
Selepas Diaz pulang, Kini Zayya di sidang oleh keluarganya.
“Siapa dia? Kenapa dia mengaku mencintaimu begitu?” tanya Nayya sudah dari tadi menahan rasa penasarannya.
“Dia itu adalah dokter pembimbing kami kak.” Jawab Zayya singkat.
“Jawaban yang kau berikan tidak menjawab pertanyaan kami nak.” ucap mama Fara.
Zayya pun menghela nafasnya panjang, “Aku juga gak tahu harus memulai hal ini dari mana karena aku juga bingung dengan semua yang terjadi. Kami tidak memiliki hubungan selain hubungan dokter dan mahasiswi profesi. Itu saja hubungan kami. Zayya sendiri juga tidak tahu kenapa dia mengatakan mencintai Zayya. Orang Zayya juga baru tahu bahwa dia mencintai Zayya karena tadi saat dia memperkenalkan Zayya pada orang tuanya. Jadi Zayya bingung harus menjawab pertanyaan kalian ini dengan apa karena hubungan kami itu masih abu-abu.” Ucap Zayya memandang seluruh keluarganya itu.
“Ya sudah begini saja. Kami tidak ingin mendengar penjelasan hubungan kalian. Tapi coba katakan bagaimana perasaanmu padanya? Apa kau menyukainya?” tanya Nayya.
Zayya yang mendengar pertanyaan kakaknya pun menjadi diam. Jujur saja pertanyaan ini lah yang membuatnya takut karena dia sendiri juga masih bingung dengan perasaannya, “Aku bingung kak. Di sisi lain aku ingin menjauh darinya tapi di sisi lain juga aku ingin kami dekat. Aku nyaman bekerja dengannya.” jawab Zayya yang sudah bisa mewakili jawabannya.
“Hum, baiklah jika memang begitu. Kami mengerti nak. Kalau begitu kalian bicaralah dulu dan yakinkan hatimu.” Ucap papa Imran mengelus kepala putrinya itu.
“Baik pah.” Ujar Zayya.
“Dek, lalu bagaimana dengan orang tuanya? Apa mereka tidak keberatan denganmu?” tanya Nayya.
“A-aku juga masih tidak mengerti dengan hal ini kak. Aku sungguh bingung dengan apa yang terjadi. Kami pernah di fitnah dan menjadi cerita yang hangat di rumah sakit.” Ucap Zayya.
“Di fitnah bagaimana?” tanya Papa Imran kaget.
Zayya pun menatap papanya itu. Inilah yang paling dia benci yaitu saat dia di tatap dengan tatapan seperti seorang terdakwa, “Jelaskan saja nak kepada kami. Kenapa kau harus menyembunyikannya dari kami.” ujar mama Fara lembut.
Zayya pun mengangguk, “Baiklah. Ada saat hari pertama aku masuk aku hampir saja terlambat kan datangnya. Saat itu dia adalah dokter pembimbingnya. Dia terkenal sangat disiplin tapi untunglah aku tidak di hukum untuk hari pertamaku itu. Namun ternyata hal itu menjadi boomerang bagiku. Hubungan kami sangat dekat tapi bukan dalam artian dalam tanda kutip saling mencintai. Kami hanya saling berdiskusi tentang resep dan obat. Tapi kedekatan kami itu menjadi semakin panas dan beredar bahwa aku mendekati dokter Diaz karena kami punya hubungan. Banyak fitnah yang beredar tentang hubungan kami. Aku awalnya membiarkannya saja tapi mengurangi berhubungan dan bertemu dengan dokter Diaz. Namun suatu hari tepatnya sebulan lalu kami di kurung dalam satu ruangan dan di fitnah kami melakukan sesuatu di sana berdua dan lebih sialnya lagi CCTV yang ada di ruangan itu mati sehingga semakin memperkuat dugaan mereka bahwa kami memang melakukan sesuatu dalam ruangan itu padahal kami tidak melakukan apapun di dalam sana. Kami sudah menjelaskannya tapi seperti biasa orang-orang itu tidak percaya sama sekali tanpa bukti yang bisa membuktikan bahwa kami tidak bersalah. Sejak saat itu aku memutuskan untuk menjauh darinya. Aku sudah muak dengan fitnah yang terjadi pada kami. Aku menjauhinya dan dokter pembimbing kami pun di ganti dengan dokter Cyra.” Jelas Zayya.
