Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
82


__ADS_3

Setelah sarapan bersama tadi pagi, kini Nayya sibuk menidurkan ketiga buah hatinya itu. Risam masuk ke kamar dan tersenyum melihat istrinya yang sibuk. Dia semakin mengerti bahwa hanya seorang wanita yang bisa membagi waktunya untuk menjaga tiga anak sekaligus. Seorang pria tidak akan bisa melakukan hal itu. Wanita memang di ciptakan dengan segala keunikan dan kelebihannya. Dia mampu mengasihi anak-anaknya sama rata.


Lama Risam memandangi Nayya dengan ketiga buah hatinya itu yang mulai terlelap. Nayya tidak menyadari kedatangan suaminya itu dan tetap fokus dengan ketiga anaknya. Barulah ketiga buah hatinya itu tertidur Nayya menoleh dan tersenyum melihat suaminya yang menatapnya.


“Sejak kapan mas berdiri di sana?” tanya Nayya.


Risam tersenyum lalu mendekati istrinya itu dan memberikan kecupan di kening Nayya dengan lembut, “Sejak tadi sayang. Tapi aku tidak tega mengganggumu yang fokus menjaga ketiga buah hati kita. Selain itu juga aku ingin melihat istri cantikku ini dari jauh.” Ucap Risam lalu memeluk Nayya.


Nayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Ah, mas bisa aja. Jangan peluk ya mas. Aku masih bau asem belum mandi soalnya.” Ujar Nayya.


“Gak ada kok. Kamu wangi sayang.” ujar Risam lalu menghadiahi Nayya dengan kecupan di seluruh wajah.


“Mas hentikan. Geli!” ujar Nayya tertawa.


Risam pun menghentikannya karena sudah merasa kasihan dengan istri cantiknya itu. Nayya pun segera berdiri dan mengambil batrobe, “Mas, aku titip mereka yaa. Aku mandi sebentar.” Ujar Nayya.


Risam pun mengangguk lalu dia segera menatap ketiga buah hatinya itu yang Nayya tidurkan di ranjang mereka, “Ahh anak-anak ayah sangat tampan dan cantik. Hi anak-anak kalian tahu kan ini ayah. Yah ini adalah ayah kalian. Ingat ya nak ayah sangat menyayangi kalian begitu juga bunda. Pesan ayah jika kalian sudah besar nanti jangan pernah mempertanyakan kasih sayang bunda kepada kalian karena percayalah bunda lebih menyayangi kalian lebih dari kasih sayang yang ayah berikan. Jadi kalian harus menyayangi dan menghormati bunda dengan baik. Lihatlah nak bukti bunda menyayangi kalian, dia rela belum mandi dan lebih dulu memastikan kalian sudah wangi dan bisa tidur dengan nyeyak. Ayah memang menyayangi kalian tapi bunda lebih menyayangi kalian. Kalian harus menjaga bunda dengan baik terutama Fachry dan Fadhly dua jagoan ayah. Selain bunda kedua jagoan ayah juga harus menjaga kakak kalian.” ucap Risam bicara dengan ketiga buah hatinya yang sedang terlelap itu.


Setelah menasehati kedua buah hatinya yang terlelap Risam pun melabuhan kecupan di kening ketiga buah hatinya itu lalu segera ikut berbaring di samping putrinya. Risam memiringkan tubuhnya ke arah ketiga buah hatinya itu.

__ADS_1


Sekitar setengah jam kemudian, Nayya selesai mandi dan begitu dia keluar dari kamar mandi dia tersenyum melihat suaminya yang tertidur di samping ketiga buah hati mereka itu, “Lihatlah nak ayah kalian dia kelelahan.” Ujar Nayya tersenyum. Nayya pun segera mengambil pakaiannya dan menggantinya.


Nayya sibuk mengaplikasikan semua perawatan ke tubuhnya itu. Setelah itu Nayya mendekati suaminya dan menyelimutinya. Risam terbangun begitu Nayya menyelimutinya. Risam pun bangun dan menatap istrinya yang sudah berganti pakaian dan bau harum langsung menyeruak ke hidungnya, “Maaf sayang. Mas tertidur.” Ujar Risam.


