
Sebulan berlalu dengan sangat cepat, rumah tangga Nayya dan Risam adem ayem saja tanpa ada masalah. Keduanya sering mengkomunikasikan semua bersama dan mencari solusi apa yang akan mereka ambil sehingga semua masalah yang timbul bisa mudah selesai. Bahkan Risam pun sudah selesai menanam jagung di lahan yang milik papa Imran. Risam akhirnya setelah proses dan pemikiran yang penuh pertimbangan akhirnya mau juga menerima bantuan istri cantiknya itu. Nayya pun tentu saja dengan senang hati membantu sang suami dan pada akhirnya masalah itu sudah selesai.
Kini Nayya dan Risam sedang menghitung pengeluaran mereka bersama selama sebulan ini, “Maaf ya sayang aku menggunakan uang milikmu dulu. Aku janji akan segera mengembalikannya.” Ucap Risam memeluk istrinya itu setelah mereka selesai menghitung pengeluaran mereka.
Nayya pun tersenyum, “Ish jangan bicarakan itu mas. Aku senang bisa membantumu. Ini adalah rumah tangga kita. Jadi kita harus menjalankannya bersama. Aku adalah istrimu dan kau adalah suamiku maka itu adalah wajar saling membantu satu sama lain.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu mencuri kecupan di bibir istrinya itu, “Manis. Terima kasih istri cantikku, istri sholehahku dan istri terbaikku.” Ucap Risam.
Nayya pun tersenyum. Suaminya itu memang selalu memanjakannya. Tidak pernah membuatnya marah. Suaminya itu adalah suami terbaiknya juga. Risam punya cara tersendiri untuk membuat moodnya bahagia terus. Semoga kebahagiaan itu selalu ada untuknya dan suaminya.
“Mas, Nayya mau simpan uang sebentar.” Ucap Nayya memberi kode kepada suaminya itu untuk melepas pelukan.
Risam pun melepas pelukannya walaupun sejujurnya dia enggan karena sudah terlanjur nyaman memeluk istrinya itu. Setelah selesai menyimpan uang di lemari Nayya menuju kamar mandi untuk buang air. Lalu tidak lama Nayya kembali dan segera bergabung dengan sang suami kembali di ranjang.
Risam pun segera memeluk istrinya itu dan mengusap perut rata sang istri sambil berdoa semoga saja benih yang sudah dia titipkan dalam rahim sang istri hampir setiap hari itu sudah berubah menjadi sebuah janin, “Kenapa mas selalu mengusap perutku?” tanya Nayya.
“Mas berdoa semoga saja dia sudah ada.” Ucap Risam tersenyum lalu mengecup kening sang istri.
Nayya pun tersenyum, “Aku pun berharap begitu mas. Aku akan mengeceknya nanti. Aku juga belum datang bulan. Semoga saja apa yang kita harapkan sudah ada di rahimku. Aku ingin segera memiliki anak juga.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum, “Sayang, mas!” ucap Risam.
Nayya pun tersenyum lalu kemudian mengangguk begitu mengerti apa yang di inginkan suaminya. Risam tentu saja bahagia mendapat persetujuan dari istrinya itu dan dia pun mulai mengecup sang istri tapi tiba-tiba ponsel sang istri berdering.
__ADS_1
“Jawab saja, siapa tahu penting.” ucap Risam tersenyum. Nayya pun mengangguk lalu segera mengambil ponselnya dan matanya membulat begitu melihat siapa yang menelpon.
“Mami Rana mas.” Ucap Nayya.
Risam yang mendengar ucapan istrinya tersenyum, “Jawab saja. Mungkin penting sayang.” ucap Risam lembut. Dia tahu siapa itu mami Rana yang tidak lain adalah ibu dari pria yang pernah singgah di hati sang istri.
Nayya pun menggeser ikon hijau di ponselnya, tidak lupa juga dia meloudspeaker panggilan itu, “Halo, Assalamu’alaikum mih.” Ucap Nayya lembut.
“Wa’alaikumsalam nak. Maaf nak sudah mengganggumu malam-malam begitu hanya saja mami gak tahu apa yang harus di lakukan. Afnan dia pingsan nak. Badannya dingin. Dia mabuk. Nak, mami mohon tolong periksa dia. Mami tahu ini canggung apalagi ada suamimu. Tapi nak mami gak tahu minta bantuan kepada siapa lagi. Tolong nak mami mohon selamatkan putra mami.” ucap Mami Rana dengan nada bergetar dan menangis.
