Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
72


__ADS_3

Mama Fara dalam perjalanan segera menghubungi pihak rumah sakit dan tidak lupa dia juga menghubungi besannya yang langsung segera bersiap juga menyusul ke rumah sakit begitu mendapatkan infi menantu mereka akan melahirkan.


Sekitar 50 menit akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Nayya langsung di bawa ke ruang bersalin oleh perawat dan bidan yang sudah menunggu kedatangannya. Dokter Erina sudah menunggu di ruang bersalin. Risam menemani istrinya itu sampai di pintu ruang bersalin, “Tolong anda tunggu di sini tuan.” Ucap perawat melarang Risam masuk.


Risam pun mengangguk dan berhenti mempercayakan istrinya itu dalam penanganan dokter dan perawat di dalam. Nayya segera di lakukan pengecekan yang ternyata dia sudah pembukaan lima. Sepertinya pembukaan Nayya tergolong cepat. Dokter Erina memastikan semuanya baik-baik saja dan Nayya bisa melahirkan normal seperti rencana awalnya.


Nayya yang masih harus menunggu lima pembukaan lagi di anjurkan untuk berjalan-jalan dulu di ruang bersalin itu. Risam dan orang tua Nayya pun di izinkan masuk untuk menemani Nayya menunggu pembukaannya lengkap.


Sekitar satu jam Nayya berjalan kesana kemari dalam ruangan bersalin itu dengan di temani oleh Risam. Mama Fara dan papa Imran keduanya di minta oleh Nayya untuk sarapan karena tidak ingin orang tuanya itu sakit di sebabkan melewatkan sarapan.


Nayya memegang lengan Risam erat, “Mas, bawa aku ke bed.” Pinta Nayya karena dia sudah merasakan kontraksi hebat. Nayya mencoba mengendalikan sakit kontraksi dengan teknik nafas dalam.


Risam pun segera membantu Nayya menuju bed, “Mas, panggilkan dokter. Aku akan melahirkan. Aku sudah merasakannya.” Ujar Nayya.


Risam pun mengangguk, “Kamu tunggu di sini baik-baik sayang. Anak-anak ayah tahan sebentar yaa nak. Tolong jaga bunda dulu.” Ucap Risam mengusap perut istrinya yang sudah kembali relaksasi itu.


Nayya pun tersenyum mendengar ucapan suaminya itu dan memandang kepergian suaminya untuk memanggil dokter. Risam begitu membuka pintu bertepatan dengan kedatangan orang tuanya, “Mau kemana nak?” tanya mami Vega.


“Mih, tolong panggilkan dokter. Aku akan menunggu di sini menemani Nayya. Dia akan segera melahirkan.” Ucap Risam.

__ADS_1


Mami Vega dan papi Lutfi yang mendengar itu pun segera mengangguk dan meletakkan barang yang mereka bawa di depan ruang bersalin begitu saja. Mami Vega dan papi Lutfi segera berlari menuju ruangan dokter Erina. Mereka memang sudah tahu di mana letak ruangan dokter Erina itu sebab pernah ikut Nayya memeriksa kandungannya.


Risam pun segera masuk kembali ke dalam ruangan bersalin menemani istrinya, “Dokter mana? Kok cepat?” tanya Nayya.


“Mami sama papi yang memanggil mereka. Mas menemanimu saja.” ucap Risam mengusap dahi Nayya yang berkeringat.


Nayya pun tersenyum dan tidak bertanya lagi karena dia kembali merasakan kontraksi. Nayya mencoba mengendalikan keinginannya untuk mengedan itu. Dia tidak ingin membahayakan anak-anaknya.


Risam yang tahu istrinya sedang mengalami kontraksi pun hanya bisa bersholawat dan memijat bahu Nayya dengan lembut. Risam sudah bersiap untuk hal ini tapi ternyata begitu melihat bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya menyentuh hatinya. Dia yang hanya melihat bagaimana Nayya menahan sakit tanpa bisa dia bantu pun hanya bisa menyembunyikan kesedihannya. Pantas saja kedudukan seorang ibu itu sangat tinggi di banding ayah.


