
“Apa mas merasa sakit atau tidak nyaman?” tanya Nayya.
Risam menggeleng, “Bagaimana mungkin aku merasa sakit dan tidak nyaman jika istriku ada di sini menemaniku. Aku tidak akan merasa sakit dan tidak nyaman selama kau ada di sini bersamaku.” Ucap Risam.
Nayya yang mendengar ucapan suaminya itu pun akhirnya tidak bisa menahan air matanya dan segera memeluk suaminya itu, “Kenapa meminta Diaz untuk menyembunyikannya dariku. Aku adalah istrimu yang berhak tahu keadaanmu mas. Aku akan sangat merasa bersalah jika aku mengetahui ini terlambat. Aku mohon mas jangan menyembunyikan apapun lagi dariku. Aku mencintaimu dalam keadaan sehat maupun sakit. Kenapa harus mengkhawatirkan aku yang akan sedih nanti karena suamiku.”
Nayya melepas pelukannya dan menatap suaminya itu, “Aku akui aku pasti akan sedih tapi kita bisa mencari jalan solusinya sama-sama kan. Kita bisa mengusahakan yang terbaik untuk penyembuhanmu. Aku menyayangimu mas.” Ucap Nayya.
“Maaf sayang. Mas ingin memberitahumu tapi nanti. Namun sepertinya kau keburu tahu. Mas janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Risam.
“Kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan yaa. Kita harus mengusahakan apa yang bisa kita usahakan. Walaupun kita tahu keputusan akhirnya tetap di tangan Allah. Tapi setidaknya kita sudah berusaha. Jangan menolaknya mas. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Diaz. Dia akan menjadwalkan pemeriksaanmu secepatnya.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk dan membawa kembali Nayya ke pelukannya. Di peluknya istrinya itu dengan erat. Dia akan menuruti apapun yang di minta oleh istrinya itu sebagai bentuk usaha yang dia lakukan untuk sembuh. Untuk akhirnya nanti semua biar nanti jadi urusan kebelakangan. Dia masih ingin bersama dengan istrinya dan anak-anaknya. Dia yang sudah mencoba untuk mengikhlaskan semuanya tapi ternyata dia juga masih takut untuk pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya itu.
“Kita usaha sama-sama ya mas. Kita berjuang sama-sama.” ucap Nayya berbisik.
Risam pun mengangguk lalu melepas pelukan mereka dan mencium bibir istrinya itu lembut. Nayya pun membalas ciuman suaminya itu tidak kalah lembut. Keduanya larut dalam ciuman yang penuh kelembutan.
***
5 tahun kemudian.
Waktu demi waktu ternyata berlalu dengan sangat cepat.
Kini di bandara ada seseorang yang baru saja turun dari pesawat dia menghirup udara segara kotanya itu. Kota yang hampir 7 tahun lalu itu dia tinggalkan untuk mencari ilmu. Kota yang sangat dia rindukan. Kota yang menyimpan kenangan untuknya.
Dia segera melangkah keluar bandara dan tersenyum melihat kedua adiknya yang datang menyambutnya, “Kalian datang?” tanya Afnan. Yah, laki-laki itu adalah Afnan.
“Tentu saja kami harus datang kak. Kami merindukanmu. Kakak jahat bahkan di pernikahan kami pun kau tetap tidak datang sama sekali.” Ucap Ivana manja.
Afnan pun tersenyum lalu memeluk kedua adiknya itu, “Kak, mami sangat merindukanmu.” Ujar Efnan.
“Aku juga merindukannya.” Balas Afnan.
“Ya sudah ayo kita pulang. Temui para keponakanmu itu kak.” Ucap Ivana.
Afnan pun mengangguk, “Baiklah adik cantikku. Aku akan bertemu dengan keponakanku.” Ucap Afnan menggandeng adik perempuannya itu menuju mobil sementara Efnan dia yang membawa koper kakaknya itu.
“Bagaimana kabarnya?” tanya Afnan kepada kedua adiknya itu saat mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.
