Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
59


__ADS_3

Kini Nayya baru saja tiba di puskesmas karena tadi sebelum ke sini dia singgah di apotik terlebih dahulu untuk membeli sesuatu yang akan dia gunakan untuk membuktikan dugaannya. Semoga saja dugaannya itu benar dan dia saat ini sedang mengandung buah hatinya bersama suaminya.


Nayya berencana akan mengeceknya siang nanti. Tapi sebelum itu dia harus mengomsumsi air banyak terlebih dahulu. Nayya tahu bahwa untuk melakukan pengecekan seperti ini, pagi adalah waktu yang terbaik tapi dia sudah sangat penasaran jika harus menunggu esok hari. Jadi dia memutuskan membeli dua tespek, satu tespek akan dia gunakan untuk siang nanti dan untuk satunya akan dia gunakan besok pagi untuk lebih meyakinkannya.


Nayya pun segera duduk di ruangannya setelah tadi melakukan absen pagi terlebih dahulu. Nayya meletakkan semua barang yang dia bawa di mejanya lalu setelah itu dia memeriksa jadiwal apa yang harus dia lakukan hari ini. Setelah membaca jadwal hariannya itu pun Nayya segera memulai pekerjaannya sambil menunggu teman-temannya yang lain pada berdatangan.


Singkat cerita, kini Nayya sudah waktunya makan siang. Nayya karena memang belum lapar memutuskan untuk sholat terlebih dahulu. Nayya pun segera menuju kamar mandi untuk berwudhu dan juga dia tidak lupa akan melakukan pengecekkan yang memang sudah dia rencanakan pagi tadi. Dia segera membawa alat tespek dan juga penampung urin.


Sekitar 15 menit Nayya berada di kamar mandi memandangi hasil tespecknya itu dengan terharu karena apa yang dia duga benar. Tespeck itu menunjukkan hasil positif yang dia inginkan. Garis dua terlihat dari hasil tespecknya, “Bunda benar kan sayang. Terima kasih sudah mempercayai bunda.” Ucap Nayya mengusap perutnya. Setelah itu Nayya segera berwudhu untuk segera melakukan sholat zuhur. Dalam sholatnya Nayya menumpahkan rasa syukurnya atas karunia yang Allah berikan padanya. Atas kepercayaan yang datang kepadanya secepat itu di jadikan menjadi seorang ibu.


Setelah sholat, Nayya segera menelpon sang suami.


Tuut tuut tuut


“Halo, Assalamu’alaikum sayang.” ucap Risam dari seberang.


“Wa’alaikumsalam. Mas apa sudah makan siang?” tanya Nayya menekan rasa bahagianya yang ingin segera memberitahukan kehamilannya itu kepada sang suami.


“Alhamdulillah sayang. Ini Mas lagi makan. Kalau kamu?” tanya Risam balik.

__ADS_1


“Emm, Nayya ini juga sedang menuju kantin mas.” Ujar Nayya.


“Baiklah. Jika begitu. Jangan telat makan sayang. Jangan lelah juga.” Ucap Risam dari seberang.


Nayya mengangguk walaupun dia tahu sang suami tidak bisa melihat anggukannya itu, “Nayya ingat mas. Nayya tidak akan kelelahan dan akan makan tepat waktu.” ucap Nayya.


“Iya kamu harus melakukan itu.” ucap Risam.


“Mas sadar gak sih bahwa sekarang Mas yang menjadi seorang ilmu gizi untuk Nayya.” Ujar Nayya tertawa.


Risam pun dari seberang ikut tertawa, “Kau benar sayang.” ucap Risam.


“Mas sudah dulu yaa. Mas lanjutkan makan siangnya. Nayya juga mau makan siang dulu. Mas jangan lelah dan jika urusannya sudah selesai segera pulang. Daa mas. Nayya mencintai Mas.” Ucap Nayya.


