
Singkat cerita, kini Nayya sudah kembali ke rumah orang tuanya setelah pulang dari puskesmas dan hanya singgah sebentar saja di minimarketnya. Nayya sibuk di kamarnya mendesain pakaian untuk keluarganya karena untuk gaun dan kebaya Nayya sendiri dia memang sudah mendesainnya sebelumnya. Bahkan kebaya dan gaunnya itu sudah jadi. Yah, Nayya memang sudah menyiapkan hal itu walaupun dia tidak tahu kapan dia menikah.
Tiga bulan lalu dia mengantarkan desainnya itu kepada tukang jahit yang dulu menjadi tempatnya ikut kursus dan sebulan lalu dia di hubungi bahwa gaun dan kebayanya sudah jadi. Nayya yang mendengar itu pun sudah melunasi sisa pembayaran untuk pembuatan gaun dan kebayanya itu. Namun kebaya dan gaunnya itu tetap masih berada di butik di sana belum dia ambil tapi sudah dia lunasi.
Nayya serius mendesain dan begitu selesai mendesainnya di kertas, Nayya segera mendesainnya di tabletnya. Setelah sejam dia berkutat dengan tablet dan menemukan warna yang cocok akhirnya dia puas dengan empat desainnya desainnya itu.
Setelah selesai dengan desain pakaian untuk keluarga dia kembali mendesain untuk tuxedo calon suaminya. Saat dia mendesain pakaian untuk Risam tiba-tiba ponselnya berdering. Nayya pun segera mengambil ponselnya dan tersenyum begitu mengetahui siapa yang menelponnya itu, “Halo, Assalamu’alaikum dek. Ini Mas.” Ucap Risam dari seberang.
“Wa’alaikumsalam Mas. Nayya tahu kok.” balas Nayya.
Risam di seberang terdengar terkekeh, “Eeh iya yaa. Maaf dek, mas sedang dalam perjalanan ke rumahmu saat ini. Mungkin lima menit lagi sampai.” Ucap Risam dari seberang.
Nayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Baiklah. Nayya tunggu yaa Mas. Nayya juga ada sesuatu yang ingin di diskusikan dengan mas.” Ucap Nayya.
Di seberang Risam pun menyetujuinya saja lalu sambungan telepon itu segera terputus setelah saling mengucapkan salam. Setelah sambungan telepon itu terputus Nayya kembali melanjutkan desainnya dan seperti perkataan Risam sebelumnya bahwa lima menit lagi dia tiba.
Tepat lima menit kemudian, mama Fara mengetuk pintu kamarnya, “Nayya, ada Risam di depan nak.” ucap mama Fara.
“Iya mah. Nayya segera keluar.” Ucap Nayya lalu dia segera keluar membawa alat desainnya menuju ruang tamu di mana ada Risam menunggu.
“Mas!” ucap Nayya tersenyum lalu meletakkan alat desainnya di meja dan dia segera menuju dapur mengambil minum untuk calon suaminya itu.
__ADS_1
Risam yang melihat desain Nayya pun melihat kertas desain Nayya, dia tersenyum melihat desain Nayya itu. Tidak lama Nayya kembali dengan dua gelas jus di tangannya, “Maaf dek saya hanya ingin melihatnya saja.” ucap Risam kembali meletakkan kertas desain Nayya itu di meja.
“Gak apa-apa Mas. Nayya memang ingin membahas desain itu dengan Mas.” Ucap Nayya meletakkan jus di meja.
“Silahkan di minum mas.” Ucap Nayya lalu segera duduk di berhadapan dengan calon suaminya itu.
“Mas gak mengerti sama sekali dengan desain Nayya. Kamu kan tahu saya hanya petani dan hanya ilmu tentang itu yang saya tahu. Jika tentang desain begini saya sama sekali gak tahu. Aku buta jika terkait hal ini dek.” ucap Risam.
“Nayya juga sama mas. Nayya juga masih belajar kok. Nayya hanya ingin meminta pendapat mas saja. Mas ingin tuxedo seperti apa.” Ucap Nayya lalu mengambil pensilnya dan segera menyempurnakan hasil desainnya yang tadi di lihat oleh Risam.