Efnan dan Ivana pun saling memandang satu sama lain, “Kak, apa kau belum bisa melupakannya?” tanya Ivana hati-hati.
Afnan pun tertawa, “Melupakannya? Aku sudah berusaha tapi ternyata tidak bisa.” Ucap Afnan mendesis. Sungguh dia sudah berusaha untuk melupakan sosok Nayya itu tapi tetap saja tidak bisa. Dia yang sudah berjanji pada dirinya sendiri baru akan pulang ke kota ini setelah nanti melupakan Nayya tapi ternyata dia harus mengingkari janjinya sendiri. Buktinya dia kembali ke kota ini dan tetap membawa perasaan itu di hatinya.
“Kak, dia sudah bahagia dengan suami dan ketiga anaknya. Tidak kah kau berpikir untuk kebahagiaanmu sendiri. Kau berhak bahagia juga kak.” Ucap Efnan.
“Aku tahu. Tapi aku belum memikirkannya. Aku sudah berdamai dengan diriku. Tapi perasaanku padanya sulit untuk aku lupakan. Jadi jangan paksa aku untuk melupakannya. Biarkan saja perasaan itu di hatiku. Aku tidak akan mengganggunya atau pun menggangu keluarga kecilnya. Aku juga tidak akan mencoba melakukan percobaan bunuh diri seperti yang pernah ku lakukan. Aku sudah berbeda dek. Jadi kalian jangan khawatir. Aku baik-baik saja.” ucap Afnan.
Efnan dan Ivana pun memilih diam. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa juga untuk kakak mereka itu, yang terpenting untuk saat ini yaitu kakak mereka itu sudah menjadi yang lebih baik lagi.
***
Di kediaman Nayya dan Risam kini triplets yang baru dua hari yang lalu berulang tahun yang ke enam tahun itu. Kini sedang bermanja dengan ayah dan bunda mereka.
“Ayah, lihat apa yang Xavier buat.” Ucap Xavier membawa hasil gambarnya.
Risam pun melihat hasil karya putra bungsunya itu, “Bagus!” ujar Risam.
“Ayah, coba lihat punya abang.” Ucap Xander membawa apa yang dia buat.
__ADS_1
“Wah, keren.” Puji Risam untuk putra keduanya itu.
“Punya kakak lebih bagus yah. Coba lihat.” Ucap Qalessa membawanya kepada Risam.
Risam pun menerimanya dan tersenyum dengan hasil karya putrinya itu, “Bagus nak. Keren.” Ucap Risam memuji putrinya itu.
“Kalian semua itu keren dan hebat nak.” ucap Nayya dari dapur dan membawakan camilan untuk suami dan anak-anaknya itu.
Triplets pun mengangguk, “Bunda benar. Kami hebat dalam bidang kami masing-masing.” Ujar Qalessa.
“Ini camilan untuk kalian. Ohiya selepas mengerjakan tugas sekolah. Jangan lupa mengaji yaa.” Ucap Nayya lembut yang di angguki ketiganya dengan tersenyum.
“Mas, mereka berkembang dengan baik kan.” Ucap Nayya.
Risam mengangguk, “Yah, mereka tumbuh dengan baik. Mereka hebat karena punya bunda hebat sepertimu sayang. Mereka bisa melakukan apapun karena ada dirimu di samping mereka itu.” ujar Risam tidak pernah tidak memuji istrinya itu.
“Mas berlebihan. Mereka tumbuh dengan baik karena kita mas. Kita yang mendidik mereka menjadi anak baik dan penurut. Untuk putriku itu dia sepertiku mas. Dia selalu merasa bertanggung jawab untuk kedua adiknya padahal mereka hanya beda beberapa menit doang. Namun tetap saja dia melakukan apa yang harus di lakukan oleh seorang kakak. Kasihan putriku itu.” ucap Nayya.
“Tapi kedua adiknya juga menurut padanya sayang. Xander dan Xavier juga sangat menyayanginya dan melindungi mereka. Kita hebat. Tapi kau yang lebih hebat karena saat aku sakit kau mendidik mereka dengan sangat baik.” ucap Risam.
