
Kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya mobil yang di mana di kendarai oleh Ariq dan berisi Ariq serta Rayya di dalamnya tiba juga di tempat tujuannya.
Ariq hendak membangunkan Rayya namun ternyata Rayya sudah terbangun begitu mobil berhenti. Rayya yang memang sempat terlelap dan baru terjaga itu menggosok matanya dan mulai membukanya perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Kesadarannya perlahan kembali dan dia melihat ke arah Ariq yang tersenyum melihatnya. Ariq mengagumi Rayya yang tetap cantik dan imut walaupun sedang menggosok matanya dan wajah khas bangun tidur itu terlihat kentara, “Apa kita sudah tiba?” tanya Rayya dengan suara khas bangun tidur lalu dia melihat sekeliling.
Ariq mengangguk, “Ya kita sudah tiba.” Ariq menjawab lalu dia segera turun dan berkeliling lalu membukakan pintu mobil untuk Rayya.
Rayya pun melihat Ariq yang membukakan pintu untuknya lalu dia tersenyum manis kepada pria di hadapannya itu. Rayya segera mengambil tasnya dan turun dari mobil lalu melihat bangunan di hadapannya.
“Apa ini rumah kakak?” Rayya bertanya tanpa menatap Ariq.
Ariq mengangguk lalu segera mengajak Rayya untuk masuk ke rumahnya, “Ayo masuk dulu!” ajak Ariq.
Rayya pun mengangguk lalu segera mengikuti Ariq untuk masuk ke rumahnya. Keduanya segera mengucapkan salam di depan pintu yang tertutup itu, “Assalamu’alaikum!” salam Ariq dan Rayya sambil memandang satu sama lain.
Tidak lama suara jawaban terdengar dari dalam bersamaan dengan terbukanya pintu, “Wa’alaikumsalam!” ibu Aini tersenyum begitu melihat siapa yang datang bertamu di depan rumahnya itu yang berdiri di samping putranya.
“Nak Rayya, ayo masuk nak!” Ibu Aini segera mengajak Rayya masuk dengan menggandengnya. Ariq yang di abaikan oleh ibunya itu hanya tersenyum. Dia bahagia melihat wanita yang sangat dia citan dan hormati dekat dan menyukai wanita yang dia cintai yang akan menemaninya dan jadi pendampingnya.
“Bu, aku titip calon menantu cantik ibu dulu yaa. Tolong jaga dia. Jangan sampai ada yang menculiknya. Aku mau ke kamar dulu.” Ujar Ariq setelah menyalami ibunya itu.
__ADS_1
Ibu Aini yang mendengar perkataan putranya tersenyum lalu mengangguk, “Tenang saja nak. Ibu akan menjaga calon menantu cantik ibu ini. Ayo nak Rayya silahkan duduk.” Ibu Aini menuntun Rayya untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan keluarga itu.
Rayya pun menurut saja dan tersenyum lembut kepada ibu Aini, “Nak, itu sudah magrib. Apa kamu sholat?” tanya ibu Aini mendengar adzan yang mulai berkumandang dari masjid terdekat.
“Rayya sedang udzur bu.” Jawab Rayya lembut.
Ibu Aini pun mengangguk mengerti, “Baiklah. Kalau begitu nak. Kamu gak apa-apa kan ibu tinggal sendiri di sini. Ibu mau sholat lebih dulu. Jika kamu takut ayo ikut ibu ke kamar ibu.” Ujar ibu Aini.
“Ahh, Rayya di sini saja bu. Rayya tunggu ibu selesai saja di sini.” Rayya menjawab dengan tersenyum.
Ibu Aini pun mengangguk mengerti, “Ya sudah jika memang itu yang kamu inginkan nak. Ibu sholat dulu yaa. Jangan sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri.” Ucap ibu Aini lalu dia berdiri dan melangkah menuju kamarnya untuk menunaikan sholat magrib.
