
“Nama yang bagus. Aku akan memanggil mereka dengan triplets F karena aku pusing jika harus menyebutkan nama mereka yang lumayan sulit di sebut itu.” ujar Adiba tersenyum.
“Benar nama yang bagus.” ucap mami Vega membenarkan di angguki juga oleh papi Lutfi. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan keputusan putra dan menantu mereka itu yang memberikan marga menantu mereka untuk cucu perempuan mereka itu. Mereka justru senang karena putra dan menantu mereka itu tidak suka pilih kasih pada mereka selaku kakek dan nenek dari triplets.
“Hmm, triplets F. Apa kalian menyukai nama kalian?” tanya Rayya memandang ketiga keponakannya itu.
“Ahh kak mereka tersenyum sepertinya memang menyukai nama mereka itu.” ujar Zayya heboh. Nayya dan Risam pun hanya tersenyum melihat itu.
Nayya menggenggam tangan suaminya lalu tersenyum memandang suaminya itu sambil mengucap terima kasih karena sang suami sudah memberikan keputusan terbaik dalam pemberian nama pada anak mereka. Risam hanya membalas dengan senyuman saja hingga tangan kecil meraih tangan Risam.
Risam pun melihat siapa yang meraih tangannya itu dan dia tersenyum menyadari bahwa itu keponakannya, “Ada apa boy?” tanya Risam lembut.
Putra Adiba dan Ahsan itu pun menunjuk box bayi, “Mau lihat mereka uncle.” Ucap Akhtar jelas.
Risam pun tersenyum lalu segera menggendong keponakannya itu ke arah box bayi untuk memenuhi keinginan keponakannya yang baru berusia empat tahun itu.
“Mereka tampan uncle.” Ujar Akhtar.
__ADS_1
“Emang kamu tahu yang bagaimana itu tampan?” tanya Adiba menggoda sang putra.
“Tampan itu seperti aku mih.” Ucap Akhtar percaya diri. Adiba dan Ahsan pun tersenyum mendengar jawaban yang putra mereka berikan itu.
“Yah kau benar nak. Kau sangat tampan seperti adik-adik ini. Ohiya ini adik cewek. Dia cewek. Akhtar harus menjaganya yaa.” Ucap Risam.
“Baik uncle.” Jawab Akhtar dengan yakin.
Semua orang yang melihat jawaban yakin Akhtar itu pun tersenyum, “Dia seperti sudah dewasa saja kak. Sudah paham menjaga siapa.” Ujar Nayya tersenyum.
Adiba pun tersenyum lalu mengangguk, “Kau benar adik ipar.” Ujar Adiba membenarkan. Setelah itu semua keluarga bercengkrama satu sama lain sambil menunggu ketiga anggota baru dalam keluarga mereka itu bangun.
Keesokkan harinya, kini Nayya dan Risam sedang bersiap untuk pulang. Kedua orang tua baik orang tua Nayya atau pun orang tua Nayya maupun Risam saat ini sudah pulang. Mereka pulang sudah sejak pagi tadi untuk menyiapkan acara penyambutan Nayya, Risam dan ketiga anak mereka di rumah. Baik orang tua Nayya mau pun Risam sama-sama memutuskan untuk menyambut kepulangan Nayya dan ketiga anaknya itu di rumah mama Fara dan papa Imran karena jika di buat di rumah mami Vega dan papi Lutfi rumahnya lumayan jauh.
Sedangkan jika di buat di rumah Nayya dan Risam rumah itu masih belum resmi. Memang sudah bisa di tempati tapi belum selesai. Masih pada tahap finishing di tambah lagi belum ada perabotan sama sekali di sana. Jadi di ambillah jalan yang baik yaitu di rumah mama Fara dan papa Imran tapi atas persetujuan mami Vega dan papi Lutfi supaya tidak terjadi rasa iri satu sama lain.