Nayya yang mendengar ucapan suaminya itu tersenyum, “Jangan meminta maaf mas. Gak apa-apa kok. Mas istirahatlah dulu. Kita bisa nanti siang untuk mengecek rumah. Mumpung anak-anak juga masih tidur. Aku akan menulis dulu.” Ujar Nayya.


Risam menarik Nayya ke pangkuannya, “Jangan menulis dulu sayang. Kamu juga istirahat. Aku tahu bukan hanya aku yang kelelahan tapi kau juga. Melebihi aku yang lelah kau lebih lelah sayang karena mengurus tiga bayi sekaligus. Jadi istirahatlah dulu. Ayo kita istirahat.” Ujar Risam.


Nayya pun tersenyum lalu menurut saja ucapan suaminya itu. Nayya dan Risam pun segera berbaring masing-masing di samping ranjang. Ketiga buah hati mereka itu berada di tengah-tengah keduanya. Risam dan Nayya tertidur sambil bergenggaman tangan.


Tidak lama mama Fara masuk untuk mengecek apa Nayya dan Risam sudah pergi atau belum. Dia pun membuka pintu kamar putrinya itu lalu tersenyum melihat apa yang dia lihat. Setelah itu mama Fara pun kembali menutup pintu kamar putrinya itu, “Kenapa gak jadi masuk mah?” tanya papa Imran yang melihat istrinya itu.


Mama Fara tersenyum, “Mereka sedang istirahat. Jangan ganggu mereka. Nayya dan Risam pasti kelelahan. Biarkan saja dulu urusan rumah itu. Mereka masih punya banyak waktu.” ujar mama Fara.


“Papa benar. Selain itu juga putri dan menantu kita sama-sama memiliki sifat tidak suka membedakan kita dengan besan kita.” Ujar mama Fara.


Papa Imran dan mama Fara itu merasa sangat beruntung karena memiliki putri sebaik Nayya dan juga menantu sesopan Risam.


***

__ADS_1


Siang harinya, kini Nayya dan Risam pergi ke rumah baru mereka untuk memastikan apa persiapan pindah rumah besok sudah siap atau belum. Ketiga anak mereka di titipkan kepada mama Fara yang tentunya di jaga dengan baik tanpa ada penolakan.


Rumah Nayya dan Risam itu hanya berjarak sekitar 100 meter saja dari rumah mama Fara dan papa Imran, “Selamat datang!” sambut Risam membukakan pintu rumah mereka itu untuk Nayya.


Nayya pun tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Nayya segera melangkah masuk tidak lupa dia mengusap salam.


Nayya melihat keseluruhan dalam rumahnya itu. Nayya sangat menyukai desain ruang tamu dan ruang keluarga yang luas, “Sayang, ayo kita lihat kamar utama kita.” Ajak Risam lalu segera mengajak Nayya ke kamar utama mereka.


Nayya tersenyum melihat kamar utama mereka yang luas dan lengkap dengan semuanya. Ada kamar mandi, walk in closet, dan ruang kerja mini.


“Ini sangat indah mas. Terima kasih yaa.” Ucap Nayya lalu menghadiahi suaminya itu dengan kecupan di pipi.


Risam pun tersenyum lalu segera mengajak Nayya untuk melihat kamar tamu serta ruang praktik yang di sediakan untuk istrinya itu da nada beberapa ruangan lain yang masih kosong.


“Sekarang ayo kita naik ke lantai dua.” Ujar Risam. Nayya pun ikut saja untuk melihat lantai dua itu.


“Ini kamar untuk anak-anak kita.” Ucap Risam memperlihatkan ketiga kamar yang berdekatan sudah tergantung papan nama ketiga buah hatinya itu.


“Kapan mas memesan ini?” tanya Nayya.

__ADS_1


“Hmm, tiga hari yang lalu. Ayo masuk sayang.” ucap Risam mempersilahkan istrinya itu masuk.


“Kamar mereka masih kosong. Aku belum membeli apapun untuk mereka.” lanjut Risam.


__ADS_2