Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
95


__ADS_3

“Saat itu dia berkata bahwa suatu hari nanti dia akan memiliki satu bunga yang hanya bisa di milikinya seorang.”


Rayya yang mendengar itu bingung dan menatap ibu Aini. Ibu Aini yang di tatap Rayya tersenyum. Dia tahu bahwa gadis saat ini di hadapannya itu sedang bingung dengan perkataannya.


“Ibu tahu saat ini kau pasti bingung kan dengan apa yang di maksud oleh perkataannya. Yah sama. Saat itu ibu juga bingung dengan yang dia maksud. Tapi kini ibu mengerti apa yang dia maksud saat itu. Bunga itu indah kan. Nah dia mengumpakan dirimu sebagai bunga. Bunga yang dia pemiliknya. Kau adalah bunga itu nak.” ucap ibu Aini.


Rayya semakin kaget mendengar ucapan ibu Aini itu, “Jangan kaget begitu karena perlu kau tahu bahwa dia semenjak pelantikan itu selalu menceritakan seorang gadis kepada ibu. Ibu mendengarkan selalu keluh kesahnya walaupun ibu tak tahu seperti apa wujud gadis itu. Tapi ibu selalu mendengarkan. Namun pada suatu ketika dia berhenti membicarakan gadis yang selalu dia ceritakan dengan suasana hati ceria. Dia murung dan tidak lagi bercerita. Ternyata saat itu dia patah hati.” Ujar ibu Aini.


Rayya yang mendengar itu menjadi penasaran siapa gadis yang membuat Ariq bisa patah hati, “Apa ibu tahu siapa gadis itu? Rayya penasaran siapa gadis yang membuat kak Ariq patah hati.” Ujar Rayya.


Ibu Aini tersenyum karena menyadari bahwa gadis di hadapannya ini ternyata polos padahal kemarin baru saja lulus dengan predikat cumlaude, “Jika memang kau penasaran siapa gadis itu tanyakan sendiri kepadanya. Ibu yakin dia pasti akan memberitahumu.” Ibu Aini menjawab dengan senyum di bibirnya.


Rayya pun mengangguk, “Nak, kau harus ingat. Hanya kau yang dia cintai dan tidak ada gadis lain.” Ucap Ibu Aini seolah memberi kode kepada Rayya. Tapi Rayya justru tersenyum entah dia menangkap kode itu atau tidak. Entah apa arti senyumnya itu hanya dia sendiri yang tahu.


“Rayya percaya kok bu.” Ujar Rayya lalu melihat seorang pria yang sangat tampan dengan pakaian casualnya senada dengan pakaian yang di pakai olehnya keluar dari kamarnya berjalan mendekati mereka dengan senyum terbingkai di wajahnya.


“Apa yang kalian bicarakan? Kok bisa akrab begitu?” Ariq bertanya dengan nada kepo lalu mengambil air mineral milik Rayya dan langsung duduk dan meminum airnya.


“Kaakkk … itu milikku.” Protes Rayya melihat nasib sisa air mineralnya itu yang sudah habis di minum oleh Ariq.


Ariq pun menghentikan acara minumnya itu dan menatap Rayya dengan bingung lalu mengangkat gelas air mineral itu, “Ini milikmu?” tanya Ariq bodoh.


Rayya pun menghela nafas dan hanya mengerucutkan bibirnya saja, “Iya nak. Itu miliknya. Kenapa kau tidak mengambil yang baru saja.” ibu Aini yang menjawab pertanyaan putranya itu dengan tersenyum.


“Astaga aku tidak tahu bu. Aku pikir ini milik ibu.” Ucap Ariq.


Rayya kembali menghela nafas, “Huh, sudahlah. Rayya ambil yang baru saja. Lain kali jangan sembarangan begitu kak.” Ucap Rayya masih menyisakan raut wajah kesal di wajahnya.


Ariq yang melihat ekspresi Rayya itu rasanya ingin tertawa namun dia menahannya karena tidak ingin gadisnya itu semakin kesal padanya yang berujung akhir yang buruk untuknya, “Ya sudah maaf ya.” Ucap Ariq meminta maaf. Rayya pun hanya mendelik ke arah Ariq dan mengangguk perlahan untuk menjawab permintaan maaf Ariq.


“Sudah. Jangan berdebat lagi. Kalian mau jalan kan. Ya sudah ayo sana pergilah. Ariq jaga calon menantu ibu ini dengan baik. Jangan di apa-apain lagi. Jangan di nakali dan jangan di buat marah.” Ibu Aini memberi wejangan.