“Jangan katakan itu lagi mas. Aku senang kita masih di beri waktu untuk bersama lagi. Kita akan sama-sama melihat triplets menemukan jodoh mereka nanti.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu mengangguk, “Aamiin.” Ucap Risam.
“Semoga saja Allah masih memberiku waktu selama itu sayang.” batin Risam lalu mengecup kening istrinya itu. Istri yang sudah memperjuangkan kesembuhannya.
Dua tahun dia harus bolak balik rumah sakit dan rumah. Dua tahun dia harus kontrol dan melakukan pengobatan ini itu. Nayya selalu mendampinginya. Tidak pernah membiarkannya sendiri. Sungguh istri yang sangat berbakti pada suaminya. Dia beruntung sebagai suami Nayya.
Nayya di samping harus menjaganya juga masih tetap mengawasi triplets yang saat itu sedang tumbuh kembang dan butuh perhatian lebih darinya. Nayya mampu mengatur jadwalnya dengan baik sehingga triplets tetap tumbuh dan berkembang dengan baik seperti saat ini menjadi anak-anak yang cerdas. Di usia 4 tahun sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar dan langsung khatam. Saat ini mereka sedang menghafal yang masing-masing sudah 10 juz.
***
Di kediaman Risam dan Nayya pun mereka melakukan sahur pertama bersama. Keluarga Risam mereka menginap di sana untuk sahur bersama sedangkan untuk adik-adik Nayya sendiri mereka berkumpul di kediaman mama Fara dan juga papa Imran.
Rayya dan Ariq sudah memiliki dua orang anak putra putri. Rayya melahirkan putrinya itu tiga tahun tahun lalu yang di beri nama Edrea Syahrena Al Ayaan sama dengan putri Risam dan Nayya yang mengambil marga Nayya. Untuk putri Rayya dan Ariq pun sama.
Sementara untuk Zayya dan Diaz mereka juga sudah punya dua orang anak putra dan putri. Putri pertama lahir 4 tahun lalu yang di beri nama Queensha Valenria Al Ayaan dan putra keduanya yang lahir tiga tahun lalu hampir bersamaan dengan putri Rayya dan Ariq itu di beri nama Kingsley Virendra Malik.
Mereka semua berkumpul di kediaman mama Fara dan papa Imran dan nanti sudah waktunya sahur mereka akan sahur bersama.
Singkat cerita, kini tidak terasa puasa sudah hari kelima dan hari ini bertepatan dengan jadwal buka puasa Risam dan Nayya. Yah, di desa mereka itu akan ada jadwal buka puasa di masjid bersama dan kini giliran Risam dan Nayya.
Makanan dan kue yang di siapkan untuk buka puasa itu sudah siap semuanya. Kini di masjid selepas ashar ramai-ramai menunggu waktu buka puasa. Nayya dan Risam pun ada di sana bersama keluarga yang lain dan ada juga tetangga serta orang-orang yang akan berbuka puasa di sana.
“Bunda!” panggil triplets bersamaan.
Nayya pun segera mendekati ketiga buah hatinya itu yang memanggilnya, “Ada apa sayang? Apa sudah lapar? Sudah mau buka puasa?” tanya Nayya lembut yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
“Terus ada apa sayang? Kalian butuh apa?” tanya Nayya.
“Itu bun!” tunjuk Qalessa.
Nayya pun melihat arah yang di tunjuk putrinya itu dan dia tersenyum, “Mau kesana?” tanya Nayya yang langsung di angguki oleh ketiganya lagi.
“Ya sudah sana.” Ucap Nayya lalu ketiga buah hatinya itu segera mendekati orang yang memanggil mereka sejak tadi.
“Nayya, mereka sangat lucu.” Ucap mami Rana menatap ketiga anak Nayya itu.
“Mereka sebenarnya sulit akrab dengan orang.” Ucap Nayya.
__ADS_1
“Sayang, kalian di sini dulu yaa. Bunda mau kesana sebentar. Jangan nakal yaa di sini.” Ucap Nayya yang kembali di angguki ketiganya.
