
Usai menunaikan sholat sunah akad yang kemudian di lanjutkan dengan sholat zuhur bersama, keduanya segera keluar dari kamar untuk makan siang bersama. Rayya dan Zayya sudah mengetuk pintu kamar mereka untuk memanggil keduanya agar makan siang.
Nayya dan Risam pun segera menuju meja makan yang sudah di sediakan untuk keduanya. Keduanya segera duduk di kursi yang ada di sana, “Mas mau makanan yang mana?” tanya Nayya lembut.
“Semua saya suka makanannya. Terserah padamu saja dek.” jawab Risam.
Nayya pun mengangguk lalu segera mengambilkan makanan untuk suaminya itu baru setelah suaminya selesai dia mengambil makanan untuknya sendiri. Keduanya makan siang bersama dalam kondisi hikmat walaupun ada beberapa keluarga yang melihat interaksi sepasang pengantin baru itu dengan tersenyum.
Setelah selesai makan siang bersama Nayya segera membersihkan bekas makanan mereka itu tapi langsung di larang oleh mama Fara, “Jangan menyentuh piring kotor nak. Sudah biarkan saja itu di sini. Kamu masih harus menjalani resepsi pernikahan malam. Jadi jangan merusak tanganmu.” Larang mama Fara.
Nayya yang mendengar ucapan mamanya itu pun hanya bisa tersenyum lalu memeluk mamanya itu, “Padahal gak apa-apa mah.” ucap Nayya. Tapi mamam Fara menggeleng tanda dia menolak putrinya itu melakukan itu.
Nayya pun akhirnya menurut saja pengaturan dari mamanya itu lalu dia segera kembali ke kamarnya yang ternyata tidak ada suaminya di sana. Nayya pun merapikan kamarnya itu dan meletakkan seserahannya di sudut kamarnya. Dia memandangi seserahan itu lalu tersenyum, “Dia menanyakan mahar apa yang aku inginkan dan aku mengatakan 100 ribu saja ini justru 100 juta yang dia beri. Mas, Mas!” gumam Nayya lalu mengambil ponselnya untuk mengabadikan mahar yang di beri suaminya itu.
Setelah merapikan kamarnya, Nayya merebahkan tubuhnya itu di ranjang dan tidak lama dia tertidur mungkin kelelahan karena ritual akad yang dia jalani.
Sementara Risam yang di luar sedang bicara dengan papa Risam di goda oleh orang-orang, “Sudahlah. Jangan menggoda menantuku lagi. Ayo sana nak, lebih baik kau istirahatlah. Kalian masih harus melakukan resepsi pernikahan nanti malam.” Ucap papa Imran.
Risam pun menurut saja lalu dia segera pamitan kepada semua orang yang ada di sana dan masuk ke kamar istrinya. Begitu masuk dia tersenyum melihat istrinya yang tertidur di ranjang dan dia juga menyadari bahwa kamar istrinya itu telah rapi, “Sepertinya dia merapikan kamarnya ini.” ucap Risam tersenyum.
Risam mendekati istrinya dan mengambil remot AC untuk mematikan AC tersebut karena tidak ingin Nayya kedinginan. Setelah itu dia menyelimuti istrinya itu dengan selimut. Risam menuju sofa yang ada di kamar istrinya lalu dia berbaring di sana dan memenjamkan matanya untuk beristirahat. Tidak lama Risam pun tertidur.
Tepat waktu ashar, Risam terbangun dan tersenyum melihat Nayya masih tertidur. Dia pun bangun dari sofa dan menuju ranjang istrinya itu. Dia menatap wajah cantik dan mulus yang sedang memenjamkan matanya itu, “Dia sangat cantik saat tertidur.” Ucap Risam tersenyum.
__ADS_1
Risam memberanikan diri menyentuh pipi mulus istrinya itu hingga akhirnya Nayya pun terjaga dan membuka matanya. Nayya tersenyum melihat suaminya itu lalu dia mencoba bangun, Risam segera membantu istrinya itu bangun, “Maaf sudah membangunkanmu dek.” ucap Risam.
Nayya menggeleng, “Gak apa-apa mas. Nayya juga sepertinya sudah tertidur lama.” Ucap Nayya menatap jam dinding yang ada di kamarnya.
