
Kini Nayya dan Risam sedang berada di ranjang mereka dengan ketiga buah hati mereka yang berada di antara keduanya.
“Mas!” panggil Nayya manja pada suaminya itu.
Risam yang menatap ketiga buah hatinya yang terlelap pun beralih menatap istrinya, “Ada apa sayang?” tanya Risam.
“Ingat mas. Kamu gak boleh merasa insecure atau pun merasa rendah. Bagiku kau adalah suami terbaikku.” Ucap Nayya lembut penuh ketulusan.
Risam tersenyum lalu dia membelai rambut istrinya itu yang di urai. Risam turun dari ranjang lalu mendekati Nayya yang berada di sisi ranjang satunya. Dia berbaring di sana dan memeluk Nayya dari belakang. Nayya segera berbalik dan berada dalam pelukan suaminya itu.
“Apa kamu masih memikirkan hal tadi?” tanya Risam.
Nayya mengangguk, “Aku gak mau mas mera--”
“Stt, mas gak merasa apapun sayang. Kamu terlalu menjaga perasaan mas. Jika kamu saja yang istri mas tidak merendahkan mas lalu kenapa mas harus merasa rendah hanya karena kejadian hari ini.” ucap Risam lalu mengecup kening istrinya itu.
Nayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah jika memang begitu. Aku senang jika memang mas tidak merasa seperti itu. Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir.” Ucap Nayya.
“Mas, jika nanti adikku berjodoh dengan Ariq dan mereka menikah. Lalu nanti ada cerita orang-orang yang membedakan dirimu dan Ariq maka aku harap kau tidak akan memikirkan perkataan mereka mas. Ingat aku selalu ada untukmu. Aku yang menjalani kehidupan denganmu. Jangan pernah memikirkan apa yang di katakan orang-orang. Kita yang menjalani kehidupan kita dan kita yang bertanggung jawab untuk diri kita sendiri. Jadi aku harap mas tidak akan terpengaruh dengan omongan itu nanti.” Lanjut Nayya.
“Aku tahu mungkin aku berpikiran terlalu jauh. Aku sudah memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Tapi aku yakin hal itu akan terjadi.” Ujar Nayya menatap suaminya.
Risam tersenyum lalu mengeratkan pelukannya, “Mas akan ingat sayang. Mas tidak akan terpengaruh dengan itu. Seperti yang kamu katakan bahwa kita yang menjalani hidup kita ini dan orang luar tidak memiliki hak untuk mengatur hidup kita. Jadi kita tidak harus memikirkan pembicaraan yang akan timbul nanti. Kita lebih baik fokus pada kehidupan kita dan ketiga buah hati kita.” Ucap Risam.
Nayya mengangguk tersenyum, “Aku mencintaimu mas.” Ucap Nayya.
“Mas juga sangat mencintaimu sayang.” balas Risam.
Setelah itu mereka pun tidur sambil berpelukan tapi dua jam kemudian Risam terjaga dan dia segera pindah ke sisi ranjang sebelah untuk menjaga ketiga buah hatinya itu.
“Aku menyayangimu sayang. Kau dan mereka adalah jantung dan hatiku.” Gumam Risam lalu kembali tidur.
***
Sementara di kediaman mama Fara dan papa Imran, setelah makan malam kini Rayya sedang di sidang oleh kedua orang tuanya itu di ruang keluarga. Zayya pun hanya ikut saja duduk dengan mereka. Dia hanya ingin jadi pendengar baik saja. Selain itu juga dia kepo dengan pertemuan kakak keduanya itu calon kakak iparnya.
“Kapan kamu dekat dengan Ariq nak? Kok kamu gak cerita sama sekali jika sedang dekat dengan seseorang?” tanya mama Fara.
Rayya pun menghela nafasnya dulu. Dia memang sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Dia bukan ingin menyembunyikan hubungannya dengan Ariq. Tapi mereka memang tidak memiliki hubungan yang layak di sebut sebagai pasangan. Keduanya hanya bertemu tanpa sengaja di sebuah restoran lalu bertukar nomor telepon karena nyambung satu sama lain. Setelah itu mereka hanya saling mengirim pesan saja tidak lebih. Tidak ada ungkapan cinta apapun di antara keduanya. Jadi Rayya tidak mungkin menceritakan hal seperti ini kepada orang tuanya kan. Jika memang hubungannya dengan Ariq hanya terlihat seperti teman.
