
Selepas akad nikah segera di lanjutkan dengan resepsi pernikahan yang hanya di jeda oleh waktu mereka berganti pakaian. Teman-teman polisi yang membantu Ariq untuk pelaksanaan pedang pora semua sudah ada. Mereka juga sudah siap.
Rayya dan Ariq masih sementara bertukar pakaian akad mereka menjadi pakaian resepsi. Sekitar kurang lebih setengah jam saja mereka bertukar pakaian dan kini kedua mempelai itu sudah siap dengan pakaian resepsi yang cantik dan tampan.
Rayya dan Ariq pun sudah bersiap untuk acara pedang pora dan akhirnya acara pedang pora itu pun berjalan dengan lancar. Selesai tanpa kendala. Walau pada awalnya Rayya sangat gugup jika harus melakukan kesalahan. Namun syukurlah semua berjalan tanpa kendala.
Setelah acara pedang pora yang berjalan hikmat selesai. Acara resepsi pernikahan pun di lanjutkan seperti acara resepsi pernikahan pada umumnya.
***
Singkat cerita, kini seluruh rangkaian acara pernikahan Rayya dan Ariq yang lumayan memakan waktu yang lama akhirnya selesai juga. Kini tinggalah keluarga yang masih ada di kediaman mama Fara dan papa Imran itu. Keluarga mempelai pria juga sudah pulang beberapa menit yang lalu.
Nayya dan Risam pun hendak pamit pulang ke rumah mereka. Keluarga Risam sudah pada pulang sebelumnya.
“Mah, Nayya pamit yaa!” ujar Nayya pada mama Fara.
Mama Fara yang mendengar ucapan sang putri menatap Nayya putri sulungnya itu, “Gak mau makan dulu?” tanya mama Fara.
Nayya tersenyum, “Nayya sudah makan mah. Sudah kenyang ini. Mau di taruh di mana lagi itu makanannya.” Ujar Nayya.
Mama Fara yang mendengar itu pun tersenyum, “Apa kamu sedih?” tanya mama Fara lembut.
“Kenapa Nayya harus sedih?” tanya Nayya balik.
“Sayang, mama tahu kamu pasti sedih. Omongan orang-orang yang membicarakanmu dan Risam pasti mempengaruhimu. Iya kan?” ujar mama Fara.
Nayya tersenyum, “Gak kok mah. Mama terlalu berpikiran banyak. Aku bahagia dengan pernikahan adikku. Dia menemukan kebahagiaannya. Adikku sudah menikah. Dia menikah dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya. Jadi untuk apa aku sedih di hari pernikahannya. Aku bahagia mih. Yah walaupun tidak aku pungkiri bahwa cerita-cerita itu sedikit menggangguku. Tapi tidak masalah. Kita tidak bisa kan menutup mulut mereka dan menghentikan mereka bercerita. Lebih baik kita dengar saja atau jika tidak ingin mendengarnya maka kita tutup saja telinga kita. Sudah lah mama jangan terlalu memikirkannya. Aku baik-baik saja.” ucap Nayya lembut.
Mama Fara pun kembali tersenyum lalu membawa putrinya itu ke pelukannya, “Mama janji nak tidak akan membeda-bedakan Ariq dan Risam. Mereka adalah kedua menantu mama yang sama-sama mama sayangi karena mencintai putri mama dan papa. Jadi mana mungkin kami membedakan mereka. Mereka memiliki kelebihan masing-masing.” Ucap mama Fara lalu menatap putrinya itu dengan tatapan yang lembut.
“Mah, Nayya percaya kok sama mama dan papa. Mama dan papa pasti akan memperlakukan suami Nayya, suami Rayya dan jika nanti Zayya juga sudah menikah. Mama dan papa pasti akan memperlakukan mereka dengan sama. Jadi mama tenang saja Nayya tidak mengkhawatirkan itu.” ujar Nayya.
Setelah berbincang cukup lama dengan mamanya. Akhirnya Nayya dan Risam pun pamit pulang ke rumah mereka sendiri bersama ketika buah hati mereka.