“Ahh sudah asar.” Ucap Nayya begitu melihat jam menunjukkan pukul berapa.
Nayya pun segera beranjak dari ranjangnya namun saya saat dia turun dari ranjangnya dia merasa sesuatu yang mengalir di selangkangannya dan perutnya terasa nyeri, “Ada apa dek? Apa perutmu sakit?” tanya Risam khawatir melihat istrinya itu memegangi perutnya.
Nayya menggeleng, “Emm, mas lebih baik sana mas wudhu dulu dan sholat lah ashar lebih dulu. Nayya akan menyusul nanti.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk saja dan segera menurut. Dia segera masuk ke kamar mandi istrinya itu dan mengambil wudhu. Sementara Nayya di luar segera mengambil ponselnya dan mengecek kalender, “Masih seminggu lagi kok. Tapi kenapa dia datang hari ini? Kenapa dia datang lebih cepat.” Gumam Nayya lalu mengusap wajahnya.
Tidak lama Risam keluar dari kamar mandi, “Beneran kamu gak apa-apa?” tanya Risam lagi.
“Beneran juga gak mau di tungguin untuk sholat bersama?” tanya Risam lagi memastikan.
Nayya menggeleng, “Bagaimana aku katakan mas bahwa aku lagi udzur. Aku takut kau kecewa mengetahuinya.” Batin Nayya.
Risam pun mengangguk tersenyum lalu dia segera bersiap melakukan sholat ashar sendiri walaupun dia ingin Nayya ikut sholat tapi sepertinya istrinya itu memiliki alasan sendiri menyuruhnya sholat lebih dulu. Sementara Nayya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Dek, kamu baik-baik aja kan di dalam? Mas sudah meminta teh hangat kepada mama untuk meredakan sakit perutmu.” Ucap Risam di depan pintu kamar mandi istrinya itu.
Nayya belum juga keluar dari kamar mandi padahal Risam saja sudah selesai melaksanakan sholat ashar. Bahkan dia juga sudah keluar meminta teh hangat untuk istrinya itu dan Nayya masih juga belum keluar.
__ADS_1
“Aku baik-baik aja mas. Jangan khawatir. Sebentar lagi selesai.” Ucap Nayya lalu membuka pintu kamar mandi itu sedikit.
“Mas, bisa keluar dulu gak dari kamar. Aku mau ganti pakaian.” Ucap Nayya malu.
“Apa mas harus keluar yaa? Mas kan suami kamu.” Ucap Risam mencoba bernegosiasi dengan istrinya itu.
“Nayya tahu mas. Tapi Nayya hanya memakai batrobe.” Ucap Nayya dari dalam kamar mandi dengan jujur.
“Sudah, gak apa-apa. Ayo keluar dek. Mas gak ingin kamu kedinginan di dalam. Tenang mas gak akan ngapa-ngapain kamu.” Ucap Risam.
Nayya pun menghela nafasnya lalu dia keluar dari kamar mandi itu dengan malu. Risam memandangi istrinya yang hanya memakai batrobe itu. Dia sudah menduganya bahwa kulit istrinya itu sangat mulus dan putih bersih tapi begitu melihatnya langsung seperti ini dia masih saja tidak menyangka, “Mas, jangan memandangi Nayya seperti itu.” ucap Nayya malu.
Risam pun segera tersadar, “Maaf dek. Kamu minum teh nya dulu untuk meredakan sakit perutmu. Mas gak mau kamu sakit.” Ucap Risam mengambilkan teh itu.
“Nayya gak apa-apa Mas. Sakit perut itu wajar untuk Nayya.” Ucap Nayya.
“Wajar gimana? Itu berbahaya dek.” ucap Risam.
Nayya tersenyum, “Wajar Mas. Nayya kedatangan tamu. Setiap bulan seperti itu.” ucap Nayya.
“Tamu? Siapa?” tanya Risam kebingungan dan melihat sekeliling kamar istrinya itu.
Nayya tersenyum melihat ekspresi suaminya itu dan dia menjadi semakin merasa bersalah melihat itu tapi dia bisa apa jika tamunya itu datang tanpa pemberitahuan sama sekali.
__ADS_1
“Nayya datang bulan mas.” Ucap Nayya lirih.