
“Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya? Setahun lalu?”
Rayya berkutat dengan ingatannya hingga tidak menyadari bahwa mereka sudah selesai sholat, “Apa yang kamu pikirkan dek. Kenapa bengong.” Ucap Nayya menepuk bahu adiknya.
Rayya pun segera tersadar dari lamunannya dan menatap Nayya tersenyum, “Gak ada kak. Aku tidak memikirkan apapun.” Ucap Rayya sambil menggeleng.
Nayya pun mengangguk, “Ya sudah jika begitu sana pergilah kau ke mobil papa dan mama. Terima kasih sudah menjaga triplets.” Ucap Nayya.
Rayya tersenyum lalu mengangguk, “Aku senang menjaga mereka. Mereka sangat lucu.” Ucap Rayya lalu segera menuju mobil orang tuanya.
Ariq meminta izin untuk ke rumahnya dulu dan nanti akan menyusul ke studio. Mereka pun mengiyakannya lalu tiga mobil itu segera melaju dengan dua mobil melaju ke studio foto dan mobil Ariq melaju menuju rumahnya.
Tidak lama mereka tiba di studio foto dan langsung masuk karena Jay sudah menunggu juga. Jay yang sedang menikmati makan siangnya. Studio foto itu memang milik Jay. Dia yang mendirikannya dan untuk fotografernya ada dirinya dan dua orang temannya.
Rayya dan Zayya mereka berada di ruang ganti untuk kembali memperbaiki riasan mereka agar tetap tampil sempurna saat pengambilan foto. Bukankah untuk mengabadikan momen kita memang harus tampil cantik. Maka itulah yang di lakukan oleh para wanita itu.
Setengah jam kemudian Ariq tiba bersama seorang wanita yang ungkin lima tahun lebih tua dari mama Fara. Ariq dan wanita itu pun menyapa dengan ramah dan di balas oleh mama Fara dan papa Imran dengan sambutan ramah.
“Emm, perkenalkan ini adalah ibu saya.” ucap Ariq penuh hormat.
Mama Fara dan papa Imran pun mengangguk, “Saya Fara dan ini suami saya Imran.” Ucap mama Fara memperkenalkan diri dan menyalami ibu dari Ariq itu.
“Saya Aini. Ibu dari Ariq. Saya dengar hari ini dia melamar putri kalian dan di terima. Terima kasih sudah menerima niat baik anak saya kepada putri kalian.” ucap Ibu Aini.
“Terima kasih kembali. Sebenarnya kami juga kaget akan apa yang di lakukan oleh putra ibu hari ini. Namun harus kami akui bahwa dia laki-laki sejati karena melamar putri kami di hadapan banyak orang dan juga di hadapan kami tanpa rasa gugup dan takut. Putra anda hebat. Anda beruntung memilikinya.” Balas mama Fara.
“Ahh anda terlalu berlebihan. Dia menjadi seperti sekarang karena usahanya sendiri. Saya sebagai ibunya hanya mendukung sebisa saya. Jujur saja dia adalah putra saya satu-satunya.” Ucap ibu Aini.
Nayya, Rayya dan Zayya yang berada di ruang ganti dan telah selesai menyelesaikan riasan mereka bertanya-tanya ada apa di luar, “Kak siapa itu?” tanya Zayya.
Nayya menggeleng, “Kakak juga gak tahu. Biar kakak lihat.” Ucap Nayya segera berdiri dari tempat duduknya dan keluar melihat apa yang terjadi di luar.
“Mas, siapa?” tanya Nayya lirih sambil menunjuk seorang wanita yang bicara dengan mamanya itu dengan ekor matanya.
“Ibunya Ariq.” Jawab Risam singkat. Nayya pun mengangguk mengerti.
Lalu setelah itu, Nayya pun mendekati mamanya yang kini sedang berbicara dengan ibunya Ariq itu, “Ohiya ibu Aini ini kenalkan putri sulung kami, Nayya.” Ucap mama Fara memperkenalkan Nayya saat menyadari kedatangan putrinya itu.
