
“Ohiya, Rayya kamu kenal dengan kak Ariq sejak kapan?”
Rayya yang mendapat pertanyaan dari Bella itu tersenyum, “Aku dan kak Ariq saling kenal sejak dua bulan lalu. Kami bertemu tidak sengaja di sebuah restoran.” Jawab Rayya.
“Terus apa benar dia melamarmu kemarin saat kau wisuda?” Tanya Cloe.
Rayya kembali tersenyum lalu dia mengangguk, “Yah itu benar. Aku sama sekali gak tahu rencananya bahkan sampai kaget karena hal itu.” ujar Rayya.
“Kak Ariq memang terlihat romantis. Dia sangat menghargaimu dan kami bisa melihat dia menyimpan banyak cinta di matanya untukmu. Aku sampai iri padamu.” Ujar Bella.
“Kenapa harus iri padaku?” Tanya Rayya.
“Aku tahu hari ini kau pasti kaget kan melihat seseorang.” Ujar Bella tersenyum.
Rayya yang mendengar itu diam mencoba bersikap biasa, “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan mbak.” Ujar Rayya.
Bella tersenyum lalu membuat Rayya menatapnya, “Coba tatap aku dan katakan bahwa apa yang aku katakan itu tidak benar.” Ujar Bella.
Rayya pun mengangkat wajahnya dan menatap Bella yang tersenyum, “Mbaak!” ujar Rayya.
Cloe yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja dan menjadi sangat penasaran, “Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?” Tanya Cloe penasaran.
Bella dan Rayya menggeleng dengan kompak, “Kami baru bertemu hari ini dan baru saling mengenal hari ini tapi aku sudah tahu siapa Rayya.” Ujar Bella.
Rayya diam saja dan menatap Bella yang tersenyum lembut. Tidak ada kemarahan atau pun kekesalan di sana. Namun hal itu justru membuat Rayya semakin waspada karena orang yang bisa menyembunyikan kesedihan, kemarahan dan kekesalannya di balik senyum adalah orang berbahaya, “Hahahahah, jangan menatapku begitu Rayya. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu sekarang. Mungkin saat ini kau memikirkan bahwa aku adalah orang yang paling berbahaya yang harus di hindari. Tidak masalah kau berpikir begitu karena topeng senyumku ini pasti membuat orang berpikir begitu. Namun perlu kau tahu aku bukan orang seperti itu. Aku tahu sebelum suamiku menikahiku dia di tolak oleh seorang gadis yang sangat di kaguminya. Aku akui gadis itu punya keberanian yang tinggi sehingga berani menolak seorang polisi seperti suamiku.” Bella mengucapkan itu masih dengan senyum di wajahnya.
Rayya yang mendengar penuturan gadis yang berada di hadapannya itu tersenyum lalu memeluk Bella, “Maaf mbak!” ujar Rayya.
Bella memeluk Rayya erat lalu meneteskan air matanya sementara Cloe semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Dia merasa menjadi orang yang bodoh karena tidak tahu apapun.
Bella dan Rayya melepas pelukan mereka lalu mereka mencari tempat duduk, “Kau tahu Rayya aku masih melihat cinta di mata suamiku untukmu tadi saat kau tiba. Aku juga bisa melihat kau yang kaget bertemu dengannya tadi. Kau pasti tidak menyangka bahwa dunia ini sempit sehingga mempertemukanmu dengan laki-laki yang bergelar calon suami beserta laki-laki yang hampir menjadi calon suami di waktu bersamaan. Mereka bahkan memiliki hubungan persahabatan yang erat. Jadi ungkapan dunia tak selebar daun kelor itu salah Rayya. Buktinya kau bisa bertemu dengan mereka kan.” Ujar Bella begitu mereka duduk.
“Mbaak, aku tidak memiliki perasaan apapun kepada suamimu. Mungkin setahun lalu aku pernah memiliki hubungan dengannya. Tapi itu adalah hubungan yang tidak perlu di ingat. Kami hanya tertemu dua kali. Saat pertama tidak sengaja bertemu dan saat akhir pertemuan kami untuk saling mengucap perpisahan.” Jelas Rayya.