“Kenapa gak cerita kepada kami tentang ini? Apa kau sudah merasa dewasa hingga sudah berani menyembunyikan hal sebesar ini pada kami?” tanya Nayya menatap adiknya itu.
“Bukan begitu kak. Aku hanya tidak mau kalian terbebani dengan masalahku. Selain itu juga aku ingin belajar menyelesaikan masalahku sendiri tanpa bantuan kalian.” ucap Zayya menatap kakaknya itu yang selalu saja mengkhawatirkannya.
“Tetap saja kau cerita. Jadi alasan kau sedih beberapa bulan terakhir ini karena masalah ini. Kau tidak lagi datang ke rumah kakak sekedar menyapa juga karena masalah ini kan? Kau tega dek menyembunyikannya dari kami.” ujar Nayya.
“Sayang, sudah. Zayya tidak salah. Dia hanya ingin belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu. Dia sudah hebat bisa melalui ini semua tanpa bantuan kita.” Ucap Risam menenangkan istrinya itu.
“Lalu apa masalah ini sudah selesai nak?” tanya mama Fara.
Zayya menggeleng, “Aku sudah mencari beberapa petunjuk dan menemukan bahwa yang mengurung kami di ruangan itu adalah teman satu profesiku. Tapi untuk alasan mereka mengurung kami di sana sampai saat ini aku belum tahu mah. Namun tadi orang tuanya mengatakan sesuatu yang membuatku curiga. Sepertinya apa yang terjadi pada kami adalah bagian rencana dari orang tuanya. Tapi aku gak tahu. Dia masih akan mencari tahu.” Jawab Zayya.
Mama Fara pun mengangguk, “Baiklah. Jika begitu. Untuk hari ini kita sudah di sini saja. Kamu sana ayo istirahat dan bersih-bersih.” Ujar mama Fara.
Zayya pun mengangguk lalu dia berdiri tapi sebelum dia pergi dia menatap Nayya yang tidak menatapnya sama sekali. Sepertinya kakaknya itu kecewa padanya. Dia akan meminta maaf nanti.
“Mah, pah, kami pulang.” Ucap Nayya berdiri.
“Tidak menginap saja nak?” tanya mama Fara.
“Gak mah. Kami pulang saja. Ayo mas.” Jawab Nayya lalu dia segera menggendong putrinya sementara sang suami menggendong dua putri mereka di kedua tangannya. Mereka pun segera pamit pulang ke kediaman mereka sendiri.
Mama Fara dan papa Imran yang bisa menatap kepergian putri sulung mereka itu, “Dia kecewa pah.” Ucap Mama Fara.
Papa Imran pun mengangguk, “Dia kecewa pada dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjaga adiknya padahal itu di luar kuasanya juga. Putri sulung kita itu walaupun sudah menikah tetap saja dia memikirkan dan merasa bertanggung jawab untuk apa yang terjadi pada adik-adiknya.” Ucap papa Imran.
“Semoga saja dia tidak akan marah terlalu lama. Aku juga yakin Zayya tidak berniat untuk membuat kakaknya kecewa. Dia hanya ingin mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.” Ucap mama Fara.
“Papa yakin dia akan memaafkan adiknya itu. Mereka akan baikan nanti setelah rasa kecewanya itu hilang. Dia hanya sedang kecewa saja.” ucap Papa Imran.
__ADS_1
“Yah aku juga harap begitu. Aku tidak ingin anak-anakku saling diam-diaman begini.” Ujar mama Fara lalu mereka pun segera masuk kembali ke dalam rumah mereka itu.
Sementara di sisi Nayya dan Risam kini mereka sudah tiba di kediaman mereka yang memang hanya berjarak kurang lebih 300 meter saja dari rumah mama Fara dan papa Imran.
Mereka segera meletakkan triplets di ranjang kamar mereka itu. Nayya segera menuju kamar mandi sementara Risam dia hanya menatap istrinya itu. Dia tahu saat istrinya itu sedang sedih. Suasana hatinya buruk.
Risam pun memikirkan cara untuk membujuk istrinya itu lalu dia tersenyum. Nayya keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat suaminya yang seolah ingin mengagetkannya tapi sepertinya tidak tega.
“Apa mas ingin membujukku untuk tidak sedih lagi?” tanya Nayya.