Nayya pun mengangguk lalu menyalami ibunya Ariq itu dengan penuh hormat. Ibu Aini pun tersenyum, “Apa ini--”
“Bukan bu. Itu adik kedua saya.” jawab Nayya cepat seolah bisa menebak apa yang di katakan oleh ibu Aini itu.
Ibu Aini itu pun tertawa, “Maaf nak. Saya pikir kau adalah gadis yang di bicarakan putra ibu. Nak, apa ibu bisa ketemu dengan adikmu itu?” izin ibu Aini.
Nayya pun menatap mamanya sekilas lalu dia mengangguk, “Saya akan memanggilnya.” Ucap Nayya lalu segera masuk ke dalam ruang ganti itu.
“Siapa kak?” tanya Rayya penasaran.
Nayya hanya tersenyum lalu memperbaiki riasan adiknya itu, “Kak, ada apa? Siapa itu? Kenapa kakak memeriksa kembali riasanku? Apa ada yang salah?” tanya Rayya beruntun.
Nayya kembali tersenyum, “Tentu saja kamu harus memperbaiki riasanmu itu dek karena yang akan kau temui itu adalah calon mertuamu. Ariq datang mengajak ibunya. Ayo kita temui. Calon ibu mertuamu itu ingin bertemu denganmu.” Ujar Nayya.
__ADS_1
Rayya terdiam, “Kak kau tidak senang bercanda kan? Ma-mana mungkin kak Ariq mengajak ibunya kesini. Ahh a-aku belum siap ketemu kak. Bagaimana jika ibunya kak Ariq tidak menyukaiku?” Ujar Rayya gugup.
“Tenang dek. Jangan gugup begitu. Tenang saja. Ini hanya perkenalan biasa saja. Jadi kendalikan gugupmu itu.” ucap Nayya.
“Tapi kak? Ini dadakan. Kenapa dia begitu. Lamaran hari ini saja dadakan dan ini--”
“Menyebalkan!” ucap Rayya.
Nayya dan Zayya tersenyum, “Tenang kak Rayya. Semuanya pasti sudah menjadi garis takdir. Kau harus menemui calon ibu mertuamu itu. Tidak baik membuat orang tua menunggu. Aku yakin kau bisa.” Ucap Zayya.
Rayya pun menarik nafas dalam mencoba mengendalikan rasa gugupnya lalu setelah itu dia berdiri, “Ayo kak!” ucap Rayya.
Nayya pun mengangguk lalu dia segera menggenggam jemari adik keduanya itu keluar menemui ibu Aini yang menunggu, “Kak, aku gugup!” ucap Rayya lirih. Nayya tersenyum lalu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada adiknya itu.
Ibu Aini tersenyum memandangi Nayya dan Rayya yang keluar, “Ibu Aini perkenalkan ini adik kedua saya, Rayya!” ucap Nayya memperkenalkan adiknya itu.
Sama halnya seperti yang di lakukan Nayya, Rayya pun segera menyalami tangan ibu Aini itu dengan penuh hormat. Ibu Aini tersenyum lalu membawa Rayya dalam pelukannya, “Kamu sangat cantik nak! Pantas saja Ariq menyukaimu dan selalu saja cerita tentang dirimu.” Ucap ibu Aini.
“Bu, jangan membongkar rahasiaku. Setidaknya beri aku muka di hadapan calon mertuaku.” Ucap Ariq. Hal itu membawa tawa di ruangan itu.
“Ayo duduk nak!” ajak ibu Aini mengajak Rayya duduk. Sementara Nayya mendekati suaminya dan memeluk suaminya itu dari samping. Risam pun membalasnya. Rayya bicara dengan ibu Aini. Mereka cepat akrab karena memang ibu Aini yang langsung menyukai Rayya dan Rayya juga pintar di ajak bicara sehingga komunikasi di antara mereka berjalan lancar.
Tidak lama setelah itu sesi foto pun di mulai. Sesi foto di mulai dengan pengambilan gambar Rayya dan Zayya secara sendiri. Lalu foto keluarga dan juga foto Rayya dan Ariq serta Nayya dan Risam yang mengambil sesi foto untuk keluarga kecil mereka.