Nayya dan Risam menyerahkan keputusan penyambutan mereka pulang ke rumah dengan ketiga anak mereka itu kepada kedua orang tua mereka. Mereka tidak ingin di pusingkan memikirkan di mana harus di sambut. Mereka tidak ingin memilih di antara kedua orang tua yang mereka sayangi. Jadi membiarkan saja mereka yang memutuskan semuanya.
__ADS_1
“Mas, perih!” ujar Nayya sedikit merasa sakit saat dia bergerak.
“Makanya jangan bergerak sayang. Biar mas yang membantumu. Katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan sayang. Mas ini adalah suamimu dan seorang suami sudah sewajarnya membantu istrinya.” Ujar Risam lalu melabuhkan kecupan hangat di kening istrinya itu.
Nayya tersenyum, “Mas jika aku gak gerak nanti maka tulang dan ototku nanti akan kaku. Aku tidak menginginkan hal itu.” ujar Nayya. Risam pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.
“Ya sudah bisa bergerak tapi pelan-pelan sayang.” ucap Risam dan Nayya pun menganggukinya.
Setelah itu Risam kembali memastikan apa barang-barang mereka semua sudah siap dan tidak ada lagi yang tertinggal. Lalu tidak lama setelah itu datang lah dokter Erina untuk pemeriksaan akhir sebelum Nayya pulang.
Nayya memang sudah di izinkan pulang karena Nayya ternyata termasuk pada golongan ibu pasca persalinan yang kuat karena cepat langsung pulih. Mungkin juga hal itu di pengaruhi oleh factor keluarga. Nayya memiliki keluarga yang harmonis dan menyayanginya di tambah lagi memiliki suami yang sangat menyayanginya sehingga stressnya terjaga dan kejadian pasca kehamilan yang sangat di khawatirkan apa bila terjadi terkontrol karena perasaannya Nayya terjaga.
“Semuanya normal. Kamu kuat nak. Kamu termasuk ibu muda pasca melahirkan yang memiliki proses pemulihan cepat. Begitu juga ketiga anakmu yang kuat dan sehat. Sepertinya memang mereka ingin segera pulang dan tidak menyukai tempat seperti ini.” ujar dokter Erina yang menatap ketiga bayi Nayya dan Risam itu yang saat ini sedang membuka matanya baru saja terbangun seolah-olah mereka tahu akan pulang. Jujur saja dokter Erina sangat iri melihat itu karena dia juga ingin memiliki cucu tapi istri putranya belum juga hamil hingga kini padahal sudah ikut program. Entah apa penyebabnya karena menantu dan putranya itu sama-sama sehat. Mungkin memang belum waktunya di beri sehingga usaha yang di lakukan tidak di ijabah dan di ridhoi. Yah putra yang sempat ingin di jodohkan oleh dokter Elvie dan dirinya itu sudah menikah tiga bulan lalu. Memang masih tergolong pasangan baru menikah. Tapi dokter Erina yang memang ingin segera memiliki cucu langsung meminta putra dan menantunya itu melakukan program kehamilan.
“Terima kasih dokter.” Ucap Nayya dan Risam bersamaan.
Dokter Erina pun mengangguk lalu segera meminta perawat untuk melepaskan infus yang masih terpasang di tangan Nayya. Perawat itu pun segera melakukan apa yang di minta oleh dokter Erina, “Nak, saya pamit dulu.” Ujar dokter Erina pamit. Nayya dan Risam pun hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Setelah itu Nayya dan Risam pun kembali bersiap menunggu jemputan karena papa Imran sudah dalam perjalanan untuk menjemput mereka itu. Risam sudah menyelesaikan semua biaya rumah sakit istrinya itu sehingga mereka tinggal menunggu di jemput saja.
Di saat Nayya dan Risam yang saat ini sedang bermain dengan ketiga anak mereka yang sedang terjaga itu kaget dengan kedatangan dokter Elvie yang tiba-tiba masuk, “Huh, dokter pikir kalian sudah pulang tapi syukurlah dokter masih sempat melihat mereka. Jika tidak maka kasihan dokter yang tidak bisa melihat ketiga cucu kecilku yang sangat tampan dan cantik ini.” ujar dokter Elvie.