
Entahlah apa yang ada dipikiran Azura sehingga ia ingin menyingkirkan Yuna yang tidak tahu apa-apa. Kini ia masih bersembunyi dibalik pohon dan semak-semak yang rimbun seperti sudah disediakan sebagai tempat persembunyian mereka. Sementara Yuna tidak tahu hal buruk akan menimpanya, ia masih terlihat senang dan bahagia karena bersenda gurau dengan keempat temannya yang selalu berceloteh kesana kemari membuat lelucon.
Yuna sudah hampir sampai di tempat Azura bersembunyi dengan kedua temannya.
"Itu tanda pahannya!" seru Andin melihat tanda panah di batang pohon.
"Eh iya bener tuh, kita belok kiri," ucap Yuna semangat tapi didalam hatinya ia merasa ada yang tidak beres tetapi segera ia buang jauh-jauh perasaan itu karena ia sedang bersenang-senang sekarang jadi bukan waktunya untuk memikirkan perasaannya.
"Tunggu deh! Kok gue ngerasa ini ada kejanggalan disini," ucap Alia yang merasakan hal sama seperti yang Yuna rasakan, tapi berbeda dengan Yuna ia malah mengungkapkan perasaan tidak enaknya.
"Mungkin itu cuma perasaan lo, lihat ngga ada apa-apa kan disini dan lagi kita juga udah dapet kabar dari pak Ridwan kalo mereka sudah sampai di pos peristirahatan. Dan mereka selamat dan aman-aman aja tuh, jadi kita harus buang pikiran buruk itu jauh-jauh oke?" ucap Yuna menenangkan keadaan agar keempat temannya tidak memikirkan yang tidak-tidak dan malah tidak meneruskan perjalanan bahkan sampai putar balik.
"Iya bener kata lo Yun, ya udah ayo kita buang pikiran buruk kita dan lanjutin perjalanan karena gue udah ngga sabar mengeksplor hutan ini lebih jauh lagi!" ucap Tasya dengan semangat agar teman-temannya tidak lagi berpikiran negatif.
Yang lain pun menganggukkan kepala tanda setuju dan melanjutkan perjalanannya agar tidak terlalu lama membuang waktu yang sangat berharga bagi mereka.
Disisi Azura ia merasa sangat senang karena Yuna sebentar lagi masuk ke dalam rencana busuk nya yang sudah ia rancang sedemikian rupa agar berhasil. Setelah Yuna pergi ke arah yang salah Azura dan kedua temannya bertos ria merayakan keberhasilan mereka yang akan segera terwujud.
"Mereka bodoh atau **** si, tanpa curiga mereka ngikutin aja petunjuk yang salah itu" ucap Abel yang merasa bahwa lawannya tak sepadan dengannya.
"Bagus kan kalo mereka ****, kita jadi ngga perlu repot-repot menghalau mereka karena mereka sendiri udah masuk tuh kedalam rencana kita" ucap Azura senang karena lawannya sangat mudah ia halau tanpa terlalu campur tangannya.
"Jadi kita ikutin mereka sekarang atau tunggu mereka jatuh sendiri?" ucap Siska yang sedikit lemot tapi sangat jenius dan licik saat melakukan rencana busuk Azura.
"Menurut lo?" tanya Abel memastikan otak Siska sedang lemot atau tidak
"Kalo menurut gue si, tunggu aja sampe mereka jatuh sendiri" ucap Siska menggampangkan pekerjaannya agar tidak berurusan semakin jauh lagi, karena jika boleh jujur Siska masih punya hati yang merasa kasihan jika melihat kedua temannya melakukan hal yang menurutnya melewati batas wajar yang seharusnya tidak mereka lakukan kepada orang-orang yang tidak bersalah bahkan jika sampai mereka kehilangan kendalinya mereka bisa berbuat apapun sampai lawan mereka lenyap ditangan mereka sendiri.
"Gini nih kalo otak lemotnya lagi jalan," ucap Abel meremehkan pemikiran Siska yang menurutnya sangat dangkal jika otaknya sedang melamban atau lemot itu.
__ADS_1
"Sembarangan lo kalo ngomong Bel, maksud gue itu biarin mereka jatuh sendiri kan kalian juga tau kalo disana banyak lumpur yang licin, tanpa didorong pun mereka pasti bisa jatuh sendiri kalo mereka lalai dan ngga fokus sama jalan mereka," ucap Siska menjelaskan opininya kepada kedua temannya agar tidak meremehkannya lagi sudah cukup baginya selalu dicemooh otak lemot oleh keduanya karena ia sakit hati saat mereka mengatainya seperti itu walaupun hanya candaan mereka.
"Bener juga tuh kata Siska, sekarang gantian lo yang lemot Bel? Kerja bagus Sis, tapi kita juga perlu mastiin mereka jatuh atau ngga. Kalo mereka ngga jatuh rencana kita akan gagal, jadi kalo mereka ngga tergelincir lumpur itu kita perlu mendorong mereka agar rencana kita berjalan lancar, paham kalian!" ucap Azura memberi arahan kepada Siska dan Abel agar tidak melakukan kesalahan sedikit pun yang akan berakibat fatal untuk rencananya.
"Iya paham," ucap Abel dan Siska bersamaan
Keduanya tak ingin mencari masalah dengan Azura karena jika ada orang yang berani membuatnya marah maka ia tak segan-segan untuk mengancam bahkan bertengkar hebat sampai babak belur, sehingga mereka memilih untuk mengalah dan menurut. Mereka adalah sahabat yang sangat setia kepada Azura, jika ada yang berani menyakiti bahkan mengkhianati Azura maka mereka tak segan untuk menyingkirkannya dari hadapan Azura.
