
Nayya pun tersenyum mendengar pertanyaan suaminya itu lalu kemudian mengangguk. Risam yang melihat sang istri mengangguk langsung mendekati Nayya sambil membawa dua buah tespeck. Dia tidak bodoh mengenali alat tes kehamilan itu, “Sungguh? Kau beneran hamil? Kamu gak lagi berbohong kan?” tanya Risam menatap Nayya lekat lalu turun ke perut sang istri yang di tutup dengan mukenah.
“Untuk apa aku berbohong mas. Bukankah buktinya ada di tangan mas. Aku sudah melakukan pengecekkan dua kali dan hasilnya sama mas garis dua.” Ucap Nayya tersenyum.
Risam yang mendengar itu pun sangat bahagia dan memeluk istrinya itu erat, “Ahh mas sangat senang sayang. Jadi mas akan jadi ayah dan kamu bunda. Ahh mas sangat bahagia sayang.” ucap Risam lalu segera mengusap dan mengecup perut istrinya itu.
Nayya pun tersenyum, “Iya mas. Kamu akan jadi ayah aku akan jadi bunda. Aku sudah memberi kode di kertas itu tapi kamu gak ngeh mas.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum baru menyadarinya. Dia kembali membaca isi gulungan kertas itu dan tersenyum, “Maaf sayang, otak mas lagi lelet.” Ucap Risam.
“Iya memang lelet. Kayaknya butuh di instal atau di upgrade agar bisa tidak lelet lagi. Mana malah nuduh aku ngerjain lagi.” Ucap Nayya.
Risam tertawa, “Maaf sayang. Mas sudah seudzon sama kamu. Tapi memang benar kan kamu hamil.” Ucap Risam lagi bertanya.
Nayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Benar mas. Aku hamil. Tapi kita akan memastikannya lagi dengan USG agar lebih yakin. Ohiya tapi USG belum ada di puskes yaa mas. Kita harus ke rumah sakit.” Ucap Nayya.
“Kalau begitu kita akan kesana hari ini.” ujar Risam.
Nayya pun tersenyum, “Mas, Nayya masih harus ke puskes. Nanti setelah dari puskes aja deh kita ke rumah sakit untuk USG.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk, “Baiklah jika begitu.” Ucap Risam lalu kembali mengusap perut sang istri dengan lembut dan mengecupnya.
“Sayang, kapan kau tahu kamu hamil?” tanya Risam.
Nayya menatap heran suaminya itu setelah mendapat pertanyaan itu, “Emang kenapa mas? Kenapa khawatir begitu?” tanya Nayya.
__ADS_1
“Katakan saja sayang, kapan kamu tahu kamu hamil?” tanya Risam kembali.
“Kemarin mas. Nayya kemarin sudah curiga saat Nayya bangun lalu mual dan siangnya kemarin Nayya mengeceknya di puskesmas. Ada saat Nayya menelpon mas kemarin sebenarnya Nayya sudah tahu hamil dan ingin sekali mengatakan kabar gembira itu tapi Nayya menahannya karena menunggu hari ini. Nayya juga ingin memastikannya kembali dan tadi Nayya mengeceknya lagi dan Alahmdulillah garis dua. Emang kenapa mas?” tanya Nayya balik.
“Jika kamu sudah tahu hamil lalu kenapa menyetujui mas semalam kita melakukan hubungan in--”
Nayya tersenyum kini dia mengerti apa yang di khawatirkan suaminya itu, “Nayya paham yang mmebuat mas khawatir. Tenang saja In Syaa Allah dia baik-baik saja. Kita melakukannya pelan-pelan kan. Mas menuruti permintaan Nayya. Jadi tidak masalah.” Ujar Nayya.
“Sungguh? Mas khawatir sayang.” ucap Risam.
“Sudah. Gak apa-apa mas. Semuanya baik-baik aja.” Ujar Nayya menenangkan suaminya itu.
“Kita harus segera melakukan USG sayang. Mas gak mau terjadi sesuatu dengannya. Mas ingin memastikan dia baik-baik saja dan tidak terganggu dengan apa yang kita lakukan semalam.” Ujar Risam masih saja khawatir.