“Mah! Pah! aku tahu kalian pasti merasa aku bohongi atau aku menyembunyikan sesuatu dari kalian. Tapi percayalah apa yang terjadi hari ini aku tidak tahu menahu sama sekali. Aku juga kaget dia tiba-tiba datang.” ucap Rayya mencoba menjelaskan.
“Lalu kenapa dia bisa tahu kampusmu. Lalu tahu juga bahwa hari ini kau wisuda. Kan itu hal yang tak mungkin dia ketahui jika tak kau beritahu.” Ucap mama Fara.
__ADS_1
“Mah, baiklah. Aku jelaskan dulu. Aku dan dia memang sudah saling kenal dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini. Pertemuanku dengan dengannya terjadi secara tidak sengaja saat Rayya makan di restoran selepas pulang dari rumah sakit. Lalu kami berkenalan dan bertukar nomor dan setelah itu kami berkomunikasi saling bertukar pesan layaknya teman. Yah, teman. Di antara kami tidak ada yang saling mengungkapkan rasa. Kami hanya nyaman saja berteman. Lalu kenapa dia hari ini datang. Yah, Rayya akui Rayya mengatakan padanya bahwa hari ini Rayya wisuda sejak tiga hari lalu. Tapi sungguh Rayya gak tahu bahwa akan ada kejadian dadakan seperti ini.” jelas Rayya.
Mama Fara pun mengangguk mengerti, “Lalu dia mengatakan sudah mengenalmu setahun lalu. Itu bagaimana?” tanya papa Imran.
Rayya kembali menghela nafas, “Nah, ini juga yang masih menjadi pertanyaan untuk Rayya. Dalam ingatan Rayya kami bertemu pertama kali itu ya di restoran. Jadi Rayya gak tahu dia mengenal Rayya dari mana setahun lalu itu.” jawab Rayya.
“Baiklah. Papa mengerti. Lalu apa kamu memang benar menyukainya?” tanya papa Imran.
Rayya tersenyum mendapat pertanyaan dari papanya itu, “Pah, kenapa dirimu sudah seperti mama yang super kepo.” Ucap Rayya.
“Jawab saja nak. Ingat menikah itu bukan hanya sekedar pesta mewah tapi ada tanggung jawab besar di sana. Hari ini kamu sudah memutuskan menerima lamarannya. Yah, walaupun itu belum lamaran resmi di hadapan keluarga. Namun tetap saja itu sudah di sebut lamaran. Jadi apakah kau memang menyukainya atau bagaimana? Kau tidak menyukainya hanya karena seragam dan gelarnya kan?” selidik papa Imran.
Rayya menatap papanya itu dengan cemberut, “Ish, kok papa tega nuduh Rayya gila gelar dan seragam. Rayya memang dari kecil ingin menikah dengan seorang abdi Negara. Tapi hal itu tidak membuat Rayya buta sehingga harus menghalalkan segala cara untuk mewujudkan apa yang Rayya inginkan sejak kecil. Pantang bagi Rayya menggadaikan cinta hanya untuk sebuah gelar. Gelar itu hanya berfungsi saat kita masih hidup namun jika kita hidup tanpa cinta maka hidup itu akan terasa suram tidak berwarna hanya abu-abu saja. Rayya tidak ingin itu terjadi. Rayya ingin seperti kakak yang mendapatkan suami seperti kakak ipar yang sangat mencintai dan menyayanginya. Walaupun kakak ipar hanya seorang petani tapi kakak dan kakak ipar bahagia menjalani kehidupan rumah tangga mereka.” ucap Rayya.
“Jadi kamu mencintainya?” tanya mama Fara tersenyum.
Rayya pun menunduk malu lalu mendekati mamanya itu dan bersembunyi dalam pelukan mamanya, “Mah!” ucap Rayya.
