Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
52


__ADS_3

Singkat cerita, tidak terasa sudah seminggu Nayya dan Risam menjalin rumah tangga mereka. Nayya yang memang masih menikmati waktu cutinya pun hanya bersantai ria di rukonya sambil sorenya jika ada yang datang untuk berobat Nayya tetap melayaninya. Sementara Risam dia sudah mulai bekerja kembali di kebun milik papinya yang memang sudah di berikan kepadanya.


Papa Imran pun sudah mengatakan kepada Risam untuk mengambil alih kebun yang ada di desa F karena memang papa Imran sudah tidak sanggup untuk mengelolanya lagi. Risam awalnya sungkan menerimanya namun papa Imran menjelaskan bahwa Nayya adalah putrinya. Tanah itu adalah miliknya yang berarti milik Nayya juga. Papa Imran bahkan menjelaska, jika nanti Rayya atau pun Zayya nanti memiliki suami barulah Risam akan memberikan tanah itu kepada suami Rayya atau Zayya agar bisa bergiliran mengelolanya. Akhirnya setelah itu barulah Risam menerima tawaran papa Imran itu.


Nayya tidak ikut campur sama sekali dengan urusan papanya dan suaminya itu. Dia menurut saja apa pun keputusan yang di ambil suaminya dan papanya itu. Setelah Risam memutuskan untuk mengelola kebun milik papa Imran itu pun. Kini Risam sedang berpikir untuk modalnya itu.


“Mas, kenapa?” tanya Nayya yang melihat suaminya itu seperti memikirkan sesuatu.


Risam menggeleng, “Gak ada sayang.” ucap Risam.


Nayya tersenyum lalu mendekati suaminya itu yang berada di ranjang, “Mas bohong yaa padaku. Kita kan sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain. Lalu kenapa sekarang mas berbohong. Aku yakin ada yang mengganggu pikiranmu. Ayo katakan, ada apa?” tanya Nayya.


Risam pun tersenyum lalu memeluk istrinya itu dan menghirup wangi tubuh istrinya itu, “Aku sedang memikirkan modal untuk menanami kebun papamu itu sayang. Aku punya tabungan tapi jika itu ku pakai. Bagaimana dengan kebutuhan kita?” ucap Risam.


Nayya pun tersenyum lalu menatap suaminya itu dalam, “Emm, bagaimana jika pakai uang milik Nayya. Nayya punya tabunan kok. Stss, jangan langsung menolaknya mas. Aku tahu kau pasti akan menolaknya kan karena itu uang milikku tapi ini adalah rumah tangga kita kan. Anggap saja aku sedang melakukan investasi atau mas meminjam dulu uang milikku lalu nanti mas bayar deh nanti. Ayolah mas, aku ingin membantu juga.” Ucap Nayya.


Risam menghela nafasnya itu mendengar ucapan istrinya, “Tapi sayang. Itu adalah uangmu dan uang hasil kerja kerasmu. Apalagi itu tabunganmu saat kau masih gadis. Mas akan merasa berdosa jika meminjamnya, apalagi kita gak akan tahu bagaimana hasilnya nanti. Jika berhasil yaa Alhamdulillah mas bisa segera mengembalikan uangmu tapi jika gagal bagaimana. Mas akan pikirkan lagi. Kamu jangan pikirkan ini biar mas yang mencari jalan keluarnya.” Ucap Risam.


Nayya pun hanya bisa mengangguk saja setelah mendengar ucapan suaminya itu karena Nayya pun tidak ingin suaminya itu merasa di rendahkan nanti. Dia tahu suaminya itu sedang berusaha menjaga harga dirinya untuk tidak jatuh di mata orang-orang jika dia di ketahui hanya memakai uangnya. Walaupun bagi Nayya itu bukan masalah tapi bagi Risam itu adalah masalah karena dia adalah seorang suami yang harus bertanggung untuk istrinya.

