
Sesungguhnya Umur, Rezeki dan Jodoh sudah ada yang mengatur, kita cukup menjalaninya dengan sepenuh hati. Apapun yang terjadi entah kecelakaan atau musibah tidak akan bisa merenggut nyawa seseorang jika Tuhan belum menghendaki orang itu meninggal.
Begitupun dengan Yuna, ia hampir jatuh ke jurang namun karena Tuhan tidak berkehendak ia untuk jatuh dan selamat maka itulah yang terjadi. Yuna sekarang sudah berada diatas, ia sudah bisa bernafas lega sekarang.
Akhirnya perjuangannya tidak sia-sia, ia pun segera memeluk Alia erat karena mereka bisa keluar dari dalam jurang dengan selamat.
"Alhamdulillah akhirnya kalian selamat, kalian ngga papa kan?" tanya Pak Ahmad kepada Yuna dan Alia
"Iya pak alhamdulillah saya baik-baik saja, terimakasih atas bantuan bapak saya tidak tau apa yang akan terjadi jika bapak tidak datang dan menyelamatkan kami. Sekali lagi terimakasih banyak pak" ucap Yuna sangat bersyukur karena ia selamat dari bahaya yang mengancam nyawanya serta sahabatnya.
"Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja, saya senang karena saya datang diwaktu yang tepat sehingga bisa menyelamatkan nyawa kalian," ucap Pak Ahmad karena Tuhan mengirimkan dirinya untuk menyelamatkan Yuna dan Alia.
"Al kita selamat," ucap Yuna sembari memeluk Alia dan menangis bersama. Alia yang sudah sangat lemas hanya bisa menangis anpa suara dipelukan Yuna.
Namun tak lama kemudian Alia tak sadarkan diri dipelukan Yuna karena ia sudah tidak memiliki tenaga lagi setelah ia habiskan untuk bertahan hidup dibawah akar pohon.
"Al? Al! Alia lo kenapa? Al bangun Al," ucap Yuna yang sangat cemas melihat sahabatnya tidak sadarkan diri.
"Sebaiknya kita kembali ke tenda dulu untuk melakukan pertolongan pertama kepada kalian, karena tangan kalian berdua terluka cukup parah dan Alia juga sepertinya kehabisan tenaga sehingga dia jatuh pingsan." ucap Pak Indra memberi arahan kepada Pak Ahmad untuk segera membawa Yuna dan Alia kembali ke tenda.
"Alia lo kuat, lo harus berjuang sekali lagi," ucap Yuna menangis keras, ia merasakan sedih yang luar biasa karena ia hampir saja meregang nyawa di jurang itu dan disisi lain ia harus melihat sahabatnya terkulai lemas dipelukannya karena kehabisan tenaga untuk berjuang antara hidup dan mati didalam sana.
"Mari biar saya membawa Alia di bantu Pak Danu," ucap Pak Indra kepada Yuna dan Pak Ahmad.
"Tapi pak jarak dari sini menuju tenda cukup jauh apa tidak apa-apa jika bapak berjalan sambil menggendong Alia" tanya Pak Ahmad merasa tidak enak kepada guru seniornya, mungkin mereka akan kelelahan.
"Tidak perlu khawatir pak, saya sudah bawa tandu untuk membawa Alia," ucap Pak Danu.
Lalu Alia diangkat ke tandu oleh Pak Indra dan langsung dibawa ke tenda karena Alia harus segera mendapatkan perawatan.
Sedangkan Yuna dan Pak Ahmad masih duduk ditempat tadi, Yuna masih menangis. Pak Ahmad sendiri pun bingung harus berbuat apa untuk menenangkan Yuna.
Tiba-tiba saja tangan Pak Ahmad terulur menarik bahu Yuna untuk mendekat padanya dan memeluknya. Entah kenapa ia merasa harus melakukan itu, hatinya sakit jika terus-menerus melihat Yuna menangis didepannya. Ia tak kuasa menahan keinginannya untuk memeluk Yuna dalam dekapannya.
Karena Yuna tidak menolak ataupun meronta Pak Ahmad semakin erat memeluk Yuna, tangannya tak henti mengelus pucuk kepala Yuna dan sesekali mengelus punggung Yuna untuk menenangkannya.
__ADS_1
Yuna pun merasakan kenyamanan berada didekapan pak Ahmad, guru muda bertubuh atletis itu. Ia mulai merasa tenang namun tiba-tiba ia merasa tidak berdaya untuk bergerak lalu pingsan dipelukan pak Ahmad.
Pak Ahmad yang merasakan Yuna tampak lemas pun langsung melihat keadaannya, namun Yuna sudah tak sadarkan diri.
"Yuna? Astaga, ternyata pingsan. Pasti karena kehabisan tenaga dan menangis, ya sudah saya gendong saja itung-itung olahraga" ujar pak Ahmad, ia langsung menggendong Yuna dan membawanya ke tenda.
"Kenapa kamu cantik sekali saat sedang menutup mata seperti ini, adem hati saya lihat kamu seperti ini," batin pak Ahmad sambil tersenyum memperhatikan wajah Yuna yang sedang tak sadar diri.
"Astagfirullah saya mikir apa si? Dia itu murid saya ngga lebih. Lebih baik saya percepat jalannya supaya Yuna bisa segera mendapat pertolongan pertama." ucap Pak Ahmad, ia langsung bergegas menuju tenda.
Setelah sampai ditenda pak Ahmad segera membawa Yuna ke tenda PMR untuk memberikan pertolongan pertama kepada Yuna. Disana sudah ada pak Indra, pak Danu, para petugas PMR, serta Alia yang sudah sadar dari pingsannya bersama dengan ketiga temannya yang sempat kembali ke tenda.
