
Nayya segera mendekati suaminya itu, “Ada apa suamiku?” tanya Nayya khawatir.
Risam tersenyum menggeleng mencoba mengendalikan nyeri dadanya yang semakin terasa hingga membuatnya akhirnya jatuh pingsan.
“Mas!” ucap Nayya.
Diaz segera memeriksa Risam dan dia menatap Nayya, “Kita bawa ke rumah sakit kak.” Ucap Diaz.
Nayya pun mengangguk lalu mereka segera mengambil mobil. Lalu segera berangkat ke rumah sakit dengan Nayya yang khawatir dengan kondisi suaminya itu. Dia tidak ingin jika suaminya itu harus kenapa-kenapa.
Triplets di rumah di jaga oleh Rayya dan Zayya sementara mami Vega dan papi Lutfi mengikuti mobil ini dari belakang.
Singkat cerita, kini mereka sudah di rumah sakit. Risam sudah di periksa oleh dokter dan sudah di lakukan juga pemeriksaan laboratorium. Kini Nayya menunggu suaminya itu sadar di ruang perawatannya sambil terus mengecup punggung tangan suaminya dan mendoakan keselamatannya.
Sekitar setengah jam kemudian Risam membuka matanya dan dia melihat dia berada di mata. Seketika dia sadar bahwa saat ini dia sedang berada di rumah sakit, “Mas, kau sudah sadar.” Ucap Nayya yang keluar dari kamar mandi.
Risam pun tersenyum dengan wajah pucatnya itu memandang sang istri, “Maaf ya sayang sudah membuatmu khawatir. Aku tidak apa-apa kok.” ujar Risam mencoba bangun.
Nayya segera mendekati suaminya itu dan membantunya untuk duduk, “Sejak kapan mas mulai merasakan nyeri dada seperti itu?” tanya Nayya setelah Risam duduk.
Risam tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan istrinya itu, “Aku baik-baik saja sayang. tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” Ucap Risam.
“Mas, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku. Sejak kapan mas mulai merasa nyeri dan kenapa menyembunyikannya dariku?” ucap Nayya.
Risam menggenggam tangan istrinya itu lalu dia tersenyum, “Tidak perlu berpikir banyak. Mas yakin mas baik-baik saja dan itu hanya sakit dada biasa.” Ucap Risam.
Nayya menggeleng, “Bukan itu maksudku mas. Kenapa kau menyembunyikannya dariku? Bukan kah kita sudah sepakat untuk tidak saling menyembunyikan apapun. Tapi kenapa sekarang begini. Mas sampai pingsan loh. Aku merasa jadi istri yang buruk karena tidak tahu masalah suaminya.” Ucap Nayya.
“Maaf sayang. Mas juga gak tahu sejak kapan itu terjadi tapi sejak enam bulan terakhir ini mas sering merasa sakit dada. Tapi baru tadi itu yang mas gak bisa lagi menahannya dan tiba-tiba saja pandangan mas menjadi kabur dan tidak lagi sadar.” Ucap Risam.
“Jadi sudah lama yaa? Tapi mas tega menyembunyikan ini dariku.” Ucap Nayya.
“Bukan begitu sayang.” ucap Risam.
Nayya menghela nafasnya, “Sudahlah semua sudah terjadi. Lebih baik sekarang mas makan dulu. Aku tidak mau kau tambah sakit nanti.” Ucap Nayya lalu memulai menyuapi suaminya itu. Entah kenapa hatinya merasa kosong seperti akan ada sesuatu yang datang yang harus dia terima.
Risam pun menurut dan segera menerima suapan dari istrinya itu. Sungguh dia sendiri juga takut jika nyeri dada yang dia rasakan itu adalah sesuatu yang buruk dan berbahaya. Sungguh dia belum siap jika harus berpisah dengan istrinya ini dan juga ketiga buah hatinya itu. Dia sangat menyayangi mereka.
Sementara di sisi mami Vega dan papi Lutfi kini mereka yang juga sedang makan di restoran saling memandang satu sama lain seolah menyimpan rasa gundah gulana dan rasa khawatir mereka itu dalam pikiran mereka.
