Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
105


__ADS_3

Mami Kartika mendekati Zayya dan menepuk bahunya, "Kamu lolos!"


Diaz dan Zayya saling memandang melihat itu. Mereka terkejut akan apa yang terjadi.


Mami Kartika kembali duduk di sofa setelah mengatakan dua kata itu dan bergantian dengan Dea yang berdiri dan mendekati Zayya lalu memeluknya, “Kakak ipar. Selamat datang. Maaf untuk ucapanku yang tadi terdengar merendahkanmu. Aku hanya mengikuti drama yang mami rencanakan.” Ucap Dea dalam pelukan Zayya. Diaz juga mendengar apa yang di ucapkan oleh adiknya itu.


“Mih, pih apa kalian bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa maksudnya semua ini?” Tanya Diaz menatap papi dan maminya itu.


“Pih, kau yang jelaskan pada putra kita. Kau yang menciptakan drama ini maka untuk itu kau yang bertanggung jawab untuk semuanya. Aku ke kamar dulu. Diaz papi merestuimu.” Ucap papi Atif lalu dia segera pergi dari ruang keluarga itu.


“Mih!” panggil Diaz.


“Mami tidak ingin menjelaskan apapun padamu. Tapi jika kau ingin tahu tanyakan saya pada Cyra. Dia yang tahu semua ini. Mami juga malas menjelaskannya padamu. Tapi satu hal yang pasti dan harus kau ingat bahwa mami menerima Zayya sebagai calon menantu mami. Dia gadis yang memiliki pendirian dan sangat pantas jadi istrimu nanti.” Ucap mami Kartika tersenyum menatap Zayya yang juga sama bingungnya dengan Diaz.


“Zayya, maafkan perkataan kami tadi ya nak. Kami sengaja melakukanya untuk mengujimu. Tapi ketahuilah sebelum kau datang dan di bawa kesini oleh Diaz. Kami sudah memilihmu untuk jadi menantu kami. Kau kan tahu nanti semuanya. Semua pertanyaanmu nanti bisa terjawab setelah apa yang sudah terjadi padamu dalam beberapa bulan terakhir ini terbongkar.” Ucap mami Kartika lalu dia pun menyusul sang suami dan pergi dari ruang keluarga itu.


Dea pun hendak berdiri dan menyusul mami dan papinya tapi Diaz langsung menahannya, “Sekarang kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kamu pasti tahu sesuatu.” Ujar Diaz.


“Kaakk, lepaskan aku. Aku sungguh sama sekali gak tahu apapun. Aku hanya di beri tahu bahwa kakak akan datang bersama calon kakak ipar dan aku di minta untuk mengatakan sesuatu yang terdengar meremehkan kakak ipar nanti. Hanya itu saja yang aku tahu kak.” Ucap Dea jujur.


“Ahh baiklah. Aku percaya padamu.” Ucap Diaz melepaskan adiknya itu dan Dea segera lari menuju kamarnya.


Kini di ruang keluarga itu tinggalah menyisakan Zayya dan Diaz saja yang terdiam, “Aku akan mengantarmu pulang. Kita akan cari tahu nanti apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan menyelidikinya dan nanti akan memberitahumu.” Ucap Diaz.


Zayya pun hanya mengangguk saja walaupun kini dalam otaknya berputar berbagai macam pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Diaz dan Zayya pun segera keluar dari kediaman itu dan kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.


“Dokter mo--”


“Tenang saja motormu akan baik-baik saja dan akan di antarkan nanti. Untuk hari ini aku akan mengantarmu pulang sekaligus meminta maaf kepada orang tuamu karena sudah mengajakmu pergi tanpa bertanya pada mereka.” Ucap Diaz.


Zayya pun hanya mengangguk saja. Dia tidak ingin bertanya lagi karena otaknya sudah lelah berpikir akan apa yang terjadi sebenarnya. Dia sudah lelah memikirkan kemungkinan yang sudah terjadi.


***


Sementara di sisi Nayya dia mondar mandir di ruang keluarganya hingga membuat Risam gemas sendiri dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu, “Sayang, apa yang kamu khawatirkan. Mas yakin dia baik-baik saja.” Ucap Risam.


“Aku juga gak tahu kenapa perasaanku mengkhawatirkannya. Aku sangat khawatir. Aku takut dia kenapa-kenapa mas. Aku tidak akan bisa tenang tanpa melihatnya dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.” Ujar Nayya.


“Ya sudah kalau begitu ayo kita ke rumah mama dan papa untuk menunggunya. Bukankah dia sudah mengatakan bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba.” Ucap Risam menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


Nayya pun akhirnya mengangguk dan mereka pun segera menuju kediaman mama Fara dan papa Imran dengan triplets dalam gendongan mereka.


Begitu tiba di kediaman mama Fara dan papa Imran langsung saja mereka masuk, “Mah, apa Zayya sudah tiba?” Tanya Nayya begitu menurunkan putrinya dari gendongannya itu.


“Zayya. Belum nak. Dia belum tiba. Ada apa?” Tanya mama Fara.


“Itu mah dia khawatir kepada Zayya. Dia merasa Zayya berada dalam bahaya sehingga tidak bisa tenang sama sekali.” Jawab Risam.


“Aku khawatir mah. Aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi entah kenapa perasaanku tidak tenang.” Ucap Nayya.


Papa Imran mendekati putri sulungnya itu dan menepuk bahunya, “Tenang saja. Dia pasti baik-baik saja. Kamu gak boleh khawatir berlebihan.” Ucap papa Imran.


