
Perjalanan berjalan lancar sampai sekolah. Setelah itu mereka semua dibolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Yuna pun berniat untuk langsung pulang namun ia melihat Alia dibelakangnya, Yuna ingin menemui Alia terlebih dahulu namun dicegah Ahmad. Ahmad menggelengkan kepala kepada Yuna sebagai isyarat bahwa ia tak boleh menemui Alia dulu.
Yuna pun mengerti dengan situasi itu. Yuna berjalan agak pincang karena kakinya masih sakit. Ahmad pun berniat untuk mengantar Yuna sampai rumah namun ditolak oleh Yuna. Ia ingin pulang sendiri.
Sinta melihat Ahmad ingin mengantarkan Yuna pun tak suka. Sinta memanggil Ahmad untuk mengantarkannya bersama Alia.
" Permisi pak, saya bisa minta tolong kepada bapak untuk mengantarkan Alia. Karena saya tidak bawa mobil saat berangkat kemarin" ucap Sinta
" Tapi..." sebelum Ahmad menyelesaikan ucapannya Yuna segera memotongnya
" Iya pak sebaiknya bapak antar Alia dan bu Sinta, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Yuna lalu ia pergi
Ahmad pun tak bisa berkutik lagi karena Sinta memintanya hingga memohon untuk mengantar Alia. Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja untuk bisa bersama Ahmad. Dengan berat hati Ahmad mengantar Alia bersama Sinta. Ia selalu melihat kaca spion mobilnya untuk melihat Yuna yang sedang berjalan.
Sinta benci dengan sikap Ahmad yang terlalu perhatian kepada Yuna. Ia iri dengan yuna yang mendapatkan perhatian lebih dari Ahmad. Jangankan mendapatkan perhatian, berbicara saja tidak. Sinta sangat geram dengan Yuna. Ia melirik Alia yang duduk dibangku belakang. Ia akan memanfaatkan Alia untuk menghancurkan Yuna.
Yuna pasti akan hancur melihat sahabatnya begitu membencinya. Sinta benar-benar jahat dan licik. Dari dulu ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, jika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan maka ia akan mengambilnya dengan paksa.
ππππ
Yuna berjalan sendiri dipinggir jalan tak jauh dari sekolah. Karena kakinya masih sakit ia harus berjalan perlahan. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti disamping Yuna lalu membuka kaca jendelanya.
" Yuna? Kamu ko jalan, ayo biar aku antar" ajak Abi
" Tidak usah, aku bisa jalan sendiri kok. Kamu duluan saja" ucap Yuna. Ia tak ingin merepotkan orang lain
Abi pun turun dari mobilnya dan menghampiri Yuna yang keras kepala ingin berjalan kaki padahal kakinya cidera cukup parah.
Dari jauh Azura memperhatikan Abi dan Yuna. Ternyata Abi menolak untuk mengantarnya pulang karena ia mau mengantar Yuna. Benar-benar membuat Azura jengkel.
" Hey apa kamu ngga lihat kaki kamu yang pincang itu? Masih mau jalan kaki, apa kamu mau pulang ke rumah dengan keadaan yang lebih parah dari ini. Gimana reaksi orang tua kamu pasti mereka khawatir banget" ucap Abi merayu Yuna agar mau diantar olehnya.
" Iya juga si, pasti nanti mereka khawatir banget" batin Yuna.
__ADS_1
" Udah ayo gue anter lo pulang" ucap Abi seraya menggendong Yuna.
Yuna terkejut dengan apa yang Abi lakukan kepadanya. Dan Abi juga mengubah panggilan 'kamu aku' menjadi 'lo gue'. Yuna tak bisa berontak karena kalau ia bergerak sedikit saja Abi akan kehilangan keseimbangan dan jatuh pasti akan sakit. Sehingga Yuna hanya diam saja menerima perlakuan Abi. Setelah Abi menurunkannya di dalam mobil Abi pun masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang setir.
" Oiya gue ngga tau rumah lo dimana, lo bisa kasih tau kan?" tanya Abi kepada Yuna.
" Gampang nanti didepan belok kanan terus kanan lagi habis itu kiri kanan lagi kanan trus kiri kiri lagi.." belum sempat Yuna menjelaskan arah rumahnya Abi sudah memotongnya
" Udah udah stop mending lo tunjukin aja jalannya kemana, kalo kaya gitu pusing gue" ucap Abi pusing mendengar arah jalan ke rumah Yuna yang sangat rumit.
" Iya deh iya sebenernya ngga sampai segitu si cuma belok satu kali aja didepan udah sampe" ucap Yuna
" Jadi lo ngerjain gue? Wah bener-bener yah" ucap Abi merajuk
" Ngga kok. Kenapa panggilannya ganti? Bukannya tadi kamu aku sekarang lo gue?" tanya Yuna penasaran
" Cuma pengin lebih akrab aja si, ngga papa kan?"
Setelah mereka berbicara banyak didalam mobil, tak terasa mereka sudah sampai dirumah Yuna. Yuna pun dibantu turun oleh Abi, sebenarnya Abi mau menggendong Yuna lagi namun ditolak oleh Yuna. Yuna hanya menerima bantuan untuk memapahnya saja.