Cloe yang mendengar itu pun kini mengerti pembahasan dua wanita di hadapannya. Kini dia mengerti hubungan antara keduanya, “Apa kau sudah mengerti hubungan kami Cloe?” Bella menanyakan itu sambil tersenyum menatap ke arah Cloe yang mengangguk.
__ADS_1
“Aku percaya padamu Rayya. Aku tidak menyalahkanmu atas takdirku. Aku yang bodoh karena tidak memiliki keberanian sepertimu untuk menolak perjodohan yang di tawarkan untukku. Aku yang berambisi punya pasangan abdi Negara begitu mendengar orang tuaku mengatakan bahwa calonku adalah seorang polisi langsung menyetujui perjodohan bahkan saat aku belum bertemu dan saling berkenalan dengan calon suamiku.” Ujar Bella.
Bella tertawa, “Tapi tidak masalah bagiku Rayya. Walaupun dia tidak mencintaiku tidak masalah, yang terpenting dia memperlakukan aku dengan baik. Dia menghormatiku. Itu sudah cukup untukku. Aku dan dia tidak di takdirkan untuk merasakan bagaimana itu hidup saling mencintai satu sama lain. Aku dan dia memang di takdirkan untuk jadi pasangan suami istri. Namun kami menjalaninya atas nama tanggung jawab. Jujur saja Rayya saat aku menemukan fotomu di lemarinya. Aku menangis Rayya. Aku ingin menjadi jahat dan mencari tahu siapa dirimu. Aku ingin mencelakaimu. Namun ternyata nuraniku mengingatkanku bahwa kau tidak salah.”
“Kau tidak tahu masalahku. Untuk apa harus menyeretmu ke masalah kami. Aku menangis Rayya. Hatiku sakit. Aku mencintainya tapi ternyata dia mencintaimu. Harga diriku sebagai seorang wanita terluka. Tapi entah kenapa harga diriku sebagai seorang istri justru menertawakanku. Dia menertawakan keputusan terburu-buruku. Aku tidak menyalahkan dirimu karena apa yang terjadi kepadaku adalah akibat kesalahanku sendiri. Aku menyayangimu Rayya. Aku tidak menyesal karena menuruti keputusan hatiku karena ternyata kau adalah gadis sebaik ini. Aku mungkin akan menyesal jika aku menuruti hawa nafsuku untuk mencari tahu siapa dirimu dan melampiaskan semuanya padamu. Maafkan aku Rayya yang sempat memiliki niat jahat itu kepadamu.” Bella mengucapkan itu sambil menangis.
Rayya terharu dan segera memeluk Bella. Dia paham apa yang di rasakan oleh wanita di hadapannya itu. Rayya bisa melihat luka itu di mata Bella. Rayya ingin membantu namun dia tidak tahu harus melakukan apa.
“Rayya, jangan menangis atau merasa bersalah kepadaku. Aku tidak menyalahkanmu. Aku sudah menerima takdirku sebagai istri yang tidak di cintai. Aku sudah berdamai dengan takdirku. Aku akan hidup bahagia selama dia suamiku. Tidak masalah dia tidak mencintaiku yang terpenting aku mencintainya.” Ujar Bella tersenyum tulus.
“Kau sangat baik Bella. Hatimu sangat luas. Aku bangga padamu. Aku iri padamu yang bisa berdamai dengan keadaan. Jika aku di posisimu mungkin aku belum tentu bisa melakukan apa yang kau lakukan saat ini. Kau hebat. Kau bisa berpura-pura tidak tahu walaupun kau tahu segalanya. Maafkan aku yang tidak sengaja menjadi duri dalam pernikahanmu. Sungguh aku tidak menginginkan hal ini. Jika saja bisa memilih aku akan memilih tidak mengenalnya agar kau tidak akan merasakan sakit seperti ini. Walaupun aku tidak merasakan apa yang kau rasakan tapi aku bisa mengerti perasaanmu saat ini. Kau sangat hebat menjalani peranmu dengan baik.” Ujar Rayya memeluk Rayya.
Cloe yang melihat dan mendengar itu terharu dan ikut memeluk dua gadis di hadapannya itu, “Kalian hebat!” ujar Cloe.
