Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
91


__ADS_3

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Nayya dan Risam segera keluar kamar bersama saling bergandengan tangan. Nayya dan Risam segera mendekati ketiga buah hati mereka yang saat ini berada di ruang keluarga itu.


“Ibu sudah bisa pulang yaa. Terima kasih untuk hari ini bantuannya.” Ucap Nayya.


“Baik nak. Terima kasih kembali.” Ucap ibu Sita lalu segera mengambil barang-barangnya dan segera pamit pulang.


Nayya segera menyusui putrinya lebih dulu lalu di susul oleh dua putra tampannya.


“Mama sama papa sudah lama pulangnya mas?” tanya Nayya.


Risam yang mendapat pertanyaan itu seketika teringat bahwa tadi memang ada mertua dan adik iparnya itu di rumah, “Astagfirullah. Aku lupa sayang. Aku gak tahu mereka pulang. Mungkin saat aku tertidur mereka pulang.” Ucap Risam.


Nayya tersenyum melihat ekspresi suaminya itu, “Gak apa-apa mas. Mereka pasti ngerti kok kalau mas lelah dan butuh istirahat.” Ucap Nayya.


Risam pun mengangguk, “Sayang, kamu sadar gak. Putri kita ini sangat mirip denganmu hanya warna bola mata saja yang berbeda denganmu.” Ucap Risam menatap putrinya yang terbaring di kasur bayi di hadapannya. Ketiga buah hati mereka itu setelah menyusu belum langsung tidur.


Nayya tersenyum lalu menatap putrinya, “Semua orang berkata begitu mas. Tapi aku gak merasa. Apa iya? Dia lebih cantik dariku mas.” Ucap Nayya.


“Gak kok. Masih kamu lebih cantik.” Ucap Risam yang tiba-tiba membuat putri mereka itu menangis.


“Aaa sayang. Apa dia mengerti dengan apa yang kita bicarakan sehingga dia menangis begitu. Aa.. sayang. Ayah bercanda kok. Princessnya ayah cantik kok. Lebih cantik dari bunda. Cup cup.” Ucap Risam segera menggendong putrinya itu dan tidak begitu Risam memujinya putri mereka itu segera diam kembali dan tersenyum.


“Sayang, dia ngerti loh.” Ujar Risam.


Nayya yang melihat itu pun tersenyum, “Makanya mas jika ingin memujiku itu jangan di hadapan putri kita. Aku ini sudah punya saingan.” Ujar Nayya.


Risam yang mendengar itu pun terkekeh, “Kau benar sayang.” ucap Risam lalu kembali duduk dan kembali membaringkan putrinya di kasur bayinya.


Nayya dan Risam memang menjalankan dan menikmati peran mereka sebagai ibu dan ayah itu dengan baik. Keduanya saling membantu satu sama lain.


***


Sementara di kediaman mama Fara dan papa Imran saat Rayya bangun tidur saat waktu ashar dia kaget dengan pesan yang di tinggalkan Ariq yang mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju kesini ke rumah mama Fara dan papa Imran.


Rayya setelah membaca pesan itu segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya karena sesuai perkiraannya bahwa Ariq akan segera tiba dan benar tebakannya bahwa Ariq baru saja tiba di kediaman itu.


Ariq segera turun dari mobilnya dan segera mengucap salam, “Assalamu’alaikum.” Salam Ariq.


Mama Fara yang mendengar itu segera keluar dan dia kaget melihat Ariq ada di sana. Dia kaget karena putri keduanya itu tidak mengatakan apapun terkait kedatangan pria muda itu.


Mama Fara segera mendekat ke pintu, “Wa’alaikumsalam. Silahkan masuk nak. Ayo! Silahkan duduk.” Ujar mama Fara ramah.


Ariq pun segera mengangguk dan ikut masuk lalu dia segera duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu, “Silahkan duduk ya nak. Saya akan panggilkan Rayya.” Ucap mama Fara lalu segera berlalu menuju dapur.


“Siapa mah?” tanya papa Imran.


