Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
57


__ADS_3

Risam segera keluar begitu selesai bicara dengan Afnan yang juga sudah mulai memakan buburnya yang sudah dingin itu. Risam segera mendekati sang istri yang sedang duduk bersama kedua orang tua Afnan itu. Risam segera duduk di samping sang istri yang memang kosong itu.


“Terima kasih sudah mau datang ke sini nak. Maaf juga nak sudah mengganggu kalian malam-malam begini.” Ucap mami Rana.


Risam dan Nayya pun tersenyum, “Gak apa-apa kok mih.” Ucap Nayya di angguki oleh Risam.


“Kami sangat berterima kasih nak. Kami tahu apa yang kami lakukan ini tidak pantas karena mengganggu kalian. Tapi kami gak tahu harus menghubungi siapa lagi. Mami hanya punya nomormu saja dan hanya kau yang terpikirkan untuk di hubungi.” Ucap mami Rana jujur.


Nayya tersenyum, “Gak apa-apa mih. Nayya sedang kok bisa membantu walaupun tidak Nayya pungkiri bahwa Nayya juga merasa canggung dengan kondisi ini.” ujar Nayya.


“Tante, om kalian jangan terlalu memikirkan apapun. Kami tidak masalah kok. Nayya adalah seorang perawat yang memang memiliki tugas untuk membantu seseorang yang lagi butuh bantuan. Kalian jangan merasa bersalah begitu. In Syaa Allah Afnan akan baik-baik saja dan semoga dia segera menemukan gadis yang lebih baik dari istri saya yang bisa dia cintai lebih dari cintanya kepada istri saya.” ucap Risam menggenggam tangan sang istri erat.


“Terima kasih nak atas doanya. Kami juga doakan semoga rumah tangga kalian baik-baik saja.” ucap papi Riyad. Nayya dan Risam pun tersenyum lalu mengangguk.


Setelah itu Nayya dan Risam pamit pulang tapi sebelumnya Nayya memastikan terlebih dahulu kondisi Afnan yang sudah tidak sepucat tadi dan suhu tubuhnya sudah mulai kembali normal. Nayya memeriksa Afnan dengan professional tanpa melibatkan perasaan di dalamnya.


Afnan pun hanya bisa memandangi gadis itu dengan tatapan yang campur aduk. Dia sudah bertekad untuk melanjutkan hidupnya walau tetap dengan menyimpan cintanya untuk Nayya di hatinya. Biarlah waktu yang akan menyembuhkannya rasa sakitnya namun dia tetap akan menyimpan cintanya untuk Nayya di dasar hatinya. Dia akan mengikhlaskan Nayya untuk suaminya tapi dia tetap akan menyimpan rasa cintanya kepada Nayya di lubuk hatinya. Dia akan melanjutkan hidupnya dengan cinta untuk Nayya di hatinya.


***

__ADS_1


Nayya dan Risam memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua Nayya saja dari pada ke ruko karena memang rumah orang tua Nayya lebih hanya dekat dari rumah Afnan itu.


Nayya segera mengucap salam begitu sampai di rumah orang tuanya dan untunglah mama Fara dan papa Imran belum tidur. Keduanya masih menonton sinetron, “Eehh kok kalian ada di sini?” tanya mama Fara kaget melihat putri dan menantunya itu.


Nayya dan Risam hanya tersenyum lalu langsung menyalami mama Fara dan papa Imran yang memang membukakan pintu untuk keduanya, “Nak, kalian dari mana malam-malam begini?” tanya mama Fara penasaran. Pasalnya itu sudah pukul sepuluh malam lewat beberapa menit.


“Kami baru dari rumah mami Rana Mah.” jawab Nayya mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang keluarga. Nayya segera menyambar kacang kulit di meja dan juga pisang yang tersedia di sana.


“Rumah siapa tadi? Rana? Maksudmu Rana dan Riyad?” tanya Papa Imran.


