
Malamnya seperti yang sudah di perkirakan oleh Risam bahwa sore hari akan ada truk yang menjemput hasil panennya. Tepat sebelum magrib semua hasil panen Risam sudah di muat dan di jual yang ternyata hasil panennya kini bertambah banyak dari hasil panen kemarin.
Kini Risam dan Nayya sedang berada di kamar mereka menghitung penghasilan yang di dapatkan suaminya itu, “Sayang, ini untukmu.” Ujar Risam menyerahkan segepok uang untuk Nayya.
Nayya yang sibuk dengan ketiga buah hatinya tersenyum melihat uang yang di berikan suaminya itu, “Mas, kenapa sebanyak ini?” tanya Nayya.
“Sayang, ini gak banyak untukmu. Mas justru merasa bersalah karena hanya bisa memberimu ini.” ujar Risam.
“Ini adalah uang bulanan untukmu.“ lanjut Risam.
Nayya kembali tersenyum, “Ini sudah lebih mas.” Ucap Nayya menatap uang di hadapannya itu.
“Simpan saja untukmu sayang.” ucap Risam.
Nayya pun akhirnya mengangguk saja karena percuma dia berdebat dengan suaminya itu jika Risam sendiri yang sudah bersikeras dia tidak akan bisa menolaknya, “Mas, apa semuanya sudah cukup?” tanya Nayya yang melihat suaminya itu masih sibuk menghitung kembali.
Risam mengangguk mendengar pertanyaan yang di ajukan istrinya itu, “Iya Alhamdulillah sayang. Pinjaman kita akan lunas dan untuk modal juga sudah mas sisihkan. Untuk mas berikan kepada mami dan mama juga sudah mas sisihkan.” Ujar Risam.
Nayya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu yang selalu jika memberi kepada mami Vega maka pasti ada juga untuk mama Fara, “Terima kasih mas.” Ucap Nayya.
Risam yang mendengar ucapan terima kasih yang keluar dari bibir istrinya itu segera menatap Nayya, “Jangan berterima kasih lagi. Mas tahu apa yang membuatmu mengucapkan terima kasih. Mami Vega dan mama Fara itu sama di mata mas. Mereka ibu mas dan juga ibumu. Kenapa mas harus membedakan mereka.” ucap Risam.
Nayya tersenyum, “Aku hanya terharu saja denganmu mas. Aku sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu.” Ujar Nayya.
__ADS_1
“Kau selalu mengatakan itu sayang. Mas yang lebih beruntung memiliki istri seperti dirimu yang tidak pernah perhitungan dengan mas. Terima kasih sayang. Jangan bosan yaa dengan mas.” Ujar Risam.
Nayya menggeleng, “Aku gak akan pernah bosan mas.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu mengusap kepala Nayya itu dengan lembut dan tersenyum menatap ketiga buah hati mereka yang sedang terjaga itu menatap Nayya dan Risam seolah mereka ikut mendengar pembahasan Nayya dan Risam.
Lima belas menit kemudian akhirnya Risam selesai dengan semua perhitungannya yang sudah di hitung sedemikian rupa. Nayya pun segera menyimpan uang pemberian suaminya itu. Saat panen kemarin seperti janji Risam uang Nayya yang dia pakai sudah dia kembalikan. Untuk biaya pembangunan rumah mereka menggunakan sisa uang dari hasil panen itu dan melakukan pinjaman yang Alhamdulillah akan lunas pada panen kali ini.
“Mas, lusa kita pindah kan?” tanya Nayya lalu menyusui putrinya itu.
Risam mengangguk, “Iya sayang. Maaf ya sayang uang mas hanya cukup untuk melunasi pinjaman kita dan uang bulananmu. Jadi kita belum bisa membeli furniture rumah.” Ujar Risam.
Nayya tersenyum, “Gak apa-apa mas. Rumah kita sudah selesai dan bisa di tempati saja aku sudah Alhamdulillah. Untuk furniture kita akan membelinya nanti yang terpenting ranjangnya sudah ada. Jangan pikirkan itu.” ujar Nayya.
Nayya pun mengangguk tersenyum, “Terima kasih ya mas sudah membangunkan aku rumah impianku. Aku memang selalu memiliki impian untuk punya rumah dua lantai dan kau mewujudkannya.” Ujar Nayya.