“Ariq pah. Papa ke depan deh. Temani dia dulu. Rayya ini sepertinya masih tidur.” Ucap mama Fara menyiapkan minum untuk tamunya itu. Papa Imran pun mengangguk dan segera menuju ruang tamu untuk menemui Ariq.


Sementara di kamar, Rayya sedang memakai hijabnya. Zayya yang baru bangun bingung melihat kakak keduanya yang sibuk memakai hijab itu, “Kakak mau kemana?” tanya Zayya bingung.


Rayya yang mendengar suara adiknya bicara segera menatap Zayya, “Gak mau kemana-mana.” Jawab Rayya.

__ADS_1


“Terus kenapa pakai hijab segala mana pakai ganti pakaian juga.” Ujar Zayya segera bangun dan menyandarkan tubuhnya di pinggiran ranjang sambil memperhatikan kakaknya yang sibuk dengan urusannya.


“Ish itu dek. Ada kak Ariq di depan.” Ujar Rayya.


Zayya yang mendengar itu segera melebarkan matanya, “Kak Ariq? Maksud kakak polisi itu?” tanya Zayya.


Rayya pun mengangguk dengan perlahan, “Iya. Emang menurutmu siapa lagi.” Ucap Rayya.


“Kok bisa?”


“Ya bisalah dek. Mobilnya aja sudah ada tuh!” ujar Rayya.


“Maksudku kok bisa dia ada di sini tanpa pemberitahuan dulu. Emang dia sudah menghubungi kakak?” tanya Zayya.


“Sudah. Lewat chat. Tapi kakak sedang tidur. Jadi baru tahu juga.” Ucap Rayya.


“Pantasan! Ya sudah sana temui calon kakak iparku itu. Aku mau tidur dulu. Ohiya kak Rayya sudah cantik kok.” ucap Zayya kembali membaringkan tubuhnya.


Rayya yang mendengar perkataan adiknya itu segera mendekati ranjang dan menarik lengan adiknya yang sudah berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut, “Ih apa-an sih kak?” ujar Zayya membuka selimutnya kembali.


“Ayo temani aku keluar. Aku malu keluar sendiri. Ayo temani aku. Cepat Zayya. Please! Bantulah kakak cantikmu ini.” ujar Rayya.


“Kenapa malu sih. Kan itu calon suami kakak. Kakak juga sudah cantik. Jadi untuk apa malu. Kenapa harus mengajakku sih. Aku masih mengantuk kak.” Ucap Zayya menolak.


“Oh ayolah adikku yang paling manis. Please temani aku keluar. Kau bisa melanjutkan tidurmu itu nanti di kamar mama sama papa. Tapi temani aku keluar dulu.” Pinta Rayya memelas sambil menarik lengan adiknya itu bangun.


Zayya pun menghela nafas kasar lalu dia bangun kembali, “Huh, kenapa kakak yang akan menemui calon suami. Aku yang repot yaa. Calon kakak ipar sepertinya harus menggajiku atas gangguannya terhadap tidurku ini. Ingatkan aku untuk menagihnya nanti jika dia sudah jadi suamimu kak.” Ujar Zayya segera turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka agar wajah bangun tidurnya itu hilang.


Sementara Zayya dia keluar dari kamar mandi dan segera menuju lemari rias dan segera memakai hijabnya, “Ayo keluar.” Ucap Zayya.


Rayya pun mengangguk lalu tersenyum segera menggandeng lengan adiknya dan segera membuka pintu kamar lalu kedua gadis itu segera keluar.


Begitu keluar langsung melihat Ariq dan papa Imran yang sedang berbincang dengan Ariq. Rayya dan Zayya segera menuju dapur. Mama Fara yang melihat kedatangan putrinya tersenyum, “Mama pikir kalian masih tidur.” Ujar mama Fara.


“Memang masih tidur mah. Tapi kak Rayya ini mengganggu tidurku. Dia malu keluar sendiri. Sudah ahh aku mau lanjut tidur dulu. Mah, aku pinjam kamar ya.” Ujar Zayya hendak berdiri tapi di tahan oleh mama Fara.


Zayya pun segera menengok ke arah mamanya, “Ada apa mah? Zayya masih mengantuk.” Ujar Zayya.