Akhirnya setelah memakan waktu kurang lebih 90 menit akhirnya sesi foto itu selesai dan kini dilanjutkan dengan memilah foto dan juga menyalin foto itu.
“Ahh jadi mereka ini kembar nak?” tanya ibu Aini menatap ketiga buah hati Nayya yang terlelap setelah tadi bangun saat pengambilan foto. Yah, seperti pengambilan foto tadi di kampus mereka bangun juga nah hal itu kembali terjadi saat pengambilan foto di studio. Mereka sangat pintar seolah tahu bahwa mereka tidak boleh melewatkan momen dan mereka tidak ingin di foto dalam keadaan tertidur. Lalu setelah selesai pengambilan foto mereka kembali terlelap setelah menyusu dari lewat dot.
Nayya mengangguk, “Alhamdulillah bu.” Jawab Nayya.
Nayya menggeleng, “Alhamdulillah bu saya tidak ikut program. Awalnya di USG hanya kembar dua saja tapi saat lahir ternyata tiga. Memang takdir Allah itu hebat bahkan alat secanggih apapun tidak bisa mendeteksinya.” Ucap Nayya.
Ibu Aini mengangguk, “Kamu benar nak. Mereka sangat menggemaskan.” Ucap Ibu Aini.
Nayya pun tersenyum lalu dia menatap suaminya yang pergi menemui Jay untuk melakukan pembayaran untuk jasa foto hari ini.
Ariq yang melihat itu dia pun segera mendekati Risam, “Kakak ipar!” sapa Ariq.
Risam pun menoleh dan tersenyum kepada polisi muda itu yang sudah berganti pakaian mengenakan batik, “Iya!” balas Risam.
“Kita belum berkenalan secara resmi tadi. Kenalkan saya Ariq!” ujar Ariq mengulurkan tangannya.
“Risam!” Ujar Risam membalas uluran tangan Ariq itu.
“Bagaimana saya harus memanggil anda?” tanya Ariq.
“Panggil saja senyamanmu komdan.” Jawab Risam.
Ariq pun mengangguk, “Baiklah jika memang begitu. Walaupun aku belum resmi menikah dengan Rayya tapi cepat atau lambat kita akan menjadi keluarga maka aku akan memanggilku kakak ipar dan untukmu kak panggil saja aku Ariq. Jangan memanggilku dengan komdan begitu. Aku merasa tidak pantas. Gelar yang kita miliki hanya akan kita miliki selama hidup saja tidak akan kita bawa sampai mati. Jadi untuk apa menyombongkannya. Kita sama.” ucap Ariq bijak.
Risam pun tersenyum lalu menepuk bahu Ariq, “Baiklah aku tidak akan sungkan lagi memanggilmu begitu.” Ucap Risam.
__ADS_1
Ariq pun mengangguk dan tersenyum, “Apa kau akan membayar?” tanya Ariq hati-hati.
Risam pun mengangguk, “Apa aku bisa ikut membantu membayar. Maaf kakak ipar aku tidak bermaksud. Aku mohon jangan tersinggung. Aku hanya--” ujar Ariq menunduk.
Risam tersenyum, “Santai saja. Aku tidak akan mengambil hal ini serius. Aku tahu maksudmu. Kau bermaksud baik. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu karena ini memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai menantu tertua. Rayya dan Zayya bukan hanya adik iparku tapi aku sudah menganggap mereka sebagai adikku sendiri. Jadi biarkan aku membayar untuk hari ini sebagai seorang kakak.” Ucap Risam.
Ariq pun mengangguk mengerti, “Baiklah kakak ipar. Aku mengerti!” ucap Ariq.
Risam pun tersenyum lalu dia segera menemui Jay dan melakukan pembayaran untuk pengambilan foto hari ini. Tidak lama dia kembali dari ruangan Jay dan kedua lelaki itu pun segera ke ruang ganti di mana yang lain berkumpul.
Nayya menatap suaminya yang masuk bersama Ariq dengan tersenyum. Risam segera mendekati istrinya dan keduanya saling menatap satu sama lain seolah mata mereka bicara.