Nayya pun tersenyum kembali, “Mas dia baik-baik saja. Percaya kepada Nayya. Lagian dia juga senang kok ayahnya mengunjunginya.” Ucap Nayya.
Cup
Nayya segera memotong ucapan sang suami dengan kecupan singkat di bibir suaminya itu, “Jangan tegang mas. Dia baik-baik saja.” ucap Nayya lalu membawa tangan suaminya itu ke perutnya.
Risam pun mengusap kembali perut istrinya itu, “Maafin ayah ya nak. Maaf jika menyakitimu.” Ucap Risam.
“Iya ayah sudah di maafin kok.” balas Nayya menirukan suara anak kecil.
Risam pun tersenyum, “Sudah. Lebih baik sekarang mas bacakan surah untuknya. Dia ingin mendengar ayahnya membacakan surah untuknya.” Ucap Nayya.
__ADS_1
Risam pun segera ingat dan mengambil Al-Qur’an dan membacakan surah Luqman dan Yusuf untuk calon bayinya itu. Nayya pun tersenyum mendengarkan suaminya itu mengaji untuk calon anak mereka sambil menunggu waktu subuh tiba.
***
Kini Nayya sedang membuat sarapan dengan di bantu oleh Risam. Keduanya memang selalu saling membantu satu sama lain dalam urusan rumah tangga mereka. Biasanya Risam menyapu dan Nayya sarapan tapi karena Risam tahu bahwa istrinya itu kini sedang mengandung dia pun membantu Nayya membuat sarapan.
Sekitar kurang lebih setengah jam akhirnya sarapan selesai dan kini keduanya segera sarapan bersama, “Makan yang banyak sayang. Biar sehat.” Ujar Risam menambahkan lauk ke piring istrinya itu.
Nayya pun tersenyum, “Mas aku akan gendut nanti jika makan banyak seperti ini.” ucap Nayya.
“Gak apa-apa sayang. Yang penting kamu sehat dan juga calon anak kita sehat.” Ucap Risam.
“Apa an sih Mas. Bisa saja aku kelebihan berat badan dan juga tetap berakibat buruk. Intinya aku mau sehat aja dan berat badan tetap normal.” Ucap Nayya.
“Yah begitu juga baik. Senyaman kamu saja sayang.” ucap Risam.
Nayya pun mengangguk lalu mereka segera sarapan bersama. Keduanya menikmati sarapan itu dengan suasana yang berbeda karena saat ini mereka sedang bahagia dengan kehamilan Nayya itu.
Setelah selesai sarapan, Nayya segera siap-siap untuk ke puskesmas. Risam yang membersihkan bekas sarapan mereka karena memang dia yang menginginkannya dan melarang Nayya membantunya dan justru menyuruh Nayya untuk siap-siap saja ke puskesmas.
Mama Fara dan Papa Imran yang hari ini datang dan mama Fara segera naik ke lantai begitu melihat menantunya mencuci piring dan tidak melihat Nayya ada di sana pun segera mendekati menantunya itu, “Apa yang kamu lakukan nak? Kenapa bukan Nayya yang membersihkannya. Sini biar mama saja.” ucap Mama Fara.
Risam pun segera menengok melihat mama mertuanya itu, “Mah, gak apa-apa. Risam bisa kok. Ini juga sudah mau selesai.” Ucap Risam menolak.
“Ahh kenapa Nayya membiarkanmu melakukan ini? Kemana anak itu?” tanya Mama Fara mencari keberadaan putrinya.
__ADS_1
“Mah, Nayya sedang siap-siap ke puskesmas. Mah, jangan marahi Nayya, Risam yang melarangnya membantu. Risam tidak masalah kok mencuci piring. Bukankah urusan rumah tangga memang harus di lakukan bersama dan tidak ada salah seorang suami membantu istrinya di dapur. Maka itu yang Risam lakukan mah. Nayya sudah menawarkan untuk membantu dan dia pun tidak meminta Risam melakukan ini namun ini keinginan Risam sendiri dan Risam jugalah yang menolak bantuannya. Jadi mama jangan marah.” Ucap Risam. Mama Fara pun tersenyum mendapat penjelasan itu. Dia kini semakin percaya dan terharu karena ternyata menantunya itu sangat mencintai putrinya.