
“Jadi nak, jika kamu menikah dengan Ariq yang seorang polisi. Kamu tidak boleh merasa lebih tinggi dari kakakmu. Walaupun Risam tidak bergelar tapi dia adalah suami yang baik. Dia juga suami kakak kalian yang berarti kalian patut menghormatinya.” Lanjut mama Fara.
“Mama tahu mungkin Risam terlihat baik-baik saja di depan kita. Namun pasti hati kecilnya merasa minder jika nanti dia akan di bandingkan dengan Ariq yang mungkin jadi calon suamimu. Mama menerima dan setuju dengan siapapun kalian menikah yang penting pria itu baik dan menyayangi kalian. Namun satu hal yang mama minta jangan pernah kalian saling membedakan satu sama lain hanya karena gelar.” Ucap mama Fara kemudian.
Rayya dan Zayya mengangguk, “Aku tahu mah. Aku janji walaupun nanti aku berjodoh dengan kak Ariq. Kami janji akan tetap menghormati kakak ipar dengan baik.” ucap Rayya.
Mama Fara tersenyum lalu mengangguk, “Itu baru putri mama. Mama sama papa menyayangi kalian sama rata. Yah, walaupun mungkin orang lihat dan kalian lihat kami lebih sayang Nayya. Tapi itu tidak benar. Kami menyayangi anak kami dengan sama rata. Tapi kenapa kami lebih terlihat condong kepada Nayya. Kalian sendiri tahu alasannya. Dia adalah modal kami. Dialah yang memikul tanggung jawab paling besar sebagai anak pertama yang harus jadi panutan untuk kalian adik-adiknya. Apakah kalian pernah melihat kakak kalian menangis di hadapan kalian?” tanya mama Fara. Zayya dan Rayya dengan kompak menggeleng.
“Yah itu karena dia menyembunyikan tangisannya di balik senyumnya yang sering kita lihat. Dia menyembunyikan kesedihannya sendiri. Mama sama papa juga sama tidak pernah melihat tangisannya. Dia tidak pernah menangis tapi kami tahu bahwa dia sering menangis sendirian. Alasan dia tidak menangis di hadapan kita hanya satu yaitu dia tidak ingin membuat kita ikut sedih. Tanggung jawab yang dia pikul sebagai anak pertama yang harus jadi contoh dan kebanggaan kami membuatnya menekan rasa sedihnya. Membuatnya menekan keinginannya demi keinginan kami.” Ujar mama Fara.
“Dia mendahulukan kepentingan keluarga di atas kepentingan pribadinya dan barulah setelah dia menikah dia mulai melepas tanggung jawabnya itu sedikit demi sedikit. Dia menemukan tempat curhatnya. Tempat berkeluh kesah. Saling berbagi pendapat satu sama lain. Yah walaupun dia masih tetap menjaga kalian dan memperhatikan mama dan papa tapi dia sudah lebih terbuka pada keinginannya. Tanggung jawabnya sebagai anak pertama tetap dia jalankan namun hal itu dia jalankan tanpa ada tekanan. Dia menjalaninya dengan baik. Untuk itulah kita pantas menjaga agar Risam tidak merasa rendah diri. Bukankah kalian menyayangi kakak kalian?“ ujar mama Fara.
“Kami menyayangi mah.” ucap Rayya dan Zayya kompak.
“Yah itu berarti kita harus menjaga orang yang membuatnya bahagia kan. Orang yang membuatnya menjalankan perannya dengan suasana tidak tertekan. Menghormati seseorang tidak akan membuat kita rendah kan. Jadi mama harap kalian paham dengan apa yang mama katakan hari ini. Kalian itu sama bagi kami nak. Kalian adalah ketiga putri kami yang kami banggakan dengan semua pencapaian yang kalian miliki.” Ucap mama Fara.
“Kami mengerti mah. Kami paham dengan nasihatmu hari ini. Kami akan menghormati kakak dan kakak ipar dengan baik. Tidak akan ada yang berubah walaupun nanti kami memiliki suami yang bergelar.” Ucap Rayya di angguki oleh Zayya.