Saat Abi sampai didepan rumah Yuna ia heran karena rumah Yuna sangat besar. Artinya Yuna adalah anak orang kaya, tapi ia tak melihat kemewahan pada diri Yuna. Ia sampai berhenti sebentar didepan rumah Yuna. Yuna memencet bel rumahnya. Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita separuh baya menggunakan daster panjang dan rambut yang terikat.
" Non Yuna, silahkan masuk non. Loh ini kaki non Yuna kenapa kok jalannya pincang?" tanya Bi Sari kepada Yuna.
" Ngga papa kok Bi, cuma keseleo sedikit paling besok sembuh" ucap Yuna menghilangkan khawatir pembantunya yang sudah ia anggap seperti ibu keduanya.
" Abi, ayo masuk dulu" Yuna menengok kebelakang melihat Abi yang masih melamun melihat rumahnya yang begitu besar.
Abi kaget mendengar panggilan dari Yuna. Ia pun ikut masuk ke dalam mengikuti Yuna dari belakang. Bi Sari menanyakan siapa laki-laki itu, Yuna pun memperkenalkan Abi kepadanya. Dia memperkenalkan Abi sebagai teman satu angkatannya.
Tak lama setelah mereka masuk ada seorang wanita separuh baya turun dari lantai dua dengan pakaian yang sederhana namun sangat elegan.
" Sayang" ucap wanita itu menghampiri Yuna lalu memeluknya. Ia pun melihat Abi, ia pikir Abi adalah kekasih putrinya.
__ADS_1
" Hei siapa ini yang kamu bawa kerumah?" tanya Adelia kepada Yuna.
" Oh ini Abi mah dia temen satu angkatanku," ucap Yuna mengenalkan Abi kepada adelia.
Abi pun menjabat tangan Adelia dan tersenyum kepadanya. Adelia kecewa karena Abi hanya teman Yuna. Bi Sari pergi kebelakang untuk membuatkan minuman.
Setelah itu Bi Sari pun kembali lagi dengan membawa nampan berisi tiga gelas air minum. Abi pun meminum minuman yang dibuat Bi Sari. Mereka berbincang cukup lama tapi karena Yuna ingin istirahat dan Abi juga ingin pulang akhirnya pembicaraan mereka berakhir. Abi pun berpamitan kepada Adelia.
" Mah, kok papah ngga keliatan?" tanya Yuna kepada Adelia.
" Biasa, kamu ini kaya ngga tau papah kamu sibuknya seperti apa. Dia masih dikantor mungkin sebentar lagi pulang" ucap Adelia.
Adelia pun mengantarkan Yuna menuju kamarnya namun ia menyadari jika jalan Yuna agak pincang. Dia pun berinisiatif membantu Yuna berjalan. Karena kamar Yuna berada dilantai dua dan berada diujung sehingga akan menyusahkan Yuna. Adelia pun memanggil Bi Sari untuk menyiapkan kamar tamu dibawah.
" Ada apa nyonya?" tanya bi Sari
" Kamu siapkan kamar tamu untuk Yuna ya, kan ngga mungkin kalau Yuna berjalan ke kamarnya sendiri dengan kakinya yang sakit" ucap Adelia
" Baik nyonya saya siapkan dulu"
" Makasih ya mah, mamah paling pengertian deh" Yuna merasa sang ibu sangat lah peka terhadap apa yang Yuna rasakan. Karena sebelum Yuna mengatakannya ibunya sudah terlebih dahulu mengetahuinya.
" Sama-sama sayang. Kaki kamu kenapa bisa sampai cidera kaya gitu? Dan kenapa kamu pulang dari perkemahan lebih cepat dari jadwal? Apa ada sesuatu yang terjadi? Ahh dan juga Alia, tumben sekali kamu tidak pulang bersamanya biasanya kalian selalu bersama kemanapun dan dimanapun?" tanya Adelia panjang lebar. Ia merasa ada yang tidak beres dengan putrinya.
Raut wajah Yuna tiba-tiba berubah menjadi murung. Ia mengingat kejadian tadi saat didalam bus. Ia sedih karena sikap Alia tiba-tiba berubah drastis kepadanya.
" Nanti aja ya mah ceritanya, sekarang Yuna mau istirahat dulu. Yuna cape banget" ucap Yuna sendu.
Adelia pun memahami karena kondisi Yuna yang baru pulang dari Bogor, ia pasti sangat lelah. Bi Sari juga sepertinya sudah selesai membereskan kamar tamu untuk tempat beristirahat Yuna sementara sampai kakinya sembuh. Adelia pun mengantar sang putri ke kamar. Sampai di kamar Yuna masih terlihat sedih, Adelia sangat sedih melihat perubahan sang putri yang menjadi pendiam setelah ditanyai tentang Alia. Sebenarnya ia ingin bertanya kepada Yuna tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tidak tega karena Yuna harus beristirahat dulu. Yuna pun sudah berjanji akan menceritakan semuanya nanti kepadanya.
Bersambung...
Jangan lupa likeπ
__ADS_1