"Oke, kita tunggu sebentar kita harus menjaga jarak agar mereka ngga curiga sama kita, dan saat kita ngikutin mereka jangan sampai ada yang bersuara sedikitpun, paham!" ucap Azura menjelaskan apa yang harus dilakukan mereka nanti. Keduanya hanya menganggukkan kepala pasti menandakan mereka paham dengan apa yang diucapkan Azura.
Mereka mulai mengikuti Yuna dan teman-temannya dengan jarak yang cukup jauh.
Disisi Yuna ia merasa sangat senang bisa berkeliling hutan bersama teman-temannya yang membuat suasana menjadi lebih menyenangkan, Yuna sendiri sudah lama sekali tidak traveling apa lagi ke hutan seperti saat ini. Ia merasa bersyukur sekolahnya mengadakan kegiatan camping dihutan yang masih sangat asri.
"Hutannya masih asri banget ya, udaranya masih segar tanpa polusi, damai banget apalagi ada suara burung-burung kaya gini ngga seperti dikota kita jangankan suara burung yang ada malah suara klakson motor sama mobil yang bikin polusi suara dimana-mana dan bikin polusi udara kan jadi ngga asri lagi," celoteh Tasya membahas perbedaan kondisi hutan dengan kota tempat ia tinggal.
"Stop! Kita udah jalan berapa jauh ni? Kok ngga ada petunjuk arah yang muncul lagi si?" tanya Alia yang heran karena sebelumnya setiap 50 meter pasti akan ada petunjuk arah walaupun jalannya hanya satu arah.
"Iya gue juga ngga lihat padahal gue udah cari-cari disetiap pohon yang kita lewatin tapi ngga ada," ucap Andin yang juga tidak melihat satupun petunjuk arah sejak di persimpangan tadi.
"Terakhir gue lihat tadi di persimpangan itu dan setelahnya gue ngga lihat petunjuk arah satupun padahal kita udah jalan hampir 200 meter" ucap Silvi juga memberi opininya kepada teman-teman bahwa mereka sudah berjalan jauh tapi tidak ada satupun petunjuk arah yang terlihat.
Yuna pun mulai merasa ada kejanggalan disini, bagaimana mungkin petunjuk arahnya bisa hilang tiba-tiba. Sebelumnya ia selalu melihat petunjuk arah setiap 50 meter dan letaknya pun sangat terlihat karena ukurannya yang cukup besar dan berwarna cerah sehingga memudahkan orang untuk menemukannya dan mengikuti tanda panah itu. Tapi setelah melewati persimpangan tadi ia tidak lagi melihat tanda panah petunjuk arah itu.
"Mungkin didepan sana ada petunjuk arah, ini kan jalan satu arah. Ayo buang pikiran negatif kalian, mending kita lanjut perjalanan ini udah siang lho." ucap Yuna berpikir positif agar teman-temannya tidak berfikir negatif.
"Kalo ngga sekarang kita minum dulu deh, nih ambil minum kalian kita istirahat dulu dari tadi kita kan jalan terus apa kalian ngga haus?" tanya Yuna kepada keempat temannya dan mengajak mereka istirahat sejenak untuk minum.
Disisi Azura dia masih mengikuti Yuna dan teman-temannya sampai mereka tiba didepan mulut jurang.
__ADS_1
"Stop! Ayo sembunyi!" ucap Azura dengan berbisik agar Yuna dan teman-temannya tidak mengetahui keberadaan mereka.
Sebelum mereka bersembunyi dibalik pohon besar Siska dengan ceroboh menginjak ranting dibelakangnya dan membuat suara yang mampu didengar Yuna.
"Krekk"
Dengan segera Azura dan Abel menarik Siska untuk bersembunyi agar tidak ketahuan.
Yuna yang mendengar suara itu segera menengok kebelakang melihat apa ada orang atau hanya salah dengar.
"Ada apa Yun?" tanya Alia yang mengetahui Yuna sedang melihat arah belakang seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Nggak, ngga ada apa-apa mungkin gue salah denger," ucap Yuna yang memang tidak menemukan siapapun dari arah belakangnya, ia sempat mendengar suara ranting diinjak seseorang sehingga menimbulkan suara yang ia dengar.
"Gimana kalo kita lanjut lagi? Udah lumayan seger kan abis minum?" tanya Yuna kepada keempat temannya yang memang sebelum minum mereka tampak agak loyo dan lemas karena mereka sudah berjalan jauh tapi belum meminum apapun.
"Iya udah" jawab keempatnya yang sudah merasa segar dan bersemangat lagi setelah meminum air mineral yang mereka bawa dari rumah.
Merekapun melanjutkan perjalanan lagi.
"Lo ceroboh banget si! Hampir aja kita ketahuan sama mereka!" ucap Azura dengan nada tinggi setelah kepergian Yuna dan teman-temannya, karena ulah Siska mereka hampir tertangkap basah oleh Yuna sedang membuntutinya
"Iya gue minta maaf, gue juga ngga tau bakal kaya gini," ucap Siska yang merasa bersalah karena ulahnya ia membuat Azura marah kepadanya
"Aarrggg, udah lah mending kita ikutin mereka jangan sampai kita ketinggalan momen-momen yang udah kita nantikan sejak semalam. Dan ingat jangan sampai kalian buat kecerobohan kaya tadi lagi!" ucap Azura mengingatkan kedua temannya agar tidak melakukan kecerobohan yang sama seperti tadi.
Terimakasih sudah mampir ke novel ini. Jangan lupa tinggalin like, komen dan tambahkan favorit. Bantu vote juga ya...
Kalo udah Love You😘
__ADS_1