“Sudah. Jangan menangis lagi. Kita ke mall ini untuk bersenang-senang bukan. Kenapa jadi menangis begini. Ayo kita belanja. Kita habiskan uang kita malam ini.” Ujar Cloe kemudian setelah merasa bahwa tangisan mereka sudah cukup untuk hari ini.
Bella dan Rayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih sudah mendengarkan kisahku Rayya, Cloe. Kita bersahabat!” ujar Bella.
Rayya dan Cloe mengangguk, “Kita bersahabat!” jawab keduanya kompak.
“Untuk merayakan persahabatan kita, bukankah kita harus memiliki barang yang sama. Ayo kita beli.” Ujar Bella tersenyum.
Rayya dan Cloe pun mengangguk dengan kompak. Ketiga gadis itu berdiri dan segera mencari sesuatu yang bisa mereka beli untuk di jadikan kenangan sebagai perayaan terjalinnya persahabatan di antara mereka. Ketiganya tersenyum senang memilih barang. Tidak ada niat jahat ataupun rasa iri satu sama lain hanya ada keikhlasan dan rasa sayang di sana.
***
Sementara di sisi lain mall, ketiga laki-laki yang sudah tiba dari tadi dan mendengarkan semuanya kini saling memandang satu sama lain.
“Maaf, Ariq.” Ujar Farel menatap temannya itu.
Ariq tersenyum lalu menepuk bahu temannya itu, “Kenapa kau meminta maaf padaku. Minta maaflah pada istrimu. Dia sangat hebat bisa berdamai dengan masalalumu bahkan mengajaknya bersahabat. Jangan sia-siakan dia. Dia adalah istrimu yang patut kau cintai. Kau memang menghormatinya dan dia bertahan karena rasa hormatmu itu. Tapi sampai kapan dia melakukannya. Sampai kapan dia bertahan karena alasan itu kita tidak tahu. Rasa hormat membuatnya bertahan tapi dia juga butuh cinta dan kau harus memberikannya jika kau ingin dia tetap di sisimu.”
“Aku mengatakan ini bukan karena cemburu kepadamu yang masih menyimpan rasa pada calon istriku. Aku tidak akan marah atau memaksamu melupakan calon istriku tapi setidaknya berusahalah mencintai istrimu. Dia sudah mengorbankan hidupnya untukmu. Dia bahkan rela berpura-pura agar kau tetap nyaman bersamanya. Tapi kau dengar sendiri kan apa yang dia katakana dia sedih dia terluka karena itu. Hati perempuan itu sangat lembut Rel.” ujar Ariq.
“Ariq benar Rel. Kau harus berusaha untuk membuka hatimu untuk istrimu jika kau memang tidak ingin kehilangannya. Aku bukan mendukung Ariq tapi lihatlah cinta istrimu untukmu.” Sambung Rendi.
__ADS_1
Farel melihat kedua temannya itu lalu mengangguk, “Terima kasih atas apa yang kalian katakan. Jujur saja aku sudah memikirkan hal ini sejak sebulan terakhir. Aku sudah terbiasa dengannya. Perlahan-lahan rasa untuk Rayya menghilang namun aku belum yakin bahwa aku mencintai istriku atau tidak. Aku hari ini hanya sedang goyah karena tidak menyangka bahwa calonmu adalah Rayya, Ariq. Maaf untuk itu. Tapi percayalah aku pun sudah mencoba untuk mengikhlaskan Rayya sejak aku memutuskan untuk menikah. Aku juga bukan pria jahat yang akan mengikat seorang gadis sementara aku masih terbelenggu dengan masalaluku. Istrimu memang di jodohkan denganku tapi aku yang memilihnya sendiri. Aku dan Rayya tidak pernah punya kenangan manis apapun hanya saja aku yang terlalu memiliki harapan sangat tinggi dan menjadikannya sebagai orang yang aku kagumi dan cintai. Aku akui memang mencintai Rayya dan melupakannya sulit bagiku namun setelah aku menikah aku mulai melupakannya. Ariq, kau percaya padaku kan. Sungguh aku tidak berniat untuk merebutnya darimu. Dia adalah calon istrimu dan aku sudah memiliki istri. Seperti yang kalian katakan bahwa aku tidak akan menemukan gadis seperti istriku lagi maka mungkin itu benar. Aku akan mencintai istriku. Seperti istriku yang mengajak Rayya dan Cloe sebagai sahabat. Mari kita ubah pertemanan kita menjadi persahabatan.” Ujar Farel panjang lebar.
