Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
84


__ADS_3

Kini keluarga kecil Nayya dan Risam dalam perjalanan untuk ke kampus Rayya dan Zayya yang di mana itu juga kampus Nayya saat dia menempuh pendidikan dulu. Sekitar satu jam dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di kampus yang menjadi idaman setiap tahun. Universitas itu adalah universitas terbaik di kota itu sehingga setiap penerimaan mahasiswa baru banyak yang berbondong-bondong masuk.


Nayya tersenyum melihat rektorat yang di padati oleh seluruh mahasiswa mahasiswi yang wisuda beserta keluarga mereka.


“Kita hubungi mama dulu.” Ujar Nayya. Yah, memang mama Fara dan papa Imran sudah berangkat lebih dulu untuk mendampingi kedua putrinya itu wisuda. Nayya dan Risam datang hanya untuk meramaikan saja dan ikut foto saja. Mereka tidak ikut acara formalnya.


Tuut tuut tuut


“Halo, Assalamu’alaikum mah!” salam Nayya begitu sambungan telepon terhubung.


“Wa’alaikumsalam nak. Apa kalian sudah tiba?” tanya mama Fara dari seberang.


“Iya mah. Kami sudah tiba. Kami berada di sisi kanan rektorat.” Ujar Nayya.


“Baiklah kami akan kesana. Kalian jangan masuk nak. Banyak orang di sini kasihan ketiga cucuku nanti. Biar kami kesana. Tunggu saja di sana.” Ujar mama Fara.


“Baik mah. Kami akan menunggu di mobil.” Ucap Nayya. Lalu setelah itu sambungan telepon terputus setelah saling mengucap salam.


“Kita tunggu di sini saja. Mereka akan ke sini.” Ujar Nayya kepada Risam.


Risam pun tersenyum mengangguk karena tanpa istrinya itu katakan dia mendengar semuanya.


Sekitar 15 menit kemudian mama Fara, papa Imran, Rayya dan Zayya sudah terlihat dan sedang menuju mobil mereka, “Itu mereka.” tunjuk Nayya lalu segera turun dari mobil. Risam pun tersenyum melihat itu dan ikut turun mengikuti istrinya.


Nayya tersenyum menatap kedua adiknya yang cantik dengan pakaian wisuda dan toga mereka masing-masing, “Kakak!” ujar Rayya dan Zayya bersamaan lalu segera mendekati Nayya dan memeluk Nayya bersamaan.


Nayya jika tidak bersiap untuk itu maka dia pasti terjatuh karena kedua adiknya itu memeluknya bersamaan. Tapi karena Nayya sudah bisa menduga itu maka dia sudah bersiap agar tidak terjatuh.


“Congrats sayang. Kedua adik kakak akhirnya wisuda. Cantik banget!” ujar Nayya kepada kedua adiknya itu. Rayya dan Zayya pun tersenyum mendengarnya.


“Nak, apa cucu mama masih tidur?” tanya mama Fara sambil mendekati jendela mobil untuk melihat cucunya.


Nayya tersenyum melihat yang di lakukan mamanya itu, “Buka saja mah pintu mobilnya jika memang mama ingin melihat mereka.” ujar Nayya.


Mama Fara tersenyum mendengar ucapan putrinya itu lalu dia segera membuka pintu mobil dan lagi-lagi tersenyum melihat ketiga cucunya itu masih terlelap, “Apa mereka sudah dari rumah terlelap begitu nak?” tanya mama Fara.


Nayya mengangguk, “Iya mah.” jawab Nayya.


“Wah kalian ini yaa ngantuk yaa.” Ujar mama Fara bicara dengan ketiga cucunya.


“Dek, sepertinya kalian wisuda tidak begitu membahagiakan untuk mama. Lihatlah dia tetap sibuk dengan cucunya.” Ujar Nayya.


Rayya dan Zayya mengangguk lalu menghela nafas bersamaan, “Kakak benar!” ujar Rayya dan Zayya lagi-lagi bersamaan saking kompaknya.


“Hanya beberapa menit doang mama bangga pada kami. Tapi setelah itu keimutan para cucunya itu mengalahkan kami lagi. Ahh kami tersaingi kak. Di rumah juga mama hanya membahas perkembangan triplets. Kami tidak terlihat oleh mama.” Ucap Rayya.


