
Nayya yang mendengar ucapan suaminya itu menggeleng, “Jangan mengatakan hal seperti itu mas. Kenapa mas harus menumpang di ruko Nayya. Mas adalah suami Nayya dan milik Nayya adalah milik suami Nayya juga. Nayya gak keberatan sama sekali dengan hal itu. Jadi mas jangan pikirkan cerita di luaran sana yang suatu saat nanti akan terjadi.” Ucap Nayya lalu memeluk suaminya itu.
“Maaf sayang sudah membuatmu bersedih dengan apa yang mas katakan. Mas janji kita akan memiliki rumah sendiri yang kita bangun bersama.” Ucap Risam membalas pelukan istrinya itu.
Nayya pun mengangguk menyetujui, “Kita akan ke sana pindah ke sana besok aja yaa. Hari ini kita tinggal di sini dulu. Kamu gak apa-apa kan kita tinggal sehari lagi di sini?” tanya Risam.
Nayya menggeleng, “Bukankah ini rumah Nayya juga?” ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu mengangguk, “Ini rumahmu juga sayang. Seperti milikmu adalah milik mas maka apapun yang mas miliki juga milikmu sayang.” ucap Risam. Nayya pun tersenyum.
Setelah itu keduanya segera turun ke bawah untuk membicarakan keputusan mereka yang akan tinggal sendiri di ruko milik Nayya. Keluarga Risam pun semua setuju saja karena mereka juga paham bahwa Risam dan Nayya ingin memiliki privasi mereka dan juga belajar bertanggung jawab untuk rumah tangga mereka sendiri. Jadi mami Vega dan papi Lutfi sebagai orang tua hanya bisa mendukung keputusan anak-anaknya itu.
Setelah mendapat persetujuan dari keluarga Risam, Nayya dan Risam pun mulai berkemas dengan semua barang Risam yang akan di bawah nanti.
***
Singkat cerita, kini Nayya dan Risam sudah mulai memasukkan barang-barang ke bagasi mobil. Mami Vega dan Papi Lutfi membantu putra dan menantunya itu berkemas, “Sering-seringlah datang nak.” ucap mami Vega.
Risam tersenyum, “Mih, aku masih bekerja dengan papi dan kakak ipar. Jadi sudah pasti aku akan sering datang. Lagian kita juga hanya berbeda desa Mih. Aku janji akan sering menghubungi mami nanti.” Ucap Risam.
Mami Vega pun mengangguk, “Mami akan sering datang. Kamu gak keberatan kan nak?” tanya mami Vega menatap Nayya.
Nayya tersenyum, “Mami kapanpun bisa datang. Pintu rumah kami terbuka untuk kalian semua. Aku janji mih akan menjaga putramu dengan baik. Aku tidak akan merebutnya darimu. Kau akan tetap jadi wanita pertamanya.” Ujar Nayya.
Mami Vega tersenyum, “Kau ini nak. Mami memang ibunya tapi kau juga adalah istrinya. Dia yang harus menjagamu bukan kau yang menjaganya. Mami percaya padamu nak. Mami memilihmu dan merestuimu untuk jadi istrinya. Hanya saja hati seorang ibu pasti akan tetap sedih jika harus berpisah dengan putranya.” Ucap mami Vega memeluk erat menantunya itu.
__ADS_1
Setelah acara pamit-pamitan haru itu, akhirnya Nayya dan Risam berangkat. Sekitar kurang lebih 30 menit akhirnya mereka tiba di ruko milik Nayya di desa B. Di sana sudah menunggu mama Fara dan pap Imran menyambut putri dan menantunya itu, “Selamat datang kembali nak.” ucap mama Fara dan papa Imran.
Nayya tersenyum lalu memeluk kedua orang tuanya itu, “Terima kasih sudah menyambut kami.” Ucap Nayya.
“Apa-apa an itu? kamu akan selalu jadi putri kami nak. Putri kesayangan kami.” Ujar mama Fara.
Risam pun segera menyalami kedua mertuanya itu, “Mah, Pah.” Ucap Risam. Kedua orang tua itu hanya tersenyum menatap menantu mereka.
Setelah itu semua barang-barang milik Nayya dan Risam segera di pindahkan ke atas di bantu oleh para karyawan Nayya yang memang bekerja itu.