***
Begitu tiba di kediaman mereka, sepasang suami istri yang saling menjaga satu sama lain itu pun segera menidurkan kedua buah hati mereka di ranjang kamar utama.
“Mas!” ujar Nayya melihat suaminya itu hendak keluar kamar.
Risam menoleh ke belakang menatap istrinya lalu mendekati Nayya kembali dan mengecup keningnya, “Ada apa, hm?” tanya Risam.
__ADS_1
Nayya menggeleng, “Gak ada apa-apa. Mas baik-baik saja kan?” tanya Nayya balik.
Risam yang mendengar ucapan istrinya itu tertawa, “Seperti yang kamu lihat, mas baik-baik saja. Tidak terluka sedikit pun--”
“Bukan, itu maksudku mas. Aku tidak membicarakan fisikmu yang terluka tapi hatimu.” Potong Nayya lembut di akhir kalimatnya dan menatap suaminya itu dengan tatapan penuh cinta.
Risam membawa istrinya itu ke pelukannya. Istri yang sangat menjaga perasaannya, “Mas, gak apa-apa sayang. Sungguh, mas gak apa-apa. Apa kamu pikir cerita mereka itu bisa menyakiti mas? Gak, sayang. Jika kamu dan orang tuamu saja tidak mempermasalahkannya lalu kenapa mas harus memikirkan omongan mereka. Sudah, kamu terlalu menjaga perasaan mas padahal kamu sendiri juga sedih kan mendengarkan cerita mereka.” ujar Risam melapas pelukannya dan menatap istrinya itu dengan lembut.
“Kamu juga sedih kan di banding-bandingkan dengan adikmu. Iya kan?” Risam mengatakan itu sambil menatap mata istrinya lekat.
Nayya hanya tersenyum lalu memeluk kembali suaminya itu, “Aku gak sedih kok mas. Aku sudah bersiap untuk ini saat Rayya di lamar oleh Ariq saat wisudanya. Tapi tidak aku pungkiri juga entah kenapa hatiku tetap merasa tercubit ketika aku di bandingkan dengan adikku. Aku tidak menyalahkan adikku karena adikku tidak salah sama sekali dalam hal ini. Aku hanya menyayangkan orang-orang yang membicarakan kita itu yang melihat semuanya dari segi materi, gelar serta kedudukan seseorang. Kenapa harus ada streotip seperti itu.” ucap Nayya dalam pelukan suaminya.
Risam yang mendengar curahan hati istrinya itu pun tersenyum lalu memeluk Nayya erat, “Sudahlah, kita lupakan saja. Mereka hanya bisa bicara kan dan kita lah yang menjalaninya. Biarkan saja mereka mengatakan apapun yang terpenting hal itu tidak akan membuat kita rugi.” Ujar Risam.
“Mas mengcopy perkataanku ya.” Ujar Nayya tersenyum.
Risam yang mendengar ucapan istrinya itu pun terkekeh karena memang dia hanya mengikuti perkataan istrinya itu ketika bicara dengannya, “Hum, maaf sayang. Mas gak bisa mencari kata yang lain karena hanya itu yang ada dalam otak mas ini. Hanya kata-katamu yang bisa di serap dengan mudah oleh otak mas ini. Jadi maafkan suamimu ini yaa.” Ucap Risam drama.
Nayya pun tertawa, “Makanya mas belajar dariku. Bacalah novelku. Mas akan menemukan banyak kosa kata yang bagus di sana.” Ujar Nayya.
Risam pun segera mengangguk dan bergaya orang yang sedang menghormat, “Siap bu author tercintaku.” Ujar Risam. Akhirnya pasangan suami istri itu pun saling bercanda satu sama lain. Saling menggoda satu sama lain sampai akhirnya triplets terbangun dari tidur mereka. Nayya dan Risam tidak lagi memikirkan perkataan orang-orang tentang mereka karena sampai kapan pun cerita mereka tidak akan pernah habis. Jadi dari pada mengurus cerita mereka yang kurang berfaedah dan hanya mengganggu kewarasan jiwa jika di ladeni. Lebih baik fokus saja pada keluarga kecil mereka dan fokus memperbaiki diri.