“Yah, itu benar. Tapi mau bagaimana lagi mereka memang sangat imut. Aku rela deh jika mereka yang menjadi saingan kami. Sungguh kami rela!” sambung Zayya.


Nayya dan Risam yang mendengar itu hanya tersenyum, “Apa kalian sudah mengambil foto?” tanya Nayya kemudian.


Rayya dan Zayya menggeleng kompak, “Kami mengambil foto hanya di dalam saja tadi. Acara formalnya saja.” jawab Rayya.


Nayya pun mengangguk lalu menatap suaminya, “Mas, kapan fotografernya tiba?” tanya Nayya.

__ADS_1


“Sebentar lagi sayang. Ah itu dia sudah tiba.” Tunjuk Risam kepada seorang pria yang baru saja turun dari motornya.


Risam pun segera mendekati fotografer itu dan bicara sebentar dengan fotografernya lalu mereka segera mendekati Nayya dan keluarganya, “Maaf saya terlambat nona!” ucap fotografer itu sebut saja dia Jay.


Nayya mengangguk, “Gak masalah.” Balas Nayya.


“Ya sudah apa bisa kita mulai sesi fotonya.” Ujar papa Imran.


“Bisa tuan.” Jawab Jay penuh hormat.


Mereka pun segera mengambil spot foto yang bagus untuk pengambilan foto. Rayya dan Zayya dulu yang di foto dan di video secara sendiri-sendiri atau berdua.


Nayya dan Risam tersenyum melihat itu sambil memangku anak mereka di pangkuan keduanya. Nayya memangku Xander putra keduanya dan Risam memangku Xavier putra bungsunya sementara sang putri Qalessa berada dalam pangkuan neneknya. Mereka terjaga saat sesi foto di mulai, sepertinya mereka tahu bahwa mereka harus ada dalam momen para bibi mereka itu. Tidak ingin ketinggalan.


Ketiga buah hati Nayya dan Risam itu sedang menyusu dari dot yang memang sudah di sediakan oleh Nayya dan Risam sebelumnya.


“Pintar anak bunda minum susunya habis.” Puji Nayya kepada ketiga buah hatinya itu karena mereka lahap dalam menyusu sehingga jangan tanya dalam usia mereka yang belum genap dua bulan sudah memiliki berat badan 8 dan 9 kilo.


“Iya dong. Cucu nenek itu harus tumbuh sehat.” Timpal mama Fara sambil menoel pipi cucu perempuannya yang sangat menggemaskan di matanya. Selain memiliki wajah cantik garis wajah Nayya bahkan lebih cantik dari Nayya, cucunya itu juga cantik dengan bola mata abu-abunya.


Tidak lama setelah itu mereka segera mengambil foto keluarga. Sekitar dua jam sesi pengambilan foto hingga tidak terasa kini sudah hampir waku zuhur. Pengambilan foto dengan latar kampus semuanya sudah selesai. Mereka tinggal ke studio tapi nanti setelah sholat zuhur sesi foto itu di lanjutkan.


Rayya dan Zayya duduk lalu segera menyeruput minumnya, “Wah, ternyata wisuda juga melelahkan yaa.” Ujar Zayya.


“Tentu saja melelahkan sekaligus menyenangkan.” Timpal Rayya.


Dua menit kemudian setelah Rayya mengatakan itu, matanya melotot melihat seseorang yang turun dari mobil tidak jauh dari mereka. Rayya menatap tajam pria yang kini sedang berjalan ke arah mereka. Rayya sudah deg-degan tidak karuan, “Kenapa dia tidak mengatakan akan datang!” batin Nayya.


Pria itu semakin dekat dan dekat hingga di hadapannya, “Assalamu’alaikum Rayyana Oktaviani Al Ayaan. Selamat atas kelulusanmu!” ujar pria itu menunduk dan memberikan buket bunga besar kepada Rayya.


Cukup lama hening, “Siapa kau nak!” tanya papa Imran basa basi karena dia bisa membaca nama pria itu di seragam yang dia pakai.


