Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
48


__ADS_3

Nayya tersenyum lalu memeluk suaminya itu, “Nayya tahu tapi Nayya yang gak ikhlas jika suami Nayya di goda seperti itu. Maaf yaa mas!” ucap Nayya.


Risam menggeleng dan melepas pelukan di antara keduanya dan menatap istrinya itu dalam, “Jangan minta maaf sayang. Kamu gak salah. Kamu perlu tahu walaupun kamu gak halangan pun tetap saja kita akan menjadi guyonan mereka karena itu memang biasa terjadi pada pasangan pengantin baru. Ada-ada saja topic yang akan mereka gunakan untuk membuat menggoda kita. Jadi jangan di pikirkan.” ucap Risam.


Nayya pun tersenyum lalu mengangguk. Suaminya itu bisa saja menenangkan hatinya. Nayya pun kembali memeluk suaminya itu. Nayya tidak malu atau pun canggung lagi mengutarakan cinta dan perasaannya itu kepada suaminya begitu juga dengan Risam. Keduanya tidak canggung lagi padahal mereka baru menikah dua hari. Namun karena satu sama lain sudah nyaman sehingga kecanggungan itu hilang dan mereka tidak malu lagi menunjukkan cinta di hati dan mata keduanya.


Risam juga membalas pelukan istrinya itu, “Kita tidur yaa. Sudah malam.” Ucap Risam berbisik.


Nayya pun mengangguk dan melepaskan pelukannya pada sang suami. Nayya hendak berdiri tapi di tahan oleh suaminya itu. Risam berdiri dan segera menggendong sang istri menuju ranjangnya.


Risam meletakkan istrinya itu dengan lembut di ranjangnya lalu dia pun ikut dan menindih istrinya itu. Nafasnya terpacu cepat. Risam melabuhkan kecupan di kening istrinya itu lalu semakin turun ke bibir istrinya. Risam semakin mendekatkan bibirnya itu dengan bibir istrinya. Nayya membiarkannya saja hingga kedua bibir mereka bertemu saling menempel.


Risam pun mengecup bibir istrinya itu dengan lembut dan dia tahu ini pengalaman pertamanya dan juga pengalaman pertama untuk istrinya. Mereka sama-sama melepas first kiss mereka untuk satu sama lain. Ciuman itu terkesan kaku dan hanya Risam yang mengecup tanpa balasan dari Nayya karena Nayya sendiri tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Nayya memang penulis novel romansa dan adegan kissing seperti ini biasa ada pada novel romansa. Namun ternyata pada kenyataannya dia kaku dalam mempraktekan apa yang dia tulis pada novelnya itu.


Risam melepas kecupannya itu lalu tersenyum. Risam kembali mengecup kening istrinya lalu dia segera membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan menarik Nayya ke pelukannya. Nayya pun hanya menurut saja karena tidur dalam pelukan suaminya itu sangat nyaman dan bagaikan dia menemukan heroin sehingga bisa tertidur pulas. Risam juga sama wangi tubuh sang istri bisa membuatnya tertidur pulas.


“Mas, jika mas bangun sholat. Nayya juga di bangunin. Nayya gak mau bangun telat lagi sama seperti tadi pagi di rumah.“ ucap Nayya dalam dekapan suaminya itu.

__ADS_1


Risam pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah. Tapi kenapa harus bangun cepat?” tanya Risam.


“Ish mas Nayya gak mau masa di hari pertama Nayya datang ke sini dengan status sebagai menantu justru bangun telat. Kalau di rumah Nayya tadi masih ada mama yang--”


“Ini rumah kamu juga sayang. Mami pasti tidak akan keberatan dan mempermasalahkannya. Dia mengerti.” Potong Risam karena tidak ingin istrinya itu merasa menjadi orang asing di tengah keluarganya. Sama seperti dia yang di perlakukan layaknya putra di keluarga istrinya maka istrinya juga bukanlah menantu di sini tapi juga putri.


“Tapi aku yang keberatan mas. Aku malu. Pokoknya mas harus bangunin aku. Gak boleh pake tidak tega segala.” Ujar Nayya tegas.