Kini Nayya dan Risam sedang merapikan semua barang yang ada. Nayya merapikan pakaian suaminya itu di lemarinya berbagi dengan pakaiannya, “Mas, sepertinya kita harus menambah lemari pakaian.” Ucap Nayya.
Risam pun menatap istrinya itu lalu mengangguk, “Kita akan membelinya nanti.” Timpal Risam.
Nayya pun mengangguk lalu dia kembali merapikan semua pakaian itu, “Yes, selesai.” Ujar Nayya tersenyum.
Nayya pun menatap suaminya itu dengan mengangkat alisnya, “Ayo duduk sini.” Ucap Risam lagi sambil menepuk ranjang di sampingnya.
Nayya pun menurut dan begitu Nayya duduk. Risam langsung memberikan dompet miliknya kepada istrinya itu. Nayya pun mengangkat tangannya itu lalu menatap suaminya, “Apa ini mas?“ tanya Nayya.
“Itu adalah tabungan mas selama ini. Kamu sekarang adalah istri mas. Jadi harus tahu penghasilan mas dan mulai saat ini kamu yang mengatur semua keuangan kita.” Ucap Risam.
Nayya yang mendengar itu menggeleng lalu mengembalikan dompet milik suaminya itu, “Kenapa?” tanya Risam.
Nayya tidak menjawab tapi justru memeluk suaminya itu, “Aku tidak mau dompet atau tabunganmu mas. Kau simpanlah sendiri itu. Kau beri saja nafkah untukku jangan semuanya kau berikan padaku. Aku ini juga wanita normal mas yang pastinya kadang bisa khilaf ketika melihat uang banyak. Aku akan menjadi gila belanja nanti. Jadi aku hanya meminta hakku saja. Nafkah lahir darimu sesuai jumlah yang ingin kau berikan.” Ucap Nayya dalam pelukan suaminya itu.
__ADS_1
Risam tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia memang pria beruntung memiliki istri yang paham agama. Dia melepas pelukan mereka dan menatap mata istrinya itu, “Mas tahu itu sayang. Tapi mas ingin tetap kau yang memegang semua keuangan kita. Mas percaya padamu dan jika pun kau khilaf dan ingin belanja apapun itu. Mas mengizinkannya selama mas mampu.” Ucap Risam lembut.
Nayya menggeleng, “Aku akan menjadi istri jahat seperti itu yang mengambil semua keuangan suaminya tanpa suaminya memiliki uang sedikit pun.” Ucap Nayya.
“Mas akan minta padamu jika butuh sayang.” ujar Risam.
“Tapi mas.”
“Sudah jangan menolaknya sayang. Ayo simpan. Pin atmnya adalah tanggal lahirmu sayang.” ucap Risam.
Nayya pun mengangguk saja lalu menerima dompet suaminya itu, “Apa aku bisa melihat isi dompetmu mas?” tanya Nayya penasaran sambil bersandar pada suaminya itu.
“Buka saja sayang jika kau ingin.” Ucap Risam.
Nayya pun tersenyum lalu membuka dompet milik suaminya itu lalu dia tertawa mendapatkan pas foto sekolah dasar milik suaminya, “Mas, ini kau?” tanya Nayya tidak percaya.
Risam pun hanya tersenyum lalu mengangguk, “Jelek yaa?” tanya Risam.
Nayya menggeleng, “Gak kok. Tampan. Nayya ingin anak kita nanti mirip sama mas.” Ucap Nayya menatap pas foto suaminya itu.
“Kau ini meledek mas yaa.” Ucap Risam.
Nayya menggeleng, “Gak mas. Nayya serius. Ehh, kayaknya punya Nayya juga masih ada deh. Nayya cek dulu yaa.” Ucap Nayya lalu berdiri mencari dompet lamanya untuk menemukan pas foto sekolah dasarnya itu.
“Ahh ini dia.” Ucap Nayya setelah menemukan dompetnya.
__ADS_1
“Coba sini mas lihat?” pinta Risam.
“Tapi mas jangan kaget yaa.” Ucap Nayya. Risam pun mengangguk menyetujuinya. Akhirnya Nayya pun memberikannya.