Pria itu pun berdiri tegak dan menatap papa Imran, “Perkenalkan saya Ariq Emilio Hakim panggil saja Ariq atau Lio. Maaf jika kedatangan saya membuat semuanya kaget dan bertanya-tanya.” Ucap Ariq.


Papa Imran pun tersenyum lalu mendekati laki-laki yang dengan berani datang dan memberikan buket bunga kepada putri keduanya padahal dia tidak tahu jika putrinya itu memiliki kekasih. Bahkan Rayya tidak pernah cerita.


“Bisa jelaskan apa tujuanmu datang dan memberikan bunga kepada putri kedua saya?” tanya papa Imran.


“Saya datang ke sini ingin memberi selamat kepada Rayyana putri bapak sekaligus melamarnya untuk jadi bhayangkari saya. Semoga bapak dan ibu merestui.” Ucap Ariq menatap papa Imran dan mama Fara. Rayya yang mendengar itu pun semakin menunduk karena takut dan tidak menyangka bahwa Ariq senekat itu menemui orang tuanya dan dengan berani memintanya seperti itu.


Mama Fara memberikan Floella yang sudah terlelap kembali kepada Zayya dan mendekati suaminya serta pria muda berseragam polisi itu, “Kapan kau ketemu putri kami? Sejak kapan kalian saling mengenal sehingga kau berani memintanya jadi bhayangkarimu?” tanya mama Fara tegas.


Ariq tersenyum lalu menatap mama Fara, “Saya mengenalnya sejak setahun lalu tapi kami saling mengenal sejak dua bulan lalu.” Jawab Ariq.


Mama Fara yang mendengar jawaban yang di berikan Ariq bingung, “Bisa jelaskan dengan kata yang bisa sayang pahami. Saya tidak paham.” Ujar mama Fara.


Nayya mendekati kedua orang tuanya itu setelah menidurkan ketiga buah hatinya di mobil, “Mah, maksudnya dia mengenal Rayya sejak setahun lalu dan mungkin mereka baru saling ketemu dua bulan lalu dan saling mengenal.” Jelas Nayya.


Mama Fara pun akhirnya memahaminya, “Apa begitu?” tanya mama Fara memastikan dan menatap Ariq.


“Benar bu!” jawab Ariq tegas.


Mama Fara pun mengangguk, “Rayya, ke sini!” pinta mama Fara kepada putri keduanya itu agar mendekat.

__ADS_1


Nayya yang berada di samping Rayya tersenyum dan meminta Rayya untuk mendekati kedua orang tua mereka. Rayya pun menurut, “Rayya, mama mau tanya apa yang dia katakan itu benar? Kalian baru saling mengenal dua bulan lalu?” tanya mama Fara menyelidik.


Rayya mengangguk, “Benar mah!” jawab Rayya menunduk.


Mama Fara pun mengangguk lalu segera meninggalkan ketiga orang itu dan mendekati Nayya, “Mama serahkan padamu pah semuanya.” Ujar mama Fara.


Papa Imran yang mendengar ucapan istrinya pun tersenyum, “Rayya, apa jawabanmu untuk tawarannya menjadi bhayangkarinya?” tanya papa Imran menatap putrinya.


Rayya perlahan mengangkat kepalanya dan menatap papanya lalu mematap sekilas pria di hadapannya itu. Rayya kembali menunduk dan kembali kaget dengan apa yang di lakukan oleh Ariq yang tiba-tiba berlutut di hadapannya. Rayya mundur dan menatap pria di hadapannya, “Berdiri kak! Jangan berlutut padaku. Aku bukan ibumu.” Ujar Rayya.


Ariq mengabaikan ucapan Rayya itu dan mengambil sesuatu dari sakunya dan membukanya, “Rayyana Oktaviani Al Ayaan, mau kah kau jadi bhayangkariku? Jadi pendampingku? Jadi istriku? Maukah kau dengan segala kerendahan hatimu menerimanya?” ujar Ariq.


Rayya yang mendengar itu kembali mundur karena tidak menyangka bahwa dia akan di lamar seperti ini di hadapan banyak orang yang melihat mereka dan juga orang tuanya. Dia tidak menyangka bahwa akan di lamar di hari dia wisuda.


