
Zayya yang mendengar perkataan kakak keduanya itu pun menepuk keningnya, “Ouh God, kakak! Aku juga tidak mungkin menjadikan mereka sebagai bahan taruhan itu hanya candaanku saja. Kenapa kau menganggapnya serius. Aku kan hanya bercanda.” Ujar Zayya.
“Bercandanya gak lucu dek.” timpal Rayya. Mama Fara dan pengasuh yang melihat itu saling memandang dan tersenyum.
“Aku itu menyayangi keponakanku dengan baik. Mereka ada kesayanganku.” Ucap Zayya.
“Jika memang kesayanganmu. Coba sebutkan apa nama panjang mereka.” ujar Rayya.
Zayya pun mengangguk, “Baiklah. Aku akan mengatakan nama panjang ketiga ponakan cantik dan tampanku ini. Ini si cantik namanya Floella Qalessa El Amin. Terus si tampan yang ada dalam pangkuan mama itu Fachry Xander El Amin dan yang terakhir si tampan Fadhly Xavier El Amin. Iya kan? Aku benar?” tanya Zayya.
“Salah.” Ucap mama Fara.
Rayya dan Zayya yang mendengar ucapan mamanya itu segera menatap ke arah mama mereka, “Kok, bisa salah? Aku benar kok.” ucap Zayya.
“Memang nama yang kalian katakan benar tapi si cantik itu menggunakan marga kita. Risam menggunakan marga kakakmu untuk putrinya.” Ujar mama Fara.
“Ohiya, aku ingat. Kenapa bisa lupa.” Ucap Rayya.
Zayya pun sama dia baru saja ingat, “Ohiya. Kenapa kita bisa melupakannya ya. Dia kan Floella Qalessa Al Ayaan. Iya kan cantik.” Ucap Zayya kepada keponakannya itu yang di balas dengan senyuman oleh Qalessa.
“Ah, mama dia menyukai namanya. Dia tersenyum. Kamu suka yaa namamu sama dengan bundamu dan juga para aunty cantikmu ini.” ujar Zayya heboh.
Rayya pun memukul lengan adiknya itu, “Aw, sakit kak. Penganiayaan.” Ujar Zayya dengan bibir yang cemberut.
“Biarin salah sendiri kepedean banget. Iya kan cantik.” Ucap Rayya yang lagi-lagi Qalessa membalasnya dengan senyuman.
“Ah cantik banget dia kak kalau senyum begitu.” Ujar Zayya. Tiba-tiba Xavier yang berada dalam gendongan pengasuh itu menangis.
“Ah kamu juga tampan nak. Dasar pencemburu.” Ucap Zayya langsung membujuk keponakannya itu.
Zayya langsung mengambil alih menggendong Xavier dan keponakan mereka itu pun diam begitu di puji, “Mah, dia sangat pencemburu.” Ucap Rayya.
Mama Fara tersenyum, “Sepertinya memang begitu.” Ucap mama Fara.
“Xander yang sangat pendiam. Dia dingin.” Ujar Rayya menggenggam tangan mungil milik keponakannya yang berada dalam gendong mama Fara.
__ADS_1
Mama Fara pun membenarkan ucapan putri keduanya itu. Memang cucu keduanya ini pendiam dan tidak banyak tingkah ketimbang Xavier yang selalu tiba-tiba menangis jika dia merasa tidak di perhatikan. Kalau cucu perempuannya itu juga dia hampir mirip dengan Xander yang cenderung tenang.
Mama Fara, Rayya dan Zayya menghabiskan waktu mereka dengan triplets sampai Risam kembali saat waktu zuhur.
“Mama sama kalian ada di sini?” ucap Risam saat dia masuk melihat ibu mertuanya dan para adik iparnya itu yang berada di kamar triplets.
“Iya nak. Mereka ingin ketemu dengan triplets. Mama juga. Jadi kami datang. Mereka baru saja tidur setelah lelah bermain dengan kami.” ucap mama Fara.
Risam pun tersenyum lalu menyalami ibu mertuanya itu, “Ya sudah mah. Risam mandi dulu.” Ucap Risam lalu segera ke kamar utama.
“Mah, apa papa juga sudah pulang.” Ucap Rayya kemudian.
“Yah, mama lupa nanyain papa sama dia.” Ucap Mama Fara.
