Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
30


__ADS_3

Risam memandang Freya dengan tatapan terpesona seperti dugaan kedua adik Nayya. Rayya dan Zayya yang menyadari tatapan Risam kepada kakak mereka saling menatap satu sama lain lalu tersenyum karena dugaan mereka benar.


Nayya pun akhirnya sampai di tempat di mana kedua orang tuanya berada sedang duduk berhadapan dengan keluarga mempelai pria. Nayya segera duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya dan kini dia dan Risam saling menatap satu sama lain walau dengan cepat salah satu di antara mereka memutus pandangan.


“Kami tahu nak. Calon menantu kami itu sangat cantik tapi tetap saja berkediplah.” Goda papi Lutfi berbisik. Risam yang mendengar bisikan papinya itu tersenyum.


Tidak lama acara inti pun di mulai, Risam segera berdiri dari tempat duduknya dan kini dia sedang memegang microphone di tangannya, “Bismillahirrahmanirrahim, Saya Abrisam Fauzi El Amin seorang laki-laki biasa yang memberanikan diri untuk melamarmu wahai wanita yang sudah membuat saya tertarik dan kagum saat pertemuan pertama. Gadis dengan segala kelebihan dan kesuksesan yang dia miliki, laki-laki biasa ini berharap dengan segala kerendahan hatimu agar bisa di terima menjadi suamimu dan kita bisa membina rumah tangga bersama. Nayyara Apriliani Al Ayaan gadis cantik secantik namanya bersediakah dirimu menemani laki-laki biasa ini untuk bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga dengan segala tanggung jawabnya. Bersediakah dirimu menjadi pelengkap dari setengah agamaku?” ucap Risam tersenyum.


Nayya pun tersenyum menatap calon suaminya itu, “Bismillahirmanirrahim, saya Nayyara Apriliani Al Ayaan bersedia menemani dirimu dan menyempurnakan setengah agama kita bersama-sama wahai pria yang sudah memberanikan diri datang ke rumah meminta kepada papa dan mama. Saya Nayyara Apriliani Al Ayaan dengan segala rahmat yang Allah berikan kepada kita dan dengan restu kedua orang tua kita dan keluarga serta di saksikan oleh semua orang sekali lagi bersedia menerimamu wahai pria hebat yang bernama Abrisam Fauzi Al Ayaan.” Ucap Nayya lembut.


Semua orang pun mengucapkan hamdallah atas penerimaan Nayya itu begitu juga dengan seluruh keluarga mempelai pria termasuk Risam sendiri. Mereka memang sudah datang sebelumnya dan sudah memastikan semuanya tapi tetap saja hati manusia bisa berubah dan tidak bisa di tebak. Bisa saja yang hari ini sudah setuju besok bisa saja berubah tapi syukurlah semua tetap berjalan lancar sesuai rencana sebelumnya.


Setelah acara itu segera di lanjutkan dengan bertukar cincin dengan mami Vega yang memasangkan cincin kepada Nayya dan mama Fara yang memasangkan cincin kepada Risam. Setelah itu acara di lanjutkan dengan foto bersama keluarga dan tamu undangan yang hadir. Semua orang mengucapkan selamat kepada Nayya dan Risam yang tinggal menghitung hari yakni dua minggu akan mengadakan pernikahan.

__ADS_1


Sebenarnya semua orang apalagi para tetangga tidak menyangka bahwa Nayya akan menikah dengan Risam seorang pria dari Desa sebelah yang bahkan tak pernah mereka dengar memiliki hubungan dengan Nayya sama sekali karena yang mereka ketahui bahwa Nayya itu dekat dengan Afnan dan di gosipkan memiliki hubungan tapi sepertinya memang bukan jodohnya.