Nayya pun mengangguk, “Ngapain kalian di sana?” tanya mama Fara penasaran.


“Sakit? Sakit kenapa?” tanya mama Fara lagi.


“Mah, Nayya pengen tidur. Besok saja deh Nayya cerita in. Ayo mas kita ke kamar. Kita lanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi.” Ajak Nayya segera mengajak sang suami ke kamarnya di rumah orang tuanya itu.


Risam pun hanya bisa mengikuti sang istri walaupun dia sungkan dengan mertuanya itu, “Mah, biarkan saja. Putri dan menantu kita sudah dewasa. Mereka pasti tahu mana yang terbaik untuk rumah tangga mereka. Lagian papa yakin putri kita itu sudah mencintai Risam. Biarkan saja.” ucap papa Imran yang bisa menebak bahwa mama Fara sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Afnan itu. Pria yang hampir jadi menantu mereka itu.


Mama Fara pun hanya bisa menghela nafas dan menyetujui saja apa yang di katakan suaminya sambil berdoa semoga tidak akan ada masalah yang akan terjadi dengan rumah tangga putri sulungnya itu.

__ADS_1


Sementara di kamar Nayya segera menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur. Risam pun segera mengikuti istrinya itu.


“Sayang, kenapa tidak menjawab pertanyaan mama?” tanya Risam dengan lembut saat keduanya kini sudah berbaring di ranjang.


“Nayya bukan tidak ingin menjawab pertanyaan mama mas. Hanya saja itu sudah malam dan mama itu tidak akan puas jika jawaban yang kita berikan pendek. Dia akan menuntut penjelasan yang panjang dan pastinya itu akan membutuhkan waktu. Jadi besok saja kita mengatakannya kepada mama. Mas merasa sikapku salah yaa?” tanya Nayya.


Risam menggeleng, “Bukan begitu sayang. Mas hanya gak mau kau mengabaikan kedua orang tuamu begitu. Memang benar bahwa kau sudah tidak memiliki kewajiban lagi untuk berbakti kepada mereka namun tetap saja kau itu adalah putri mereka yang pastinya tetap harus menghormati mereka. Mas hanya gak mau di anggap menjadi menantu yang merebut kasih sayang putri mereka untuk mereka.” ucap Risam.


Nayya pun tersenyum, “Maaf mas jika apa yang aku lakukan salah. Entah kenapa aku memiliki mood yang buruk. Maafkan aku. Terima kasih sudah menegurku. Aku akan meminta maaf kepada mama dan papa nanti.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum, “Kamu gak salah sayang. Mengingatkanmu memang sudah menjadi kewajiban bagi mas. Mas tidak ingin istri mas ini berdosa kepada kedua orang tuanya. Mas sangat menyayangimu sayang. Mas ingin bersamamu di dunia dan di surga kelak. Mas ingin kau selalu menjadi bidadarinya mas.” Ucap Risam lalu mengecup kening sang istri.


“Aku pun sama mas. Aku ingin mas akan menjadi suamiku di dunia dan di akhirat kelak.” Balas Nayya.


“Sayang, bagaimana jika mas pergi lebih dulu meninggalkanmu?” tanya Risam.


Nayya yang mendengar pertanyaan yang di ajukan suaminya itu menatap suaminya dengan kesal, “Mas kenapa sih ngomong kaya gitu. Aku gak mau. Pokoknya kita harus hidup sampai kakek nenek nanti. Melihat cucu kita tumbuh bersama-sama. Aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika hidupku tanpamu mas. Jadi jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Aku gak suka.” Ucap Nayya.


“Maaf sayang. Mas hanya bertanya saja. Lagian juga kita gak tahu takdir kita nanti. Kita gak tahu sampai kapan batas umur kita di dunia ini.” ucap Risam memeluk istrinya itu erat.

__ADS_1


“Ish pokoknya aku gak mau pisah sama kamu mas. Titik gak pake koma. Jika kau pergi aku akan ikut denganmu.” Ujar Nayya.


__ADS_2