
“Nay, dalam halusinasiku pun kau ingin aku melupakanmu?”
Risam yang bersama papa Riyad untuk melihat keadaan Afnan terhenti mendengar kalimat yang keluar dari mulut Afnan itu. Nayya yang menyadari kedatangan sang suami menatap suaminya itu dengan tatapan bersalah. Risam tersenyum lalu menggeleng seolah mengatakan dia tidak kenapa-kenapa.
Sementara papi Riyad, mami Rana dan Ivana hanya bisa terdiam juga. Mereka merasa bersalah kepada suami Nayya itu, “Maaf nak.” ucap papi Riyad.
Risam tersenyum, “Gak apa-apa om. Dia sedang tidak sadar saja.” ucap Risam.
“Nay! Kau bukan halusinasiku? Kau memang bener ada di sini?” tanya Afnan mulai sadar.
Nayya tidak bergeming dengan pertanyaan Afnan itu dan tetap menatap sang suami yang berdiri tidak jauh darinya. Ingin rasanya Nayya lari dan bersembunyi dalam pelukan suaminya itu dari pada harus terjebak dalam permasalahan seperti ini. Dia menjadi orang yang serba salah, “Kak, jangan terlalu banyak bicara dan berpikir. Kau baru sadar. Lebih baik kau makan dulu bubur buatan mami.” ucap Ivana lalu mengambil bubur buatan di tangan maminya itu.
Afnan menggeleng, “Aku tidak akan makan sebelum kalian menjawab pertanyaanku. Apa aku benar melihat Nayya di sini atau itu adalah halusinasiku?” ucap Afnan meneteskan air matanya.
“Aku ada di sini. Kau tidak sedang berhalusinasi. Aku ada di sini. Jadi sekarang kau makanlah bubur itu.” ucap Nayya tanpa menatap Afnan.
__ADS_1
Afnan yang mendengar suara Nayya pun tersenyum, “Kau datang Nay. Suamimu orang baik Nay. Dia bahkan mengizinkanmu untuk merawat pria yang dia tahu menginginkan istrinya. Aku memang sudah kalah benar-benar kalah.” Ucap Afnan tertawa menertawakan dirinya sendiri.
“Kak, ayo makan!” ucap Ivana.
Afnan menggeleng, “Untuk apa aku makan adikku. Aku harus hidup untuk siapa? Aku ingin pergi saja.”
Nayya segera berbalik, “Apa kau bodoh? Kenapa kau ingin mati hanya karena kehilangan satu gadis saja. Apa menurutmu gadis di dunia ini hanya satu. Kenapa kau ingin pergi. Kenapa tidak bangkit untuk menemukan gadis yang lebih baik dan justru membunuh dirimu dengan alkohol-alkohol itu. Apa yang ingin aku buktikan dengan itu? Apa dengan itu kau bisa melupakan semua rasa sakitmu atau kau ingin membuktikan bahwa kau laki-laki hebat yang bisa minum semua jenis alkohol atau juga kau ingin membuktikan bahwa kau mampu membeli alkohol-alkohol mahal itu dengan uangmu. Apa yang ingin kau buktikan dengan melakukan ini. Kenapa kau berlarut dalam kesedihanmu. Kenapa tidak kau buktikan bahwa kau layak mendapatkan yang lebih baik lagi yang lebih segalanya dariku. Kita tidak di takdirkan untuk bersama tapi takdirmu tetap masih berjalan. Kenapa kau ingin mengakhiri takdirmu sendiri hanya karena aku. Apa menurutmu aku gadis yang pantas mendapatkan kesedihanmu itu. Apa yang kau inginkan? Aku menyayangimu Afnan sebagai seorang teman. Apa kau pikir aku tidak sedih melihatmu begini. Apa kau tidak memikirkan mami Rana dan papi Riyad yang sedih melihatmu terpuruk. Apa kau tidak sedih melihat adikmu yang khawatir melihatmu? Kenapa kau ingin pergi meninggalkan mereka yang mencintaimu. Jika memang kau masih ingin pergi, pergi saja sejauh mungkin tapi jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu. Jujur saja aku muak dengan apa yang kau lakukan ini tapi aku akan lebih muak lagi jika melihatmu atau mendengarmu ingin bunuh diri. Jangan bodoh. Pakai otakmu itu untuk berpikir.” Ucap Nayya kesal.