Ariq pun mengangguk dengan tersenyum lalu segera berdiri dan mendekati ibunya itu untuk berpamitan. Ariq segera mencium punggung tangan ibunya ibu dan di susul oleh Rayya. Keduanya segera berpamitan dan menuju pintu keluar dengan di antar oleh ibu Aini, ”Kalian hati-hati di jalan nak.” pesan ibu Aini.


Ariq dan Rayya pun mengangguk, “Ibu juga hati-hati di rumah.” Ujar Ariq dan Rayya bersamaan sehingga membuat keduanya saling memandang satu sama lain lalu tersenyum. Ibu Aini yang melihat itu pun tersenyum.


“Sudahlah. Jangan khawatirkan ibu. Ibu bisa menjaga diri dengan baik. Ibu akan baik-baik saja di sini.” Ucap Ibu Aini.


Ariq dan Rayya pun mengangguk lalu mereka segera menuju mobil. Seperti tadi Ariq pun membukakan pintu mobil untuk Rayya dan Rayya segera masuk tidak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu setelah itu Ariq pun segera naik mobil juga di depan kemudi. Setelah itu keduanya segera melambaikan tangan kepada ibu Aini sebelum mobil itu melaju meninggalkan kediaman Ariq itu. Ibu Aini memandangi mobil milik anaknya itu hingga tidak terlihat lagi di pandangannya.


“Ibu harap kau selalu bahagia nak. Ibu senang melihatmu tersenyum begitu.” Gumam Ibu Aini lalu segera menutup pintu rumahnya.


***


Di dalam mobil Rayya tersenyum sambil menatap Ariq sekilas, “Ada apa? Kenapa tersenyum? Apa ada sesuatu di wajah kakak?” tanya Ariq tanpa tetap fokus mengendara.


Rayya menggeleng, “Gak kok. Wajah kakak tampan. Gak ada apa-apa.” Ujar Rayya.


“Jika memang begitu. Lalu kenapa kau tersenyum? Apa ada yang lucu atau kamu masih memikirkan tragedi air mineral tadi?” tanya Ariq.


Rayya yang mendengar ucapan Ariq kini teringat kembali akan kekesalannya beberapa menit lalu, “Kak, coba jujur apa kakak sengaja mengambil air itu atau bagaimana? Satu hal yang tidak mungkin kakak tidak tahu bahwa air itu milikku sedangkan jelas-jelas air itu terletak di hadapanku.” Rayya menatap Ariq intens untuk menemukan kebohongan di wajah laki-laki itu.


Ariq tersenyum lalu mengangguk, “Kau benar dek. Kakak sengaja. Tapi kakak gak tahu respon yang akan kau berikan sekesal itu. Bahkan sekarang kau masih kesal. Itu kan hanya air mineral. Kakak akan menukarnya deh jika memang kau keberatan.” Ujar Ariq.


“Ish itu bukan soal menukar atau tidak kak. Tapi … ah sudahlah. Malas ngomong sama kakak. Hanya membuat moodku berantakan saja.” ujar Rayya memandang jalanan dengan kesal.


Ariq tersenyum melihat ekspresi kesal di wajah gadisnya itu. Dia tahu dengan persis apa yang membuat gadis itu marah. Tapi dia entah kenapa ingin melihat wajah kesal Rayya. Menurutnya kecantikan Rayya akan bertambah 10 kali lipat saat dia kesal, “Maaf! Kakak tahu apa yang membuatmu marah. Kakak sengaja melakukannya karena memang ingin membuatmu kesal. Kamu semakin cantik saat kesal. Jadi jangan kesal lagi yaa.” Ujar Ariq akhirnya. Dia tidak ingin semua rencananya malam ini akan berantakan karena hanya gara-gara kekesalan Rayya yang tidak di atasi.


Rayya yang mendengar ucapan Ariq pun segera menatap pria itu, “Jika memang kakak tahu apa yang membuatku marah lalu kenapa kakak tetap melakukannya?” tanya Rayya masih dengan wajah kesalnya.


Ariq kembali tersenyum, “Kamu kan sudah dengar apa yang kakak ucapkan tadi. Kamu semakin cantik saat kesal. Jadi kakak suka melihatmu kesal. Maaf yaa sudah membuatmu kesal. Maaf!” ucap Ariq dengan wajah lucunya.


Rayya yang melihat itu pun tersenyum lalu tertawa, “Ih kakak. Sudah. Aku sudah memaafkanmu. Lain kali jangan lagi kak. Jangan buat aku kesal walau dengan alasan apa pun.” Ujar Rayya.


Ariq pun mengangguk, “Baiklah. Tapi tidak janji.” ucap Ariq.


Rayya yang mendengar itu tersenyum, “Ish kakak. Jangan mengerjaiku.” Ucap Rayya.

