Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
100


__ADS_3

Zayya yang di tertawakan oleh Risam dan Nayya pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya cemberut.


“Para keponakan aunty. Nanti jika sudah besar nanti jangan kayak bunda sama ayah kalian ya. Suka godain aunty dan memojokkan aunty. Kalian gak boleh begitu. Kalian harus sayang sama aunty kalian. Aunty juga akan sayang sama kalian.” ujar Zayya menatap ketiga keponakannya yang sedang tiduran di ranjang bayi mereka menatapnya dengan tersenyum seolah mengiyakan ucapan aunty mereka itu.


Risam dan Nayya semakin tertawa mendengar ucapan Zayya itu yang melapor pada ketiga buah hati mereka, “Sayang, masa dia ngelapor sama anak kita.” Ucap Risam.


“Biarkan saja. Anak kita juga gak ngerti. Jika pun itu tersimpan dalam memori mereka gak apa-apa. Dia juga gak ngajarin yang buruk kan.” Ujar Nayya.


Risam mengangguk lalu memeluk Nayya erat dan mengecup kening istrinya itu.


“Ish jangan bermesraan di hadapan kami kak. Kami ini masih kecil.” Ujar Zayya tanpa menatap Risam dan Nayya dan tetap fokus dengan ketiga bayi mungil di hadapannya yang semakin hari semakin tampan dan cantik saja dengan warna bola mata mereka yang sangat indah hingga membuatnya iri saja.


Risam pun melepas pelukannya dari Nayya lalu tersenyum, “Sayang, dia cemburu. Adik ipar bilang saja kalau cemburu.” Ujar Risam.


“Ouh God. Kakak ipar ternyata kau ini menyebalkan juga yaa. Suka menggodaku. Aku ini bukan cemburu. Hanya--” Ucap Zayya terhenti tidak tahu harus mengatakan alasan apa.


“Hanya apa?” tanya Nayya menahan senyum jadi seperti mengejek Zayya saja.


Zayya yang mendengar dan melihat kakaknya yang terkesan tersenyum perpaduan antara senyum menggoda dan senyum mengejeka itu pun kesal, “Ish kakaaakk! Aku tidak cemburu. Hanya saja aku ini baik, aku menjaga pandangan anak kalian dari adegan yang belum pantas untuk mereka. Kalian itu kan orang tua mereka. Seharusnya tidak memberi tontonan seperti itu kepada mereka. Nanti anak kalian akan dewasa belum waktunya karena sering menonton kemesraan dan keromantisan kalian yang over dosis. Iya kan triplets? Kalian setuju kan dengan ucapan aunty. Aunty ini hanya melindungi kalian.” ucap Zayya lalu menatap ketiga keponakannya kembali meminta dukungan yang hanya di balas oleh para triplets itu dengan senyuman seolah mereka mengerti bahwa aunty mereka itu memang meminta dukungan kepada mereka.

__ADS_1


Risam dan Nayya saling memandang satu sama lain lalu tersenyum. Zayya menyadari hal itu semakin kesal, “Kakaakk! Aku ini serius. Mana mungkin. Aku cemburu.” Ucap Zayya dengan kesalnya.


Risam dan Nayya pun tertawa melihat Zayya yang kesal itu, ternyata menggoda Zayya itu menyenangkan dan membuat mereka tertawa, “Ya yahh kami percaya dek. Tenang saja. Kau tidak cemburu hanya saja iri.” Ujar Nayya.


“Ck, apa-an itu kak. Iri dan cemburu itu sebelas dua belas. Menyebalkan. Kakak dan kakak ipar kenapa jadi menyebalkan yaa. Sudah sama sifatnya padahal dari yang aku tahu kakak dan kakak ipar tidak begitu sebelum kalian menikah. Tapi ini kok berubah. Apa menikah dapat menyebabkan sifat baru. Ck, menyebalkan.” Ucap Zayya.


Risam dan Nayya semakin tertawa mendengarkan ucapan Zayya itu dan Zayya hanya bisa menghela nafas kasar karena menjadi bahan godaan kakak dan kakak iparnya itu.


“Para kesayangan aunty lihat ayah dan bunda kalian menertawakan aunty. Tapi tidak apa-apa aunty akan membalas mereka. Aunty akan mencari uncle yang tampan untuk kalian. Mungkin seorang dokter.” Ucap Zayya tertawa. Zayya hanya bercanda mengatakan itu.