Risam pun tersenyum lalu memeluk istrinya itu dari belakang, “Kamu gak boleh sedih sayang. Istri mas gak boleh sedih sama sekali. Dia harus bahagia. Mas juga sedih melihatmu sedih begitu triplets. Mereka juga akan sedih nanti karena bunda mereka sedih.” Ucap Risam.
“Mas aku sedih, kenapa aku tidak bisa mengerti dengan cepat bahwa adikku itu memiliki masalah. Aku kecewa dengan diriku sendiri karena aku menjadi lemah begini. Aku tahu ini di luar kuasaku hanya saja kenapa dia harus menyembunyikan ini dariku. Aku adalah kakaknya kan. Sejak dulu mereka selalu mengandalkan diriku jika ada masalah. Selalu cerita padaku. Tapi kini aku merasa bahwa aku semakin jauh dari adikku saja.” ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu memutar tubuh istrinya itu agar menghadapnya dan kembali dia peluk. Risam tidak bicara apapun dan hanya memeluk istrinya itu. Dia tahu istrinya itu hanya sedang kecewa dengan dirinya saja. Dia tidak ingin berkomentar banyak. Dia bisa mengerti istrinya itu adalah putri pertama di keluarganya yang pastinya merasa memiliki tanggung jawab untuk adik-adiknya sehingga dia pasti sangat kecewa dengan dirinya sendiri jika adiknya memiliki masalah. Padahal ini bukan salahnya sama sekali. Namun tetap saja perasaan menjaga dan tanggung jawab di hatinya itu yang sudah terbiasa sejak dulu melindungi adik-adiknya itu lah yang membuat kekecewaan dalam dirinya.
“Mas, apa aku kurang perhatian padanya sehingga dia menyembunyikan ini. Aku masih bisa terima jika dia menyembunyikan ini dariku. Tapi dia menyembunyikan hal ini juga dari mama dan papa. Apa dia sudah merasa dewasa.” Ucap Nayya dalam pelukan suaminya itu.
“Dia tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini dari kita sayang. Hanya saja dia ingin belajar bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Dia ingin menyelesaikannya masalahnya sendiri. Ini bukan terkait kau kurang perhatian lagi padanya atau tidak. Tapi ini memang keputusannya yang ingin bertanggung jawab pada dirinya. Tidak ingin membebani kalian lagi. Yah, walaupun masalahnya belum menemukan titik terang. Setidaknya dia sudah mencoba dan yang harus kita lakukan saat ini adalah berusaha mengerti dia dan mendukungnya untuk menyelesaikan masalah sendiri.” Ucap Risam menatap mata istrinya itu lembut.
“Jadi apa aku harus percaya padanya bahwa dia bisa menyelesaikan ini sendiri?” tanya Nayya.
Risam mengangguk, “Kita bukan tidak ingin membantunya. Hanya saja membiarkannya menyelesaikan masalah sendiri. Kau tidak selamanya bisa menjaga mereka sayang. Jadi cobalah percaya padanya.” ucap Risam.
“Aku takut dia terluka mas.” Ucap Nayya masih saja khawatir.
“Buktinya dia tidak terluka kan. Dia sudah tahu mana yang berbahaya untuk dia lakukan atau tidak. Selain itu ada dokter itu yang akan melindunginya. Kamu harus percaya padanya. Aku yakin dokter itu memang mencintainya dengan tulus. Begitu juga Zayya aku bisa melihat dia mencintai dokter itu. Mereka akan saling menjaga satu sama lain sayang.” ucap Risam mencoba memberi pengertian pada istrinya itu.
Nayya pun terdiam mencoba mengerti ucapan suaminya. Nayya pun kembali memeluk suaminya itu, “Baiklah. Aku akan percaya padanya bahwa dia bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Maafkan aku yang membuatmu ikutan khawatir mas. Maaf.” Ucap Nayya.
“Mas, untuk itu jangan pernah menyembunyikan apapun dariku. Baik buruk kita harus membicarakannya dan menyelesaikannya bersama. Aku tidak ingin kita saling menyembunyikan apapun satu sama lain.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk, “Mas janji sayang.” ucap Risam.
***
Sementara di sisi Diaz, kini dia baru saja tiba di kediaman Cyra. Dia ingin segera tahu semua yang terjadi. Dia tidak ingin menundanya sampai besok. Dia sudah sangat penasaran dengan semuanya. Dia tidak bisa menunggu lagi.