__ADS_1


Ariq pun tertawa hingga keduanya pun tertawa. Keduanya saling bercanda satu sama lain dalam perjalanan menuju tempat kejutan yang Ariq siapkan untuknya.


***


Kurang lebih sepuluh menit kemudian akhirnya mereka tiba di salah satu restoran yang terkenal di kalangan anak muda. Ariq segera turun lebih dulu dan segera membukakan pintu untuk Rayya. Lalu keduanya segera melangkah masuk bersama ke dalam. Ariq segera membawa Rayya menuju tempat yang sudah di pesannya.


Begitu masuk Rayya langsung di sambut oleh dua orang teman polisi Ariq yang masing-masing di samping mereka di temani oleh seorang wanita. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Rayya melainkan pada satu pria yang dia kenal. Mereka saling bertatapan satu sama lain tapi setelahnya Rayya segera mengalihkan pandangan ke arah gadis cantik di samping pria yang dia kenal itu.


“Selamat datang! Pemilik acara. Kami sudah menunggu kalian dari tadi. Ohiya Ariq ayo dong kenalkan kepada kami siapa gadis cantik di sampingmu ini.” Ujar Rendi.


Ariq pun tersenyum lalu menatap Rayya, “Kenalkan ini Rayyana Oktaviani. Panggil saya Rayya calon istriku.” Ariq memberi penekanan di akhir kalimatnya itu seolah memberi peringatan bahwa Rayya adalah miliknya saja,


Rayya pun tersenyum dan kembali bersikap biasa, “Rayya!” ujar Rayya sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


“Rendi!” ucap Rendi.


“Dan ini calon istriku juga namanya Cloe.” Lanjut Rendi memperkenalkan gadis di sampingnya. Cloe berdiri dan memeluk Rayya.


“Ayo duduk!” ujar Cloe.


Rayya pun menurut dan segera duduk di samping gadis bernama Cloe. Ariq juga segera duduk di samping Rayya.


Gadis yang duduk di hadapan Rayya berdiri dan mengulurkan tangannya, “Aku Bella.” Ujar Bella memperkenalkan dirinya.


Rayya pun mengangguk, “Rayya!” ujarnya.


“Mas!” ujar Bella memberi kode kepada suaminya itu yang mencuri pandang ke arah Rayya.


“Aku Farel suami Bella.” Ujarnya menatap wanita di sampingnya. Rayya pun kembali mengangguk dengan tersenyum.


“Baiklah semua sudah saling berkenalan satu sama lain. Jadi apa acaranya sudah bisa di mulai pak?” tanya Rendi tersenyum menatap Ariq.


Ariq pun mengangguk. Rendi segera meminta pelayan untuk membawakan pesanan mereka dan tidak lama acara makan malam itu pun segera di mulai dan semuanya berjalan lancar. Rayya menjadi akrab dengan Cloe dan juga Bella layaknya teman.


***


“Biarkan para wanita yang memutuskan mau kemana.” Ujar Ariq menatap Rayya.


Rayya pun tersenyum, “Tapi sebelum itu kami sholat dulu yaa. Kalian putuskan dulu mau kemana.” Lanjut Ariq berikutnya.


Rayya pun mengangguk. Para lelaki segera berdiri dan menuju mushola yang ada di restoran itu dan kini meninggalkan para wanita saja.


“Rayya, kamu gak sholat?” tanya Cloe.


Rayya menggeleng, “Masih udzur.” Jawab Rayya.


Cloe pun mengangguk, “Sama, aku juga sedang udzur. Kalau mbak Bella bagaimana?” tanya Cloe kepada Bella karena memang Bella tua dua bulan darinya. Selain itu juga Bella sudah menjadi istri dari Farel.


“Aku juga sedang udzur.” Jawab Bella.


Cloe pun mengangguk mengerti, “Kok, bisa samaan yaa.” Ucap Cloe. Rayya dan Bella pun tersenyum karena memang tidak menyangka hal itu.


“Eehh, sekarang sebelum mereka selesai sholat. Lebih baik kita pikirkan kemana kita akan pergi.” ujar Cloe.


“Kenapa harus berpikir. Kita ke mall saja. Kita menonton. Ada film baru yang sedang tayang sekarang.” Ujar Bella.


Cloe pun mengangguk, “Bagaimana menurutmu Rayya.” Ujar Cloe.


“Emm, bagus juga.” Jawab Rayya.


“Ya sudah. Kalau begitu kita ke mall. Ayo!” ajak Bella berdiri dan mengambil tasnya.


Cloe pun ikut berdiri, “Ayo Ray!” ujar Cloe yang melihat Rayya masih duduk dan melihat mereka dengan bingung.