Papa Imran, mama Fara dan Zayya yang melihat Rayya malu pun tertawa, “Sepertinya impian sejak kecil sebentar lagi akan terwujud pah.” Ujar Zayya.
Rayya pun menatap adiknya itu dan tersenyum, “Nak, papa sama mama senang kalian menemukan pasangan kalian nanti. Siapapun jodoh kalian nanti kami merestuinya. Tapi ingat nak. Pernikahan dan rumah tangga itu butuh tanggung jawab yang besar. Jadi jika kalian memutuskan untuk menikah nanti maka pikirkanlah dengan baik. Pernikahan bukan hanya menyatukan kalian tapi menyatukan dua keluarga yang pastinya memiliki pandangan yang berbeda. Menyatukan dua orang dengan pandangan berbeda saja sulit apalagi dua keluarga. Ingat kalian harus bisa menjadi penengah untuk keluarga kalian nanti jika terjadi sesuatu.” ucap papa Imran.
“Rayya sama Zayya adalah putri kami. Sama seperti kakak kalian. Kami juga berdoa kalian akan berjodoh dengan laki-laki yang mencintai kalian dan bertanggung jawab kepada keluarganya. Kalian lihat kan bagaimana kakak dan kakak ipar kalian mencoba bersikap adil kepada kami orang tua mereka. Mereka rela setiap bulan pindah kesana dan kesini hanya agar tidak menimbulkan rasa iri di hati kami. Mereka memperlakukan kami dengan sama. Jadi kalian bisa meniru mereka. Tidak harus sama seperti apa yang kakak kalian lakukan. Kalian hanya perlu menjadi penengah saja.” jelas mama Fara.
Rayya dan Zayya pun mengangguk mengerti, “Baiklah. Jika memang kalian mengerti. Rayya mungkin sebentar lagi akan menikah jika Ariq dan keluarga akan datang melamar secara resmi. Rayya akan menjadi istri seorang abdi Negara. Jadi kamu pasti punya tanggung jawab yang lebih besar lagi sebagai seorang bhayangkari. Selain tanggung jawabmu sebagai seorang istri kamu juga memiliki peran sebagai seorang bhayangkari. Kami yakin dan percaya putri kami ini mampu menjalankan kewajibannya. Kami merestuimu dengan Ariq. Dia pria baik memuliakan ibunya. Kami yakin dia akan menyayangimu seperti dia menyayangi ibunya.” Ucap mama Fara kemudian.
Papa Imran pun tersenyum mendengar jawaban putri keduanya itu. Dia mengelus kepala putri keduanya itu dengan lembut. Rayya segera berhambur ke pelukan papanya. Cinta pertamanya. Papa Imran pun membalas pelukan putrinya itu dengan lembut. Walaupun Rayya tidak sama dengan putri pertamanya yang sudah sukses di usianya mudanya. Tapi Rayya tetaplah putrinya yang dia sayangi.
Setelah perbincangan cukup lama akhirnya selesai dan mereka pun memutuskan untuk istirahat karena aktivitis yang di jalani hari ini sudah cukup melelahan dan menguras tenaga.
***
Kini Rayya dan Zayya sudah berada di kamar. Zayya sudah berbaring di ranjang setelah selesai dengar ritual perawatannya. Sementara Rayya dia masih sibuk dengan ritual perawatannya itu.
“Kak Ray, aku penasaran bagaimana kalian bertemu? Aku tahu kalian saling mencintai.” Ucap Zayya sambil menatap langit-langit kamar.
Rayya tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. Dia pun segera mendekati adiknya di ranjang lalu segera bergabung dengan adiknya. Dia naik ke ranjang dan duduk bersandar lalu memakaikan selimut pada kakinya. Sementara Zayya dia segera memiringkan tubuhnya ke arah kakak keduanya itu.
“Apa hal itu membuatmu penasaran?” tanya Rayya yang langsung di angguki oleh Zayya.
Rayya pun tersenyum lalu segera memulai ceritanya terkait pertemuannya dengan Ariq hari itu.
Flashback on
__ADS_1
Dua bulan lalu di restoran C dekat rumah sakit tempat Rayya melakukan praktik profesinya. Saat itu sudah jam pulang praktik Rayya.