***
Rayya dan Ariq pun sudah tinggal di kediaman ibu Aini. Mereka memutuskan tinggal di sana karena memang ibu Aini hanya sendiri jika mereka memilih tinggal di kediaman baru. Rayya yang memang bekerja di rumah sakit akhirnya memutuskan untuk ikut bersama suaminya.
Rayya sendiri juga memutuskan untuk ikut bersama suaminya karena selain pekerjaannya. Dia juga sudah mendengar cerita yang beredar tentang dirinya yang di bandingkan dengan Nayya juga tentang suaminya dengan suami kakaknya. Dia tidak ingin cerita itu mempengaruhi hubungannya dengan kakaknya. Nayya adalah kakak terbaik yang dia miliki dan orang-orang tidak perlu tahu apa yang terjadi pada hubungan mereka. Orang-orang tidak berhak mengomentari kehidupan mereka.
“Mah, pah, Zayya hari ini mau izin keluar sebentar.” Ujar Zayya yang saat ini sedang sarapan bersama kedua orang tuanya itu. Yah, bertiga. Tinggal bertiga saja.
Mama Fara dan papa Imran pun tersenyum lalu mengangguk, “Kapan pendaftaran profesimu di buka nak?” tanya papa Imran.
“Pendaftarannya masih sebulan lagi pih karena masih menunggu cukup mahasiswa yang mendaftar.” Jawab Zayya.
Papa Imran pun mengangguk mengerti, “Zayya, kamu tinggal di sini saja ya. Gak usah ngekost lagi.” Ujar mama Fara.
Zayya yang mendengar ucapan mamanya itu pun menatap mamanya dengan lembut, “Kenapa mah? Apa mama khawatir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri?” tanya Zayya penasaran dengan alasan mamanya memintanya melakukan hal itu.
Mama Fara menggeleng, “Bukan begitu nak. Mama percaya kau bisa menjaga dirimu. Tapi mama kesepian sendiri di sini. Memang benar sebelumnya juga mama hanya tinggal berdua dengan papamu di rumah ini. Tapi entah entah setelah Rayya menikah mama merasa kesepian. Jadi bisakah kamu gak usah ngekost lagi.” Ujar mama Fara.
Zayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah jika memang itu yang mama inginkan. Zayya akan tinggal di rumah.” Ucap Zayya menyetujui. Dia tahu itu adalah tanggung jawabnya sebagai anak terakhir. Dia lah yang akan menemani kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Mama Fara tersenyum begitu juga dengan papa Imran. Mereka pikir putri bungsu mereka itu akan menolak permintaan mereka. Tapi ternyata tidak sama sekali.
“Terima kasih nak!” ujar mama Fara.
“Ahh, mama jangan mengucapkan terima kasih padaku. Aku ini putri kalian kan. Jika sebelumnya kak Nayya dan kak Rayya yang menjaga kalian. Maka sekarang giliranku. Aku janji walaupun aku menikah dan menemukan pasangan nanti. Aku akan tinggal bersama kalian. Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku janji. Jadi mama dan papa jangan bosan denganku ya.” Ujar Zayya tertawa.
“Kami tidak akan bosan sayang.” balas papa Imran.
Zayya pun tertawa lalu mereka pun melanjutkan sarapan pagi itu dengan bahagia.
***
Sebulan berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa hari demi hari berjalan dengan sangat cepat sehingga tidak menyadarinya.
Zayya juga akan masuk memulai profesinya seminggu lagi dan seperti janjinya sebelumnya. Dia akan tinggal bersama kedua orang tuanya tidak akan ngekost lagi. Semuanya dia penuhi. Semua barang-barangnya di kost sudah dia pindahkan kembali ke rumah.
“Dek, apa kau butuh sesuatu untuk memulai profesimu?” tanya Nayya karena adik bungsunya itu kini berada di rumahnya sedang mengajak bermain putrinya.