Risam pun mengangguk dan tersenyum, “Baiklah. Mas akan bangunin kamu. Sudah sekarang tidur. Mas mengantuk.” Ujar Risam lalu mengeratkan kembali pelukannya pada sang istri dan segera memejamkan matanya. Nayya pun ikut memejamkan matanya dan tidak lama sepasang pengantin baru itu segera tertidur.


Keesokkan paginya tepat jam setengah tiga, Risam terbangun. Dia melihat istrinya yang tertidur dalam pelukannya lalu Risam pun bergerak dengan perlahan agar tidak membangunkan istrinya itu. Dia akan membangunkan Nayya nanti saat sudah mau subuh. Tapi ternyata Nayya terbangun begitu merasa ada pergerakkan. Nayya segera membuka matanya dan menatap sang suami yang sudah bangun, “Jam berapa ini mas?” tanya Nayya khas suara bangun tidur.


“Setengah tiga sayang. Sudah kamu tidur dulu. Mas bangunin nanti jika sudah mau subuh.” ujar Risam.


Nayya pun mengangguk saja lalu dia kembali memperbaiki posisi tidurnya. Risam pun tersenyum lalu dia segera berdiri menuju kamar mandi untuk bersiap sholat tahajud sebelum waktunya habis nanti. Tidak lama Risam pun keluar dari kamar mandi dan dia kaget melihat sang istri yang justru bermain ponsel, “Sayang, kenapa gak tidur?” tanya Risam.


Nayya menggeleng, “Nayya mau melihat suami Nayya sholat.” Jawab Nayya tersenyum.

__ADS_1


Risam pun akhirnya tersenyum mendengar jawaban yang di berikan oleh istrinya itu. Jika saja dia belum wudhu maka dia akan mengecup kening istrinya itu karena gemas dengan istrinya yang tetap saja cantik padahal baru bangun tidur.


Risam segera menggelar sejadah lalu dia segera menunaikan sholat tahajud dua rakaat dan satu rakaat sholat witir. Nayya sudah bangun dan melihat suaminya itu dari ranjang. Dia sangat terharu menatap dan mendengar bacaan surah yang di lantunkan suaminya itu. Walau dengan suara pelan tapi Nayya bisa mendengarnya. Ini adalah impiannya sejak dulu, bangun tidur dan melihat suami kita sholat.


Sekitar 15 menit kemudian akhirnya Risam selesai melakukan sholat dan tinggal berdoa saja. Nayya segera bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah Nayya keluar dia tersenyum memandangi sang suami yang sedang membaca Al-Qur’an. Nayya segera meletakkan handuk yang dia bawah dan mendekati suaminya itu. Dia duduk di samping suaminya dan ikut mendengarkan lantunan ayat-ayat suci yang di baca oleh suaminya.


Risam pun tersenyum sama melihat istrinya itu yang mendengarkan dia membaca Al-Qur’an, “Kamu mau dengar surah apa?” tanya Risam setelah selesai membaca Al-Qur’an.


“Boleh? Mas mau membacakannya?” tanya Nayya berbinar.


Risam pun mengangguk, “Emm, surah Maryam atau Yusuf. Nayya memang belum hamil saat ini tapi bisa kan, kita--” Risam pun mengangguk saja sebelum istrinya itu menyelesaikan perkataannya.


Risam membuka surah Yusuf dulu lalu mulai membacanya. Nayya tersenyum dan mendengarkan bacaan suaminya itu dengan penuh hikmat. Setelah selesai Risam menutup Qur’an-nya lalu mendekati istrinya dan melabuhkan kecupan di kening istrinya itu, “Mas wudhu batal.” Ucap Nayya.


“Gak apa-apa sayang. Mas bisa wudhu lagi nanti. Mas ingin bermanja dengan istri mas ini.” ujar Risam.


Nayya pun tersenyum. Risam semakin mengikis jarak di antara keduanya lalu tiba-tiba bibir kenyal Risam itu pun bertemu dengan bibir Nayya. Kecupan lembut itu berubah menjadi ciuman yang dalam. Nayya pun mencoba membalas ciuman yang di berikan suaminya itu mengikuti nalurinya. Keduanya larut dalam ciuman yang dalam dan memabukkan.

__ADS_1


__ADS_2