Risam pun tersenyum, “Hmm, bukankah rumah orang tuamu juga dua lantai.” Ucap Risam.
Nayya tersenyum, “Yah memang dua lantai mas. Tapi kan mas tahu lantai dua itu fungsinya untuk apa. Jangan meledekku.” Ucap Nayya.
“Mas gak berani sayang meledekmu.” Balas Risam.
Nayya pun terkekeh mendengar ucapan suaminya itu, “Mas, tolong bantu aku. Aku ingin menyusui Xavier.” Ucap Nayya menatap putra bungsunya itu.
__ADS_1
“Fadhly sayang. Dia akan di panggil Fadhly.” Ucap Risam.
“Tapi aku menyukai memanggilnya Xavier mas. Biarkan kita memiliki nama panggilan kita masing-masing untuk anak kita. Mas akan memanggil mereka dengan nama depan mereka dan aku akan memanggil mereka dengan nama tengah. Qalessa, Xander, dan Xavier” ucap Nayya.
Risam pun tersenyum, “Baiklah jika memang begitu. Mas akan memanggil mereka dengan nama depan. Iya kan Floella, Fachry dan Fadhly.” Ujar Risam lalu segera mengambil alih putrinya dari pangkuan sang istri. Setelah itu Nayya segera memangku Xavier untuk dia susui karena Xander masih asyik bermain. Anak keduanya itu sangat pendiam dan jarang rewel. Tidak sama dengan Xavier yang suka meminta perhatian lebih. Putrinya juga sama dengan Xander yang tidak rewel. Sepertinya putra bungsunya itu tahu bahwa dia anak terakhir sehingga sangat manja dari pada kedua kakaknya. Setelah selesai menyusui Nayya barulah Xander bergantian Nayya susui.
***
Keesokkan paginya, seperti biasa runitinasnya pagi hari adalah sibuk mengurus ketiga buah hatinya yang memang selalu terjaga sebelum subuh. Ketiga buah hatinya itu selalu terbangun sepertiga malam sehingga mereka seperti alarm untuk Risam agar bangun untuk segera melaksanakan sholat. Nayya pun pasti ikut terbangun tapi dia yang memang masih masa nifas tidak ikut sholat dan hanya membantu suaminya itu menyiapkan alat sholatnya.
Selepas sholat subuh Risam membacakan sholawat dan surah-surah untuk ketiga buah hatinya sebelum mereka memulai aktivitas pagi hari. Setelah itu Risam segera menggendong kedua putranya keluar kamar untuk menikmati udara pagi. Papa Imran yang melihat itu segera mengambil alih satu cucunya dan menggendongnya untuk ikut melihat matahari pagi.
“Siapa ini yang papa gendong nak? Papa gak bisa membedakan mereka. Mereka sama persis.” Ucap papa Imran menatap kedua cucu laki-lakinya itu yang dia ketahui dari warna bola mata yang berwarna biru terang.
“Yang papa gendong itu si bungsu Fadhly pah.” Jawab Risam.
“Ouh jadi ini yaa cucu kakek yang rewel minta lebih banyak perhatian dari ayah dan bundamu. Ahh sepertinya dia tahu nak bahwa dia adalah anak bungsu.” Ucap papa Imran.
Risam pun tersenyum, “Sepertinya begitu pah.” Balas Risam membenarkan.
Tidak lama Nayya juga datang dengan princes mata abu-abunya di kereta bayinya, “Pah, Mas aku titip putriku juga yaa.” Ucap Nayya menitipkan putrinya itu kepada suami dan papanya.
“Hmm, sayang tolong kereta bayi mereka juga yaa. Biar mas sama papa yang akan menjaga mereka dan menjemur mereka sebentar.” Ucap Risam.
__ADS_1
Nayya pun mengangguk lalu segera mengambilkan kereta bayi kedua putranya lalu membantu suami dan papanya itu memindahkan kedua putranya ke kereta bayi. Barulah setelah itu Nayya meninggalkan ketiga buah hatinya itu di jaga oleh papa dan suaminya. Nayya menyibukkan diri membantu sang mama di dapur.