Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
103


__ADS_3

Sementara di sisi Zayya, kini selepas mengikuti evaluasi dari Cyra dia menuju kantin setelah memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus dia kerjakan.


Zayya mencari tempat yang kosong dan begitu melihat masih tersisa satu meja yang kosong. Zayya pun segera melangkah dekat meja itu tapi begitu dia sampai ada seseorang juga yang berdiri di dekat meja itu. Zayya segera menatap ke depan melihat siapa orang itu dan seketika dia terdiam melihat siapa yang ada di depannya itu.


Zayya segera berbalik tapi lengannya di tahan oleh orang itu, “Kenapa pergi? Apa makan bersamaku pun kau tak sudi?” tanya Diaz. Yah pria itu adalah Diaz yang sangat dia hindari bukan karena benci tapi demi kebaikan bersama.


“Dokter, lepaskan lengan saya. Jangan menambah lagi berita buruk yang beredar dokter. Selain itu juga kita tidak sedekat itu untuk bisa makan siang bersama. Maaf dokter saya permisi.” Ucap Zayya lalu segera meninggalkan kantin tersebut. Tanpa terasa air matanya menetes di pipinya.


Zayya segera menghapus air matanya itu dengan cepat sebelum ada yang menyadarinya, “Kenapa sakit? Zayya kau orang yang kuat. Kau sudah memutuskan hal ini maka jangan berbalik lagi. Biarlah semua tetap berjalan ke depan.” Gumam Zayya segera membawa bekalnya menuju taman rumah sakit. Bekal yang di antarkan oleh kakak sulungnya dengan ketiga ponakannya yang sedang aktif-aktifnya.


Zayya membuka kotak bekal itu dan tersenyum melihat tulisan di sana, “Semangat adik cantikku. Tidak ada masalah yang tidak bisa di hadapi.” Begitulah isi tulisan itu di akhiri dengan emot tersenyum.


“Kak, apa kau tahu aku sedang sedih sehingga menuliskan kata yang seperti ini.” ucap Zayya menatap tulisan itu. Zayya pun meraih ponselnya dan segera mencari nomor ponsel kakaknya dan menelponnya.


“Halo, Assalamu’alaikum dek? Ada apa? Apa kau sudah makan?” tanya Nayya dari seberang begitu tersambung.


Zayya mengangguk, “Halo, Wa’alaikumsalam. Aku baru mau memakannya ini tapi terharu atas tulisanmu. Terima kasih kak.” Ucap Zayya.


Terdengar suara tawa Nayya dari seberang, “Itu kakak hanya iseng aja dek. Tapi tidak tahu ternyata kau memang sedang butuh. Apa ada masalah?” tanya Nayya berubah khawatir.


Zayya menggeleng, “Aku baik-baik saja kak. Mana mungkin masalah berani datang pada adik pemberanimu ini. Aku ini jagoan kan?” ucap Zayya mencoba bercanda tapi sayang di seberang sana Nayya justru merasa bahwa adiknya sedang tidak baik-baik saja.


“Dek, setelah kamu dari praktik kunjungi kakak yaa di rumah. Triplets juga sepertinya rindu padamu.” Ucap Nayya kemudian.


Zayya kembali mengangguk, “Emm, baiklah kak. Aku akan kesana nanti. Aku juga rindu pada keponakan lucu-lucuku itu.” ucap Zayya


“Apa mereka sudah bisa memanggilmu dan kakak ipar kak?” lanjut Zayya bertanya. Dia saking sibuknya sudah tidak sempat lagi datang ke rumah kakaknya itu untuk sekedar bermain di akhir pekan. Terakhir dia bermain dengan triplets itu saat acara 7 bulanan Rayya.


“Hum, begitulah triplets sudah bisa memanggilku dan baru Qalessa yang bisa memanggil kakak iparmu.” Jawab Nayya.


“Aku jadi penasaran dengan mereka. Baik kak nanti aku akan datang. Aku akan mengajari mereka memanggilku nanti. Ku tutup dulu yaa kak. Wassalamu’alaikum!” ucap Zayya.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Nayya lalu sambungan telepon di antara mereka pun terputus satu sama lain.