Zayya yang fokus dengan keponakan cantiknya pun segera melihat ke arah Nayya lalu dia tersenyum, “Aku butuh apa lagi kak. Semua sudah di bayar. Aku tinggal menunggu jadwal masuk kuliah saja. Aku ini tinggal sendiri. Mama dan papa juga tinggal memperhatikanku. Jadi aku tidak memiliki masalah apapun. Kakak jangan iri yaa karena mama dan papa memanjakanku.” Ucap Zayya di akhir kalimatnya menggoda kakaknya itu.
Nayya pun tersenyum mendengarnya, “Gak masalah. Kakak senang kau memutuskan untuk tidak ngekost lagi. Mama dan papa memang mereka kadang diam tidak mengatakan bahwa mereka kesepian tapi percayalah mereka kesepian. Kakak tahu mereka merindukan kita. Kita yang harus menjaga mereka.” ucap Nayya.
“Ohiya satu lagi kakak tidak cemburu mama dan papa memanjakanmu. Itu memang sudah menjadi hadiah untukmu karena kau menjaga mereka. Lagian juga kakak untuk apa cemburu padamu. Kakak punya suami tempat bermanja.” Ujar Nayya sambil melihat suaminya yang berjalan ke arah mereka.
Zayya pun mengikuti arah pandangan kakaknya itu lalu dia tersenyum mencibir, “Hum, pamer. Aku juga akan menemukan suami nanti.” Ujar Zayya.
Risam yang mendengar ucapan adik iparnya itu pun tersenyum, “Kakak ipar belum memberimu izin untuk itu ya dek. Kamu boleh menikah tapi nanti setelah kamu selesai kuliah. Sekarang kamu kuliah dulu.” Ujar Risam lalu duduk di samping istrinya itu dan memeluknya dari samping.
Zayya yang melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya itu pun tersenyum, “Ck, aku juga belum ingin menikah sekarang kakak ipar. Aku masih ingin menikmati masa mudaku. Aku mungkin akan menikah saat umurku seperti kakak. Aku tidak akan mengikuti kak Rayya yang menikah begitu lulus profesi. Lagian juga aku harus menyeleksi yang akan jadi suamiku. Aku ini pemilih.” Ujar Zayya bangga.
Risam dan Nayya yang mendengar itu pun saling memandang satu sama lain lalu tertawa, “Ya yah, kami percaya kau akan menemukan pasangan yang cocok untukmu.” Ujar Nayya.
“Tidak hanya harus cocok kak. Aku juga harus mencintainya dan dia juga harus mencintaimu. Banyak pasangan yang menikah karena merasa cocok pada awalnya tapi setelah mereka membina rumah tangga dan kecocokkan itu mulai terkikis maka pertengkaran pun akan terjadi dan jalan akhirnya pasti perceraian. Masih untung jika belum punya anak saat bercerai tapi jika sudah punya anak maka kasihan anak itu jadi korban. Untuk itulah aku akan menikah dengan orang yang kucintai dan juga mencintaiku agar saat kejenuhan itu timbul kami akan berpikir kami menikah karena kami saling mencintai. Yah, walaupun mencari pasangan yang saling mencintai itu sulit di cari. Tapi aku tetap optimis akan menemukannya.” Ujar Zayya tersenyum menghayal.
Risam dan Nayya pun kembali terkekeh mendengar ucapan Zayya itu, “Wah, mas lihatlah adikku ini sudah bijaksana dan sudah berani bermimpi.” Ujar Nayya.
Risam pun mengangguk, “Tentu saja aku harus bijak kak. Aku ini sudah besar. Aku juga harus bermimpi. Siapa tahu aja kan doaku di dengar oleh Allah dan segera mengirimkan pasangan seperti yang ku inginkan.” Ucap Zayya tertawa akan perkataannya.
“Tadi katanya akan menikah di umur seperti kakakmu. Kok sekarang meminta agar segera di datangkan jodohnya.” Goda Risam.
“Tahu tuh. Dasar plin plan.” Sambung Nayya.
__ADS_1
“Ahh kakak, kakak ipar kalian memojokkanku.” Ucap Zayya ngenes. Risam dan Nayya pun tertawa melihatnya.