
Singkat cerita, Kini Nayya dan Risam sudah berada di sekolah mengantar anak-anak mereka bersekolah di hari pertama. Triplets segera ikut upacara bersama teman-teman mereka yang lain.
Nayya dan Risam pun bergabung dengan para orang tua yang lain menunggui anak mereka itu. Setelah selesai upacara, Nayya dan Risam segera mengantar ketiga buah hati mereka itu ke kelasnya, “Jangan nakal dan turuti apa kata guru.” Pesan Nayya yang di jawab anggukan patuh oleh ketiganya.
Setelah itu, triplets pun segera masuk ke dalam kelas mereka. Tidak lupa triplets pun berpamitan dan menyalami tangan Risam dan Nayya itu. Lalu setelah itu Nayya dan Risam pun segera kembali.
Saat berjalan ke mobil, Risam mulai merasakan kepalanya pusing dan pandangannya mulai buram dan hampir saja dia jatuh jika Nayya tidak menahan lengan suaminya itu, “Mas, kau kenapa? Apa yang sakit?” tanya Nayya khawatir.
“Kepala mas pusing sayang.” Jawab Risam lemah.
__ADS_1
Nayya yang mendengar itu pun seketika detak jantungnya berdetak kencang. Jangan sampai mimpi yang datang padanya seminggu terakhir ini jadi sebuah kenyataan. Dia tidak akan bisa menerima itu.
“Kita ke mobil mas. Kita ke rumah sakit sekarang.” Ucap Nayya lalu segera memapah suaminya itu ke mobil dan segera membantu Risam duduk di kursi mobil samping kemudi. Nayya pun segera memakaikan seat beal kepada suaminya itu. Setelah itu Nayya segera naik ke mobil di depan kemudi dan dia segera melajukan mobil itu meninggalkan sekolah.
“Sayang, kita ke rumah aja. Mas gak apa-apa kok. Mas hanya pusing biasa aja. Nanti juga sembuh setelah istirahat.” Ucap Risam.
Nayya melirik suaminya itu sekilas dan sangat terlihat bahwa suaminya itu tidak baik-baik saja. Wajah suaminya mendadak pucat dan suaminya itu terlihat seperti menahan sakit di bagian dadanya.
Risam pun hanya diam saja tidak menyahut lagi ucapan Nayya itu karena percuma dia menolak. Jika istrinya itu sudah bertekad untuk membawanya ke rumah sakit maka hal itu akan dia lakukan dan tidak bisa di ganggu gugat lagi. Lagi pula dia juga sedang menahan sakit di dadanya sekarang. Sungguh sangat sakit bahkan lebih sakit dari saat itu. Saat dia sebelum di operasi.
__ADS_1
Di perjalanan Risam menutup matanya. Nayya yang menyadari suaminya tidak sadarkan diri menjadi panik sendiri. Nayya menepikan mobilnya itu sebentar dan segera mengecek nadi suaminya. Sungguh tangannya saat ini gemetar tapi syukurlah nadi suaminya masih berdenyut walaupun teraba lemah.
“Mas, bertahanlah! Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu. Kau adalah hidupku. Aku tidak akan rela. Kita akan segera tiba di rumah sakit.” Ucap Nayya lalu melajukan mobil itu kembali tapi dia sudah mengirimkan pesan kepada Diaz untuk bersiap menyambut kedatangan mereka.
Sekitar 20 menitan saja mereka akhirnya tiba di rumah sakit dan di sana sudah ada Diaz yang menunggu, “Kakak ipar bagaimana keadaannya?” tanya Diaz.
Nayya diam saja tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja dia masih gemetaran saat ini. Dia selalu mengecek nadi suaminya itu selama perjalanan.
Diaz yang melihat kakak iparnya hanya diam saja pun akhirnya segera mengecek sendiri keadaan Risam itu lalu segera meminta para suster untuk segera membawa Risam masuk ke dalam.
__ADS_1
“Diaz, tolong selamatkan suamiku. Aku mohon!” ucap Nayya sambil meneteskan air matanya itu.
Diaz pun hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam ruang UGD untuk menangani Risam. Sementara Nayya dia segera menuju mushola mengadu kepada sang pencipta.