Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
44


__ADS_3

“Nayya datang bulan mas.” Ucap Nayya lirih.


Risam yang mendengar ucapan istrinya itu seketika diam. Nayya yang melihat itu segera menggenggam tangan suaminya, “Maaf mas. Nayya gak tahu. Biasanya mereka datang bukan di tanggal seperti ini tapi ini datang seminggu lebih cepat dari tanggal biasanya. Maaf mas.” Ucap Nayya sambil mengecup tangan suaminya itu berulang kali.


Risam segera tersadar lalu dia tersenyum. Kini dia mengerti kenapa istrinya itu memintanya untuk sholat lebih dulu. Tadinya dia sudah sedih karena mengira istrinya itu tidak suka sholat dengannya tapi ternyata istrinya itu sedang udzur, “Maaf sayang. Mas telah berpikiran buruk kepadamu tadi.” Ucap Risam segera membawa istrinya itu ke pelukannya.


Nayya yang mendengar ucapan suaminya seketika menjadi bingung, “Maksudnya mas?” tanya Nayya menatap suaminya.


Risam memberi kecupan di kening istrinya itu, “Mas tadi mengira bahwa kau yang menyuruh mas melakukan sholat lebih dulu karena kau tidak ingin sholat bersama mas tapi ternyata kau sedang udzur. Mas sudah berprasangka buruk padamu sayang. Maafkan mas.” Ucap Risam lalu mengecup jemari istrinya itu.


Nayya tersenyum, “Mas gak marah Nayya se--”


“Kenapa mas harus marah karena itu sayang? Itu normal untuk setiap wanita. Lagian kamu juga gak bisa kan mengaturnya agar dia tidak datang. Mas gak mungkin menyalahkanmu karena itu di luar kuasamu. Itu tandanya kita masih di minta untuk beristirahat. Emang kenapa jika kita tidak melakukan malam pertama. Lagian kita tetap tidur bersama hal itu sudah sama saja dengan malam pertama. Malam pertama tidak selalu identik dengan hubungan intim sayang. Mas justru yang minta maaf karena sudah berpikiran buruk padamu. Sudah sana lebih baik kau ganti pakaian dulu.” Ucap Risam tersenyum.


Nayya pun akhirnya tersenyum lalu dia mengangguk dan segera menuju lemari dan mengambil semua pakainnya dan juga pembalut. Risam duduk di ranjang mengamati istrinya itu, “Mas jangan melihat Nayya. Nayya malu!” ucap Nayya.


Risam pun tersenyum, “Baiklah, Mas akan menutup mata.” Ucap Risam.


“Jangan mengintip yaa mas. Awas saja jika ketahuan mengintip.” Ucap Nayya.


Risam pun hanya tersenyum lalu segera menutup matanya. Nayya pun segera memakai pakaiannya.

__ADS_1


“Sudah belum sayang? Mas sudah boleh membuka mata belum?” tanya Risam.


“Sebentar mas. Sedikit lagi.” Ujar Nayya.


Risam yang mendengar itu tertawa lalu dia segera membuka matanya dan melihat istrinya itu yang sudah selesai berganti pakaian. Risam segera bangkit dari ranjang istrinya itu dan mendekati Nayya lalu menarik Nayya untuk duduk di hadapan lemari riasnya. Lalu dia membuka handuk yang membungkus rambut istrinya, “Cantik!” puji Risam lalu menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut istrinya itu.


Risam segera membantu mengeringkan rambut istrinya itu dengan handuk lalu mengambil hair dryer milik istrinya dan membantu mengeringkannya dengan lembut. Nayya pun tersenyum memandangi apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Ini seperti adegan di novel-novel buatannya. Dia tidak menyangka akan ada saatnya dia merasakan menjadi tokoh fiksi dalam novel ciptaannya.


“Sudah selesai!” ucap Risam setelah memastikan rambut hitam panjang milik istrinya itu sudah kering.


“Terima kasih mas.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum lalu memeluk istrinya itu dari belakang, “Mas mencintaimu sayang.” ucap Risam berbisik.


Risam tersenyum lalu dia mendekatkan keningnya dan kening sang istri hingga hidung keduanya bertemu dan saat Risam ingin mendekatkan bibirnya dan bibir istrinya itu, Nayya menengok ke sebelah lalu dia kembali berputar menatap cermin riasnya, “Mas, ayo sana mandi dulu.” Ucap Nayya tersenyum.