Diaz pun segera mengucapkan salam dan ART kakak sepupunya itu segera mempersilahkannya masuk, “Kak Cyra ada bi?” tanya Diaz.
“Iya tuan ada. Silahkan masuk.” Ucap ART itu.
Diaz pun segera masuk dan menuju ruang keluarga di mana di sana kakaknya sedang duduk bersama suaminya, “Kamu sudah datang?” sambut Cyra tanpa ada rasa kaget sedikit pun di wajahnya itu.
Diaz mengangguk lalu segera duduk di hadapan Cyra dan suaminya itu, “Kalian bicaralah. Aku ke kamar dulu.” Ucap suaminya Cyra segera berlalu pergi memberikan waktu untuk istri dan sepupunya itu bicara.
“Bi, tolong buatkan minum un--”
“Tidak perlu kak. Aku datang kesini bukan untuk minum. Aku ingin menanyakan hal yang sudah menjadi masalah bagiku. Kau pasti sudah tahu tujuanku datang.” potong Diaz.
Cyra pun menatap Diaz itu dengan tersenyum, “Sabar adik. Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi kau adalah tamu di rumahku. Aku sebagai tuan rumah hanya ingin menyambutmu dengan baik. Kau tahu apa maksudku bukan.” Ucap Cyra kembali meminta pelayannya untuk membuatkan minum kepada Diaz yang dia tahu sedang emosi itu.
“Sekarang tanyakan apa yang ingin kau tanyakan.” Ucap Cyra.
“Kau sudah tahu dengan pasti apa yang ingin aku tanyakan kak. Jangan berpura-pura lagi. Aku muak dengan semuanya. Kenapa kalian mempermainkan aku begini. Kau berlagak pahlawan di depanku tapi ternyata semua ini adalah rencana kalian.” ucap Diaz.
Cyra yang mendengar ucapan Diaz pun terkekeh, “Wah, sepertinya kau sudah menganalisanya dengan baik. Yah, memang benar apa yang terjadi padamu dan Zayya adalah bagian dari rencana kami. Aku yang meminta teman-teman Zayya untuk mengunci kalian di ruangan itu dengan tujuan untuk melihat perasaan kalian masing-masing. Apa kau pikir aku tidak muak mendengar adikku menjadi bahan cerita di rumah sakit karena kedekatan kalian berdua. Aku dan mami Kartika pun merencanakan ini untuk melihat perasaan kalian.” ucap Cyra.
__ADS_1
“Jangan mengatakan sesuatu yang seolah-olah kau tidak bersalah kak.” Ucap Diaz masih saja emosi. Bagaimana tidak dia yang sudah sangat sedih karena Zayya menghindarinya. Tapi ternyata itu adalah rencana keluarganya.
“Aku akui aku salah melakukan ini tapi tidakkah kau merasa bahwa yang aku lakukan itu benar. Kau menjadi menyadari perasaanmu bukan. Kau jadi mengerti bahwa Zayya sangat berarti untukmu. Kau mengerti bahwa dia adalah gadis yang cocok untuk jadi calon istrimu. Itu adalah tujuan kami melakukan ini. Kalian menyadari perasaan kalian.” ucap Cyra.
“Apa yang kami lakukan mungkin terlihat keterlaluan untuk kalian. Kami mencoba menggiring opini yang semakin besar terhadap kalian agar Zayya memilih menjauh darimu dan kalian pun bisa menyadari perasaan kalian. Syukurlah Zayya melakukan apa yang sudah menjadi dugaan kami. Dia menjauhimu dan selalu menghindarimu hingga membuatmu uring-uringan.” Sambung Cyra.
“Jadi CCTV mati itu kalian juga yang melakukannya?” tanya Diaz walaupun sudah tahu jawabannya.
“Apa menurutmu CCTV bisa mati sendiri?” tanya Cyra balik dengan tersenyum.
Diaz pun mendesis karena merasa sangat di bodohi oleh keluarganya sendiri. Kenapa dia tidak bisa mengerti hal ini dengan baik.
“Jangan katakan juga kebocoran ban sepeda motor Zayya hari ini juga ulahmu kak?” ujar Diaz.
Cyra pun tertawa, “Menurutmu bagaimana?” tanya Cyra kembali.