“Nay, maafkan aku.” Ucap Afnan setelah menyadari kesalahannya.
“Kenapa meminta maaf padaku. Minta maaflah pada keluargamu dan satu lagi jangan pernah menyebut namaku jika kau masih berniat bunuh diri dengan tumpukkan alkohol itu. Jika kali ini aku datang sebagai perawat yang melakukan tugasnya maka lain kali aku akan datang sebagai perantara malaikat maut. Aku akan mewujudkan keinginanmu untuk pergi dari dunia ini.” ucap Nayya lalu dia segera mendekati suaminya dan memeluk suaminya itu erat.
Risam tersenyum, “Gak apa-apa sayang. Kau hebat!” ucap Risam.
“Nay, aku mohon izinkan aku bicara dengan suamimu.” Pinta Afnan kemudian.
__ADS_1
Nayya dan Risam saling berpandangan, “Apa yang ingin kau bicarakan. Bicara saja di hadapan kami.” Ucap Nayya tegas.
“Nay, please!” mohon Afnan.
Nayya pun menatap suaminya itu dan Risam mengangguk tersenyum tanda bahwa dia bersedia untuk bicara dengan Afnan, “Baiklah. Kalian bisa bicara tapi nanti. Habiskan dulu bubur itu.” ucap Nayya menunjuk bubur yang di pegang oleh Ivana.
“Aku akan memakannya nanti.” Ucap Afnan.
“Terserah padamu saja.” ucap Nayya. Setelah itu kini di kamar Afnan itu tinggallah Risam dan Afnan saja berdua.
Afnan tersenyum di balik wajah pucatnya itu, “Emm,, maafkan aku! Maafkan aku yang sudah merepotkan kalian. Kau dan Nayya rela-rela datang ke sini malam begini hanya demi pecundang bodoh sepertiku. Aku akui aku telah kalah darimu. Aku janji akan melupakan Nayya dan melepaskan dia untuk kebahagiaannya. Aku bisa melihat raut bahagia itu di matanya. Aku memang tidak pantas mengatakan ini karena bagaimanapun aku adalah pihak ketiga di antara kalian. Tapi apa yang di katakan Nayya tadi benar. Aku memang bodoh. Aku lupa bahwa masih ada yang menyayangiku dengan sepenuh hati. Aku memang berpikiran pendek ingin mengakhiri hidupku dengan alkohol-alkohol itu padahal ada seorang gadis yang sudah melarangku melakukan itu. Terima kasih sudah mengizinkan dia datang ke sini.” ucap Afnan.
Risam tersenyum, “Aku tidak mengizinkan dia datang ke sini karena kau tapi karena mamimu yang khawatir padamu. Aku adalah suami dan pria normal yang akan cemburu jika istrinya dekat dengan pria lain apalagi jika pria itu adalah pria yang pernah di cintai istriku. Aku ingin egois sebagai suami tapi setelah ku pikir, aku harus percaya kepada istriku. Aku akui kau pria hebat yang mencintai seorang gadis dengan begitu dalamnya. Tapi aku juga tidak membenarkan apa yang kau lakukan ini. Aku tebak pasti gadis yang melarangmu minum alkohol adalah Nayya. Jujur saja aku cemburu dengan hal itu namun aku tidak bisa melarangmu untuk melupakan Nayya. Aku hanya minta gantilah dia dengan gadis lain. Aku adalah suaminya.” Ucap Risam.
“Maafkan aku. Aku akan mencoba melupakannya. Semoga saja bisa tapi satu hal yang ku jamin. Aku tidak akan merepotkan kalian lagi dan juga keluargaku. Aku tidak akan membuat orang-orang khawatir.” Ucap Afnan.
__ADS_1
“Yah, kau harus melanjutkan hidupmu. Kita di takdirkan untuk menjadi rival cinta untuk saat ini tapi siapa yang tahu jika suatu saat nanti kita akan menjadi kawan sejati. Sama seperti istriku yang ingin kau melanjutkan hidupmu maka aku pun ingin kau melanjutkan hidupmu. Hidup kita masih panjang. Aku yakin kau akan menemukan seorang gadis yang bisa membuatmu bahagia.” Ucap Risam.
Afnan pun mengangguk, “Tapi aku hanya ingin gadis itu adalah Nayya. Maaf jika aku masih egois.” Batin Afnan menatap Risam.