Nayya pun segera menyibukkan dirinya dengan persiapan buka puasa itu. Sementara di sisi triplets, “Hampir saja mereka jadi cucumu jika putramu menikah dengannya.” ucap seseorang yang duduk di sisi mami Rana.
“Iya yaa. Kalau begitu kau punya tiga cucu sekaligus.” Timpal satunya lagi.
“Ohiya aku dengar Afnan sudah pulang. Di mana dia? Kok gak kelihatan.” Tanya yang lain.
“Ada kok ada di rumah. Dia akan kesini nanti.” Jawab mami Rana.
“Ohiya kapan dia akan menikah? Efnan dan Ivana saja sudah punya anak masa iya putra sulungmu belum juga menikah?” ucap yang lain lain.
“Belum ketemu jodohnya. Doakan saja agar secepatnya dia ketemu jodohnya itu.” ujar mami Rana.
Setelah itu mami Rana sibuk dengan triplets yang dia bawa untuk membaca Al-Qur’an. Dia tahu bahwa ketiga buah hati Nayya itu pintar membaca Ak-Qur’an dan kini triplets itu pun mengaji.
Selepas triplets selesai mengaji Risam tiba dan ketiganya segera mendekati Risam, “Ayah!” panggil mereka.
Risam pun tersenyum lalu memeluk ketiga buah hatinya itu, “Bunda mana?” tanya Risam.
“Tuh!” tunjuk Xavier kepada Nayya yang berjalan ke arah mereka.
“Apa ada yang kurang?” tanya Risam.
Nayya menggeleng, “Semuanya pas kok. Bahkan masih tersisa banyak.” Jawab Nayya. Risam pun mengangguk.
Waktu untuk bukan puasa masih kurang lebih setengah jam lagi dan Afnan pun tiba di masjid itu dengan salah satu temannya. Dia segera masuk dan melihat Nayya dan Risam yang duduk bersama dengan di temani oleh ketiga buah hatinya. Afnan tersenyum melihat itu.
Afnan dan temannya itu pun segera mencari tempat duduk, “Apakah kau cemburu?” tanya temannya sebut saja dia A.
Afnan melihat ke arah temannya itu pun lalu tersenyum, “Untuk apa aku harus cemburu. Melihat dia bahagia pun aku sudah bahagia.” Ujar Afnan.
Temannya itu pun hanya mengangguk-ngangguk saja, “Bagaimana jika kau di beri kesempatan untuk jadi suaminya? Apa kau akan melewatkannya?” tanya si A.
“Pertanyaan macam apa itu? Apa kau menyumpahi suaminya meninggal. Sungguh tega kau.” Ucap Afnan kesal.
“Tenang bro. Aku hanya mengatakan jika di beri kesempatan. Aku tidak menyumpahi suaminya untuk meninggal. Hanya saja--”
“Sudah hentikan. Jangan bicara lagi. Aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakan hal itu.” potong Afnan.
“Hi Nayya!” sapa Afnan mendekati Nayya dan suaminya itu.
“Hey!” balas Nayya.
“Apa kabar Afnan?” ucap Risam.
“Baik. Seperti yang kalian lihat.” Balas Afnan.
“Syukurlah.” Ucap Nayya.
“Hey triplets!” sapa Afnan menatap ketiga buah hati Nayya dan Risam itu yang sangat cantik dan tampan dengan pakaian muslim mereka.
“Hai uncle.” Ucap Xavier si paling ramah. Berbeda dengan Xander dan Qalessa yang cenderung dingin dan datar.
“Apa aku bisa bermain dengan mereka?” izin Afnan menatap Risam dan Nayya.
Risam pun mengangguk begitu juga dengan Nayya, “Ayo triplets ikut dengan uncle.” Ajak Afnan. Triplets pun menurut.
Afnan pun bermain dengan triplets itu. Mereka cepat akrab terutama dengan Xavier, “Nan, jika kau yang menikah dengannya maka mungkin mereka adalah anakmu.” Ucap teman Afnan itu. Afnan hanya tersenyum saja menanggapinya dan tetap bermain dengan triplets.
__ADS_1