Zayya meletakkan ponselnya dan segera memakan kotak makan siangnya itu dengan menatap orang-orang yang berlalu lalang di taman rumah sakit itu.


Di sudut lain, “Kau tidak ingin mendekatinya?” tanya Cyra yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Diaz yang mengawasi Zayya setelah lari dari kantin menghindarinya.


Diaz menggeleng, “Dia sedang menikmati makan siangnya kak. Aku tidak ingin mengganggunya. Dia sudah lari dari kantin karena aku ada di sana. Biarkan dia mengisi perutnya dulu baru aku akan mengganggunya nanti.” Jawab Diaz lalu melangkah menuju kantin untuk mengisi perutnya sebelum nanti melakukan rencana selanjutnya untuk mendekati Zayya.


Cyra yang melihat itu tersenyum. Dia pikir dia akan mendengar sepupunya itu menyerah tapi ternyata hanya memberikan waktu kepada Zayya untuk makan siang dulu.


“Aku akan berdoa kalian bisa bersama.” Ucap Cyra lalu menelpon seseorang di ponselnya.

__ADS_1


***


Sementara di sisi Rayya dan Ariq kini mereka sedang makan siang bersama dengan ibu Aini. Ibu Aini dengan cepat menyelesaikan makan siangnya dan membiarkan putra dan menantunya itu untuk bicara saat makan. Dia tahu mereka butuh waktu untuk saling bermesraan satu sama lain. Dia juga pernah muda dan tahu hal itu. Apalagi menantunya itu sedang hamil besar yang tentunya pasti membutuhkan perhatian lebih dari suaminya.


“Sayang, dia baik-baik saja kan?” tanya Ariq mengelus perut istrinya itu begitu sang ibu pergi meninggalkan mereka.


Rayya mengangguk, “Tenang saja dia baik-baik saja kak. Kau selalu menanyakannya. Apa kau lupa istrimu ini seorang bidan yang tentu tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja atau bagaimana.” Ucap Rayya tersenyum.


Ariq pun ikut tersenyum karena seperti biasa dia selalu saja khawatir berlebihan dengan kandungan istrinya itu yang saat awal kehamilannya di katakan lemah. Sempat membuat mereka dan keluarga khawatir tapi setelah mendapatkan perawatan dan Rayya rajin minum obat penguat kandungan semua menjadi baik-baik saja. Tapi tetap saja Ariq khawatir apalagi sejak kandungan istrinya itu sudah masuk trimester tiga ini.


Ariq menjadi over protektif terhadap semua yang di lakukan oleh Rayya dan selalu bertanya tentang kandungan istrinya itu setiap waktu ke waktu hingga membuat Rayya kadang-kadang gemas dengan kekhawatiran suaminya yang berlebihan itu.


“Aku baik-baik saja bi. Kau jangan terlalu khawatir.” Ucap Rayya yang di angguki oleh Ariq. Tapi Rayya tahu walaupun suaminya itu mengangguk itu hanya akan berlaku untuk beberapa jam saja dan kembali akan menanyakannya lagi.


***


Di sisi Nayya kini dia sudah dalam perjalanan pulang menuju kediamannya. Nayya melihat sekeliling jalan yang dia lewati dan tiba-tiba dia teringat akan satu hal.


“Nay, kenapa kau tiba-tiba teringat dirinya? Astaqfirullah, aku harap dia baik-baik saja di mana pun dia berada. Ya Allah segera pertemukan dia dengan jodohnya. Kasihan aku mendengar bahwa adik keduanya akan segera menikah.” Gumam Nayya.


Nayya segera menuju kediamannya dan dia pun segera memarkirkan mobilnya itu di parkiran tepat di belakang mobil milik sang suami yang baru saja mereka beli saat suaminya itu melakukan panen.


Nayya turun dari mobilnya dan langsung tersenyum karena Risam menyambutnya di depan pintu dengan sang putri yang ada dalam gendongannya.


“Mas sudah menyuruhnya pulang tadi selepas mas tiba.” Jawab Risam.