“Pih, bagaimana jika putra kita itu mengalami apa yang ayahmu rasakan dulu.” Ucap mami Vega.
Papi Lutfi terdiam lalu menatap istrinya itu lembut, “Semoga saja bukan. Kita berdoa yang terbaik saja untuk semuanya. Aku tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.” ucap papi Lutfi menyimpan rasa khawatirnya sendiri.
Di sisi lainnya, kini Diaz sudah menerima hasil pemeriksaan dan hasil laboratium penyakit Risam. Diaz memang mempercepat hasilnya karena dia ingin tahu segera mengenai penyakit kakak iparnya itu. Walaupun dia sudah menduga kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
Diaz membaca hasil laboratorium itu dan seketika dia diam karena dugaannya benar. Sekarang yang harus dia pikirkan adalah bagaimana menyampaikan berita ini kepada mereka, terutama kakak iparnya itu. Apa dia sanggup menerima ini? Diaz jadi pusing sendiri jadinya.
***
Kini Diaz menggenggam erat hasil laboratorium itu membawanya menuju ruangan di mana Risam berada. Dia sudah meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap mengatakannya dengan semua konsekuensi yang ada. Dia akan mengusahakan yang terbaik tapi tetap saja harus dia katakan apa yang sebenarnya.
Tok … tok … tok …
Diaz segera masuk begitu di persilahkan masuk. Di sana tidak ada Nayya hanya Risam dan kedua orang tuanya. Nayya masih makan sebentar.
“Ada apa dokter? Apa hasil pemeriksaannya sudah keluar?” tanya mami Vega melihat kertas yang di bawa oleh Diaz itu.
Diaz pun mengangguk, “Benar nyonya. Hanya saja--” Diaz menjeda ucapannya.
“Katakan saja adik ipar. Aku ingin mengetahuinya. Aku sudah siap untuk tahu penyakitku. Aku akan menerima apapun hasilnya.” Ujar Risam melihat keraguan di mata Diaz itu.
Diaz pun menarik nafasnya panjang dan akhirnya dia pun mengatakannya.
Mami Vega yang mendengarnya langsung menangis dan memeluk suaminya, “Pih, apa yang aku khawatirkan terjadi juga. Ini tidak mungkin kan pih. Putra kita baik-baik saja. Dia akan sembuh kan.” Ucap mami Vega menangis.
Sementara Risam yang mendengar ucapan Diaz itu pun hanya bisa diam dan meneteskan air matanya tapi buru-buru dia hapus, “Berapa kemungkinan bisa sembuh dokter?” tanya Risam memberanikan diri bertanya. Walaupun dia takut semuanya tidak akan sesuai dengan harapannya itu. Tapi setidaknya dia ingin mengusahakan yang terbaik walaupun nantinya pun dia kalah.
“Semua tergantung tingkat keparahannya. Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan keparahannya dan menentukan pengobatan apa yang akan kita ambil. Jadi bagaimana apa kakak ipar setuju untuk melakukan pemeriksaan lanjutannya?” tanya Diaz.
“Aku akan memikirkannya dulu. Tapi Diaz aku mohon tolong rahasiakan dulu hal ini dari istriku. Aku tidak mau dia sedih mendengar hal ini.” ucap Risam kemudian.
“Aku akan mengatakannya sendiri Diaz. Tapi setidaknya sembunyikan dulu darinya hal ini. Aku tidak ingin dia tahu dulu setidaknya sampai aku siap menerima penyakitku ini.” ujar Risam..
Diaz pun akhirnya mengangguk, “Baiklah. Tapi aku tidak janji. Jika dia memaksa untuk tahu nanti maka aku pasti akan mengatakannya.” Ucap Diaz lalu tidak lama setelah itu dia berlalu meninggalkan ruangan perawatan Risam itu.
Begitu Diaz keluar tidak terasa air matanya jatuh karena tidak menyangka Risam akan mengalami penyakit itu. Di saat dia sedang sedih pun tetap masih memikirkan istrinya. Sungguh sangat baik. Mereka benar-benar pasangan yang the best.
