekad keras untuk berpikir ia pun memilih menyetujui ucapan Ahmad.
Mereka menghentikan sidang ini karena diluar pun sudah ricuh oleh siswa siswi yang memadati jendela ruangan itu untuk melihat sidang didalam.
" Yuna, Alia, saya tidak tau mana yang benar dan salah. Tapi secepatnya saya akan tau siapa yang benar dan saya juga akan menghukum siapa yang salah karena kalian sudah membuat kekacauan disini. Sekarang kalian bisa kembali ke kelas dan pulang untuk menyiapkan sidang selanjutnya." ucap Pak Ridwan mengakhiri sidang hari ini.
Alia dan Yuna pun kembali ke kelas dan mengambil tas lalu bergegas pulang karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang itu artinya mereka sudah harus pulang kerumah masing-masing.
Sinta ia memang masih menyibukkan dirinya dalam mengurusi kehidupan Alia dan Yuna. Ia tak bisa tenang jika keinginannya belum tercapai. Apa lagi melihat kedekatan Ahmad dan Yuna yang semakin hari semakin akrab.
" Aku tidak akan membiarkan mereka semakin dekat, tidak akan pernah! Aku akan membuat kalian semua hancur!" teriak Sinta didalam mobilnya.
π π π π
Ia akan menyerang Sinta jika berani mencelakai orang lain demi kepentingannya sendiri. Sinta memang berguru padanya saat masih muda namun ia mengajarkan agar ia menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang dianjurkan bukan untuk keinginan pribadi.
Alia memang sudah pulih namun Ki Ageng tidak membiarkan Sinta untuk langsung gagal begitu saja ia akan membuat sedikit drama agar Sinta sangat kecewa dengan dirinya sendiri.
Sinta masuk dalam tipuan Ki Ageng. Alia memang tampak seperti dalam pengaruh sihir Sinta namun sebenarnya ia hanya berakting agar semuanya seolah-olah nyata. Dan Ki Ageng pun memanipulasi semuanya dengan kemampuannya agar Sinta tidak curiga dan mengetahui jika ini hanya sandiwara.
π π π π
Alia dan Yuna sangat pandai menjalani lakunya seperti seorang aktris. Tidak ada orang yang curiga termasuk Sinta.
Setelah pulang dari sekolah mereka terlihat biasa-biasa saja malah mereka sangat akrab seperti tidak terjadi apa-apa, ya memang tidak terjadi apapun karena mereka hanya bersandiwara.
__ADS_1
Mereka berdua langsung melangkah pulang ke rumah Alia karena semua orang sudah berkumpul disana termasuk Ki Ageng.
" Gimana akting gue bagus kan?" tanya Alia kepada Yuna
" Nggak, lebih bagus akting gue" ucap Yuna
" Nggak lebih bagus gue kan gue yang perannya lebih besar disini. Gue capek tau debat terus sama lo" ucap Alia dengan menghembuskan nafas kasar.
" Iya iya lo yang paling bagus kok. Udah kaya artis profesional" ucap Yuna merayu Alia.
" Kenapa si kita harus sandiwara gini, kan cape. Ngga bisa nglakuin hal yang Alia mau" keluh Alia.
Alia lelah karena harus berakting bermusuhan dengan Yuna sahabatnya. Karena mereka tak pernah bertengkar sebelumnya sehingga itu membuat Alia merasa kesulitan begitu juga dengan Yuna.
Tapi mereka harus melakukan itu untuk menangkap sang pelaku. Sebenarnya mereka sudah tau bahwa Sinta lah yang telah melakukan ini semua tapi mereka tidak memiliki bukti yang kuat untuk membuat Sinta jera.
Mereka akan melakukan apapun demi kebenaran apalagi menyangkut diri mereka sendiri dan itu akan sangat membahayakan mereka sehingga mereka harus membela diri.
" Ki, boleh nggak kalo kita tau cerita tentang bu Sinta waktu masih berguru ke Ki Ageng" Yuna sangat penasaran dengan Sinta pada saat masih bersama Ki Ageng
" Boleh saja nduk, dulu saat Sinta masih seumuran kalian dia adalah anak yang sangat cantik dan penurut serta sopan. Dia juga sangat baik kepada semua teman-teman seperguruannya.
Semuanya berjalan dengan semestinya sampai umurnya genap 18 tahun dia mulai mengenal cinta. Awalnya dia sangat bahagia dan ceria setiap hari dia selalu tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya. Tapi itu nggak lama, beberapa minggu kemudian tiba-tiba dia berubah drastis menjadi anak yang pemurung dan tidak pernah tersenyum.
Dia juga sering menangis tapi tidak ada teman yang mau mendekatinya karena mereka takut kepada Sinta.
Dengan begitu membuat dirinya semakin menderita. Saya juga pernah mencoba berbicara dengannya karena banyak murid yang meminta saya untuk menemui Sinta. Dia menangis saat saya mencoba bertanya, dan akhirnya dia bercerita. Sinta sakit hati karena tidak diterima oleh laki-laki yang Sinta cintai. Niat hati saya ingin menenangkan dirinya tapi ia malah mengira saya menasihatinya. Karena itu lah dia marah dan ingin membalaskan sakit hatinya itu" ucap Ki Ageng menceritakan masa lalu Sinta saat masih bersamanya di perguruan
Semuanya mendengarkan cerita Ki Ageng dengan seksama. Yuna penasaran siapa sebenarnya laki-laki yang membuat Sinta sangat jatuh cinta sehingga menyebabkan dendam karena ditolak. Ia sangat prihatin dengan Sinta setelah mendengar cerita dari Ki Ageng.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk like Novel iniπ