Nayya pun mengangguk mengerti, “Ohiya apa tidak repot mengurus mereka?” tanya Nayya menatap kedua putranya yang sedang merangkak kesana kemari.


Risam menggeleng, “Kamu saja gak repot mengurus mereka. Jadi kenapa mas harus merasa repot akan hal itu. Mas senang menjaga mereka. Mereka sangat lucu apalagi putriku ini sangat cantik.” Ucap Risam lalu mengecup pipi putrinya itu.


Nayya pun tertawa, “Tentu saja dia sangat cantik mas. Dia kan hanya sendiri. Tidak memiliki saingan.” Ujar Nayya menggelengkan kepalanya.


“Kata siapa dia tidak memiliki saingan? Ada kok saingannya.” Ucap Risam.


Nayya yang mendengar itu segera menatap suaminya itu dengan tatapan lembutnya, “Apa aku lagi saingannya?” tebak Nayya.


Risam pun terkekeh, “Hehehh, kau sudah bisa menebaknya ya sayang. Tapi tenang saja kau masih lebih cantik dari putriku ini. Dia kan mewarisi genmu jadi sudah pasti kau yang masih lebih cantik di banding dirinya. Kau ada queenku dan ini adalah princessku. Kalian memiliki tempat tersendiri di hatiku. Jadi jangan iri dan cemburu yaa sayang pada putrimu ini.” goda Risam di akhir kalimatnya itu.


“Untuk apa coba aku cemburu pada putriku sendiri. Aku bukan orang yang seperti mas yang cemburu pada anak sendiri.” Balas Nayya balik.


“Ahh sayang kau membalasku. Istriku ini ternyata cukup pendendam rupanya. Aku akui aku memang cemburu dengan dua putra kita itu. Bagaimana tidak mereka lebih di perhatikan di banding aku. Jadi aku sudah pasti cemburu lah.” Ujar Risam.


Nayya pun hanya bisa menghela nafas panjang, “Terserah mas aja deh. Yang pasti aku memang lebih menyayangi kedua putramu ini di banding dirimu.” Jawab Nayya lalu dia segera menuju kamar untuk bertukar pakaian.

__ADS_1


“Sayang, bunda kalian ngambek tuh. Tolong yaa bantuan ayah membujuknya nanti. Tolong ya boy kalian juga ikut membujuk bunda agar tidak ngambek lagi. Tenang saja ayah tidak akan cemburu lagi pada kalian. Tapi tidak janji.” ucap Risam lirih di akhir kalimatnya itu. Dia mana bisa untuk tidak iri pada kedua putranya itu jika Nayya selalu saja mencium mereka setiap saat. Dia juga pengen hal itu. Ahh dasar terlihat kekanakan mungkin tapi itu lah dia dan keinginannya.


Tidak lama Nayya kembali dari kamar setelah bertukar pakaian. Risam segera mendekati istrinya itu tanpa putri mereka dalam gendongannya karena Risam membiarkan putrinya itu bermain dengan kedua putranya merangkak kesana kemari.


“Sayang, jangan ngambek yaa. Aku hanya bercanda tadi.” Ucap Risam sambil memegang kedua telinganya layak seorang anak yang meminta maaf pada ibunya.


Nayya yang melihat itu pun tersenyum, “Emang aku sedang ngambek mas? Aku tidak merasa bahwa aku sedang marah padamu.” Ujar Nayya.


Risam yang mendengar ucapan istrinya itu pun terkejut mengangkat alisnya lalu menatap istrinya itu tidak percaya, “Kamu beneran tidak ngambek kan?” tanya Risam tidak percaya.


Nayya tersenyum mendengar pertanyaan suaminya lalu dia mengangguk, “Terus kenapa tadi langsung ke kamar.” Ucap Risam.


Nayya pun tertawa, “Ouh God suamiku. Aku tentu saja ingin bertukar pakaian. Emang apa lagi yang akan aku lakukan jika ke kamar. Aku ingin bermain dengan ketiga anakku itu tapi aku baru pulang. Jadi tentu saja aku harus menukar pakaianku kan. Kau kenapa berpikiran berlebihan begitu.” Jelas Nayya.