“Sudah waktu ashar. Gak baik tidur waktu ashar.” Ucap mama Fara. Zayya yang mendengar itu pun seketika lesu.


Sementara Rayya hanya tersenyum, “Ahh waktu tidurku. Kak Ray kau harus menukar waktu tidurku yang berharga itu.” ucap Zayya.


“Sudah. Jangan bertengkar. Rayya sana antarkan minuman untuk Ariq dan papamu.” Ucap mama Fara.


Rayya pun segera mengangguk dan mengambil alih minuman yang sudah di buatkan mamanya itu, “Baik mah.” ucap Rayya menatap adiknya.


Zayya yang menyadari tatapan kakak keduanya itu pun segera menatap ke arah lain, “Jangan menatapku begitu kak. Aku tahu apa yang kau inginkan. Tapi maaf aku tidak akan membantumu untuk kali ini. Sudah cukup kau mengganggu tidurku. Aku masih kesal padamu.” Ucap Zayya.


“Sudah. Biar mama yang bawakan. Kamu duluan nak.” ujar mama Fara melerai kedua putrinya itu.


Rayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih mah.” ujar Rayya.

__ADS_1


Mama Fara pun mengangguk lalu kedua wanita beda generasi itu segera ke ruang tamu. Rayya segera menyajikan minuman untuk Ariq dan papanya itu.


“Nak, kamu mau ketemu Rayya kan?” tanya papa Imran.


Ariq pun mengangguk, “Benar pah. Saya juga sekalian mau minta izin untuk mengajaknya jalan malam ini. Jika papa dan mama mengizinkan.” Ucap Ariq menatap mama Fara dan papa Imran.


Sementara papa Imran dan mama Fara justru menatap Rayya yang memberikan kode agar kedua orang tuanya itu menolak. Bukan dia tidak ingin pergi namun dia belum siap.


“Kami mengizinkannya nak. Tapi semua terserah Rayya apa dia ingin ikut denganmu atau tidak. Jadi kami kembalikan keputusan kepada Rayya.” Ujar papa Imran.


“Kalian bicaralah berdua. Kamu tanyalah sendiri pada putri kami ini. Kami undur diri dulu.” Ucap mama Fara lalu papa Imran pun segera ikut istrinya itu ke ruang keluarga.


Kini di sana tinggallah Rayya dan Ariq berdua dengan Rayya yang bengong karena jawaban yang di berikan mama dan papanya tidak sesuai harapannya. Jika di serahkan padanya seperti itu keputusannya maka pasti mau tak mau dia akan setuju dengan ajakan Ariq. Karena tidak mungkin dia menolak dengan terang-terangan ajakan pria itu. Pria yang sudah dengan beraninya melamarnya di hadapan orang tuanya kemarin dan cincin pemberian pria itu kini tersemat di jari manisnya dengan sangat cantik.


“Dek, duduklah!” ucap Ariq yang melihat Rayya bengong. Ariq tersenyum melihat Rayya yang bengong itu. Kecantikan gadis itu tidak hilang walaupun dia sedang tidak fokus justru hal itu menambah pesonanya. Ariq seperti jatuh cinta lagi dan lagi pada gadis di hadapannya itu.


Rayya yang mendengar perkataan Ariq pun seketika tersadar, “Ah iya. Emm, kita bicara di teras saja.” ucap Rayya.


Ariq pun mengangguk, “Ya sudah. Ayo!” ujar Ariq menyetujui.


“Tapi minumannya di minum dulu. Kasihan mama sudah cape membuatnya jika kak Ariq tidak meminumnya.” Ucap Rayya.


Ariq pun tersenyum, “Baiklah. Aku harus meminumnya. Tidak boleh menyiakan sesuatu yang sudah di sediakan oleh mertua.” Ucap Ariq.


“Belum mertua ya kak. Bahkan calon mertua pun belum resmi. Jadi mohon di koreksi.” Ujar Rayya.


Ariq yang mendengar itu pun terkekeh, “Ya kau benar. Jadi kapan kau sudah siap untuk aku lamar?” tanya Ariq.