Nayya pun tersenyum lalu tidak lama sambungan telepon di antara keduanya pun segera terputus setelah satu sama lain saling mengucapkan salam. Nayya pun segera makan siang sementara Risam di seberang sana telah menyelesaikan makan siangnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi karena memang dia di bantu oleh pekerja lain sehingga pekerjaannya lebih mudah dan cepat. Selain itu juga dia sudah memiliki alat canggih yang membantunya mudah melakukan penyemprotan.


“Bunda akan makan banyak sayang agar kamu baik-baik di sana.” Ucap Nayya segera makan siang sambil mengusap perutnya.


***

__ADS_1


Kini Nayya sudah kembali ke rukonya dan seperti biasa setelah memarkirkan mobilnya dia pun turun dan tidak lupa menyapa para pekerjanya yang juga temannya itu sebelum naik ke lantai atas. Mama Fara dan papa Imran hari ini tidak datang karena mereka masih memiliki urusan penting.


Nayya pun segera menuju lantai atas dan seperti biasa dia bersih-bersih dulu sambil menunggu sang suami pulang yang katanya sedang dalam perjalanan pulang juga.


Nayya setelah mandi dan membersihkan tubuhnya. Dia sudah wangi tiba-tiba ingin makan brownis kukus. Nayya pun segera turun ke bawah ke minimarketnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia butuhkan. Entah kenapa dia ingin makan yang manis.


Setelah selesai dan memastikan bahwa semua bahan yang dia butuhkan sudah ada semua dan tidak ada yang terlupakan. Nayya pun kembali naik ke lantai atas untuk segera mengeksekusi bahan makanan itu untuk jadi brownis kesukaannya. Nayya bisa saja membeli yang sudah jadi tapi entah kenapa dia ingin makan brownis hasil buatannya sendiri, “Apa kamu ingin merasakan masakan bunda ya nak.” ucap ayya sambil mengolah bahan-bahan brownis itu.


Nayya mengolah brownis itu dengan gembira bahkan Risam yang sudah tiba dan mengucap salam tak dia dengar karena saking seriusnya membuat brownis. Risam pun tersenyum melihat Nayya yang berada di dapur berkutat dengan mixer serta tepung itu, “Pantas saja gak dengan mas mengucap salam. Sibuk yaa.” Ucap Risam mendekati istrinya itu.


Nayya pun yang mendengar sang suami bicara tersenyum, “Maaf mas. Nayya gak dengar.” Ucap Nayya.


Risam pun maklum dia segera mendekati sang istri dan mengecup kening Nayya, “Mas pulang sayang.” ucap Risam.


Nayya pun mengangguk, “Mas tangannya!” ucap Nayya menunjuk tangan sang suami dengan hidungnya karena tangannya sedang penuh dengan bahan-bahan brownis.


Risam pun tersenyum melihat itu dan bukan memberikan tangannya Risam justru memberikan pipinya, “Pipi aja sayang.” ucap Risam.


Nayya pun tersenyum lalu segera mengecup pipi suaminya itu, “Satunya lagi. Jika tidak di kecup juga yang satunya dia akan merasa tidak adil sayang.” ucap Risam modus.

__ADS_1


“Pintar banget sih alasannya.” Ucap Nayya lalu mengecup juga pipi suaminya itu.


Risam tersenyum lalu dia segera mengacak kepala sang istri dan menuju kamar untuk bersih-bersih. Nayya yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Lihatlah nak ayahmu itu sangat manja kepada bunda. Jangan cemburu yaa sayang. Bunda akan tetap menyayangimu dan juga akan menyayangi ayahmu. Kalian akan jadi kesayangan bunda. Bunda sangat senang memiliki suami seperti ayah kalian nak. Kamu harus bangga memiliki ayah seperti itu. Kamu juga harus meniru kebaikan yang ayahmu lakukan ya nak. Kamu harus bisa mencontoh ayahmu yang sangat menyayangi ibunya dan menyayangi istrinya. Ayahmu itu hebat nak.” ucap Nayya bicara dengan janinnya itu. Nayya segera menyelesaikan acara masak-masaknya itu dan merapikan alat-alat yang dia gunakan karena memang brownisnya tinggal menunggu masak saja.


__ADS_2