Lalu Rayya melihat foto keluarga di mana Ariq di apit oleh ibu Aini dan juga seorang pria yang pasti sudah bisa Rayya duga itu adalah ayah Ariq, “Wajah kak Ariq menurun dari ayahnya ternyata. Em, tunggu kenapa aku seperti merasa pernah melihat orang yang mirip dengan ayah kak Ariq ini setahun lalu yaa. Tapi di mana aku melihatnya? Kenapa aku memiliki ingatan seperti itu?” gumam Rayya sambil mencoba mengingat namun sayang tidak bisa dia ingat di mana pernah bertemu dengan orang yang mirip ayah Ariq itu.
“Ah menyebalkan. Siapa coba orang itu.” ujar Rayya tidak bisa mengingat kejadian setahun lalu. Sebenarnya yang dalam ingatan Rayya itu kejadian setahun lalu saat dia bertemu Ariq namun dia tidak mengingatnya dengan jelas. Ariq saat itu memang terlihat sangat mirip ayahnya dengan potongan rambut khas polisi. Walaupun saat ini Ariq tetap terlihat mirip dengan ayahnya tapi ada sedikit yang membedakannya yaitu Ariq saat ini sudah terlihat lebih berpipi dari pada Ariq setahun lalu.
Rayya pun kembali melihat-lihat foto yang terpajang di sana hingga ibu Anggi keluar dari kamarnya dan tersenyum melihat Rayya yang menyentuh bingkai foto yang terletak di mana foto itu di ambil saat Ariq di lantik, “Itu foto Ariq setahun lalu nak saat dia di lantik jadi polisi.” Ucap ibu Aini mendekati Rayya.
Rayya pun menoleh ke asal suara lalu tersenyum dan meletakkan kembali foto itu di meja yang ada di sudut ruangan keluarga itu.
__ADS_1
“Kamu mau dengar cerita gak?” tanya ibu Aini.
“Cerita?” tanya Rayya balik.
Ibu Aini mengangguk, “Iya cerita. Cerita saat Ariq di lantik. Apa kamu mau dengar?” ibu Aini mengulangi pertanyaannya.
Rayya pun mengangguk, “Baiklah. Ayo duduk! Ahh tunggu dulu. Ibu belum membuatkanmu minum yaa. Astagfirullah maafkan ibu nak. Ibu lupa membuatnya saking senangnya kau datang. Tunggu sebentar ibu buat dulu nanti kita cerita. Maaf nak ibu sungguh lupa.” Ujar ibu Aini merasa bersalah karena melupakan hal itu.
Rayya tersenyum mendengar hal itu dan segera menahan lengan ibu Aini yang hendak berdiri, “Gak usah di buat bu. Rayya gak haus kok. Rayya hanya ingin mendengar cerita ibu saja. Sungguh, gak apa-apa karena Rayya juga memang gak haus sama sekali. Ayolah cerita saja bu.” Ujar Rayya.
Ibu Aini yang mendengar respon Rayya semakin merasa bersalah lalu mengecup kening Rayya lembut, “Maaf ya nak. Ibu lupa. Tapi benar kamu gak mau minum?” tanya ibu Aini lagi memastikan.
Rayya kembali mengangguk yakin, “Rayya akan minum air mineral saja. Ini lebih sehat dan praktis!” ucap Rayya segera mengambil air mineral yang memang tersedia di meja yang ada di ruang keluarga itu.
Ibu Aini pun tersenyum lalu menangguk, “Baiklah jika memang kamu tidak ingin minum dan hanya minum air mineral saja. Terus lebih memilih mendengar cerita.” Ucap ibu Aini menggenggam jemari Rayya.
“Saat itu ibu tidak mengerti maksud perkataannya tapi saat ini ibu mengerti perkataannya dengan jelas.” Ucap Ibu Aini memulai ceritanya.
Rayya pun mulai fokus mendengarkan penuturan ibu Aini dengan serius, “Saat dia di lantik hanya ibu yang datang menemaninya dan memberinya selamat karena memang ayahnya sudah meninggal dan kami tidak memiliki kerabat dekat. Tidak seperti teman-teman polisinya yang banyak menerima hadiah. Dia hanya menerima hadiah dari ibu saja.”
__ADS_1
“Saat itu dia berkata bahwa suatu hari nanti dia akan memiliki satu bunga yang hanya bisa di milikinya seorang.”