Nayya pun mengangguk lalu memeluk papanya itu. Dia tenang dalam pelukan papanya itu, “Sudah, kenapa khawatir. Zayya itu sudah dewasa dia pasti tahu apa yang terjadi padanya baik atau buruk. Kita tunggu saja dia pulang.” Ucap papa Imran lalu melepas pelukannya dari sang putri.


Risam yang melihat itu tersenyum. Ternyata walaupun dia selalu memastikan bahwa istrinya nyaman dan dia selalu mencurahkan kasih sayang dan cintanya itu untuk sang istri. Tetap saja hal itu tidak akan bisa menggantikan sosok papi Imran dalam hidup istrinya. Akankah dia bisa merasakan hal itu dari putrinya. Risam segera menatap sang putri.


***


Tepat 30 menit kemudian akhirnya sebuah mobil tiba dan berhenti di kediaman mama Fara dan papa Imran itu lalu Zayya dan Diaz pun segera turun. Nayya yang mendengar ada yang datang dia segera keluar bersama sang suami dan papanya.


Nayya terharu melihat adiknya yang baik-baik saja itu, “Kaak! Apa kau menungguku?” Tanya Zayya mendekati Nayya.


“Kaakk, maaf!” ucap Zayya. Dia sangat tahu kakak sulungnya itu kadang-kadang punya firasat tentang keberadaan mereka.


“Siapa laki-laki itu?” Tanya Nayya.


“Dia--”


Sementara di sisi lain, “Assalamu’alaikum om. Saya Diaz temannya Zayya.” Ucap Diaz memberi salam.


“Wa’alaikumsalam. Masuk dulu. Kita bicara di dalam.” ucap papa Imran dan akhirnya ketiganya pun masuk ke dalam rumah dan segera meminta Zayya untuk membuatkan minum untuk tamu mereka itu. Zayya pun segera menurut dan tidak jadi menjelaskan Diaz kepada Nayya.


“Maaf om jika karena kesalahan saya membuat kalian mengkhawatirkan Zayya. Saya mengajaknya untuk bertemu dengan orang tua saya. Maaf jika saya lancang membawanya tanpa izin dari kalian.” Ucap Diaz begitu papa Imran selesai meminta Zayya untuk membuatkan minum untuk mereka.


“Jadi kamu teman atau apanya Zayya?” Tanya Risam mewakili pertanyaan papa Imran.


“Saya mencintai adik anda. Saya masih dalam tahap mendekatinya.” Jawab Diaz tanpa keraguan.


“Lalu apa Zayya menerimanya?” Tanya papa Imran.

__ADS_1


“Saya belum mengungkapkan apapun kepadanya.” Ucap Diaz.


“Lalu kau berani datang ke sini sebelum mengungkapkan perasaan padanya?” Tanya papa Imran.


“Maaf om saya lancang.” Ucap Diaz.


Papa Imran pun menarik nafasnya, “Hum, ya sudah. Kalau begitu saya tidak ingin ikut campur urusan ini. Kamu bicarakan saja dengan Zayya. Jika putri kami setuju denganmu maka kami pun merestui.” Ucap papa Imran.


“Pah!” ucap Zayya saat datang dengan minuman di tangannya.


“Nak, bicarakan dengannya. Kami tidak ingin ikut campur dengan urusanmu. Kamu sudah dewasa jadi sudah pasti tahu dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk.” Ucap papa Imran mengusap kepala putrinya itu.


“Aku belum menerimanya pah. Dia yang menculikku tadi ke rumah orang tuanya.” Lapor Zayya.


Diaz yang mendengar ucapan Zayya itu pun menelan ludahnya kasar. Sepertinya jalannya tidak akan lancar karena apa yang dia lakukan hari ini. Ahh menyebalkan.


Risam tertawa mendengar ucapan Zayya itu, “Adik ipar kau membuat calonmu memiliki poin buruk dari papa mertua.” Ucap Risam.


“Biarin. Emang bener kok kakak ipar. Dia itu menyebalkan.” Ujar Zayya.


“Sudah. Kalian bicarakan baik-baik masalah kalian. Papa yakin kamu bisa.” Ucap papa Imran lalu dia segera berdiri begitu juga Risam dia mengikuti papa Imran pergi ke belakang.


Kini tinggalah Zayya di sana bersama Diaz, “Maaf dek!” ucap Diaz.


“Maaf apa an dokter. Kau itu sudah melakukan sesuatu yang membuatku benci padamu hari ini. Kau sduah mengakui aku sebagai tunanganmu padahal tidak. Lalu memaksaku bertemu dengan orang tuamu. Lalu kini dengan lancangnya mengakui aku di depan orang tuaku mengatakan bahwa kau mencintaiku padahal kau sama sekali tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku. Ahh dasar kau dokter.” Ucap Zayya.


“Maaf!” ucap Diaz.


“Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?” Tanya Diaz.


“Hum, dokter harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa bahwa apa yang terjadi pada kita adalah rencana orang tuamu.” Ucap Zayya.


“Aku juga sudah memikirkannya dan sama dengan dirimu. Maaf! Aku akan mencari tahu semuanya.” Ucap Diaz.


Zayya pun mengangguk, “Ya sudah jika begitu. Terima kasih sudah mengantarku pulang. Dokter sudah bisa pulang.” Ucap Zayya lalu dia berdiri dan memanggil orang tuanya agar Diaz bisa berpamitan.


Diaz pun menurut lalu dia meminum minuman yang sudah di buatkan oleh Zayya itu. Dia tidak ingin membuat Zayya lebih kesal lagi. Dia tidak tersinggung sama sekali dengan apa yang di lakukan Zayya.


Setelah itu Diaz pun segera pamit pulang kepada papa Imran dan Risam.

__ADS_1


__ADS_2