“Diaz, ada apa dengan suamiku? Apa hasil pemeriksaannya sudah keluar?” tanya Nayya yang tiba-tiba saja datang setelah makan.
Diaz menggeleng, “Belum kakak ipar. Aku datang hanya untuk melihatnya saja. Masuklah kakak ipar. Aku kembali ke ruanganku dulu.” Pamit Diaz lalu segera berlalu dari saja. Jujur saja jika dia masih berlama-lama di sana bisa di pastikan dia akan mengatakan yang sebenarnya.
Nayya pun menatap kepergian adik iparnya itu dengan bingung lalu dia segera masuk ke dalam ruang perawatan suaminya. Dia melihat sekeliling yang seperti tidak terjadi apapun. Nayya pun mencoba bersikap biasa aja. Walaupun sejujurnya suasana yang tenang begini yang membuatnya takut. Biasanya yang tenang itu yang paling berbahaya.
Nayya mendekati suaminya dan tersenyum, “Apa yang dokter Diaz katakan?” tanya Nayya.
“Hum, gak ada sayang. Dia hanya mengecek keadaanku kok.” jawab Risam.
Nayya pun mengangguk mengerti, “Mih, Pih kalian bisa pulang dulu. Biar Nayya yang merawat mas Risam.” Ucap Nayya.
Mami Vega dan papi Lutfi pun menurut karena sudah mendapat kode dari sang putra untuk setuju saja perkataan Nayya. Kedua orang tua Risam itu pun segera pamit pulang dengan mami Vega yang menahan tangisnya untuk tidak jatuh ketiga menatap putranya yang mencoba kuat itu di hadapan Nayya.
__ADS_1
Kini di ruangan itu pun tinggalah mereka berdua. Nayya segera meminta suaminya itu beristirahat tapi sebelum itu dia melakukan panggilan terhadap adiknya untuk mengecek triplets. Sepertinya triplets itu sangat nyaman di jaga oleh Zayya dan Adiba.
Tidak lama setelah melakukan panggilan, Risam pun tertidur. Nayya pun tersenyum melihat suaminya yang tertidur itu. Sungguh dia tahu bahwa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu lagi tapi dia akan berpura-pura untuk tidak tahu sampai keadaannya nanti.
Nayya pun ikut tidur di pinggiran ranjang suaminya itu sambil menggenggam tangan suaminya erat. Tangan yang selalu memanjakannya. Tangan yang tidak pernah suaminya untuk memukulnya.
Sekitar kurang lebih setengah jam Nayya tertidur lalu dia terbangun kembali dan tersenyum melihat suaminya yang masih tertidur. Tiba-tiba di melihat ada kertas di bawah bantal suaminya itu. Nayya pun mengambilnya perlahan untuk menjaga agar suaminya itu tidak terbangun.
Nayya segera membaca kertas itu di mana kertas hasil laboratorium dan juga hasil pemeriksaan suaminya. Nayya melirik suaminya sekilas sebelum membaca isi di dalamnya, “Kau menyembunyikannya dariku lagi mas. Aku ini adalah istrimu tapi kau tega menyembunyikan ini dariku.” Gumam Nayya lirih dan segera membuka kedua hasil kesehatan suaminya itu.
Seketika Nayya terduduk membacanya dia terjatuh ke lantai dengan air mata yang sudah tidak bisa dia tahan. Sungguh dia tidak terima hal ini. Dia tidak bisa menerimanya. Nayya segera menghapus air matanya dan membawa dua kertas itu berlari menuju ruangan Diaz.
“Kenapa kita harus menyembunyikannya dari kakak? Dia berhak tahu hal ini.”
“Aku tahu sayang. Aku juga setuju denganmu. Tapi ini adalah permintaan kak Risam. Biarlah nanti dia yang mengatakannya sendiri.” Begitulah suara samar-samar yang di dengar oleh Nayya dari luar ruangan Diaz itu. Dia tahu itu pasti adiknya yang sedang berdebat dengan Diaz.
Nayya segera membuka pintu ruangan Diaz itu bahkan tanpa mengucap salam, “Sampai kapan? Sampai kapan kau dan dia akan menyembunyikan hal ini dariku?” ucap Nayya dengan air mata di pipinya dan menggenggam dua hasil laporan itu di tangannya.