Nayya dan Risam sedang duduk di pelaminan yang memang sudah di sediakan. Mereka duduk di pelaminan dengan jarak sekitar sepuluh sentimeter. Adiba yang melihat Risam dan Nayya tinggal berdua sudah tidak ada lagi yang mengantri untuk mengucapkan selamat dia pun memutuskan untuk mendekati adiknya dan calon adik iparnya itu yang akan di resmikan dua minggu lagi, “Hey, apa yang kalian bicarakan?” tanya Adiba pura-pura tidak tahu padahal dia sudah melihat bahwa Risam dan Nayya tidak bicara apapun hanya saling diam-diaman.


Nayya pun menatap Adiba dengan tersenyum, “Kami gak bicara apapun kak. Jangan berpura-pura gak tahu.” Ujar Nayya.


Adiba yang mendengar ucapan Nayya pun tersenyum, “Wah, adik ipar kau memang hebat bisa membaca situasinya dengan baik. Kau memang tidak perlu di ragukan lagi.” Ucap Adiba.


“Aku bukan bisa membaca situasi atau apapun itu dengan baik tapi ekspresi kakak menunjukkan semuanya dan aku yakin bukan hanya aku saja yang bisa tahu tapi semua orang pun tahu jika kakak menunjukkan ekspresi seperti itu. Lagian kami juga jelas terlihat sedang tidak bicara satu sama lain dan tiba-tiba muncul pertanyaan seperti itu sudah pasti hal ini meragukan.” Ujar Nayya tersenyum.


Nayya pun tersenyum, “Terima kasih atas semuanya kakak ipar.” Ujar Nayya. Adiba tersenyum mendengar panggilan kakak ipar yang keluar dari mulut Nayya itu.


“Yah, aku menyukai panggilan itu. Kau harus memanggilku begitu mulai sekarang adik ipar.” Ucap Adiba.

__ADS_1


Risam yang mendengar apa yang di bicarakan oleh kakaknya dan calon istrinya itu tersenyum, “Kak, apa kau hanya ingin mengucapkan selamat kepada calon istriku saja dan kepadamu tidak?” ujar Risam pura-pura sedih.


Adiba yang mendengar perkataan adiknya pun tersenyum lalu segera menatap adiknya itu lalu kembali menatap Nayya, “Siapa dia adik ipar? Kok kakak gak mengenalnya?” ucap Adiba menggoda adiknya itu. Risam yang mendengar itu pun hanya bisa tersenyum karena dia tahu kakaknya itu hanya bercanda dan itu semua hanya bagian dari lelucon saja.


“Nayya juga gak kenal kakak ipar. Nayya juga baru melihat orang itu.” ucap Nayya tersenyum ikut mengoda calon suaminya itu.


Adiba yang mendengar ucapan Nayya pun tertawa melihat wajah cemberut Risam. Adiba setelah puas tertawa segera memeluk adiknya itu, “Selamat untukmu dek. Kakak selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jaga dengan baik Nayya.” Ucap Adiba lalu segera melepas pelukannya dari adiknya itu.


Risam mengangguk mendengar ucapan kakaknya itu, “Tanpa kau minta pun aku akan menjaganya dengan baik kak. Dia akan menjadi istriku nanti dan ibu dari anak-anakku. Aku memilihnya sendiri jadi sudah pasti aku akan mencintai dan menyayanginya dengan baik.” ucap Risam.


Adiba pun mengangguk lalu setelah itu dia segera turun dari pelaminan meninggalkan Nayya dan Risam berdua karena dia tahu Nayya dan Risam pasti butuh waktu untuk bicara.


Nayya yang mendengar ucapan Risam kepada Adiba sudah tentu saja terharu dengan perkataan itu. Siapa coba yang gak akan senang dan bahagia jika di cintai dan di sayangi dengan sebegitu rupanya oleh calon suami kita.

__ADS_1


Risam yang memandang ke arah tanagn Nayya yang memang sudah dia tahu memakai pemberiannya itu, “Terima kasih sudah memakainya.” Ucap Risam tersenyum. Dia sangat bahagia karena calon istrinya itu menyukai dan memakai barang pemberiannya yang dia pilih sendiri.


__ADS_2