Rayya pun mendelik ke arah Ariq, “Tumben kakak bertanya begitu padahal saat kemarin datang ke kampus dengan tiba-tiba melamar di sana. Datang saja tanpa pemberitahuan. Mengangetkan semua orang. Lalu kenapa kali ini bertanya.” Sindir Rayya.


Ariq pun kembali terkekeh mendengar ucapan gadisnya itu, “Maaf ya untuk hal yang terjadi kemarin. Itu terjadi dadakan juga tanpa rencana sehingga tidak sempat memberitahumu. Tolong yaa jangan dendam karena kemarin.” Ucap Ariq.


Rayya pun menghela nafas, “Ya sudahlah. Terserah juga. Sudah terjadi. Jadi untuk apa juga protes. Tidak akan ada gunanya. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Jadi dari pada memusingkan apa yang terjadi kemarin lebih baik memikirkan apa yang saat ini sedang terjadi.” Ucap Rayya. Lalu melangkah menuju teras begitu melihat Ariq sudah selesai minum.


Ariq pun segera mengikuti Rayya ke teras, “Kenapa kakak gak bilang mau datang? Jujur saja aku kaget saat membaca pesanmu itu. Aku yang baru bangun dari tidurku dengan kesadaran yang masih 20 persen begitu membaca pesanmu kesadaranku langsung cepat 100 persen dengan spontan. Memang yaa kakak itu hobinya mengagetkanku. Sepertinya aku harus memikirkan lagi jika harus menerima lamaranmu nanti.” Ucap Rayya sambil memandang pemandangan yang bisa di lihat dari teras itu.


Ariq yang mendengar penuturan Rayya pun tersenyum. Gadis di sampingnya itu berbeda. Dia sangat menyukai kejujuran Rayya yang tidak jaim padanya begini. Hal inilah yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Nayya setahun lalu. Namun dia memilih menyembunyikan perasaannya itu karena sesuatu hal.


“Maaf yaa! Kakak kembali mengagetkanmu lagi. Kakak gak bermak--”


“Apa mau bilang lagi bahwa kakak datang kesini tanpa rencana lagi. Secara tiba-tiba saja. Hum, ucapan maaf dan alasan kakak itu sudah basi. Aku sudah hafal dengan fasih. Mungkin aku sudah bisa khatam.” potong Rayya menatap sekilas pria itu.


Ariq pun tertawa, “Yah, kau sudah hafal hal itu dengan fasih. Itu bisa membuktikan kau sudah memahami saya dan kita bisa menikah nanti. Kita sudah saling memahami satu sama lain. Bukankah itu modal utama untuk menikah.” Ujar Ariq.


Rayya pun mengangguk-ngangguk, “Kakak benar. Tapi seperti apa yang sudah aku katakan tadi. Aku masih akan memirkirkan untuk menerima lamaran kakak karena kau sering mengagetkan Rayya begini. Datang dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Untung saja Rayya gak punya riyawat penyakit jantung. Jadi demi kesehatan jantung Rayya maka sepertinya mempertimbangkan untuk menikah dengan kakak adalah pilihan terbaik.” Ujar Rayya.


“Jangan begitu dong dek. Kakak janji kejadian ini untuk terakhir kalinya. Ketika kakak punya rencana untuk datang maka kakak akan memberitahu beberapa jam sebelumnya agar kau tidak kaget lagi.” Bujuk Ariq.


Rayya yang mendengar itu pun tertawa, “Hahaahahha, kakak lucu ketika membujuk seperti ini. Sungguh jika kakak yang membujuk anak-anak begitu. Bukannya mereka berhenti menangis justru mereka akan bertambah menangis. Cara membujuk kakak itu loh gak ada manis-manisnya sama sekali.” Ucap Rayya.


“Yah karena itulah kakak ingin menikahimu. Kakak tidak memiliki bakat untuk membujuk anak kita nanti ketika menangis. Kan ada dirimu yang pandai membujuk anak kecil. Jadi tidak akan masalah nanti.” Ucap Ariq.

__ADS_1


Rayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Anak? Sejak kapan Rayya setuju untuk menjadi istri kakak melahirkan anak untukmu.” Ucap Rayya.


__ADS_2