“Kakak ipar!” ucap Diaz sementara Zayya langsung berlari memeluk kakaknya itu.
“Kaaakkk!” ucap Zayya dalam pelukan kakaknya itu.
“Katakan dengan jelas Diaz. Aku ingin mendengarnya dengan jelas darimu apa penyakit yang di derita suamiku? Aku sudah membaca dua pemeriksaan ini tapi aku masih belum bisa menerima apa yang tertulis di sana. Aku tidak akan bisa menerimanya. Aku butuh klarifikasi darimu. Aku ingin mendengarnya secara langsung darimu. Katakan dengan jelas, singkat dan mudah aku mengerti.” Ucap Nayya menangis.
Zayya pun mencoba menghapus air mata di pipi kakaknya itu. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan kakaknya itu saat ini.
“Kak Risam menderita gagal jantung. Tapi kita masih bisa mengusahakan penyembuhannya. Aku janji kakak ipar. Aku akan berusaha untuk penyembuhan suamimu. Kamu jangan sedih. Kita masih harus bersyukur karena ini masih tahap awal.” Ujar Diaz menjelaskan. Sungguh dia tidak tega untuk mengatakan hal itu. Apalagi melihat kakak iparnya itu yang hampir saja terjatuh jika Zayya tidak menahannya.
“Berapa persen kemungkinan dia bisa sembuh?” tanya Nayya lalu mengusap air matanya. Dia tidak boleh menangis. Tidak boleh sedih, yang harus dia pikirkan sekarang yaitu bagaimana suaminya itu sembuh.
“Kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan dulu kakak baru bisa mengetahui berapa persen kesembuhannya.” Ucap Diaz.
“Kemungkinan terburuknya apa?” tanya Nayya.
“Kaaakk!” ujar Zayya.
“Jangan halangi aku dek. Aku ingin tahu keadaan suamiku secara menyeluruh. Aku tidak ingin menjadi istri yang menyesali semuanya. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk sumiku. Jadi aku harus tahu semuanya.” Ucap Nayya.
Diaz menarik nafasnya panjang, “Kemungkinan terburuknya seperti yang sudah kita tahu bahwa jantung adalah orang yang sangat penting jika dia--”
Nayya mengangkat tangannya pertanda cukup. Dia sudah bisa menduga apa lanjutan ucapan Diaz itu. “Segera jadwalkan pemeriksaan lanjutannya Diaz. Aku ingin secepatnya. Ohiya satu lagi jangan sembunyikan apapun dariku terkait keadaannya. Walaupun dia memintamu untuk menyembunyikannya dariku. Kali ini aku memaafkanmu tapi tidak untuk lain kali. Mengerti lah perasaanku. Jika Zayya yang seperti itu dan aku menyembunyikannya darimu. Tidak kah kau marah maka itu lah perasaanku juga.” Ujar Nayya lalu dia segera pergi dari ruangan Diaz itu menuju mushola. Sungguh, hatinya sangat rapuh saat ini. Dia ingin menguatkan hatinya dan mengadu kepada penciptanya itu.
***
Sementara di ruangan Risam dia terbangun dan melihat sekeliling tidak mendapati istrinya. Risam segera mencari kertas di balik bantalnya dan hasilnya sudah tidak ada. Dia sudah menduga kemungkinan besar istrinya itu sudah tahu keadaannya.
__ADS_1
Risam menitikkan air matanya. Dia sedih akan keadaannya dan kemungkinan terburuk dari penyakitnya itu. Tapi dia tetap harus kuat untuk semuanya. Risam buru-buru menghapus air matanya begitu pintu ruangannya itu terbuka menampilkan istrinya yang juga menyembunyikan kesedihannya.
Risam tersenyum ke arah istrinya itu dan di balas dengan senyum oleh Nayya juga, “Dia masih berusaha kuat di depanku padahal dia menangis tadi.” Batin Nayya. Yah, Nayya melihat suaminya itu menitikkan air matanya dan buru-buru menghapusnya begitu tahu kedatangannya.