
Keesokkan paginya, Nayya setelah melakukan sholat subuh dia segera di make up oleh MUA pilihannya sendiri tentunya. Akad nikah akan di lakukan pukul 09.00 pagi ini maka untuk itu Nayya di make up setelah subuh. Dua orang MUA membantu mempercantik Nayya agar bisa tampil lebih maksimal di hari spesialnya ini.
Tepat pukul 07.00 Nayya sudah selesai di make up dan bergantian dengan kedua adiknya yang meminta di make up sedikit untuk menemani kakak mereka itu. Mama Fara juga ikut di rias sementara Nayya segera di bantu memamai kebaya nikahnya dan juga hijabnya.
Mama Fara yang sudah selesai di rias juga menatap sang putri dengan tatapan terharu. Dia tidak menyangka bahwa putri sulungnya akan segera menikah hari ini dengan lelaki yang mencintainya. Nayya menyadari tatapan mamanya itu segera meraih tangan mamanya dan menggenggamnya erat, “Kamu sangat cantik nak. Mama sampai pangling.” Ucap mama Fara menahan rasa harunya.
Nayya yang mendapat pujian itu tersenyum, “Mama juga cantik. Jika mama gak cantik mana mungkin aku cantik seperti ini. Mah, jangan menangis. Aku bahagia dengan pernikahan ini. Mama harus bahagia untukku. Aku akan tetap selalu menjadi putri mama dan tidak akan ada yang berubah sedikit pun.” Ucap Nayya lalu mengecup punggung tangan mamanya itu.
Mama Fara yang mendengar ucapan sang putri pun hanya bisa mengangguk, “Mama menyayangimu nak. Mama keluar dulu yaa mau melihat persiapan di luar.” Ucap mama Fara lalu dia segera keluar.
Nayya pun hanya tersenyum lalu dia kembali fokus dengan pemasangan hijabnya beserta hiasan kepala yang akan di pakaikan.
Rayya dan Zayya yang sudah selesai di make up dan juga sudah selesai dengan pakaian mereka berada di kamar Nayya menunggui kakak sulung mereka itu. Rayya dan Zayya menatap tersenyum ke arah kakak mereka yang sangat cantik itu dengan make up pengantinnya. Nayya yang menyadari di tatap oleh kedua adiknya hanya tersenyum.
__ADS_1
Semalam seperti keinginan Rayya dan Zayya mereka tidur bertiga di kamar Nayya dan saling berbagi cerita satu sama lain. Bercerita masa kecil mereka satu sama lain yang di lalui bersama walaupun umur mereka terpaut dua tiga tahun tapi Nayya selalu menjaga kedua adiknya itu dari kecil sampai saat ini kakak mereka itu selalu menjaga mereka. Hingga mengingat bahwa kakak sulung mereka itu akan menikah membuat Rayya dan Zayya sedih karena kakak mereka akan memiliki keluarganya sendiri yang nantinya akan sibuk dengan keluarganya itu. Walaupun tidak mereka pungkiri bahwa mereka bahagia melihat kakak sulung mereka itu menikah. Apalagi menikah dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria kakak sendiri serta kakaknya itu di cintai dan di pilih sendiri oleh calon suaminya yang kemungkinan besar kakak mereka akan di ratukan oleh suaminya itu.
Tepat pukul 08.12 Nayya sudah siap dengan semuanya. Penampilannya sudah sempurna dengan kebaya dan hijabnya serta hiasan kepala yang sangat cantik dan cocok dengan kebayanya. Desain kebaya kakaknya itu sangatlah modern dan sangat cantik hingga mereka pun ingin jika menikah nanti akan memakai kebaya dengan model yang sama dengan kakak mereka karena saking cantiknya.