Ariq dan Rendi pun mengangguk, “Kita sahabat!” ucap keduanya kompak di angguki oleh Farel.
“Maafkan aku Ariq. Aku janji akan melupakan calon istrimu dan aku akan mencintai istriku.” Ujar Farel kemudian.
Ariq tersenyum, “Aku tahu kau pasti akan menepati apa yang kau katakan. Aku percaya itu.” ucap Ariq.
“Ohiya satu lagi. Kau tidak perlu minta maaf padaku Rel karena pada dari awal Rayya memang sudah di takdirkan untukku. Aku lebih dulu bertemu dengannya. Namun aku mengalah saat kau bercerita menyukai seorang gadis bernama Rayya. Jujur saja aku berdoa agar kau bisa berpisah dengan Rayya dan dia menjadi jodohku. Doaku terkabul. Jadi seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu Rel. Maafkan aku yang menikungmu.” Ujar Ariq.
Farel pun tertawa, “Jadi pada dasarnya aku memang hanya di takdirkan sebagai pria yang singgah di hidupnya. Begitu juga dia yang di takdirkan hanya singgah di hidupku saja. Takdir memang tidak bisa di tebak. Aku ucapkan selamat untukmu Ariq. Segera lamar dia dan nikahi dia sebelum takdir mempermainkanmu.” Ujar Farel.
“Tenang saja. Aku akan menikahinya.” Ucap Ariq.
“Okay. Semua masalah beres. Pasangan kita sudah jadi sahabat dan kita pun sudah sahabat. Jadi mari kita susul para wanita itu yang pergi tanpa izin.” Ujar Rendi.
“Calon istriku sudah izin dariku Ren. Jadi hanya pasangan kalian saja yang tidak.” Ucap Ariq.
“Wah, parah Rel. Dia menyombongkan dirinya.” Ujar Rendi.
Farel pun tersenyum, “Sudah biarkan saja. Dia senang berbahagia. Jangan ganggu kebahagiaannya.” Ucap Farel.
Ketiga pria itu pun tertawa lalu segera menyusul ketiga wanita mereka yang entah kemana. Tidak ada yang benar-benar melupakan masalalunya yang ada hanya mencoba berdamai. Semua pasti tetap memiliki kenangan dan tempat sendiri hanya saja kita tahu mana yang harus di prioritaskan.
***
Akhirnya setelah berkeliling para pria itu pun menemukan keberadaan para wanita mereka yang sedang membeli tas samaan sebagai barang yang akan mereka jadikan barang sahabat mereka.
“Biar kami yang bayar.” Ujar Ariq di angguki oleh Farel dan Rendi.
Ketiga gadis itu pun kaget melihat pasangan mereka yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang mereka dan kini masing-masing sedang melakukan pembayaran.
Ariq, Farel dan Rendi yang sudah menyelesaikan pembayaran segera menuju pasangan masing-masing dan memberikannya, “Terima kasih!” ucap ketiga gadis itu kompak.
Farel tersenyum lalu menatap istrinya dengan lembut. Dia baru menyadari bahwa dia terlalu focus dengan Rayya sehingga tidak melihat istrinya ini. Yah, istri yang sudah dia nikahi tanpa dia sentuh. Farel merasa merasa karena tanpa sengaja dia sudah membuat kehidupan seorang gadis terluka. Farel janji akan memberikan cintanya untuk istrinya itu. Farel segera menggandeng Bella dan keduanya segera keluar dari toko tas itu. Ke empat orang lainnya menyusul dari belakang.
__ADS_1
Pada akhirnya ke enam orang itu pun menghabiskan dua jam lamanya berbelanja sebelum memutuskan pulang. Ariq dan Rayya sebelum pulang masih belanja pesanan Zayya lebih dulu.