“Ck, sialan. Kau membodohiku berkali-kali kak. Aku menjadi sangat bodoh. Mami dan papi apakah bagian dari rencana ini juga?” tanya Diaz lagi.
“Hey, aku ini hanya menjalankan perintah dari mereka. Salahmu sendiri juga gak mau menikah dan menolak gadis yang ingin mereka kenalkan padamu bahkan tanpa melihat foto mereka sekalipun. Kau tahu sendiri bibi dan paman sangat ingin memeluk cucu. Mereka iri padaku yang sebentar lagi akan melahirkan anak ketigaku padahal kita hanya berbeda beberapa tahun saja. Jadi wajar mereka melakukan drama ini.” jelas Cyra tanpa rasa bersalah.
“Tapi kalian menipuku kak.” Ucap Diaz masih tidak bisa terima dengan apa yang sudah terjadi.
“Tidak masalah kau menganggap kami menipumu tapi yang terpenting rencana yang kami lakukan berhasil. Kau sudah menemukan calon istri impianmu.” Ujar Cyra tertawa.
“Jangan tertawa kak. Aku masih kesal dengan apa yang kalian lakukan padaku. Walaupun apa yang kalian lakukan padaku untuk kebaikanku tapi tetap saja kalian keterlaluan padaku. Aku benci ini.” ujar Diaz.
“Sudahlah. Gak masalah kau membenci kami. Ohiya bagaimana dengan pertemuanmu dengan orang tuanya?” tanya Cyra mengalihkan pembicaraan.
“Dia menolakku.” Ucap Diaz singkat.
“Siapa yang menolakmu? Zayya atau keluarganya?” tanya Cyra.
“Tentu saja Zayya sedangkan keluarganya menyerahkan semua keputusan pada Zayya. Jika dia setuju maka semuanya akan berjalan baik.” ujar Diaz.
“Berarti kau jelaskan saja apa yang terjadi pada Zayya. Jika kau butuh bantuanku maka aku siap membantumu menjelaskannya. Aku juga akan meminta maaf padanya karena sudah melakukan hal ini.” ucap Cyra.
“Yah, kau memang harus minta maaf padanya. Kau sudah keterlaluan kak. Walau bagaimanapun yang kalian lakukan tidak bisa aku benarkan dari segi apapun. Dia lah yang paling malu dalam hal ini.” ucap Diaz.
Cyra pun mengangguk, “Aku tahu. Aku akan meminta maaf padanya.” ucap Cyra.
“Semoga saja dia tidak memaafkanmu kak.” Ucap Diaz masih saja kesal.
Cyra pun tertawa, “Jika dia tidak memaafkanku maka aku pun akan mengutukmu untuk menjadi bujang lapuk.” Ucap Cyra bercanda.
Diaz pun hanya menatap Cyra sinis, “Hum, kak jadi apa mami dan papi setuju aku dan dia?” tanya Diaz.
Cyra pun tersenyum, “Menurutmu bagaimana?” tanya Cyra balik.
“Huft, jangan bertanya balik kak. Aku bertanya padamu.” Ucap Diaz kesal.
“Baiklah. Tentu saja mereka setuju. Mereka bahkan sudah merencanakan untuk melamar Zayya secepatnya. Sudah ku katakan bahwa aku hanya menjalankan rencana mami dan papimu. Mereka sendiri yang sudah memilih Zayya untuk jadi istrimu. Kau ingat saat mereka datang ke rumah sakit setelah sebulan Zayya praktik di sana. Saat itulah mereka melihat Zayya dan melihat kedekatan kalian. Sejak saat itu juga mereka sudah memilih Zayya jadi kandidat calon menantu mereka.” ucap Cyra.
“Jadi sejak saat itu? Kenapa aku tidak menyadarinya?” gumam Diaz lirih.
“Bagaimana kau menyadarinya. Fokusmu hanya ada pada Zayya saja. Aku saja sebagai kakakmu sedikit iri dengan kedekatan kalian.” ucap Cyra.
“Sudahlah. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Aku senang kau sudah menemukan orang yang kau cintai. Selamat berbahagia. Segera jemput kebahagiaanmu itu sebelum dia pergi darimu.” Ucap Cyra lalu segera berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Diaz sendiri di sana. Tidak lama Diaz pun segera pulang setelah mengerti semuanya.
__ADS_1