Rayya dan Zayya segera mendekati Nayya dan mengambil foto kakak mereka itu, “Kau sangat cantik kak.” Ucap keduanya bersamaan hingga membuat kedua adik Nayya itu saling menatap satu sama lain lalu keduanya tertawa. MUA yang mendengar itu pun ikut tertawa. Mereka bisa melihat ikatan persaudaraan yang sangat kuat di antara ketiga saudara di hadapan mereka itu.
***
Singkat cerita, tepat pukul 09.00 keluarga mempelai pria tiba dan langsung di sambut oleh mama Fara dan papa Imran. Risam langsung di bawa menuju meja akad yang sudah di sediakan sementara keluarga mempelai pria duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Papa Imran duduk berhadapan dengan calon menantunya itu yang saat ini sedang mencoba mengendalikan kegugupannya untuk menghadapi akad pernikahan. Risam sudah mempelajari kalimat ijab qabul itu berulang kali namun tetap saja dia gugup.
Semua sudah siap bahkan dua orang saksi pun sudah berada di tempat dan duduk di kedua sisi samping meja akad itu, “Apa ananda Risam sudah siap?” tanya penghulu kepada Risam.
__ADS_1
Risam yang mendapat pertanyaan itu langsung mengangguk, “Saya siap pak.” Ucap Risam dengan nada suara normal.
Penghulu pun tersenyum lalu segera bertanya kepada papa Imran selaku wali nikah Nayya yang akan menikahkan putrinya sendiri, “Apa pak Imran sudah siap?” tanya Penghulu dan papa Imran mengangguk. Dia memang sudah siap menikahkan putri sulungnya itu dengan pria di hadapannya. Pria yang sudah berani datang kepadanya bersama keluarganya meminta kepadanya untuk di restui menikah dengan putrinya. Pria yang memang masuk dalam kriteria calon menantunya.
Penghulu pun segera meminta papa Imran untuk bersalaman dengan calon menantunya itu karena akad nikah akan segera di laksanakan.
Papa Imran pun mengangguk dan segera menyalami tangan Risam, “Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Abrisam Fauzi El Amin bin Lutfi El Amin dengan putri kandung perempuan saya yang bernama Nayyara Apriliani Al Ayaan binti Imran Al Ayaan dengan mas kawin uang sebesar 100 juta rupiah dan 1 set perhiasan emas di bayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kaminnya Nayyara Apriliani Al Ayaan binti Imran Al Ayaan dengan mas kawin uang sebesar 100 juta rupiah dan 1 set perhiasan emas di bayar tunai.” Ucap Risam dalam satu tarikan nafasnya.
“Gimana para saksi sah?” tanya penghulu dan langsung mendapat jawaban sah dari kedua saksi pernikahan itu dan semua tamu yang hadir dalam proses akad. Penghulu pun segera mendoakan pernikahan mereka itu.
Sementara Risam setelah mengucap kalimat ijab qabul itu meneteskan air matanya karena saking terharunya dengan semua ini. Mulai hari ini statusnya sudah berubah dari seorang pria lajang menjadi seorang pria beristri yang nantinya akan mengarungi bahtera rumah tangganya sendiri bersama sang istri guna mewujudkan pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah serta di ridhoi oleh Allah.
__ADS_1
Papa Imran yang melihat menantunya itu meneteskan air matanya tersenyum lalu memberikan tisu untuk menantunya itu. Risam menerimanya dengan penuh hormat. Papi Lutfi dan mami Vega yang melihat itu ikut terharu, “Pah, putra kita sudah menikah. Dia menikahi seorang gadis yang sangat kita restui menjadi menantu.” Ucap mami Vega.
Papi Lutfi mengangguk membenarkan ucapan istrinya itu, “Kita sudah mendapatkan putri lagi mih. Kita harus menjaga menantu kita itu dengan baik sebagaimana dia di jaga oleh kedua orang tuanya.” Balas papi Lutfi karena dia bisa merasakan kesedihan di balik wajah tersenyum papa Imran. Kesedihan melepaskan putrinya untuk membina keluarga barunya.