Tidak lama dokter dan para bidan serta perawat datang bersama mami Vega dan papi Lutfi yang ikut di belakang. Dokter Erina segera memeriksa kembali kondisi Nayya dan seperti dugaan Nayya pembukaannya sudah lengkap, “Semuanya sudah siap. Pembukaan sudah lengkap, ketuban juga sudah pecah. Segera persiapkan semuanya. Kita akan mulai proses bersalin. Nak kau ingin di dampingi siapa?” tanya dokter Erina kepada Nayya.


“Mas jangan tinggalkan aku dan ajak mama kesini. Aku ingin kalian menemaniku.” Pinta Nayya.


Mama Fara tersenyum melihat putrinya yang masih bisa tersenyum di tengah ketegangan yang melanda, “Mah!” ujar Nayya meraih tangan mamanya lalu menciuminya.


“Maafkan kesalahan Nayya yah mah. Doakan proses bersalin Nayya lancar.” Ujar Nayya. Mama Fara tersenyum lalu mengangguk.


Nayya sudah meminta maaf dan meminta doa dari kedua orang tuanya itu tadi saat dia masih menunggu proses pembukaan. Selain kepada orang tuanya dia juga menelpon mertuanya dan meminta maaf serta meminta doa untuk kelancaran persalinannya.

__ADS_1


“Mas, Nayya juga minta maaf padamu. Jika secara sadar atau tanpa sadar Nayya pernah menyakitimu.” Ucap Nayya menciumi tangan suaminya itu.


Risam menciumi wajah istrinya itu, “Kamu gak punya salah sayang. Kamu istri paling baik.” ujar Risam. Nayya tersenyum mendengar hal itu.


“Kita mulai proses persalinannya yaa nak. Kau sudah kontraksi lagi. Ingat nak tunggu aba-aba dari kami. Jangan mengedan jika tidak kami minta.” Ujar dokter Erina.


Nayya mengangguk memahami instruksi yang di berikan dokter itu. Dokter Erina pun segera menuntun Nayya untuk mengedan, Nayya pun mengikuti instruksi itu dengan benar. Risam dan mama Fara yang di kedua sisi kepala Nayya berdoa dan bershalawat untuk Nayya. Nayya sendiri dia mengucapkan istiqfar setiap dia mengedan. Tidak lama bayi pertama Nayya pun lahir dan langsung menangis.


“Bayi pertama anda perempuan berjenis kelamin perempuan nyonya, sehat dan normal.” Ujar dokter Erina menilai dengan cepat lalu segera memberikan bayi perempuan itu kepada bidan untuk segera di bersihkan.


Nayya meneteskan air mata bahagia sementara Risam dia membisikkan kata-kata terima kasih berulang kali di telinga sang istri bagai lantunan melodi indah, “Kita bersiap untuk kelahiran bayi keduamu nak.” ucap dokter Erina.


Nayya yang terharu pun segera menghentikannya dan kembali berfokus pada kelahiran anak keduanya. Tidak lama anak keduanya pun lahir dan seperti bayi perempuan tadi anak kedua Nayya itu pun segera menangis, “Selamat nak, bayi keduamu berjenis kelamin laki-laki, sehat dan juga normal.” Ujar dokter Erina lalu kembali menyerahkannya ke bidan.


Dokter Erina segera memeriksa fundus Nayya dan dia terkejut dengan apa yang dia temukan, “Nak, apa kau masih merasakan kontraksi?” tanya dokter Erina.


Nayya mengangguk, “Apa kau masih memiliki tenaga?” tanya dokter Erina.


Nayya kembali mengangguk, “Baiklah nak. Ikuti instruksi saya. Kita bersiap untuk kelahiran anak ketigamu.” Ucap dokter Erina.

__ADS_1


Mama Fara dan Risam yang mendengar ucapan dokter Erina kaget. Pasalnya selama di USG hanya ada dua. Dokter Erina sendiri juga kaget dengan apa yang terjadi karena ini seperti sebuah keajaiban. Nayya tidak mempedulikan hal lain lagi. Dia kembali berfokus untuk kelahiran anak ketiganya di sisa tenaganya.


Dokter Erina segera menuntun Nayya dan tidak lama pun bayi ketiga lahir tapi berbeda dengan kedua kakaknya sebelumnya bayi itu tidak menangis sehingga dokter Erina segera melakukan tindakan cepat. Akhirnya setelah dua menit di beri penanganan bayi itu segera menangis. Nayya yang sempat khawatir kini kembali meneteskan air matanya bahagia.


__ADS_2