Mama Fara pun tersenyum lalu mengangguk. Dia bangga dan senang karena ketiga putrinya itu adalah anak yang penurut dan saling menyayangi satu dengan lainnya. Dia bangga biasa mendidik ketiga putrinya itu dengan baik. Tidak ada rasa iri satu sama lain dan ketiganya saling menjaga dan saling menghormati.
__ADS_1
“Hum, kita jadi kan mengunjungi triplets?” tanya Zayya kemudian saat dia telah selesai menghabiskan sarapannya.
Mama Fara pun mengangguk, “Ya sudah kalau begitu kita siap-siap dulu.” Ucap Rayya dan Zayya yang kembali ke kamar. Mama Fara yang melihat itu tersenyum.
***
Kini mama Fara, Rayya dan Zayya sedang bersama triplets yang sudah bisa tersenyum melihat orang. Sepertinya mereka mulai mengenali dan menghafal wajah orang, “Mah, dia tersenyum mah melihatku.” Ucap Zayya heboh.
“Mereka sudah mulai menghafal wajah orang nak.” ucap Mama Fara.
“Ahh lucu banget sih. Mah, ini siapa? Xander atau Xavier?” tanya Zayya menunjuk keponakannya yang ada dalam pangkuan mamanya itu.
“Bu, ini siapa?” tanya Zayya kepada pengasuh.
“Ini den Fadhly.” Jawab pengasuh itu.
“Fadhly? Berarti Xavier kan?” tanya Zayya bingung.
Rayya yang sedang bermain dengan keponakan cantiknya itu menoel kepala Zayya, “Iya Xavier itu Fadhly. Dasar pelupa.” Ucap Rayya.
__ADS_1
Zayya pun mengelus kepalanya itu dan memandang kakak keduanya, “Ish. Bukan pelupa kak. Aku hanya bingung aja. Bagaimana juga kakak dan kakak ipar sangat berbeda ketika memanggil mereka. Jika kakak dengan namanya tengahnya sedang kakak ipar dengan nama depan mereka. Jadinya membuatku bingung kan. Mana aku hanya hafal nama tengah mereka karena aku sama seperti kakak. Qalessa, Xander, dan Xavier. Unik kan. Nama mereka menggunakan abjad yang jarang di pakai.” Ucap Zayya.
“Tetap saja sebagai aunty yang baik dan penyayang ponakan itu tetap harus hafal nama lengkap mereka. Iya kan cantik?” ucap Rayya bertanya sambil tersenyum kepada keponakan cantiknya itu yang di balas dengan senyuman oleh Qalessa.
“Mah, dia tersenyum. Ahh cantiknya keponakanku.” Ucap Rayya gemas.
Mama Fara pun tersenyum, “Ya dia cantik.” Ujar mama Fara mengagumi kecantikan cucu perempuannya itu yang sepuluh kali lebih cantik dari Nayya kecil. Apalagi cucu perempuannya itu memiliki bola mata berwarna abu-abu yang semakin menambah kecantikannya. Cucunya itu saja sudah dari bayi sudah terlihat aura cantiknya. Entah bagaiamana besarnya nanti.
“Tentu saja dia cantik. Dia kan satu-satunya princess dari dua prince yang akan menjaganya.” Ucap Zayya.
Rayya mengangguk, “Dek, coba jika kamu memang aunty penyayang ponakan. Coba kamu sebutkan nama lengkap mereka.” ujar Rayya.
Zayya yang mendengar itu pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Kamu gak tahu yaa?” tebak Rayya.
“Ish tahu kak. Kakak ini terlalu pandang enteng padaku.” Ucap Zayya.
“Ya sudah jika benar tahu. Emang apa?” tanya Rayya lagi.
“Hum, baiklah aku akan menyebutkannya. Jika aku berhasil menjawab dengan benar maka jam tangan yang baru saja kakak beli seminggu lalu jadi milikku. Bagaimana? Setuju gak?” ucap Zayya melakukan penawaran.
__ADS_1
Rayya yang mendengar itu segera memukul lengan adiknya itu, “Kamu mau jadikan keponakan kita taruhan? Gak, gak, kakak gak setuju. Keponakanku ini bukan taruhan. Jika kau memang ingin jam tangannya ambil saja. Kenapa coba harus menggunakan keponakanku ini taruhan.” Ujar Rayya.