“Hey, dek. Jangan ajari anak kami balas dendam. Mereka itu anak baik. Awas saja kau mengajari mereka begitu. Ohiya kuliah dulu yang bener baru mikirin jodoh. Mau pakai cari dokter segala lagi.” Ucap Nayya.


Nayya segera menoel kening adiknya itu, “Jangan membayangkannya. Kasihan dokter itu jika kau hanya memanfaatkannya. Jangan lakukan itu. Kasihan anak orang jadi korbanmu.” Ucap Nayya.


Zayya pun tertawa, “Aku hanya bercanda kak. Tenang aja. Aku ingin mewujudkan mimpiku yang akan menikah nanti di usia sepertimu. Semoga takdir bersamaku dan mendukung apa yang ku inginkan itu. Sudah jangan anggap serius perkataanku itu kak. Aku hanya bercanda. Aku masih ingin meraih gelar profesiku dengan nilai yang memuaskan agar mama dan papa bangga padaku. Mereka sudah bangga dengan kalian jadi masih aku yang harus membanggakan mereka.” ujar Zayya.


“Emm, tapi sepertinya punya adik ipar dokter juga seru deh.” Ujar Nayya.


Zayya pun tertawa, “Wah, parah kau kak. Kakak ipar lihatlah istrimu ini.” lapor Zayya.

__ADS_1


“Biarkan saja. Aku juga ingin punya adik ipar dokter. Jadi aku mendukung apa yang kau rencanakan itu adik ipar. Aku sudah memiliki adik ipar seorang polisi. Jadi aman jika berkendara. Jadi masih dokter agar aman berobat.” Ujar Risam.


“Kakak ipar. Apa kau lupa istrimu itu seorang perawat hanya beda sedikit saja dengan dokter.” Ujar Zayya.


“Yah, aku tahu istriku seorang perawat. Bukan hanya perawat untuk orang lain saja tapi juga perawat hatiku.” Ucap Risam menatap Nayya dengan senyuman penuh cinta.


Zayya yang melihat keromantisan kakak dan kakak iparnya itu lagi dan lagi hanya bisa menghela nafas, “Triplets sepertinya kita memang harus pindah dari sini. Aunty sudah tidak sanggup melihat kebucinan ayah dan bunda kalian. Aunty yakin kalian juga kan. Ya sudah ayo kita pindah sayang. Aunty akan melindungi kalian dari adegan yang akan membuat kita iri. Ayo nak.” ucap Zayya segera menggendong Qalessa.


Nayya dan Risam pun tertawa melihat apa yang di lakukan oleh Zayya itu, “Dek, jangan lupa yaa cari dokter yang tampan.” Ucap Risam sedikit berteriak karena Zayya membawa putri mereka itu ke kamar triplets.


Zayya pun menengok sekilas, “Tenang saja aku pasti akan menemukan dokter cintaku.” Balas Zayya sedikit tertawa karena dia tidak ingin membuat keponakan dalam gendongannya itu takut karena tawanya yang besar.


Nayya dan Risam yang mendengar ucapan Zayya pun tertawa, “Dasar Zayya!” ucap Nayya lalu segera menggendong Xander dan Risam yang segera menggendong Xavier. Mereka membawanya menyusul Zayya yang sudah berada di kamar triplets.


“Dek, apa kau akan kembali?” tanya Nayya begitu mereka menidurkan triplets di kamar mereka dan meninggalkan mereka dengan Risam yang menjaga.


Zayya yang sedang turun tangga berbalik dan menatap kakak sulungnya itu dan mengangguk, “Yah aku akan kembali kak ke rumah mama dan papa. Sudah cukup hari ini aku bermain dengan triplets nanti besok lagi aku akan datang bermain dengan mereka sampai aku nanti memulai kuliahku.” Ujar Zayya.


Nayya pun tersenyum lalu memeluk adiknya itu, “Kau jaga dirimu dengan baik. Jaga mama dan papa juga.” Ucap Nayya.

__ADS_1


Zayya pun mengangguk, “Tentu saja kak. Aku akan menjaga mereka dengan baik. Tidak perlu khawatir.”


__ADS_2