“Tidak menunggu mereka selesai dulu?” tanya Rayya polos.


“Kita akan membuat mereka bingung mencari kita. Lagian ke mall itu lebih asyik dengan sesama wanita. Jika para pria ikut maka akan membosankan. Mereka itu tidak punya kesabaran yang ekstra tinggi. Anggap saja kita duluan dan menunggu mereka di sana. Kita bisa menunggu mereka sambil belanja sedikit. Bagaimana?” usul Bella.

__ADS_1


Cloe mengangguk setuju, “Bagaimana denganmu Rayya?” tanya Bella.


Rayya pun mengangguk, “Ya sudah. Ayo! Tapi kita pakain mobil siapa?” tanya Rayya kemudian.


“Tenang saja!” Bella memperlihatkan kunci mobil.


“Aku yang akan menyetir. Ayo kita ke mall.” Ucap Bella senang karena akhirnya hari ini dia bisa ke mall bersama teman barunya.


Rayya dan Cloe pun segera mengikuti Bella. Rayya mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Ariq.


***


Kini Ariq, Rendi dan Farel baru saja selesai menunaikan sholat dan mereka menuju meja yang tadi mereka gunakan dan seketika saling memandang satu sama lain karena mereka tidak menemukan ketiga gadis yang mereka tinggalkan tadi, “Kemana mereka?” tanya Rendi.


“Apa mereka meninggalkan kita?” tanya Rendi kemudian.


“Sepertinya begitu.” Ujar Ariq membenarkan karena tidak melihat tas milik Rayya.


“Wah, parah ini. Kok mereka meninggalkan kita bahkan tanpa minta izin kepada kita.” Ucap Rendi.


“Sepertinya ini ide istriku. Aku yakin dia yang membawa mereka pergi.” ujar Farel.


“Terus kita sekarang mau mencari mereka kemana?” tanya Rendi bingung.


“Kita ke mall.” Ujar Ariq kemudian setelah membaca pesan di ponselnya.


“Kamu tahu dari mana?” tanya Rendi.


“Calon istriku mengirim pesan bahwa mereka ke mall.” Jawab Ariq.


“Wah, sepertinya calon istrimu itu memang sangat berbakti. Dia bahkan mengirimkan pesan kepadamu. Lihatlah calon istriku dia bahkan tidak mengirimkan pesan kepadaku sama sekali.” Ucap Rendi sedih.


Ariq dan Farel pun tersenyum, “Sudahlah. Ayo kita susul mereka.” ujar Farel. Ketiga pria itu pun segera keluar.


“Mobilku di bawa istriku. Aku numpang sama kalian ya.” Ujar Farel.


“Kamu ikut denganku saja Rel.” ujar Ariq.


Farel pun segera mengangguk lalu mereka segera menuju mobil masing-masing dan segera meninggalkan restoran itu menuju mall.


Sementara ketiga wanita itu kini baru saja tiba di mall dan kini mereka segera masuk ke mall dan mulai melihat-lihat.


“Kalian tidak mengirim pesan kepada para lelaki kan?” tanya Bella.


Cloe mengangguk sementara Rayya tersenyum, “Ouh God. Mereka pasti sedang dalam perjalanan kesini. Memang susah ya punya teman sholelah.” Ujar Bella.


Rayya tersenyum, “Maaf mbak.” Ujar Rayya.


Bella tersenyum, “Sudahlah. Gak apa-apa. Lagian mereka memang harus menyusul juga kan. Tidak masalah. Tapi yang jadi masalahnya itu kita tidak bisa belanja sepuasnya.” Ujar Bella. Rayya dan Cloe pun hanya tersenyum lalu ketiga wanita itu mulai melihat-lihat apa yang ingin mereka beli.


“Rayya, usia kamu saat ini berapa?” tanya Bella.


“Tiga bulan lagi 25.” Jawab Rayya.


“Ouh berarti kamu yang termuda di antara kita.” Ujar Cloe.


Rayya memandang dua wanita di sampingnya itu, “Kami sudah 25.” Ucap Bella.


“Berarti aku akan memanggil kalian dengan mbak?” tanya Rayya.


“Terserah padamu saja Rayya. Kita masih bisa di bilang seumuran. Aku denganmu hanya berjarak lima bulan saja.” ujar Bella.


“Kita berjarak tiga bulan saja.” ucap Cloe.


“Jadi manggilnya senyaman kita aja.” Ucap Bella kemudian.


Rayya pun mengangguk, “Baiklah jika memang begitu.” Ucap Rayya.

__ADS_1


“Ohiya, Rayya kamu kenal dengan kak Ariq sejak kapan?”


__ADS_2