Nayya menatap sang suami, “Nayya akan datang tante. Pastikan saja Afnan baik-baik saja.” ucap Risam cepat.
“Terima kasih nak.” ucap Mami Rana.
Nayya menatap sang suami yang sudah berdiri di sisi ranjang, “Mas gak marah? Gak cemburu?” tanya Nayya.
Risam tersenyum lalu kembali duduk di ranjang menatap istrinya itu, “Munafik mas jika mengatakan gak cemburu. Mas cemburu sayang sangat cemburu. Tapi mas sadar kau adalah seorang perawat yang memiliki kewajiban seperti itu. Melayani orang yang butuh bantuanmu. Mas akan egois nanti jika melarangmu membantu orang lain. Sudah ayo kita pergi. Mas akan mengantarmu.” Ucap Risam.
Nayya pun tersenyum, “Terima kasih mas dan maaf kita harus menunda malam ini--” ucap Nayya terpotong karena bibir Risam langsung mengecupnya.
“Kita akan melakukannya lain waktu.” ucap Risam. Nayya pun tersenyum lalu dia mengecup bibir sang suami dengan lembut.
“Nayya akan menebusnya lain waktu.” ucap Nayya. Risam pun tersenyum mengangguk. Istrinya itu memang the best wife. Dia selalu paham apa keinginannya.
__ADS_1
Nayya pun segera mengganti pakaiannya dengan gamis panjang sementara Risam setelah memakai kemeja segera menyiapkan alat kesehatan yang akan di bawa istrinya itu.
Singkat cerita, kini keduanya sudah tiba di rumah mami Rana yang langsung di sambut oleh papi Riyad, “Nak, tolonglah dia!” ucap papi Riyad.
Nayya pun mengangguk, “Mas!” izin Nayya menatap suaminya. Risam mengangguk tersenyum.
Nayya pun segera menuju kamar Afnan berada, “Nak!” ucap mami Rana menatap Nayya.
Nayya pun segera melakukan tugasnya, “Tenang saja mih. Dia akan baik-baik saja. Dia mengalami gejala hipotermia saja. Nayya akan memberinya infus dan tolong jangan sampai dia tidak makan dan hanya minum alkohol saja.” ucap Nayya prihatin menatap pria yang pernah dia cintai itu.
“Ivana, bisa tambahkan selimut untuknya. Kita harus pastikan suhu tubuhnya kembali normal.” Ucap Nayya.
Ivana pun mengangguk segera melaksanakan apa yang di minta oleh Nayya. Nayya segera menyelesaikan proses infus lalu menambahkan selimut kepada Afnan itu.
“Kak Nayya terima kasih sudah datang.” ucap Ivana. Dia sempat membenci Nayya saat melihat Afnan yang hampir memotong nadinya itu. Tapi lihatlah Nayya datang bahkan saat malam pun. Kini Ivana mengerti kenapa sang kakak sulit melupakan Nayya karena Nayya adalah gadis dengan penuh perhatian.
Nayya tersenyum, “Gak apa-apa Ivana. Kakak hanya melakukan tugas kakak saja.” ucap Nayya hendak berdiri tapi lengannya di tahan oleh Afnan.
“Nay!” panggil Afnan lemah. Afnan ternyata sudah sadar.
“Aku tidak bermimpi kan melihatmu di sini? Aku aku berhalusinasi? Hahah,, sepertinya aku berhalusinasi melihatmu ada di sini. Bagaimana mungkin Nayya ada di sini jika dia saja sudah menikah dengan suaminya. Seperti merek alkohol itu sangat efektif sehingga bisa membuatku berhalusinasi melihat Nayya. Tidak masalah jika kau hanya halusinasiku Nay. Setidaknya aku bisa melihatmu.” Ucap Afnan masih dengan memegang lengan Nayya.
Nayya melepaskan tangan Afnan dari lengannya itu, “Istirahatlah dengan baik. Jangan banyak pikiran dan lupakan aku.” Ucap Nayya.
__ADS_1
“Nay, dalam halusinasiku pun kau ingin aku melupakanmu?”