“Emm, itu sepertinya sudah mau ashar. Kita lebih baik pulang dulu.” Ucap Nayya.
“Yah, kau benar. Kita sepertinya memang harus pulang karena sudah lumayan banyak aktivitas yang kita lakukan hari ini.” ucap Papa Imran.
Mereka pun segera bersiap pulang lalu tidak lupa berpamitan kepada Jay. Mereka juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Jay atas hari ini karena Jay sudah mau mereka repotkan.
Kini mereka sudah berada di mobil, “Rayya, apa kamu dan Ariq memiliki acara lain?” tanya Nayya kepada adiknya itu.
Rayya diam dan menatap Ariq, “Kami belum memiliki acara untuk hari ini kak. Hari ini sudah cukup melelahkan.” Ucap Ariq.
Nayya pun mengangguk, “Baiklah jika memang begitu.” Ucap Nayya lalu dia segera masuk ke mobil mereka. Sementara Rayya dan Ariq mereka saling berpamitan sebelum Rayya masuk ke mobil. Tidak lama setelah itu ketiga mobil itu pun segera melaju meninggalkan studio foto milik Jay itu menuju tujuan mereka masing-masing yaitu pulang.
***
“Mas!” panggil Nayya.
Risam pun menengok sekilas kepada istrinya itu, “Ada apa sayang? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Risam lembut.
Nayya menggeleng, “Aku gak butuh apapun. Aku hanya ingin bertanya, apakah kau baik?” tanya Nayya balik.
Risam tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan istrinya itu. Dia tahu apa maksud di balik pertanyaan istrinya itu.
“Tenang saja sayang. Aku baik kok. Kamu jangan terlalu berpikir.” Ucap Risam.
Nayya pun mengangguk, “Baiklah jika memang begitu. Ingat mas, aku selalu ada untukmu. Aku menerimamu apapun dirimu. Kau adalah suami terbaik yang ku punya. Aku wanita beruntung karena memiliki suami seperti dirimu.” Ucap Nayya.
Risam kembali tersenyum, “Tenang saja sayang. Aku baik-baik saja kok. Kamu terlalu berpikiran jauh. Aku tahu kenapa kau menanyakan ini. Tapi bisakah aku tahu alasanmu sehingga berpikir begitu?” ujar Risam.
“Kau jadi pendiam mas. Aku tidak suka kau merasa rendah.” Ucap Nayya.
Risam pun kembali tersenyum, “Sayang, kau berpikiran jauh. Aku kenapa tadi diam karena aku tidak mungkin ikut campur dalam masalah adikmu. Itu bukan ranahku sayang. Bukan aku merasa rendah atau pun tersinggung.” Ucap Risam.
Nayya pun kembali mengangguk mengerti, “Aku harap memang begitu mas. Aku percaya padamu.” Ucap Nayya.
Risam tersenyum mendengar perkataan istrinya itu. Nayya adalah orang yang paling peka akan perasaan orang lain. Yah, jujur saja Risam merasa sedikit minder tadi tapi setelah dia pikir untuk apa merasa minder jika istrinya dan keluarga istrinya tidak ada yang merendahkan dirinya. Kenapa pangkat dan gelar menjadi tolak ukur sedangkan kita sama di mata tuhan.
Kini mereka sudah tiba di kediaman mereka. Risam segera membantu Nayya untuk memindahkan ketiga buah hati mereka itu masuk ke dalam rumah.
“Akhirnya kita tiba juga! Apa kalian lelah nak?” ujar Risam kepada ketiga buah hatinya itu yang terjaga saat mereka di pindahkan dari mobil ke kamar.
__ADS_1
Nayya tersenyum melihat suaminya yang mengajak bicara ketiga buah hatinya itu. Risam adalah sosok suami dan ayah idaman untuknya. Nayya tidak bisa membayangkan jika dia hidup tanpa suaminya itu.
Risam memang bukan pria pertama yang mengisi ruang hatinya tapi Risamlah adalah lelaki yang kini memenuhi seluruh ruang di hatinya itu sehingga dia tidak memiliki ruang lagi untuk menyimpan laki-laki lain di hatinya.