__ADS_1


“Mas, aku tahu kenapa kau tidak ingin menerima bantuanku dan aku pun tidak akan memaksa tapi jika nanti mas memang butuh bantuanku. Jangan pernah menyembunyikannya dariku mas. Aku adalah istrimu. Kita sepaket mas. Jika kau susah maka aku pun akan ikut susah. Begitu juga sebaliknya.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu, “Mas tahu sayang. Mas akan minta bantuanmu nanti jika mas memang sudah tidak bisa melakukannya sendiri. Kita akan memecahkan masalah ini bersama. Tapi untuk saat ini biarkan mas dulu yang berpikir yaa.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk lalu memeluk suaminya itu erat, “Mas, aku sudah suci.” Bisik Nayya di telinga suaminya itu.


Risam yang mendengar bisikan istrinya itu tersenyum, “Mas tahu sayang. Mas sudah melihatmu sholat ashar tadi kan.” Ucap Risam menatap mata istrinya itu dengan dalam.


Nayya pun balik menatap suaminya itu, “Jadi?” tanya Nayya.


“Kita akan melakukannya. Tapi tidak di sini.” Ujar Risam.


Nayya pun mengangguk saja walaupun dia sangat penasaran kemana suaminya itu akan mengajaknya.


***


Singkat cerita, kini Nayya dan Risam sudah berada di mobil dalam perjalanan entahlah kemana, “Mas, apa Nayya boleh tahu tujuan kita kemana?” tanya Nayya setelah sekitar 15 menit mobil itu berjalan.


“Kita akan ke hotel.” Jawab Risam.

__ADS_1


Nayya yang mendengar ucapan suaminya pun tersenyum, “Hotel? Ouh jadi mas ingin kita menghabiskan malam ini di hotel?” tanya Nayya.


“Mas ingin malam pertama kita tetap berkesan sayang. Kamu gak mau yaa?” tanya Risam balik.


Nayya menggeleng, “Kenapa mesti Nayya gak suka jika suami Nayya ingin suasana yang romantis. Tapi ini bukan lagi malam pertama kita loh mas. Ini sudah malam yang ke berapa yaa.” Ucap Nayya sambil berpikir.


Risam pun terkekeh mendengar ucapan istrinya itu, “Kau benar sayang. ini memang bukan malam pertama untuk kita karena kita sudah menghabiskan beberapa malam bersama. Namun sekali lagi mas ingin suasana yang berbeda denganmu malam ini. Mas ingin memilikimu di suatu tempat yang romantis versi mas sendiri.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk saja karena istri mana sih yang gak mau jika di perlakukan dengan romantis oleh suami mereka. Apalagi jika suaminya itu sudah merencanakan malam ini dengan baik sebelumnya karena menurut pengamatan Nayya setelah seminggu hidup berbagi dengan sang suami, suaminya itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa persiapan sebelumnya. Sifat yang sama seperti dirinya yang memang tidak menyukai sesuatu tanpa rencana. Jadi mari kita nantikan saja kejutan apa yang di siapkan suaminya itu untuknya. Untuk malam mereka saling memiliki. Yah, Nayya sudah siap untuk menjadi milik suaminya itu seutuhnya malam ini.


Akhirnya setelah kurang lebih satu jam mengendarai mobil mereka tiba di sebuah hotel bintang lima. Risam segera turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk istri cantiknya itu. Setelah itu keduanya segera masuk ke dalam hotel sambil bergandengan tangan.


Risam dan Nayya segera melakukan check in, “Silahkan ikut saja dengan pegawai kami tuan dan nyonya Risam.”


Nayya dan Risam pun mengikuti pegawai yang akan mengantar mereka ke kamar yang sudah di pesan oleh suaminya itu. Kamar yang di pesan oleh Risam memang kamar khusus honeymoon yang berada di lantai tujuh hotel ini, “Silahkan tuan dan nyonya.” Ucap pegawai yang mengantar mereka.


Nayya dan Risam pun mengangguk lalu segera masuk ke kamar mereka tapi sebelumnya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pegawai hotel itu.


Begitu masuk Nayya langsung tersenyum bahagia melihat kamar hotel yang di pesan suaminya itu, “Terima kasih. Ini sangat indah.” Ucap Nayya memeluk suaminya erat.

__ADS_1


__ADS_2