
Risam yang mendengar ucapan sang istri pun hanya bisa terdiam, “Ih jangan gitu sayang. Kamu gak boleh begitu.” Ucap Risam.
“Makanya jangan aneh-aneh ngomongnya. Aku gak suka mas kita bahas ginian. Aku tahu memang kematian itu akan datang kepada seluruh makhluk yang bernafas tapi aku belum siap untuk saat ini. Aku masih ingin bahagia dengan suami dan keluarga kecil kita nanti.” Ucap Nayya.
“Ya ya kita akan bersama selamanya. Kita akan merawat anak-anak kita nanti bersama-sama. Sudah jangan bahas lagi yang kaya ginian. Maaf mas sudah memulainya dan membuatmu sedih karena hal ini. Sudah ayo kita tidur.” Ucap Risam lalu kembali mengeratkan pelukannya kepada istrinya itu.
“Siapa juga coba yang memulainya.” Ujar Nayya.
Risam tersenyum, “Maaf sayang.” ucap Nayya.
Nayya pun mengangguk saja dan membalas pelukan sang suami. Dia memang sangat nyaman dalam pelukan suaminya itu, “Mas, gak mau di lanjutin yang tadi?” tanya Nayya dalam pelukan suaminya itu.
Risam tersenyum mendengar pertanyaan sang istri. Dia langsung mengerti apa yang di maksud istrinya itu, “Emm, sudah larut malam sayang. Kita bekerja besok. Nanti kita ganti malam lain tapi double nanti. Sudah sekarang kita tidur.” Ujar Risam. Nayya pun tersenyum lalu keduanya segera tidur sambil berpelukan satu sama lain.
***
Keesokkan paginya saat bangun untuk sholat tahajud, Nayya langsung mual dan berlari menuju kamar mandi. Risam yang masih mengumpulkan nyawanya kaget melihat sang istri yang berlari menuju kamar mandi. Dia pun segera turun dari ranjang dan menyusul Nayya ke kamar mandi.
Nayya memuntahkan cairan bening, Risam memijat tengkuk istrinya itu, “Ada apa? Apa kamu salah makan?” tanya Risam setelah mualnya hilang.
__ADS_1
Nayya menggeleng, “Nayya sepertinya gak makan atau jajan aneh-aneh deh.” Ucap Nayya.
“Ya sudah kalau begitu kamu istirahat dulu. Mas akan ambilkan teh hangat untukmu. Kamu tunggu di sini.” Ucap Risam lalu dia segera keluar menuju dapur.
Nayya pun hanya menurut saja lalu dia melihat tanggal dan kaget bahwa menstruasinya sudah terlambat seminggu, “Apa jangan-jangan aku hamil?” gumam Nayya sambil mengelus perutnya.
“Semoga saja sudah ada. Aku harus memastikannya nanti.” Lanjut Nayya sambil menghitung tanggal periodenya kembali untuk memastikan bahwa dia tidak salah menghitung.
Tidak lama Risam kembali dengan segelas teh hangat dan Nayya pun langsung menerimanya dan meminumnya. Setelah minum teh itu mual Nayya pun hilang lalu keduanya segera melakukan sholat bersama dan seperti kegiatan yang biasa mereka lakukan sambil menunggu subuh yaitu membaca Al-Qur’an bersama. Setelah waktu subuh keduanya pun segera melakukan sholat subuh bersama.
Setelah melakukan sholat subuh bersama, Nayya segera keluar memabtu sang mama sarapan. Nayya tersenyum melihat mamanya yang sedang memotong ikan di dapur. Nayya pun segera berlari dan memeluk mamanya itu dari belakang, “Ish mama pikir siapa nak. Mama sampe kaget tahu.” Ujar mama Fara tersenyum begitu menyadari bahwa putri sulungnya itu yang memeluknya.
Mama Fara tersenyum lalu mengecup kening sang putri, “Mama gak sedih sayang. Mama ngerti kok. Sudah jangan minta maaf lagi. Kamu gak salah dan mama akan selalu memaafkan apa yang kau lakukan. Kamu itu putri mama nak.” ucap Mama Fara lembut.