Tiba-tiba ponsel Rayya berdering dan itu panggilan dari papanya, “Halo, Assalamu’alaikum pah.” Ucap Rayya begitu menjawab panggilan papanya.
“Halo, Wa’alaikumsalam. Kalian di mana nak? Kok, gak ada di rumah?” tanya papa Imran dari seberang.
“Hehhehh, kami ada di rumah kakak pah. Kami main dengan triplets.” Jawab Rayya cengesan.
***
Sementara Nayya yang berada di puskesmas saat akan makan siang. Dia meraih ponselnya dulu dan menghubungi suaminya.
Aktif. Lama berdering. Tapi tidak di jawab, “Hum, mas kemana? Kok gak di jawab panggilanku. Apa ponselnya di tinggal.” Ucap Nayya pada dirinya sendiri.
“Ada apa Nay?” tanya Tika salah satu rekannya saat melihat Nayya yang memandang ponselnya.
Nayya menggeleng, “Gak ada apa-apa kok.” balas Nayya.
Tika pun mengangguk, “Ya sudah kalau begitu. Ohiya apa kamu tidak ikut sholat?” tanya Tika.
“Sudah kok.” jawab Nayya yang memang sudah melaksanakan sholat sebelum dia makan.
Tika kembali mengangguk, “Ya sudah jika begitu. Aku sholat dulu ya.” Ujar Tika segera meninggalkan Nayya kembali sendiri di ruangan itu.
__ADS_1
Nayya pun kembali menatap ponselnya lalu dia segera memulai makan siang. Tidak lama kemudian sekitar lima menit saja ponselnya berdering dan itu panggilan video dari sang suami. Senyum Nayya yang langsung terbit dan dia segera menjawab panggilan video suaminya itu.
“Halo, Assalamu’alaikum mas!” ucap Nayya tersenyum sumringah.
Risam pun tersenyum, “Wa’alaikumsalam sayang. Maaf yaa mas gak sempat jawab panggilanmu. Mas tadi lagi ada di kamar mandi. Baru saja selesai.” Ujar Risam sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk.
Nayya pun tersenyum karena tadi dia sudah berpikiran yang enggak-enggak tentang suaminya itu. Biasalah cewek. Selalu saja over thinking berlebihan, “Gak apa-apa mas. Ohiya, apa mas baru pulang?” tanya Nayya.
Risam terlihat mengangguk, “Iya sayang. Baru saja tiba sekitar 30 menit yang lalu dan langsung mandi. Ohiya ada mama dan adik-adikmu di sini. Ada di kamar triplets.” Ujar Risam.
“Oh ya? Ngapain mereka di sana?” tanya Nayya.
“Katanya mau main dengan triplets sayang.” jawab Risam.
Nayya pun mengangguk mengerti, “Ohiya, apa mas sudah makan siang?” tanya Nayya.
Risam terlihat menggeleng, “Ini mas baru mandi sayang. Nanti setelah ini mau makan. Kalau kamu bagaimana?” tanya Risam balik.
Nayya mengangkat bekalnya, “Nih, sementara makan.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu dia terlihat seperti keluar kamar menuju lantai bawah, “Mas, mau kemana?” tanya Nayya penasaran.
“Kamu gimana sih sayang. Mas mau makan lah. Mau nemenin kamu makan. Kita makan siang bareng sambil video callan.” Ucap Risam.
Nayya pun mengangguk tersenyum, “Ah, baiklah. Nayya tunggu. Ohiya mas. Lauknya ada di lemari ya mas. Tinggal hangatkan aja.” Ucap Nayya berlari kamar mandi karena dia kebelet.
Risam mengangguk, “Okay, beres sayang.” ujar Risam.
“Nak, apa kamu mau makan siang?” tanya mama Fara yang berada di dapur.
Risam yang melihat ibu mertuanya di dapur pun tersenyum lalu mengangguk, “Iya mah.” jawab Risam meletakkan ponselnya dan menuju lemari.
“Oh lauk di situ mama sudah panaskan nak. Itu sedang di panaskan.” Ucap mama Fara.
Risam pun segera berbalik, “Terima kasih mah.” ucap Risam segera menuju penghangat makanan dan mengambil lauk lalu dia segera mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.
__ADS_1