“Bagaimana menurut Mas? Bagus gak?” tanya Nayya setelah menyelesaikan desainnya.
Nayya pun mengangguk lalu kembali mendesain satu lagi yaitu untuk akadnya. Risam memandangi Nayya yang serius mendesain itu. Dia mengagumi segala kemampuan yang di miliki oleh gadis di hadapannya itu. Pantas saja gadis di hadapannya itu yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu sukses sebab calon istrinya itu memiliki kemampuan yang banyak. Tidak hanya sebagai perawat dia sukses tapi di bidang lain pun dia sukses. Sekitar 20 menit kemudian hasil desain Nayya itu pun sudah selesai, “Sekarang yang ini. Bagus gak?” tanya Nayya.
Risam mengambil hasil gambar Nayya itu dan memandanginya dan lagi-lagi dia menyukai hasil desain Nayya itu. Menurutnya hasil desain calon istrinya itu sangat sempurna, “Bagus dek. Dua-duanya saya menyukainya.” ucap Risam.
Nayya tersenyum, “Syukurlah jika mas menyukainya. Kalau begitu tunggu sebentar, Nayya mau mengambil sesuatu.” ucap Nayya kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Tidak lama Nayya kembali dengan meteran di tangannya.
“Nayya akan mengukur tubuh Mas. Izin yaa. Kita tidak memiliki banyak waktu karena ini harus jadi sebelum pernikahan kita tiba.” Ucap Nayya segera meminta Risam berdiri untuk di ukur.
Risam pun menurut saja dan sekitar 15 menit kemudian akhirnya Nayya selesai mengukur tubuh calon suaminya itu, “Mas, kenapa datang ke sini? Apa mas ingin membicarakan sesuatu?“ tanya Nayya yang baru menyadari bahwa calon suaminya itu pasti datang dengan tujuan.
__ADS_1
“Ahh itu dek, mami memberi saya tugas untuk membeli barang hantaran nanti. Mami ingin kau memilih sendiri untuk hantaranmu agar semuanya sesuai dengan keinginanmu.” Ucap Nayya.
Nayya yang mendengar ucapan suaminya itu pun tersenyum, “Mas, untuk hantaran lebih baik terserah mas dan keluarga saja. Nayya pasti menerimanya. Ohiya Nayya akan mengunjungi keluarga mas.” Ucap Nayya.
Risam yang mendengar itu pun tersenyum, “Kapan kau akan berkunjung dek?” tanya Risam.
Nayya pun berpikir, “Emm, besok saja deh kak. Ini kan sudah sore. Nayya juga masih harus mendesain ini di tablet lalu Nayya juga ingin mendesain undangan pernikahan kita berhubung mas ada di sini. Gak masalah kan. Nayya akan datang besok pagi mungkin jam sembilan begitu.” Ucap Nayya.
“Saya akan menjemputmu dek. Tapi kamu bukannya akan ke puskesmas dulu?” tanya Risam.
Nayya tersenyum, “Nayya sudah mengajukan cuti sampai sebulan ke depan.” Jawab Nayya.
Risam yang mendengar itu pun mengangguk dan tersenyum, “Baiklah jika begitu.” Ujar Risam.
Nayya pun serius dengan tabletnya mendesain pakaian calon suaminya itu. Sekitar 20 menit kemudian akhirnya jadi dan langsung di perlihatkan kepada Risam yang lagi-lagi Risam langsung menyukainya.
Setelah itu Nayya segera mendesain undangan pernikahan mereka dengan berdiskusi satu sama lain. Setelah desain undangan selesai, Nayya segera mengirimnya ke percetakannya. Begitu pula dengan pakaian calon suaminya langsung di kirimkan ke butik tempat dia membuat gaun dan kebayanya agar segera di buat. Sementara untuk pakaian keluarga dia masih harus mengukur seluruh anggota keluarga sebelum memesannya.
Setelah memastikan semuanya selesai, “Akhirnya selesai. Mas, ayo kita makan dulu. Mama sudah memasak.” Ajak Nayya karena mama Fara memang sudah memberinya kode untuk mengajak calon suaminay itu makan.
Risam pun mengangguk menyetujui acakan makan calon istrinya itu. Akhirnya Risam makan dengan calon istrinya juga calon mertuanya.
__ADS_1