“Ahh mama aku sayang padamu. Terima kasih. Tapi aku tetap akan minta maaf karena suamiku menyuruhku begitu.” Ucap Nayya.
Mama Fara pun tersenyum, “Kamu beruntung nak memiliki suami seperti Risam.” Ucap mama Fara.
Nayya mengangguk membenarkan ucapan mamanya itu, “Mama benar. Aku beruntung memiliki suami seperti kak Risam. Walaupun aku saat ini adalah istrinya tapi dia selalu mengingatkan aku untuk selalu menghormati kalian. Aku mencintainya mah. Entahlah cintaku untuknya tumbuh semudah itu sehingga untuk memikirikan orang lain pun hatiku tak ingin melakukannya. Seolah-olah hatiku sudah penuh dengannya. Aku tidak bisa membayangkan hidupku nanti jika tanpa dirinya.” Ucap Nayya.
__ADS_1
“Mama tahu nak. Mama sangat bahagia dengan pernikahan kalian. Mama doakan agar kamu segera hamil. Bukan karena mama ingin memiliki cucu tapi karena mama ingin melihat kalian memiliki anak nanti. Mama ingin melihat bagaimana kalian mendidik anak kalian. Kamu gak menunda kan sayang?” tanya mama Fara.
Nayya menggangguk, “Aku gak menunda mah. Aku juga ingin segera memiliki anak. Aku ingin memiliki anak yang tampan seperti suamiku. Selain itu juga aku iri dengan teman-teman sekelasku yang sudah punya anak semua bahkan ada yang sudah sekolah dasar. Jadi apa alasanku untuk menunda.” Ucap Nayya.
Mama Fara pun tersenyum, “Syukurlah jika begitu nak. Mama senang mendengarnya. Semoga cucu mama sudah ada di sini sekarang.” Ucap mama Fara mengelus perut rata sang putri.
Nayya pun tersenyum, “Aamiin. Terima kasih atas doanya mah.” ucap Nayya. Lalu setelah itu kedua wanita berbeda generasi itu segera memasak bersama untuk sarapan.
Singkat cerita, kini Nayya dan Risam beserta papa Imran dan mama Fara berada di meja makan untuk sarapan bersama. Ke empat orang itu menikmati sarapan dengan penuh hikmat dan suasana kekeluargaan.
Sekitar 30 menitan mereka sarapan dan kini Nayya dan Risam siap-siap untuk pulang karena memang Nayya harus masuk kerja dan Risam juga harus bekerja mengecek pertumbuhan jagungnya.
“Sayang, kamu harus hati-hati kerjanya. Jangan kelelahan.” Ucap Risam saat Nayya hendak naik mobilnya. Nayya pun tersenyum lalu menyalami suaminya. Nayya memikirkan entah bagaimana jika suaminya itu tahu bahwa dia mengandung nanti. Entah bagaimana protektif suaminya itu. Nayya yakin dia saat ini sedang hamil namun dia harus memastikannya sebelum itu. Belum hamil suaminya saja sudah sangat protektif apalagi jika hamil nanti mungkin akan lebih over protektif. Namun Nayya menyukai sikap protektif suaminya itu. Nayya menganggap hal itu sebagai bentuk perhatian suaminya kepadanya.
“Mas juga hati-hati bekerjanya. Jangan terlalu kelelahan. Ohiya mas nanti kita juga akan mengunjungi mami dan papi nanti. Aku merindukan mereka.” ucap Nayya.
Risam mengangguk lalu setelah itu dia mengambil sepeda motor yang biasa dia pakai jika ke kebun nanti. Nayya pun segera berangkat menuju puskesmas dan Risam berangkat ke kebun. Nayya dan Risam tidak lupa pamitan kepada pegawai Nayya itu.
“Kita akan melakukan pemeriksaan yaa sayang. Semoga apa yang bunda prediksi benar ya nak. Jangan kecewakan bunda.” Ucap Nayya mengelus perutnya itu saat dia hendak ke puskesmas.
__ADS_1