Rayya menatap papa Imran, mama Fara lalu Nayya, “Berdiri kak! Jangan berlutut lagi!” ucap Rayya.


“Aku tidak akan berdiri sebelum kau menjawabnya.” Balas Ariq.


“Dasar keras kepala. Terserahlah.” Ujar Rayya cuek.


Nayya yang melihat itu tersenyum lalu mendekati adiknya itu. Dia tahu Rayya saat ini sedang bingung harus melakukan apa, “Jawab dek! Kasihan dia sudah berlutut begitu. Turuti apa yang di katakan hatimu. Hati tidak pernah salah memilih.” Ujar Nayya menenangkan adiknya itu.


Rayya yang mendengar ucapan kakaknya tersenyum lalu memeluk Nayya erat, “Terima kasih kak sudah menenangkanku.” Ucap Rayya lirih.


Nayya pun mengangguk lalu melepas pelukan adiknya itu lalu dia kembali berdiri di samping mama Fara dan Zayya untuk melihat dan mendengar keputusan yang akan di ambil oleh Rayya, “Berdiri kak! Aku akan memberikan jawabanku tapi kau harus berdiri.” Ujar Rayya.


Ariq pun menurutinya dan berdiri, “Jadi apakah kau ma--”


Rayya mengangguk, “Katakan. Aku tidak butuh anggukan. Aku butuh jawaban.” Ucap Ariq tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.


Rayya menatap pria di hadapannya itu dengan tersenyum, “Aku Rayyana Oktaviani Al Ayaan bersedia menjadi bhayangkarimu Ariq Emilio Hakim.” Jawab Rayya.


Ariq yang mendengar itu tersenyum senang, “Terima kasih!” ucap Ariq lalu mengambil cincin dan menatap kepada mama Fara.


Mama Fara pun mendekat dan menerima cincin dari Ariq dan memasangkannya di jari sang putri, “Selamat nak!” ucap mama Fara memeluk putrinya itu.


“Terima kasih mah.” balas Rayya.


Papa Imran menepuk bahu Ariq, “Om titip dia. Jaga dia dengan baik.” ujar papa Imran.


“Baik pah!” jawab Ariq.


Papa Imran yang mendengar panggilan papa dari Ariq pun tersenyum lalu mengangguk, “Kami tunggu kedatangan keluargamu di kediaman kami nak.” ujar papa Imran lalu meninggalkan Rayya dan Ariq dan bergabung dengan menantu sulungnya yang dari tadi hanya sebagai penonton saja.


Jay yang dari tadi mengambil video untuk momen lamaran tidak terencana itu pun segera mengambil foto keduanya, “Tunggu sebentar!” ujar Ariq setelah mengambil beberapa foto. Ariq berlari menuju mobilnya dan mengambil sesuatu.


Tidak lama dia kembali dengan selempang di tangannya, “Bisa rekam kami!” pinta Ariq kepada Jay. Jay pun mengangguk lalu segera merekam saat Ariq memasangkan selempang bertuliskan bhayangkariku itu kepada Rayya. Setelah itu kembali di ambil sesi foto kembali.


Setelah sesi foto keluarga segera mencari masjid untuk melaksanakan sholat bersama. Ariq juga ikut bersama dengan naik mobil miliknya. Sementara Rayya tetap ikut mobil papa Imran dan mama Fara.


Mereka melaksanakan sholat berjamaah dan Ariq yang menjadi imamnya karena memang waktu sholat zuhur sudah di lakukan sejak setengah jam lalu.


Rayya tidak ikut sholat karena memang sedang udzur dan dia yang menjaga ketiga keponakannya itu di mobil sambil memandangi cincin di jarinya.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka hal ini.” gumam Rayya lirih. Rayya tidak membayangkan pertemuannya dengan Ariq dua bulan lalu di sebuah restoran secara tidak sengaja itu akan berujung begini. Jujur saja dia senang dengan apa yang terjadi tapi tidak dia pungkiri dia juga kaget dan tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya hari ini. Apalagi mendengar Ariq yang mengatakan sudah mengenalnya sejak setahun lalu. Itu pengakuan yang membuatnya kaget dan bertanya-tanya.


“Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya? Setahun lalu?”


__ADS_2