Begitu melihat Yuna pingsan Alia segera berlari menghampiri pak Ahmad yang sedang menggendong Yuna.
" Pak, apa yang terjadi dengan Yuna?" tanya Alia kepada pak Ahmad dengan nada bicara yang terdengar sangat khawatir.
" Yuna tidak apa-apa, hanya mungkin kehabisan energi," ucap Pak Ahmad lalu membaringkan Yuna di tempat tidur untuk segera diperiksa dan diobati luka-luka yang ada ditangan dan kakinya.
" Bagaimana keadaan kamu Alia?" tanya Pak Ahmad kepada Alia.
"Alhamdulillah pak, seperti yang bapak lihat sekarang. Saya sudah lebih baik dari tadi, dan saya ucapkan terimakasih banyak karena bapak sudah menyelamatkan nyawa saya " ucap Alia memberitahukan kondisinya kepada pak Ahmad.
" Pak Indra bagaimana dengan Yuna, apa sudah ditangani?" tanya Pak Ahmad kepada pak Indra yang menangani Yuna bersama dengan petugas PMR didalam tenda
" Sudah pak, bahkan Yuna sudah sadar dan ingin bertemu bapak," ucap Pak Indra menyampaikan pesan Yuna
Pak Ahmad yang mendengar ucapan pak Indra merasa sangat senang, hatinya berdetak sangat cepat. Ia pun segera masuk ke dalam tenda menghampiri Yuna yang sudah sadar dari pingsannya.
" Apa kamu mencari saya? Apa yang mau dibicarakan dengan saya?" tanya Pak Ahmad membuka pembicaraan diantara mereka
" Iya pak, saya mau mengucapkan terimakasih kepada bapak karena sudah menyelamatkan nyawa saya dan Alia. Mungkin jika bapak tidak datang sekarang saya.." sebelum Yuna menyelesaikan ucapannya dengan cepat pak Ahmad memotongnya
" Semua itu sudah ada yang mengatur, jadi kamu ngga usah memikirkan yang tidak-tidak. Lebih baik sekarang kamu makan dulu ya biar saya ambilkan?" ucap Pak Ahmad, ia tak tega melihat Yuna dalam kondisi yang sangat lemah saat ini.
Yuna tidak bisa menolak karena memang ia sangat membutuh makanan, badannya terasa sangat lemah untuk bergerak saja rasanya tidak sanggup.
__ADS_1
Setelah beberapa saat pak Ahmad kembali ke tenda dengan membawa satu box makanan.
"Nah ini sudah saya bawakan makanannya, sekarang makan dulu ya? Biar saya suapi," ucap Pak Ahmad hendak menyuapi Yuna
" Saya bisa makan sendiri kok pak," ucap Yuna menolak tawaran pak Ahmad.
Yuna hendak bangun dari tidurnya, namun karena tidak memiliki tenaga sedikit pun akhirnya ia jatuh kembali. Melihat hal itu pak Ahmad segera membantu Yuna untuk duduk.
" Lihat kondisi kamu sekarang, ngga memungkinkan untuk melakukan apapun sendiri. Untuk bangun saja kamu kesulitan. Jadi, biar saya bantu menyuapi kamu makan oke? Ngga ada penolakan" ucap Pak Ahmad lalu ia mulai menyuapi Yuna dengan perlahan.
Yuna pun tidak bisa menolak lagi karena memang kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan apapun.
Disela-sela makan pak Ahmad bertanya kepada Yuna,
" Ada yang ingin saya katakan tentang kejadian yang menimpa kamu dan Alia tadi," ucap Pak Ahmad yang sudah tidak bisa menahan diri untuk mengatakan kebenaran kepada Yuna.
" Silahkan pak, saya juga ingin menanyakan sesuatu kepada bapak," ucap Yuna dengan suara yang sangat kecil karena tenaganya belum pulih.
" Pertanyaan apa?" tanya Pak Ahmad merasa penasaran dengan apa yang akan ditanyakan Yuna kepadanya.
" Gimana mau ngomongnya ya? Tapi gue penasaran sama apa yang gue denger tadi bener dari pak Ahmad atau cuma halusinasi gue aja," batin Yuna yang sempat mendengar ucapan pak Ahmad yang mengatakan ia sangat cantik saat menutup mata. Dan ia juga mengingat, sebelum pingsan ia dipeluk oleh pak Ahmad tapi ia juga tidak yakin bahwa itu benar-benar nyata atau hanya halusinasinya saja.
" Kok bengong si? Apa yang mau kamu tanyakan sama saya?" tanya Pak Ahmad membangunkan Yuna dari lamunannya.
" Eemm... bapak saja dulu deh" ucap Yuna agak canggung.
Pak Ahmad yang menyadari kecanggungan antara mereka pun mencari cara agar mereka tidak terlihat canggung lagi.
Disisi lain seluruh penjelajah hutan masih melanjutkan perjalanan mereka karena mereka belum tahu kejadian buruk telah menimpa dua orang dari rombongan.
Pak Ahmad pun tidak sempat memberi tahukan kepada pak Ridwan tentang kecelakaan Yuna dan Alia karena ia lebih mengutamakan keselamatan kedua muridnya terlebih dahulu, kalau sudah membaik barulah ia akan mengabari pak Ridwan.
THANKYOU sudah mampir ke novel 'Kepastian Cinta' jangan lupa untuk meninggalkan like, komen untuk author.
Serta tambahkan ke favorit agar setiap update akan ada notifikasi.
__ADS_1
Bantu vote juga ya
Kalau udah Love You😘💜