Risam pun tersenyum lalu dia mengangguk segera menuju kamar mandi. Nayya tersenyum lalu menyentuh bibirnya yang hampir saja bersentuhan dengan bibir suaminya itu. Nayya bukan tidak mau memberikan first kissnya itu kepada sang suami tapi dia malu melakukannya.


Di kamar mandi Risam juga tersenyum sambil mandi mengingat adegan hampir saja bibirnya itu mengecup bibir sang istrinya, “Ahh aku bahkan belum merasakannya tapi aku sudah bisa merasakan aroma manisnya.” Ucap Risam lalu segera mengguyur tubuhnya dengan air untuk menghilangkan pikiran kotornya itu.


Singkat cerita, kini Risam keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja. Nayya yang melihat itu memalingkan wajahnya malu, “Mas, kenapa hanya memakai handuk saja?” ucap Nayya dengan nada protes.

__ADS_1


Risam pun tersenyum, “Maaf sayang. Mas juga hanya membawa handuk ke dalam.” Ucap Risam.


“Sudahlah, Mas ganti pakaian saja.” ucap Nayya menunjuk pakaian suaminya itu yang sudah terletak di ranjang.


Risam pun tersenyum lalu segera mengambil pakaiannya itu, “Sayang, ********** gak ada.” Ucap Risam menggoda istrinya.


“I-itu ambil sendiri mas.” Ucap Nayya gugup.


Risam pun akhirnya terkekeh lalu segera menarik koper miliknya itu dan mengambilnya, “Lain kali sekalian dengan ********** yaa sayang.” ucap Risam menggoda istrinya itu lagi. Entah kenapa dia suka melihat istrinya itu yang tengah malu dengan wajah memerahnya.


“Ish Mas. Jangan menggoda Nayya. Sudah ah sana pakai pakaiannya.” Ucap Nayya memang membelakangi suaminya itu.


Risam pun segera menurut saja karena sudah cukup dia menggoda istrinya itu. Setelah selesai berganti pakaian kini bergantian Nayya yang membantu suaminya itu mengeringkan rambutnya.


Sementara di sisi lain, di sebuah rumah tepatnya di sebuah kamar ada seorang pria yang menatap sebuah foto dan juga undangan pernikahan di ranjangnya, “Kau memang selalu menepati janjimu yaa. Bahkan undangan yang kau berikan padaku benar-benar undangan pertama dan berbeda dari yang lain. Aku bahagia melihatmu bahagia tapi aku juga tidak munafik bahwa aku saat ini sedang sedih. Hatiku terluka. Bagaimana aku bisa datang menghadiri pesta pernikahanmu jika hatiku saja belum juga mengikhlaskanmu. Perasaan itu masih ada di hatiku bahkan seluruh hati dan tubuhku hanya mengingatmu. Aku harus bagaimana Nay agar bisa melupakanmu. Aku memang bodoh dan pengecut yang tidak pernah memperjuangkanmu tapi apa cintaku salah. Aku mencintaimu dengan tulus.” Ucap Afnan menatap foto Nayya yang tersenyum.


“Ingin rasanya aku mengirimkan sesuatu padamu Nay agar kau tidak akan pernah mencintai suamimu tapi entah kenapa hatiku melarangnya melakukannya. Aku harus bagaimana Nay. Ingin rasanya aku berbuat jahat tapi hatiku ingin aku melakukan kebaikan. Aku harus bagaimana Nay. Sakit Nay, sangat sakit.” Ucap Afnan.


“Apa aku lebih baik menghilang saja dari dunia ini agar tidak perlu merasakan sakit lagi?” ucap Afnan lalu mencari sesuatu di laci mejanya.


Afnan segera mengarahkan silet itu di nadinya, “Lihatlah Nay hatiku bahkan tidak menolak dan melarangku untuk menyakiti diriku tapi kenapa jika kau yang ingin ku sakiti dia melarangku? Aku bahkan tidak bisa mengendalikan hatiku lagi. Lebih baik aku pergi saja.” ucap Afnan menutup matanya

__ADS_1


“Kakak, apa yang kau lakukan?”


__ADS_2