Rayya yang merasa lapar pun segera singgah ke restoran C itu dan dia segera masuk lalu mencari tempat duduk kosong. Berhubung memang sore itu banyak pengunjung yang datang.
Rayya mendapatkan satu tempat yang kosong. Dia pun segera duduk di sana lalu tidak lama dia pun memesan makanannya. Rayya sambil menunggu pesanannya datang dia pun membuka sosmednya agar tidak bosan.
Lalu sekitar tiga menit kemudian ada yang mendekatinya, “Apa saya bisa duduk di sini?” izin seseorang.
Rayya pun melihat siapa yang bicara dengannya itu, “Emm, maaf jangan salah paham. Saya meminta duduk di sini karena sudah tidak menemukan tempat duduk lain dan tinggal ini saja yang masih kosong. Jadi apakah anda bisa berbagi tempat duduk dan meja ini untuk saya? Anda tidak datang bersama orang lain kan?” ujar pria itu.
Rayya yang mendengar penjelasan pria muda di hadapannya dengan pakaian khas polisi walaupun dia tidak memakai seragamnya hanya kaos saja dan celana seragamnya. Rayya menoleh ke sekitarnya untuk memastikan ucapan pria di hadapannya itu dan ternyata benar sudah tidak ada tempat lagi yang kosong.
Rayya pun kembali menatap pria di hadapannya itu lalu mengangguk, “Silahkan duduk!” ujar Rayya.
Pria itu pun tersenyum lalu segera duduk. Tidak lama pelayan restoran pun segera datang dan menulis pesanan pria di hadapannya.
Setelah pria itu selesai memesan dia menatap Rayya dan tersenyum, “Terima kasih sudah berbagi tempat duduk dengan saya. Ohiya kita belum berkenalan. Kenalkan saya Ariq. Kalau boleh tahu namamu siapa?” tanya Ariq mengulurkan tangan walaupun dia sudah bisa menduga bahwa uluran tangannya itu tidak akan mendapat sambutan.
“Rayya!” ucap Rayya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Ariq pun mengangguk tersenyum lalu segera menarik uluran tangannya, “Maaf!” ujar Rayya.
Ariq menggeleng, “Gak apa-apa kok. Saya paham!” ucap Ariq.
Setelah itu sambil menunggu pesanan mereka datang. Keduanya entah kenapa langsung terlibat perbincangan yang cukup akrab. Rayya merasa nyambung dengan obrolan pria itu. Mereka pun akhirnya menikmati makanan mereka tidak dengan suasana canggung.
Setelah menyelesaikan makan mereka Rayya dan Ariq saling bertukar nomor ponsel, “Bisa kita bertukar nomor?” pinta Ariq.
Rayya pun mengangguk, “Tentu!” ucap Rayya lalu segera menyebutkan nomor ponselnya. Ariq segera mencatatnya di ponsel dan segera menelpon Rayya dan tersambung.
“Apa anda pikir saya memberikan nomor ponsel orang lain?” tanya Rayya tersenyum.
“Wah saya tidak berani berpikir begitu.” Ucap Ariq. Rayya pun tersenyum lalu segera menyimpan nomor ponsel Ariq di ponselnya. Setelah itu keduanya pun berpisah.
“Akhirnya kita bisa saling kenal!” gumam Ariq lalu dia pun segera pergi meninggalkan restoran itu.
Flash back off
“Begitulah ceritanya. Ini awal pertemuan kami dan setelah itu hubungan kami berlanjut lewat chat saja.” ujar Rayya.
“Apa setelah itu kalian tidak bertemu lagi?” tanya Zayya.
Rayya pun mengangguk, “Yah, pertemuan kedua kami itu tadi. Jadi aku bingung di mana dia mengenalku setahun lalu.” Ucap Rayya.
__ADS_1
Zayya pun berpikir, “Ah, apa jangan-jangan pertemuan kalian di restoran itu memang sudah di rencanakan. Bukan kebetulan.” Ucap Zayya.
Rayya pun diam, “Sepertinya begitu.” Ucap Rayya membenarkan.