Risam yang mendengar itu pun tersenyum lalu memeluk istrinya itu, “Mas pikir kau marah sayang. Kau ngambek karena pembicaraan kita tadi.” Ucap Risam dalam pelukan istrinya itu.


Nayya pun tersenyum saja dan membalas pelukan suaminya itu erat, “Mas terlalu peka atau takut sih aku ngambek?” tanya Nayya masih berada dalam pelukan suaminya itu.


“Keduanya. Mas terlalu peka dan takut kamu ngambek. Mas gak mau kita marahan. Mas sangat menyayangimu loh sayang.” ucap Risam.


“Yah, aku tahu itu. Mas sangat mencintaiku.” Ucap Nayya lalu melepas pelukannya dengan sang suami.


Nayya berjinjit dan mengecup bibir suaminya itu dengan lembut. Kecupan itu berlangsung sekitar 15 detik saja dan saat Risam ingin mengubah kecupan itu menjadi ciuman Nayya melepasnya, “Cukup, ada anak-anak. Mereka bisa dewasa belum waktunya nanti karena melihat adegan kita. Bisa-bisa Zayya protes kepada kita karena mengajarkan hal itu kepada anak kita.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum lalu memilih mengecup kening istrinya itu, “Ohiya, bagaimana kabar adikmu itu? Dia kenapa sudah jarang ke sini? Apa sangat sibuk?” tanya Risam saat keduanya kini duduk mengawasi ketiga buah hati mereka itu.


Nayya terdiam, “Aku juga kurang tahu. Tapi sepertinya dia memang sangat sibuk akhir-akhir ini karena mama mengatakan dia sibuk dengan tumpukkan laporannya itu. Namun aku juga merasa bahwa dia punya masalah tapi dia menyembunyikannya sendiri. Dia tidak ingin kita tahu masalahnya. Aku yakin dia sedang sedih saat ini.” ujar Nayya.


“Kenapa kamu bisa menduga hal itu?” tanya Risam.


“Aku tadi memberikan bekal untuknya kan.” Risam mengangguk karena dia memang tahu bahwa istrinya itu menyiapkan bekal untuk adik iparnya itu.


“Aku menuliskan kata-kata penyemangat untuknya. Kata-kata penyemangat biasa saja. Tapi tadi siang sebelum kita bicara di telepon dia menghubungiku dan mengucapkan terima kasih seolah-olah kata-kataku itu sangat berarti untuknya. Dan kemudian aku menyadari bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Zayya itu adalah adikku yang tidak mudah tersentuh dengan sesuatu apalagi jika hanya kata-kata penyemangat seperti itu. Dan jika dia dengan mudahnya menjadi perasa dan terharu dengan kata-kata saja maka itu berarti dia sedang tidak baik-baik saja. Aku yakin dia punya masalah sendiri.” Jelas Nayya.


Risam pun tersenyum mendengar penjelasan istrinya itu yang selalu peka dengan orang di sekitarnya apalagi itu jika menyangkut keluarga dekatnya. Untuk itu lah dia yang sebelum menikah dengan Nayya yang memiliki kepekaan setipis tisu begitu menikah dengan Nayya menjadi sangat peka apalagi jika itu menyangkut istrinya. Dia pasti sangat peka. Sikap dan sifat mereka menjadi berbaur satu sama lain.


“Lalu apa yang akan istriku lakukan ini untuk mengatasinya?” tanya Risam.


“Aku sudah memintanya untuk datang ke rumah dengan alasan triplets merindukan mereka. Nanti saat dia datang aku akan bicara nanti dengannya.” ujar Nayya.


Risam pun mengangguk mengerti, “Kalau begitu semua masalahnya sudah selesai. Kita tinggal menunggu apa dia memang memiliki masalah atau tidak.” Ujar Risam.


Nayya pun mengangguk mengerti lalu tiba-tiba Xavier menangis. Nayya dan Risam pun segera mendekati putra mereka itu yang ternyata sudah pup. Nayya pun segera menggantinya.

__ADS_1


Siang menjelang sore itu, Nayya dan Risam menghabiskan waktu mereka dengan ketiga buah hati mereka.


__ADS_2